- Advertisement -
Beranda blog Halaman 164

Anak Agung Gde Agung Mebhiseka Ida Cokorda Mengwi di Pura Taman Ayun

Upacara penobatan Bhiseka Ida Cokorda Mengwi XIII di Pura Taman Ayun Mengwi, Senin (7/7).
Upacara penobatan Bhiseka Ida Cokorda Mengwi XIII di Pura Taman Ayun Mengwi, Senin (7/7).

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Prosesi sakral Bhiseka atau penobatan Ida Cokorda Mengwi XIII dilangsungkan khidmat di Utamaning Mandala Pura Taman Ayun, Mengwi, Badung, Senin (7/7/2025).

Penglingsir Puri Ageng Mengwi yang juga merupakan bupati Badung dua periode di masa bakti 2005 – 2010 dan masa bakti 2010-2015, Anak Agung Gde Agung resmi diberi gelar Bhiseka Ratu, Ida Cokorda Mengwi XIII.

Upacara yang dipuput oleh 11 sulinggih dan disaksikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa didampingi Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, bersama Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta.

Prosesi diawali Peed Agung, dimana dalam prosesi ini Bupati Wayan Adi Arnawa dan Wabup. Bagus Alit Sucipta mendampingi Gubernur Bali Wayan Koster dan AA. Gde Agung berjalan dari Puri Ageng Mengwi menuju Pura Taman Ayun.

Di Pura Taman Ayun dilaksanakan upacara mejaya-jaya dan upacara Bhiseka Ida Cokorda yang dipuput 11 Sulinggih. Dengan upacara mejaya-jaya, AA. Gde Agung diberikan gelar Bhiseka Ratu, Ida Cokorda Mengwi XIII dan Istri Beliau Mabiseka Ratu, Ida Istri Mengwi.

Prosesi mejaya-jaya memiliki makna pemberian restu secara niskala untuk menjalankan dharma kepemimpinan dan dharma masyarakat.

Upacara dilanjutkan metapak kebo, pemberian gelar Bhiseka Ida Cokorda oleh Ida Bhagawanta dan pemasangan Pin simbol keabsahan. Penyerahan tongkat kerajaan oleh Ida Dalem dan pemasangan destar sebagai lambang Bhiseka atau pengangkatan resmi.

Prosesi tersebut juga disaksikan Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Ketua DPD RI, Sekjen DPR RI, Puri Ageng Klungkung, Puri Ageng Karangasem, DPRD Badung, Mangu Kertha Mandala Mengwi dan Angga Puri.

Pada kesempatan tersebut Bupati Adi Arnawa atas nama pemerintah dan masyarakat Badung sangat mengapresiasi dan memberikan ucapan selamat atas penobatan Penglingsir Puri Ageng Mengwi AA. Gde Agung Abiseka Ratu Ida Cokorda Mengwi XIII.

Tentu kegiatan ini sebagai salah satu bentuk pelestarian adat, tradisi dan budaya khususnya di Kabupaten Badung. Terlebih upacara dilaksanakan di utamaning mandala Pura Taman Ayun sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO.

Diharapkan dengan penobatan ini peradaban di bali, baik itu budaya dan adat istiadat tetap terjaga dengan baik. Yang terpenting lagi melalui upacara ini, generasi muda akan memahami tentang perjalanan sejarah kerajaan di Badung.

“Mudah-mudahan dengan penobatan ini, akan semakin banyak menambah khasanah budaya di Bali khususnya di Badung,” tambahnya. (rls)

Jalur Denpasar-Gilimanuk Kembali Lumpuh Akibat Jalan Jebol Dekat Pasar Bajera

Kondisi jalan nasional yang jebol di dekat Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Senin (7/7/2025).
Kondisi jalan nasional yang jebol di dekat Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Senin (7/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Jalur Nasional Denpasar-Gilimanuk kembali terganggu. Pasalnya ruas jalan di dekat Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, jebol pada Senin (7/7/2025) sore. Kondisi itu menyebabkan kemacetan di sepanjang jalur padat kendaraan tersebut hingga wilayah Kecamatan Pupuan.

