PANTAUBALI.COM, TABANAN – Hajatan politik Pemilu Serentak 2024 memang telah usai, namun tampaknya imbas kekalahan masing-masing pasangan calon (paslon) masih terasa. Terbaru I Made Mulyawan Arya alias De Gadjah, Calon Gubernur Bali Pilkada 2024 lalu, memicu perhatian publik melalui unggahan di akun media sosialnya @de_gadjah, pada Jumat (6/6/2025).
Dalam unggahan tersebut, De Gadjah memposting video yang berisi rekaman suara milik Perbekel Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, I Made Suryana. Dalam rekaman yang beredar, terdengar pernyataan kontroversial yang dilontarkan Made Suryana di hadapan warga, terkait penolakannya menandatangani proposal pengajuan bantuan jika ada label Partai Gerindra.
Dalam postingan itu De Gadjah menyampaikan kekecewaannya melalui unggahan di akun Instagram miliknya. Ia menyebut pernyataan Perbekel Suryana sebagai bentuk kebencian terhadap Partai Gerindra dan berpotensi memecah belah masyarakat.
Dikonfirmasi terkait video tersebut pada Jumat (6/6/2025), Perbekel Baturiti Made Suryana mengatakan bahwa memang benar telah melontarnya pernyataan seperti dalam rekaman video.
“Benar. Itu saat acara rapat kelompok peternak yang diketuai oleh Made Miantara, Kader Gerindra dari Desa Baturiti, Kerambitan, pada minggu lalu yang dilakukan di Wantilan Umum Desa Baturiti,” ujarnya sembari nemambhakan Made Miantara ini pernah maju di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 di Kabupaten Tabanan, namun harus kalah.
Ia mengaku, penyataan yang dilontarkan saat itu merupakan bentuk kekecewaannya atas tindakan Made Miantara yang mengambil bansos dari program kementerian yang diberikan oleh Nyoman Adi Wiryatama yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI dari Partai PDI Perjuangan.
Bansos itu berupa pemberian bantuan di bidang peternakan. Namun, kelompok penerima bansos itu sebagian besar adalah pendukung gerindra dan pemilih pasangan calon I Nyoman Mulyadi dan I Nyoman Ardika alias Sengap (Semut) di Pilkada 2024 Tabanan yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus. Terlebih lagi, ketua dari kelompok itu adalah Made Miantara yang notabene kader Gerindra.
“Etis tidak kalau kader yang berjuang di Gerindra mengambil bansos dari PDI Perjuangan? Memang Pilkada sudah selesai tapi hasil dari Pilkada kan ada bansos,” tegasnya.
Dengan adanya pernyataan itu diharapkan Kader Gerindra paham paham terhadap etika, khususnya dalam berpolitik. “Jangan asal dapat saja. Tapi pikirkan juga bagaimana kader PDI, apakah mereka tidak emosi?” sambungnya.
Suryana juga menyampaikan permohonan maafnya kepada De Gadjah serta Kader Gerindra yang lain jika pernyataan yang telah dilontarkannya membuat tersinggung dan marah. “Ini hanyalah bentuk akumulasi kekecewaan saya. Dan sebagai Kepala Desa yang mengayumi masyarakat, saya dengan penuh kesadaran menyampaikan permohonan maaf kepada Pak De Gadjah,” imbuhnya.
Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, I Made Miantara menjelaskan, bantuan kelompok ternak itu merupakan program pemerintah pusat yang tidak seharusnya dikaitkan dengan partai politik.
“Bansos kan milik pemerintah, dari pajak pemerintah. Jadi tidak ada membedakan pendukung partai manapun,” jelasnya.
Dengan adanya kejadian ini, ia menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar masalah ini dapat segera diselesaikan. (ana)

































