- Advertisement -
Beranda blog Halaman 479

DPRD Tabanan Ajak Masyarakat Perkuat Catur Brata Penyepian

Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga.
Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Menjelang hari suci Nyepi Saka 1946 yang jatuh pada Senin (11/3/2024), Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga beserta unsur pimpinan dan anggota DPRD Tabanan lainnya mengajak seluruh masyarakat Tabanan untuk memperkuat semangat Catur Brata Penyepian.

Sehingga, Nyepi tidak hanya menjadi perayaan tahunan semata, melainkan momentum introspeksi diri.

“Dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian untuk menumbuhkan pikiran yang bersih dan suci,” ujar Dirga.

la berharap, perayaan Nyepi dilakukan secara sederhana atau tidak berlebihan. Khususnya pada saat perayaan Pengrupukan atau sehari sebelum Nyepi.

“Ini untuk menjaga suasana di tengah masyarakat yang harmonis,” tambahnya. (ana)

BBMKG Bali Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi saat Nyepi, Masyarakat Diimbau Waspada

lustrasi hujan lebat disertai petir (Foto: Tempo)
lustrasi hujan lebat disertai petir (Foto: Tempo)

PANTAUBALI.COM – Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini adanya potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah Bali pada 10-12 Maret 2024.

Dilansir dari website BBMKG wilayah III, hari ini Minggu (10/3/2024) yang bertepatan dengan perayaan pengerupukan sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali. Masyarakat diimbau untuk waspada adanya potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sepuluh Kabupaten.

Kemudian, pada Senin (11/3/2024) bertepatan dengan Nyepi, diprediksi potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah Bali. Meliputi Denpasar, Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Karangasem dan Klungkung.

Selain itu, masyarakat di daerah pesisir juga diimbau akan adanya gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter atau lebih di Laut Bali, Selat Bali bagian Selatan, Selat Badung, Selat Lombok, Perairan selatan Bali dan Samudera Hindia Selatan Bali-NTB.

Kemudian, pada Selasa (12/3/2024) diperkirakan akan terjadi hujan disertakan petir di wilayah Badung, Bangli, Gianyar, Buleleng, Jembrana, Karangasem, Klungkung dan Tabanan.

Atas peringatan dini tersebut, masyarakat diimbau untuk mewaspadai dampak bencana yang timbul seperti angin kencang, pohon tumbang, petir, banjir dan tanah longsor. (ana)

Maag Kambuh Saat Puasa? Ini Cara Mengatasinya

Ilustrasi sakit maag (Foto: Alodokter)
Ilustrasi sakit maag (Foto: Alodokter)

PANTAUBALI.COM – Maag atau dispepsia adalah gejala yang timbul karena adanya gangguan lambung, seperti gastritis atau Gerd. Saat mengalaminya, perut dan ulu ati akan sakit, sering senyawa, perut kembung, mual hingga muntah.

Maag sering dialami oleh orang yang tengah berpuasa. Sebab perut dalam keadaan perut tanpa makanan dan minuman lebih dari 12 jam sehingga menyebabkan produksi asam lambung meningkat.

Selain itu, perubahan jam tidur dan pola makan tidak sehat selama puasa juga membuat metabolisme tubuh dan sistem pencernaan terganggu, sehingga risiko munculnya maag pun meningkat.

Berikut adalah cara mengatasi agar maag tidak kambuh saat berpuasa.

1. Tidak melewatkan sahur dan jangan tunda berbuka

Saat puasa, Anda akan mengalami perubahan jadwal makan. Makan tepat waktu di saat waktu berbuka dan sahur adalah kunci supaya maag tidak kambuh.

Meskipun sangat mengantuk, sempatkan untuk makan sahur. Begitu juga saat sedang berada di jalan atau masih sibuk bekerja, tetaplah makan saat berbuka.