Camat Selemadeg, I Wayan Budhiarsana, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut kendaraan besar tidak dapat melintas dan dialihkan ke jalur alternatif.

“Untuk kendaraan besar tidak bisa lewat. Kami sarankan putar balik. Kalau yang dari arah Gilimanuk disarankan untuk lewat Jalan Antosari-Pupuan. Sedangkan dari arah Denpasar (timur), kendaraan bisa lewatdi Jelijih atau menepi di rest area yang luas. Kalau mobil kecil masih bisa lewat jalur Antap dan sekitarnya tapi terpantau macet,” terangnya.

Kondisi ini memperparah gangguan lalu lintas yang sebelumnya telah terjadi. Sehari sebelumnya, ruas jalan di Jembatan Yeh Nu, Banjar Penyalin, Desa Samsam, juga sempat lumpuh selama beberapa jam karena terendam air. Kendaraan dari dua arah tidak bisa bergerak akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.

Sementara itu, Perbekel Desa Bajera, I Putu Sukerata mengungkapkan, jalan amblas di titik ini bukan kali pertama terjadi.

“Ini sudah kejadian yang keempat, sejak awal terlihat pada 19 Juni 2025 lalu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada 25 Juni 2025, lubang di badan jalan mulai melebar, namun belum ada tindakan perbaikan. Kerusakan semakin parah pada Minggu (6/7/2025) setelah hujan deras mengguyur wilayah Bajera.

“Sekitar 30 menit yang lalu (pukul 16.00 Wita), jebolnya melebar sampai setengah badan jalan. Rambu peringatan sudah kami pasang sejak kemarin (Minggu). Kedalamannya kurang lebih 6 meter,” sambung Sukerata.

Ia menduga hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut menjadi faktor utama semakin lebarnya kerusakan. Untuk menghindari penumpukan kendaraan, pihak desa bersama aparat Polsek Selemadeg turut mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi.

“Kalau sepeda motor masih memungkinkan untuk lewat dari arah Gilimanuk. Namun roda empat ke atas sudah tidak bisa dilewati,” jelasnya.

Dari pengamatannya, jalan tersebut masih menggunakan konstruksi lama peninggalan era kolonial, yang belum dilengkapi struktur penunjang modern. Hal ini diduga membuat daya tahan jalan semakin menurun, terlebih saat curah hujan tinggi. (ana)

24 Adegan Rekonstruksi Ungkap Sadisnya Pembunuhan Penjaga Villa di Sesetan

Dua tersangka, Muhammad Babul Wahyudi dan Dimas Ari Ramadhan, saat memperagakan adegan pembunuhan dalam rekonstruksi kasus di Jalan Gurita, Sesetan, Denpasar Selatan.
Dua tersangka, Muhammad Babul Wahyudi dan Dimas Ari Ramadhan, saat memperagakan adegan pembunuhan dalam rekonstruksi kasus di Jalan Gurita, Sesetan, Denpasar Selatan.

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Fakta mengerikan terungkap dalam rekonstruksi kasus pembunuhan penjaga villa, Ade Adriansah (54), yang digelar di lokasi kejadian, Jalan Gurita IV, Banjar Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan, Senin (7/7/2025).

Polisi memperagakan 24 adegan yang menggambarkan secara rinci betapa sadis dan terencananya aksi dua pelaku, Muhammad Babul Wahyudi (33) dan sepupunya, Dimas Ari Ramadhan (24).

Babul, yang disebut memiliki ketertarikan sesama jenis, menjadi otak kejahatan ini. Motifnya diduga dilatarbelakangi rasa cemburu dan kekecewaan terhadap korban, yang disebut-sebut memiliki pria lain serta ingkar janji soal uang.

Dalam reka adegan, diketahui rencana pembunuhan mulai dirancang sejak Jumat (3/5), saat Babul dan Dimas bertemu di sebuah minimarket kawasan Pulau Kawe. Dari sana, mereka menyusun strategi untuk menghabisi nyawa Ade.

Setelah membeli makanan cepat saji, keduanya menuju villa korban sekitar tengah malam. Motor mereka diparkir di ujung gang, lalu berjalan kaki masuk ke lokasi.

Di villa, korban sempat menerima kedatangan mereka dengan santai. Ketiganya duduk berbincang sambil makan di ruang tamu. Namun suasana berubah panas ketika terjadi adu mulut antara Babul dan korban. Saat itu, Dimas beristirahat di ruang tamu, sementara Babul mulai mengeksekusi rencananya.

Sekitar pukul 01.30 WITA, Babul memastikan korban sudah tertidur. Ia kemudian mengambil cobek batu dan memukul dada korban. Ade terbangun dan sempat melawan. Namun Dimas langsung memiting leher dan membekap mulut korban. Babul kembali memukul korban, lalu mengambil pisau dari dapur dan menusuk perutnya.

Kekerasan terus berlanjut. Korban dipukul dengan kayu, cobek, hingga dihantam menggunakan kotak kayu. Bahkan, gunting digunakan untuk menusuk leher korban. Setelah memastikan korban tak bernyawa, jasadnya dibungkus selimut dan diseret ke kamar mandi.

Kedua pelaku kemudian mandi bergantian untuk membersihkan diri. Mereka meninggalkan TKP dan membeli pertalite di warung kelontong. Beberapa jam kemudian, keduanya kembali untuk membersihkan bekas darah dengan alat pel, mengumpulkan barang bukti seperti pisau dan pakaian berdarah ke dalam kantong plastik, lalu membakar jenazah dengan menyiramkan pertalite dan menyalakan api.

Usai membakar jenazah, keduanya keluar, mengunci pintu pagar, lalu kabur dengan sepeda motor. Dalam adegan terakhir, Babul bahkan menghubungi seseorang bernama Saipudin agar mengambil motornya di kos dan menyimpannya. Keduanya lantas kabur ke Bondowoso menggunakan mobil travel, sambil membuang barang bukti seperti handphone korban ke laut dan tas plastik berisi barang berdarah di wilayah Jembrana.

Kasi Humas Polresta Denpasar, AKP I Ketut Sukadi menjelaskan, rekonstruksi ini penting untuk menguji kebenaran keterangan para pelaku dan saksi, sekaligus memperjelas kronologi serta peran masing-masing.

“Rekonstruksi memberikan gambaran menyeluruh tentang peristiwa pidana, termasuk waktu, lokasi, hingga cara pelaku menghabisi korban,” ujar Sukadi.

Ia juga membenarkan bahwa motif utama pembunuhan ini adalah kecemburuan bercampur dengan kekecewaan karena janji korban yang tak ditepati.

“Pelaku menjanjikan uang kepada sepupunya agar bersedia membantu membunuh korban,” jelasnya. (ra)

Gong Gebyar Wanita Tabanan di PKB Tampil Apik Meski Tertunda Hujan

Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.
Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Meski sempat tertunda selama dua jam akibat hujan deras, penampilan duta Gong Kebyar Wanita Kabupaten Tabanan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tetap berhasil memukau penonton.

Semangat dan kekompakan para penabuh dari Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan ini mampu mencuri perhatian saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.

Penampilan ini menjadi lebih istimewa karena disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Ny. Putri Suastini Koster, Wakil Bupati Tabanan, serta para kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Tak hanya itu, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, juga turut menyaksikan penampilan secara langsung melalui siaran live streaming, menunjukkan dukungan penuh terhadap kiprah seni budaya perempuan Tabanan.

Nama Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana mengandung filosofi mendalam. Kata Dahayu berarti cantik, elok, dan estetis, sedangkan Singasana bermakna benteng kekuatan.