2. Pilih menu makanan yang aman untuk lambung

Penderita maag dianjurkan untuk makan tepat waktu dengan menu makanan yang tidak berisiko memicu maag. Misalnya, untuk mencegah maag kambuh setelah puasa seharian, batasi makanan yang terlalu berminyak atau pedas.

Mulailah berbuka dengan segelas air putih diikuti dengan takjil sehat, seperti kurma. Kemudian dilanjutkan dengan makanan utama yang sehat dan bernutrisi.

Pilih jenis makanan yang dapat mendukung kesehatan saluran pencernaan seperti tahu, tempe, susu kedelai dan yogurt.

Yang tak kalah penting adalah konsumsi sayur dan buah yang cukup saat sahur atau berbuka.

3. Hindari konsumsi makanan dan minuman pemicu maag

Fast food, gorengan dan makanan pedas merupakan makanan yang perlu dihindari oleh penderita maag karena bisa memicu kambuhnya maag.

Tidak hanya makanan, beberapa jenis minuman, seperti minuman bersoda dan berkafein, juga sebaiknya tidak dikonsumsi segera setelah buka puasa atau saat sahur.

4. Jangan tidur usai sahur atau berbuka

Tidur usai sahur atau berbuka sering dilakukan oleh sebagian orang. Kebiasaan buruk ini bisa menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan sensasi terbakar pada dada dan kerongkongan. Bahkan, sebagian orang jadi susah untuk tidur karena kondisi ini.

Walau sangat mengantuk, usahakan untuk memberi jeda antara waktu makan dengan waktu tidur, minimal 1 – 2 jam.

5. Konsumsi obat maag

Jika maag yang dialami sudah sangat mengganggu, Anda bisa minum obat maag seperti Antasida yang bisa menetralkan asam lambung. Namun, dianjurkan untuk konsultasikan ke dokter terlebih dahulu agar obat yang akan dikonsumsi sesuai dengan kondisi tubuh.

Itulah beberapa tips untuk mencegah maag kambuh saat puasa. Semoga bermanfaat dan diharapkan gejala maag tidak muncul sehingga ibadah puasa bisa berjalan lancar sampai bulan Ramadhan berakhir.

Terpeleset ke Selokan saat Bermain Hujan, Pelajar di Denpasar Tewas

Proses pencarian Wahyu Setiawan (17), pelajar terseret aliran air selokan, di Jalan Kusuma Bangsa lll, Banjar adat Kusumajati, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Jumat (8/3/2024).
Proses pencarian Wahyu Setiawan (17), pelajar terseret aliran air selokan, di Jalan Kusuma Bangsa lll, Banjar adat Kusumajati, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Jumat (8/3/2024).

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Seorang pelajar ditemukan meninggal setelah terseret aliran air selokan, tepatnya di Jalan Kusuma Bangsa lll, Banjar Adat Kusumajati, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Jumat (8/3/2024).

Korban bernama Wahyu Setiawan (17) asal Banjar Mekar Manis, Desa Pemecutan Kaja, Kota Denpasar Utara.

Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi menerangkan, awalnya korban bersama lima temannya sedang berlari-larian di tengah derasnya hujan. Namun, tiba-tiba korban terpleset hingga masuk ke selokan dengan kondisi air yang meluap.

“Kejadiannya kemarin sore saat hujan lebat turun dan volume air di selokan meningkat, awalnya tinggi air setinggi betis. Kemudian sekira pukul 17.30 WITA, air di selokan tersebut sudah setinggi dada, mengakibatkan jalan dan selokan tidak terlihat,” ujarnya setelah dikonfirmasi, Sabtu (9/3/2024).

Dikarenakan air meluap, korban melihat galon yang terseret dan hendak mengambilnya. Namun sayang kakinya terpeleset hingga jatuh dan masuk ke selokan.

“Setelah kejadian itu kelima temannya berteriak meminta bantuan kepada warga. Namun warga tidak berani turun langsung, sehingga warga menunggu volume air berkurang lalu mengambil korban dengan diikat menggunakan tali dan ditarik keluar selokan,” paparnya.

Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa dan selanjutnya dievakuasi ke RSIA Bunda.

“Keluarga korban telah mengikhlaskan kejadian ini dan menolak dilakukan VER ataupun otopsi. Rencananya korban akan dibawa ke Lamongan untuk dimakamkan oleh pihak keluarga,” imbuh Sukadi. (jas)

Mengenal Mekotek, Tradisi Penolak Bala di Desa Munggu Badung saat Kuningan

Tradisi Mekotek di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali
Tradisi Mekotek di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Mekotek merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan warga Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.

Seperti halnya hari raya Kuningan yang diperingati umat Hindu pada Sabtu (9/3/2024) ini. Sebanyak 12 Banjar Adat dan 10 Banjar Dinas mengikuti tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu.

Warga yang mengikuti mekotek ini terdiri dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Mereka masing-masing membawa kayu panjang dan disatukan membentuk lingkaran.

Kemudian ada satu atau dua orang yang naik ke atas kayu. Dengan diiringi gamelan baleganjur, mereka akan berjalan keliling desa.

Perbekel Desa Munggu I Ketut Darta menerangkan, tradisi Mekotek sendiri telah ada jauh sebelum jaman penjajahan. Tradisi ini yang melambangkan kemenangan setelah peperangan, serta bertujuan untuk tolak bala serta hal negatif di Desa Munggu.

“Tradisi ini tradisi langka dan unik, karena hanya ada di Desa kami, bahkan di seluruh Indonesia sekalipun. Berdasarkan petuah penglingsir (orang yang dituakan) kami, jika tradisi ini tidak dilaksanakan, maka dipercaya akan datangnya musibah, bencana alam atau grubug (penyakit) karena pernah sempat tidak dilaksanakan, desa mengalami grubug yang mendadak,” ujarnya.

Ia menyebut, dalam pelaksaannya, tradisi Mekotek ini awalnya menggunakan tombak dengan senjata tajam di atasnya. Namun, saat penjajahan Belanda itu dilarang serta digantikan menggunakan bahan yang lebih aman yang berbahan kayu.

“Kayu yang digunakan bukan kayu sembarangan, kita menggunakan yang namanya kayu Pulet. Kenapa dipilih kayu pulet? Karena teksturnya yang kuat serta lentur, sehingga meminimalisir kecelakaan,” ujarnya.

Sebelum tradisi ini dimulai, terdapat serangkaian upacara yang dilakukan seperti, pecaruan dan mepekeling di Pura Dalem sebelum akhirnya mengitari Desa Munggu.

“Khusus tahun ini yang kebetulan berdekatan dengan hari raya Nyepi, peserta dari pemuda sedikit berkurang, dikarenakan mereka terlalu banyak kegiatan dan harus mempersiapkan ogoh-ogohnya. Tetapi semangat mereka tetap berkobar,” imbuh Darta.

Dirinya berharap, tradisi turun-temurun ini bisa tetap dilestarikan oleh generasi muda serta dalam pelaksanaannya bisa berjalan dengan suka cita.

“Semoga tradisi ini tetap dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya sampai kapan pun, serta berjalan dengan aman, nyaman dan senang hati,” tutupnya. (jas)

Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Jaga Keharmonisan dalam Perayaan Hari Suci Nyepi Çaka 1946

Selamat Hari Raya Nyepi
Selamat Hari Raya Nyepi

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan, Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE, MM, bersama Wakil Bupati Tabanan I Made Wirawan, SE, mengucapkan selamat merayakan Hari Sucu Nyepi Çaka 1946 kepada seluruh umat sedharma yang merayakan.

Bupati Sanjaya mengajak seluruh masyarakat, terutama di Tabanan agar memperkuat semangat Catur Brata Penyepian. Sehingga, bukan hanya perayaan rutin setiap tahun saja, tetapi juga sebagai momentum untuk selalu memurnikan pikiran agar bersih dan suci.