Dua kata ini bila disatukan menggambarkan sosok perempuan Tabanan yang tidak hanya menawan dari segi penampilan, namun juga kuat dan penuh semangat dalam menjunjung nilai-nilai budaya serta semangat berkarya membangun Tabanan di Era Baru.

Pada Parade Gong Kebyar Wanita kali ini, Sekaa Gong Dahayu Singasana mempersembahkan tiga garapan utama yakni Sandhya Gita Kaweruhan Batukau, Lelambatan Tabuh Telu Hulu Teben, serta Tari Margapati.

Garapan pertama yang dibawakan adalah Sandhya Gita Kaweruhan Batukau. Karya ini menyiratkan keagungan Gunung Batukau sebagai sumber spiritual dan sumber kehidupan bagi masyarakat Tabanan.

Dengan nuansa melodi dan ritme yang menggambarkan kekuatan alam dan konsep keagungan, garapan ini menekankan pentingnya pembangunan Tabanan secara skala dan niskala.

Penata karawitan dan vokal dipercayakan kepada I Made Putra Wantara penata gerak oleh Ni Ketut Candra Lestari, naskah garapan oleh Jero Arum dan I Made Adi Sutrisna, serta properti pendukung oleh Gede Ersa dan Wayan Supandiyasa.

Garapan kedua yang ditampilkan adalah Lelambatan Tabuh Telu berjudul Hulu Teben yang terinspirasi dari filosofi wilayah Tabanan.

Gunung Batukaru di bagian hulu, persawahan yang subur di tengah, dan garis pantai seperti Tanah Lot di bagian teben mencerminkan keharmonisan alam dan kehidupan masyarakat Tabanan.

Tabuh ini tetap berpijak pada pakem klasik Tabuh Telu yang terdiri dari pengawit (awal), pengawak (tengah), dan pengecet (penutup), yang masing-masing mewakili bagian dari wilayah Tabanan.

Garapan ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat Tabanan atas kelimpahan alam dan keharmonisan hidup yang dijalani, serta sebagai refleksi arah pembangunan Kabupaten Tabanan menuju Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). Ide garapan ditata secara apik oleh I Nyoman Sudarmika dengan konsep oleh I Made Adi Sutrisna.

Persembahan pamungkas adalah Tari Margapati, sebuah tari klasik ciptaan maestro I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Tarian ini mengisahkan tentang kekuatan seekor raja hutan dalam memburu mangsanya, dihadirkan oleh penari perempuan dengan gerak tegas, lincah dan ekspresif.

Gerakan tari yang menggambarkan kekuatan dan keberanian menjadi simbol dari kepemimpinan yang sigap dan tangkas, mencerminkan arah pembangunan Tabanan yang progresif dan berkelanjutan. Iringan gamelan yang dinamis dalam intensitas tempo memperkuat suasana ketegangan dan ketegasan yang khas dalam tarian ini.

Seluruh rangkaian penampilan dikemas dengan tata busana berkonsep Tri Datu, yakni merah, putih, dan hitam sebagai perlambang keberanian, kesucian, dan keagungan. Warna-warna ini juga merujuk pada filosofi Trimurti dalam keyakinan Hindu, serta mengandung makna harmoni alam melalui konsep Tri Angga yang melambangkan kepala, badan, dan kaki.

Sementara itu, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya,memberikan apresiasi atas dedikasi dan semangat para seniman perempuan ini.

“Saya sangat bangga dan terharu menyaksikan penampilan luar biasa dari Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana. Meskipun sempat tertunda akibat hujan, semangat dan dedikasi para seniman tidak luntur sedikit pun. Penampilan ini bukan hanya persembahan seni, tetapi juga bentuk pengabdian dan cinta terhadap budaya, alam, dan tanah kelahiran. Ini adalah wajah Tabanan Era Baru yang sesungguhnya: Aman, Unggul, dan Madani,” ungkapnya.

Melalui penampilan ini, Tabanan kembali menegaskan perannya sebagai lumbung budaya Bali, tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga penuh dengan kreativitas dan semangat berkesenian yang diwariskan secara turun-temurun.

Srikandi-srikandi muda Tabanan membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus sebagai motor penggerak kemajuan daerah. (ana)

Proyek diatas Sawah Dilindungi dan Kawasan Suci Tanah Lot Kembali Berlanjut, Sempat Dihentikan Tahun 2023

Proyek pembangunan yang kembali berjalan ini berdiri di atas lahan sawah dilindungi dan kawasan suci di Banjar Batugaing, Desa Beraban, Tabanan.
Proyek pembangunan yang kembali berjalan ini berdiri di atas lahan sawah dilindungi dan kawasan suci di Banjar Batugaing, Desa Beraban, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Setelah sempat dihentikan pada tahun 2023 lalu, sebuah proyek pembangunan di kawasan suci Pura Tanah Lot dan di atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, kembali menunjukkan aktivitas. Proyek ini kembali mencuat ke publik lantaran berdiri di zona yang masuk kawasan perlindungan spiritual dan pertanian abadi.

Berlokasi hanya beberapa kilometer dari kawasan wisata rohani Tanah Lot, proyek pembangunan tersebut terletak di Banjar Batugaing, pada lahan yang secara aturan masuk dalam zona penyangga tempat suci Tipe II serta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), berdasarkan Keputusan Menteri ATR/BPN Nomor 1589/SK-HK.02.01/XII/2021 tanggal 16 Desember 2021.

Tak hanya itu, proyek juga diduga melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan No. 11 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang menyatakan kawasan tersebut merupakan jalur hijau. Artinya, tidak diperkenankan ada alih fungsi lahan untuk kegiatan komersial atau hunian.

Pembangunan sempat dihentikan pada tahun 2023. Namun, kini aktivitas kembali berlangsung secara diam-diam, memicu kekhawatiran masyarakat atas potensi kerusakan lingkungan dan penodaan nilai-nilai kesucian kawasan pura.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lahan tersebut tercatat atas dua Sertifikat Hak Milik (SHM), dengan pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atas nama seorang warga negara asing asal Jerman, yang juga disebut sebagai investor.

Menanggapi hal ini, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tabanan, I Gede Sukanada, mengatakan pihaknya akan turun langsung mengecek ke lokasi.

“Coba kami cek ke lapangan, tentunya kita harus sama sama menghormati serta mentaati norma dan aturan yang ada,” ujarnya, Senin (7/7/2025).

Pemerintah daerah sejauh ini belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait langkah penindakan. Namun, kasus ini menjadi sorotan baru atas lemahnya pengawasan di daerah, serta potensi pembiaran pelanggaran yang bisa merusak warisan budaya dan lingkungan Bali. (Ra)

Lepas Sambut Dandim Tabanan, Bupati Sanjaya Tegaskan Sinergi TNI-Pemkab

Acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).
Acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Suasana penuh kehangatan menyelimuti acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).

Dalam acara tersebut, Letkol Inf Riza Taufiq Hasan resmi mengakhiri masa tugasnya di Bumi Lumbung Beras Bali dan menyerahkan tongkat komando kepada pejabat baru, Letkol Inf Trijuang Danarjati, yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 742/SWY Korem 162/Wira Bakti, Kota Mataram.

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang turut didampingi jajaran Forkopimda dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Letkol Inf Riza Taufiq Hasan atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa selama hampir tiga tahun bertugas di Tabanan.

Bupati Sanjaya juga mengucapkan selamat datang kepada Letkol Inf Trijuang Danarjati dan berharap sinergi yang telah terjalin antara Pemkab Tabanan dan Kodim 1619 dapat terus diperkuat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Peraih Penghargaan Manggala Karya Kencana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Tahun 2024 ini juga menyampaikan secara singkat sejarah Kabupaten Tabanan sejak masa kerajaan hingga menjadi kabupaten modern, termasuk menjelaskan potensi besar yang dimiliki, khususnya di sektor pertanian.