“Di kesempatan yang baik ini, mari bersama-sama Mulat Sarira (introspeksi diri) melaksanakan Catur Brata Penyepian untuk menumbuhkan pikiran yang bersih dan suci. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, memberikan kerahayaun kepada seluruh umat dan alam semesta,” ujar Sanjaya.

Pimpinan kebanggaan Tabanan tersebut juga menghimbau kepada masyarakat agar memaknai Hari Raya Nyepi dengan sederhana dan tanpa adanya euforia berlebihan. Terlebih, suasana yang harmonis dalam perayaan hari Pengrupukan, sehingga tidak menimbulkan perselisihan antarwarga.

Nekad Curi Motor Teman Kos, Pria asal Kaltim Diringkus Polsek Tabanan

Patricio Sarmento (42), pria asal Paser, Kalimantan Timur (Kaltim) harus mendakap di Polsek Tabanan karena mencuri motor milik teman kosnya di Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan.
Patricio Sarmento (42), pria asal Paser, Kalimantan Timur (Kaltim) harus mendakap di Polsek Tabanan karena mencuri motor milik teman kosnya di Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Patricio Sarmento (42), pria asal Paser, Kalimantan Timur (Kaltim) diringkus Polsek Tabanan usai mencuri motor milik teman kosnya di Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan.

Ia nekad mencuri motor Honda Beat DK 2723 GBG milik Yanus Kambaru (28) asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, yang sedang terparkir di garasi pada Kamis (7/3/2024) pagi.

Kapolsek Tabanan Kompol I Nyoman Sumantara mengatakan, team opsnal Polsek Tabanan berhasil meringkus pelaku di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana pada Kamis sore.

“Saat itu pelaku hendak menyeberang menuju Banyuwangi. Selanjutnya pelaku beserta barang bukti dibawa ke Polsek Tabanan untuk proses penyidikan lebih lanjut,” ungkapnya, ketika dikonfirmasi, Sabtu (9/3/2024).

Sumantara menjelaskan, aksi pencurian ini terjadi pada Kamis (7/3/2024) pagi. Saat itu, korban, Yanus Kambaru bangun dan melihat pelaku, Patricio Sarmento, sudah duduk di depan kamar kosnya dengan mengenakan pakaian kerja.

Tidak berselang lama setelah korban mandi, ia mendapati kunci motor yang sebelumnya ditaruh diatas meja sudah tidak ada. Korban langsung mengecek motornya di garase dan mendapati motornya sudah hilang.

Korban juga sempat ke tempat kerjanya di Hotel Waka Gangga untuk menananyakan keberadaan pelaku namun tidak ada. Korban juga tidak bisa menghubungi pelaku lewat sambungan telepon.

“Modusnya pelaku dengan mudah mengambil sepeda motor karena mengetahui korban menaruh kunci kontak sepeda motor di atas meja  kamar tidur. Akibat kejadian itu korban mengalami kerugian sebesar Rp18,7 juta,” jelasnya.

Atas kejadian itu, korban langsung melapor ke Polsek Tabanan. Kemudian, dari hasil penyelidikan tim opsnal memperoleh informasi bahwa pelaku mengarah ke Jembrana. Atas koordinasi dengan petugas Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, pelaku akhirnya berhasil ditangkap sekitar pukul 16.00 WITA.

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa satu unit motor Honda Beat hitam DK 2723 GBG beserta STNK dan dua buah kartu ATM.

“Hasil interogasi, pelaku mengaku telah mencuri satu unit sepeda motor. Kemudian, dibawa ke Banyuwangi untuk mencari pekerjaan,” ungkap Sumantara. (ana)

Bupati Jembrana Ikuti Upacara Melasti di Pantai Pengambengan 

Bupati Jembrana I Nengah Tamba dan Wabup Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna, mengikuti prosesi melasti di Pura Segara Pantai Pengambengan Kecamatan Negara, Jumat (8/3/2024).
Bupati Jembrana I Nengah Tamba dan Wabup Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna, mengikuti prosesi melasti di Pura Segara Pantai Pengambengan Kecamatan Negara, Jumat (8/3/2024).