Ia menegaskan, masyarakat Tabanan memiliki karakter sebagai pejuang sejati dan menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri.

“Tabanan adalah kabupaten penyangga dengan potensi luar biasa. Masyarakatnya memiliki jiwa tempur yang kuat. Banggalah menjadi bagian dari Tabanan,” ucapnya.

Letkol Inf Riza Taufiq Hasan dalam kesan dan pesannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah selama ia bertugas.

“Saya sangat terkesan dengan Tabanan, baik dari sisi potensi daerah maupun karakter masyarakatnya yang luar biasa,” Kini, pria asal Karanganyar, Solo tersebut dipercaya untuk menjalankan tugas baru di Mabes TNI AD di Jakarta.

Sementara itu, Letkol Inf Trijuang Danarjati menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Pemerintah Kabupaten Tabanan. Ia menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pengabdian dan menjaga sinergisitas antarinstansi guna mendukung pembangunan daerah.

“Kami mohon dukungan dan sinergi seluruh elemen di Tabanan, agar bersama-sama kita dapat mensukseskan program TNI serta mendukung Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani,” ujarnya.

Acara pisah sambut ini ditutup secara simbolis dengan penyerahan cinderamata oleh Bupati Tabanan kepada Letkol Inf Riza Taufiq Hasan, didampingi Forkopimda sebagai bentuk penghormatan dan kenangan atas pengabdiannya yang berkesan selama bertugas di Kodim 1619 Tabanan. (ana)

Tiga Kawasan Perumahan di Kediri Tabanan Dilanda Banjir, Puluhan Warga Mengungsi

Puluhan warga mengungsi di SD Negeri 6 Banjar Anyar akibat rumah mereka direndam banjir, pada Minggu (7/7/2025).
Puluhan warga mengungsi di SD Negeri 6 Banjar Anyar akibat rumah mereka direndam banjir, pada Minggu (7/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tabanan, Bali, pada Minggu (6/7/2025) kemarin, mengakibatkan banjir di beberapa kawasan permukiman. Puluhan warga pun terpaksa mengungsi hingga banjir surut.

Selain banjir, insiden pohon tumbang juga terjadi di Pura Celagi Kembar Banjar Batugaing, Desa Beraban. Pohon jenis Asem itu menimpa pura dan sempat menutup akses utama menuju objek wisata Tanah Lot.

Kapolsek Kediri, Kompol I Nyoman Sukadana ketika dikonfirmasi Senin (7/7/2025) mengatakan, banjir terjadi di tiga titik yakni di Desa Banjar Anyar dan Desa Nyitdah.

Di Desa Banjar Anyar, banjir menggenangi dua kompleks permukiman, yakni Perumahan Panorama Sanggulan dan Lembah Sanggulan.

Tinggi air di Panorama Sanggulan mencapai sepinggang orang dewasa. Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) mengungsi ke SD Negeri 6 Banjar Anyar, dan lima KK lainnya memilih tinggal di rumah saudara mereka.

Kemudian di Perumahan Lembah Sanggulan, warga sempat mengungsi ke Yayasan Al-Hijrah Sanggulan. Sebagian dari mereka kini telah kembali ke rumah untuk membersihkan sisa lumpur dan endapan banjir.

“Yang di SD 6 masih ada satu KK mengungsi, sisanya sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Sukadana.

Sementara itu, di Perumahan Pondok Asri Residen Indah, Desa Nyitdah, banjir merendam rumah milik satu keluarga atas nama Bapak Dana. “Lima orang anggota keluarga tersebut telah dievakuasi ke rumah tetangga terdekat,” tambahnya.

Selanjutnya di Desa Beraban, hujan lebat menyebabkan pohon asem berukuran besar tumbang di kawasan Pura Celagi Kembar, Banjar Batugaing.

Pohon itu menimpa penyengker pura, kabel listrik, dan menutup jalan utama menuju objek wisata Tanah Lot. Akibatnya, akses lalu lintas sempat terganggu.

“Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Tim BPBD Tabanan bersama warga setempat langsung melakukan penanganan sehingga akses jalan sudah normal kembali,” terang Sukadana.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan bantaran sungai. Masyarakat juga diminta segera melapor ke BPBD atau aparat desa jika terjadi kondisi darurat.

“Kami juga imbau masyarakat terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan sumber resmi lainnya,” ucap Sukadana. (ana)

Bupati Klungkung Hentikan Proyek Diduga Milik WNA yang Nempel Dengan Pura

Bupati Klungkung I Made Satria saat menghentikan langsung aktivitas pembangunan di dekat kawasan suci Pura.
Bupati Klungkung I Made Satria saat menghentikan langsung aktivitas pembangunan di dekat kawasan suci Pura.

PANTAUBALI.COM, KLUNGKUNG – Bupati Klungkung I Made Satria bertindak tegas menghentikan langsung aktivitas pembangunan sebuah bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan kawasan suci Pura Penataran Ped, Desa Ped, Nusa Penida, pada Sabtu (5/7/2025). Bangunan yang diduga milik seorang warga negara asing (WNA) itu diketahui belum mengantongi izin resmi.

Tindakan ini diambil setelah muncul keluhan dari masyarakat pengempon pura yang merasa resah atas keberadaan bangunan tersebut. Lokasinya yang hampir menempel dengan tembok pura dinilai mencemari kesucian Pura Penataran Ped, salah satu pura Sad Kahyangan Jagat yang sangat disakralkan umat Hindu di Bali.

Bupati Satria, yang merupakan warga asli Dusun Sental, Desa Ped, langsung mengecek lokasi usai melakukan persembahyangan di pura tersebut. Ia terkejut mendapati bangunan berdiri di pesisir timur pura, nyaris menempel dengan areal suci.

“Pembangunan ini tidak boleh dilanjutkan. Ini sudah masuk wilayah suci dan tidak bisa kami toleransi,” tegasnya kepada para pekerja di lokasi proyek.

Bupati juga menyoroti absennya pemilik bangunan saat peninjauan berlangsung. Para pekerja pun tidak dapat menunjukkan dokumen izin maupun legalitas pembangunan. Hal ini makin memperkuat dugaan adanya pelanggaran serius terhadap aturan tata ruang dan perlindungan kawasan suci.

“Saya tidak akan mentoleransi pembangunan yang mencemari tempat suci. Pura Penataran Ped adalah pusat spiritual, bukan tempat untuk kepentingan pribadi apalagi komersial,” tandasnya.

Kepala Satpol PP dan Damkar Klungkung, Dewa Suwarba, menyatakan siap menindaklanjuti arahan Bupati. “Kami segera turun ke lokasi dan akan bertindak sesuai aturan yang berlaku. Instruksi Bupati sudah jelas,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah masih menelusuri kepemilikan bangunan dan legalitas izinnya. Dugaan sementara mengarah pada seorang WNA yang identitasnya belum diketahui.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganan kepada pihak berwenang demi menjaga kesucian Pura Penataran Ped dan keharmonisan spiritual masyarakat Bali. (ra)

Ibu dan Anak Tewas Terseret Arus Sungai di Karangasem, Usai Meninjau Rumah yang Sedang Dibangun

Warga Desa Seraya, Karangasem, mengevakuasi jenazah korban ibu dan anak yang terseret arus sungai usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Minggu (6/7/2025).
Warga Desa Seraya, Karangasem, mengevakuasi jenazah korban ibu dan anak yang terseret arus sungai usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, KARANGASEM – Duka mendalam menyelimuti warga Dusun Gambang, Desa Seraya, Karangasem, setelah seorang ibu dan anaknya tewas terseret arus sungai yang meluap, Minggu sore (6/7/2025).