PANTAUBALI.COM, JEMBRANA – Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu menggelar upacara Melasti, termasuk  dikabupaten Jembrana. Pelaksanaan melasti diiikuti ribuan masyarakat Hindu dipusatkan di lima titik pantai dan pura segara masing masing kecamatan.

Bupati Jembrana I Nengah Tamba yang turut hadir bersama istri serta Wabup Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna,mengikuti prosesi melasti di Pura Segara Pantai Pengambengan Kecamatan Negara, Jumat (8/3/2024).

Upacara diawali dengan persembhyangan bersama. Kemudian penyucian kelaut berbagai pratima dan pralingga oleh masing masing desa  adat. Sebelumnya, bupati bersama jajaran sempat menghaturkan upacara mulang pekelem ketengah laut.

“Hari melasti ini saya ikut prosesi upacara sekaligus melihat langsung keberagaman masing masing desa adat, menyucikan ida betare serta sesuhunan masing masing. Astungkara karena semangat mengemban tugas diadat, upacara hari ini lancar dan kompak,” ucapnya.

Bupati juga menekankan,  kekompakan dalam beragama inilah yang diharapkan sehingga prosesi agama itu bisa tetap ajeg dan membawa berkah bagi semua.

“Senantiasa  rahayu dan  Ida Sanghyang Widi Wasa memberikan penganugerahaan keselamatan untuk kita semua,” tuturnya.

Secara khusus Bupati mengingatkan pentingnya toleransi dan kerukunan, mesti dijunjung tinggi. Sikap itu dengan tidak terpancing provokasi yang memperkeruh suasana toleransi. Terlebih rangkaian hari raya beda agama  berdekatan.

“Mari bantu saling toleransi yang tinggi, mogi-mogi semua masyarakat Jembrana memahami ini semuanya.

Baik kita umat sedharma maupun umat-umat yang lain Jangan sampai ada memancing-mancing, semuanya guyub rahayu saling komunikasi yang baik, saling ngejot, saling mengucapkan rasa syukur, ” kata Bupati Tamba.

Disisi lain menurut Ketua Majelis Desa Adat ( MDA )  Jembrana , I Nengah Subagia secara umum perayaan hari raya nyepi diawali upacara Melasti. Kemudian yang kedua ada tawur, ketiga sipeng, serta terakhir  ngembak.

Berkaitan dengan pelaksanaan mekiis/melasti hari ini, menurutnya bisa terselenggara dengan baik karena  didukung dengan kehadiran umat di Segara Pengambengan.

“Jadi pada prinsipnya dengan diadakan setahun sekali ini kita sudah ada kordinasi dengan pihak desa dinas di Pengambengan. Berkaitan dengan toleransi  kerukunan sudah kita sesama umat melalui MKUB Kecamatan dan Kabupaten sudah dilaksanakan kordinasi yang baik. Mudah-mudahan dengan pelaksanaan serangkaian hari nyepi ini berjalan sesuai dengan harapan,” terangnya .

Selaku pimpinan majelis desa adat, Subaga juga berharap tiap tahun kualitas perayaan hari raya Nyepi semakin berkualitas. Salah satunya melalui tata cara melaksanakan catur brata penyepian dengan sungguh sungguh.

Dijelaskannya, dengan melaksanakan catur brata penyepian dengan sungguh-sungguh artinya kita bisa  memaknai arti  pelaksanaan hari suci nyepi.

“Jadi silakan laksanakan brata penyepian amati karya, amati geni, amati lelungan, amati lelanguan. Kalau sudah itu dilaksanakan dengan khusyuk, semua umat sedharma termasuk juga umat yang tergabung dalam MKUB dapat berjalan sama-sama sehingga kerukunan bisa berjalan dengan baik,” tegasnya. (rls)

Lima Rangkaian Hari Raya Nyepi dari Melasti hingga Ngembak Geni, Simak Penjelasannya

Upacara melasti sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi.
Upacara melasti sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi.