Korban diketahui bernama Ni Luh Sutriadnyani dan putranya, I Wayan Eka (10). Keduanya terseret arus deras saat melintasi jalur sungai menggunakan sepeda motor sepulang meninjau pembangunan rumah mereka di kawasan Seraya Barat. Saat kejadian, hujan deras mengguyur wilayah tersebut hingga menyebabkan aliran sungai meluap ke badan jalan.

“Mereka habis melihat rumah yang sedang dibangun. Tinggalnya di rumah mertua di Banjar Ijo Gading. Saat pulang, mereka lewat jalur sungai yang biasa dilewati warga,” jelas Perbekel Desa Seraya, I Wayan Dandri.

Tanpa menyadari arus yang menguat dan meluber ke jalan, keduanya terjebak dan langsung terseret arus deras. Warga yang mengetahui kejadian itu segera melakukan pencarian. Jenazah sang anak ditemukan lebih dulu, disusul tubuh sang ibu yang juga ditemukan tak bernyawa tak lama kemudian.

“Keduanya ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dan langsung dibawa ke rumah sakit,” tambah Dandri.

Pemerintah desa pun mengimbau masyarakat agar menghindari jalur rawan banjir ketika hujan deras turun, demi mencegah insiden serupa terulang. (RA)

Sudah SP 3 Kali, Bangunan Ilegal di Pantai Bingin Akan Dibongkar, Jumlahnya 48

Ilustrasi pembongkaran bangunan.
Ilustrasi pembongkaran bangunan.

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemkab Badung segera mengeksekusi pembongkaran 48 bangunan usaha ilegal di kawasan Pantai Bingin, Desa Pecatu. Seluruh pemilik bangunan telah menerima Surat Peringatan (SP) tahap ketiga, menandakan bahwa proses eksekusi tinggal menunggu surat perintah teknis dari Bupati Badung.

Bangunan-bangunan tersebut dinyatakan melanggar karena berdiri di atas tanah negara yang termasuk dalam kawasan perlindungan setempat. Kepala Satpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Darmadi, menyatakan bahwa sebelumnya terdata 45 bangunan, namun hasil verifikasi terbaru menemukan tiga tambahan yang sempat terlewat.

“Total ada 48 bangunan milik 38 pengusaha. Beberapa di antaranya memiliki lebih dari satu unit usaha. Surat permintaan eksekusi juga telah kami kirimkan melalui Sekda Provinsi Bali ke Pemkab Badung,” ujar Darmadi saat ditemui di Denpasar, Jumat (4/7/2025).

Pemerintah Kabupaten Badung akan bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan dan pendanaan pembongkaran. Meski sempat muncul gelombang penolakan dari sejumlah pengusaha yang mengajukan keberatan hingga menggelar audiensi dengan Bupati, pemerintah tetap pada keputusan semula: seluruh bangunan yang melanggar harus dibongkar.

“Silakan jika ingin menempuh jalur hukum, tetapi proses pembongkaran tidak akan ditunda,” tegas Darmadi.

Sebagian pemilik bangunan bahkan sudah diarahkan untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Hal ini dilakukan agar material yang masih layak pakai bisa diselamatkan, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi geografis Pantai Bingin yang sulit dijangkau alat berat.

“Pembongkaran akan dilakukan manual. Pemkab Badung sudah menyanggupi,” tambahnya.

Sementara itu, Pemprov Bali juga menyoroti pelanggaran lain di kawasan pesisir, termasuk pembangunan Hotel Step Up di Pantai Jimbaran yang melebihi batas ketinggian izin. Hotel tersebut sempat tercatat memiliki tinggi 15,58 meter dari batas maksimal 14 meter. Namun pengelola dikabarkan sudah memangkas struktur yang melampaui batas dan menyesuaikan dengan arahan terkait Sertifikat Laik Fungsi (SLF) serta estetika arsitektur Bali. (RA)