PANTAUBALI.COM – Hari Raya Nyepi diperingati setiap satu tahun sekali oleh umat Hindu. Peringatan ini menjadi momen sakral bagi semua umat Hindu di seluruh Indonesia untuk menyambut pergantian tahun Saka.

Perayaan hari suci Nyepi sendiri dirangkaikan dengan beberapa upacara lain, mulai dari melasti hingga ngembak geni. Tujuannya sendiri ialah untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan melakukan ritual pembersihan diri atau Bhuana Alit dan alam semesta atau Bhuana Agung.

Berikut adalah lima rangkaian upacara Hari Raya Nyepi:

  1. Melasti

Upacara melasti atau yang dikenal juga dengan melis adalah ritual yang dilakukan beberapa hari sebelum Nyepi. Melasti sendiri merupakan proses pembersihan sarana sembahyang di pura dengan cara penyucian secara simbolis ke laut atau sungai. Biasa setiap desa khususnya di Bali, menggelar upacara ini di waktu yang berbeda-beda.

Adapun makna dari melasti ini adalah menghanyutkan kotoran dengan menggunakan air kehidupan atau Tirtha Amertha. Umat Hindu percaya bahwa air laut atau sungai dianggap sebagai sumber Tirta Amertha.

Untuk pelaksanaan upacaranya sendiri, umat Hindu akan membawa Jempana atau stana Ida Bhatara beserta benda-benda suci di Pura untuk diarak menuju laut.

Setelah itu, semua benda yang disucikan akan disemayamkan kembali pada satu pura hingga sehari setelah hari raya Nyepi. Selanjutnya akan dikembalikan lagi ke pura masing-masing.

 

2. Mecaru atau Tawur

Upacara mecaru atau tawur ini dilaksanakan tepat pada hari Tilem Sasih Kesanga (bulan mati ke-9) atau sehari sebelum Nyepi. Upacara ini akan dilaksanakan pada masing-masing rumah, desa hingga kecamatan.

Dalam upacara ini, umat akan membuat sesajen untuk dihaturkan kepada para Bhuta Kala atau simbol hal negative yang menganggu kehidupan manusia beserta alam semesta. Upacara ini dimulai dengan tahapan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan atau lingkungan rumah masing-masing dengan menggunakan sarana banten caru.

Terdapat tiga jenis tingkatan Bhuta Yadnya yakni Panca Sata (Kecil), Panca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Kemudian, untuk banten caru sendiri terdiri dari nasi manca warna atau nasi lima warna yang berjumlah Sembilan tanding atau paket yang berisi lauk pauk berupa ayam brumbun (warna-warni), tetabuhan arak atau tuak, dan sarana lainnya.

 

3. Pengerupakan

Setelah pelaksanaan upacara mecaru, umat Hindu akan menyebar nasi tawur dan membuat api atau obor. Tujuannya adalah untuk menerangi pekarangan rumah dengan sejenis makanan bernama mesiu.

Kemudian, dibarengi dengan membunyikan benda-benda seperti kentongan untuk menghasilkan suara ramai hinga gaduh. Hal itu dilakukan untuk mengusir para Bhuta Kala dari pekarangan rumah dan sekitarnya.

Pada momen ini biasanya setiap desa adat akan mengarak ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala. Ogoh-ogoh akan diarak keliling desa lalu dibakar untuk menghilangkan hal negatif yang bisa menganggu kehidupan manusia dengan alam sekitarnya.

 

4. Nyepi

Puncak dari rangkaian acara diatas adalah Hari Suci Nyepi. Saat Nyepi, umat Hindu dilarang beraktivitas keluar rumah seperti biasanya dan dianjurkan melakukan puasa. Sebab umat Hindu melaksanakan ritual yang dikenal dengan Catur Brata Penyepian, yakni:

  • Amati Geni: tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
  • Amati Karya: tidak melakukan kegiatan kerja jasmani.
  • Amati Lelungan: tidak bepergian keluar rumah.
  • Amati Lelanguan: tidak menunjukkan kesenangan atau liburan melainkan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Proses Nyepi dilakukan selama 24 jam atau satu hari penuh, yang dimulai saat matahari menyingsing hingga keesokan harinya.

 

5. Ngembak Geni

Upacara terakhir dari rangkaian Hari Raya Nyepi adalah Ngembak Geni. Prosesi ini dilakukan sehari setelah Nyepi. Biasanya Umat Hindu akan berkunjung ke rumah keluarga atau tetangga untuk silaturahmi dan salah memaafkan.

Hal ini dilakukan karena umat Hindu memegang prinsip Tattwam Asi yang artinya aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Meskipun berbeda keyakinan, derajat manusia tetap sama di hadapan Tuhan. Sehingga membuat Hindu mengedepankan hidup rukun dan damai.

 

Itulah penjelasan mengenai rangkaian upacara Hari Suci Nyepi, mulai dari melasti hingga Ngembak Geni. Mari saling menghormati dan menjaga toleransi antar umat beragama agar kehidupan berjalan tentram dan damai.

Jaga Ketahanan Pangan, DPRD Tabanan Rancang Perda Lahan Pangan Berkelanjutan

Sekretaris Pansus I I Gusti Nyoman Omardani
Sekretaris Pansus I I Gusti Nyoman Omardani

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tabanan berencana akan membuat peraturan daerah (Perda) tentang lahan pangan berkelanjutan.

Perda ini dibuat untuk menunjang program pemerintah dalam usaha menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan di seluruh wilayah Tabanan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Komisi I DPRD Tabanan I Gusti Nyoman Omardani. Menurutnya, Perda ini juga sebagai penjabaran dari pemberlakuan kebijakan lahan sawah yang dilindungi (LSD).

“Sebab dari ditetapkannya LSD, masyarakat pemilik lahan persawahan yang masuk kawasan praktis malah tidak bisa menikmati nilai ekonomis dari lahannya sendiri di luar sektor pertanian, sehingga harus ada peraturan yang mengatur tentang kondisi tersebut,” jelasnya Jumat (8/3/2024).

Omardani menjelaskan, nantinya peraturan ini juga akan memuat kebijakan terkait kompensasi terhadap penerapan kawasan LSD.

“Namun kompensasi belum ditentukan nantinya seperti apa. Apakah akan berbentuk keringanan pajak atau hal lainnya. Karena masih memerlukan pembahasan lebih lanjut,” ungkapnya.

Adapun draf rancangan Perda tersebut diperkirakan mulai masuk ke DPRD Tabanan padq April 2024 mendatang. Kemudian pihaknya juga harus menyiapkan naskah akademis dari perguruan tinggi yang ditunjuk.

“Target pembahasannya dimulai April dan harus selesai akhir tahun 2024 ini. Sehingga Perda bisa segera disosialisasikan,” ucapnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Kabupaten Tabanan telah menetapkan Perda RTRW yang berkaitan dengan penetapan luas LSD.

Namun dalam prosesnya, ada perbedaan data antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang dengan Pemkab Tabanan mengenai luas LSD. Data dari kementerian menyebut LSD di Tabanan seluas 19.100 hektare yang mengacu pada peta yang diperoleh dari citra satelit.

“Data kementerian tersebut mencakup lahan- lahan sawah yang telah dimiliki investor namun belum digarap. Sedangkan versi data Pemkab Tabanan menyebut luas LSD mencapai 16.100 hektare dengan menyisihkan lahan-lahan sawah yang telah dimiliki oleh investor,” imbuhnya. (ana)