- Advertisement -
Beranda blog Halaman 71

Penandatanganan MoU Dengan Angkasa Pura dan Launching Koperasi Merah Putih Desa Bongkasa Pertiwi

PANTAUBALI.COM, – BADUNG

Bupati Badung yang diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Badung IB. Gede Arjana menghadiri seremonial penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara In Journey Airports Ngurah Rai dengan Desa Bongkasa Pertiwi sebagai Desa Binaan, serta penyerahan secara simbolis 30.000 pohon dalam rangka program In Journey Green (Road to Satu Juta Pohon) di Wantilan Desa Bongkasa Pertiwi, Jumat (5/12).

 

Turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya, Ketua TP. PKK Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Direktur Human Resources and Digital PT Aviasi Pariwisata Indonesia Herdy Harman, Direktur Human Capital PT Angkasa Pura Indonesia Adi Nugroho, CEO Kantor Regional II PT Angkasa Pura Indonesia Wahyudi, General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Ahmad Syaugi Shahab, Dandim 1611/Badung, Kapolres Badung, Kepala Kejaksaan Negeri Badung, Kepala OPD dilingkup Pemkab Badung, dan Ketua Forum Perbekel Kabupaten Badung.

 

Bupati Badung dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten II IB, Gede Arjana menyampaikan apresiasi tertinggi kepada manajemen PT Angkasa Pura Indonesia atas komitmennya dalam mendukung program prioritas daerah, antara lain pendidikan, kesehatan, pengelolaan lingkungan, pengembangan UMKM, dan pemberdayaan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata.

 

Ditekankan bahwa, TJSP bukan sekadar kewajiban korporat, melainkan wujud kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Melalui penandatanganan MoU ini, juga diluncurkan 3 koperasi desa Merah Putih dan penyerahan dan penanaman 30.000 pohon yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi Desa Bongkasa Pertiwi.

 

“Seluruh pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam TJSP di desa-desa lain di Badung, dengan harapan program ini dapat direplikasi agar dampaknya merata. Ini penting mengintegrasikan filosofi Tri Hita Karana dalam setiap pembangunan, agar mempertahankan keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya,” ujarnya.

 

  1. Sementara Direktur Human Capital PT Angkasa Pura Indonesia Adi Nugroho menyatakan bahwa acara hari ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dia berharap setiap pohon yang ditanam menjadi saksi kepedulian terhadap lingkungan, dan setiap program yang diluncurkan menjadi cikal bakal transformasi sosial ekonomi yang memberi dampak nyata bagi Desa Bongkasa Pertiwi dan Kabupaten Badung secara umum.

Imbas Aksi Protes Warga, Belasan Travel Agen Batalkan Kunjungan ke DTW Jatiluwih

Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih I Ketut Purna.
Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih I Ketut Purna.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Aksi protes petani dan warga di sekitar Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih dengan pemasangan seng berdampak langsung pada aktivitas pariwisata.

Hal itu disampaikan oleh, Manager DTW Jatiluwih I Ketut Purna mengungkapkan, belasan travel agen membatalkan kunjungan usai ramainya pemberitaan aksi protes petani dan warga di Jatiluwih.

“Hari ini saja sudah lebih dari 10 travel agen membatalkan kunjungan. Mereka mempertimbangkan faktor keselamatan,” ujarnya ketika dikonfirmasi Jumat (5/12/2025).

Atas kondisi tersebut, pria yg akrab disapa Jhon itu mengaku pihaknya akan menyurati Badan Pengelola agar persoalan ini mendapatkan solusi tindak lanjut sebab persoalan pemasangan seng bukan merupakan kewenangan pihak manajemen operasional.

“Saya akan kirim surat ke Badan Pengelola agar persoalan ini benar-benar diperhatikan dan ditindaklanjuti. Tugas kami sebagai manajemen pengelola adalah menjaga pariwisata, memastikan tamu datang dan kembali datang,” ujarnya.

Disinggung mengenai kontribusi pengelola DTW Jatiluwih kepada para petani yang sempat mendapat komplain, Jhon mengatakan sejumlah bantuan sebagai bentuk kontribusi sudah diberikan kepada petani, bahkan kedepan akan ditingkatkan.

Bantuan yang diberikan berupa bibit gratis dan pupuk urea sesuai kebutuhan para petani di Subak Jatiluwih. Selain itu, DTW mengalokasikan dana Rp 30 juta per tempek untuk upacara Ngusaba Agung, serta Rp7 juta untuk Ngusaba alit.

Selain itu, rencananya mulai Desember 2025, DTW juga menyiapkan bantuan olah lahan sebesar Rp 2,5 juta per hektare atau Rp 25 ribu per are untuk petani saat memulai musim tanam.

“Sebelumnya kami juga telah memberikan bantuan operasional kepada subak sejak Mei 2025, berupa Rp 2 juta per bulan untuk tempek Besi Kalung, sedangkan tempek di luar wilayah inti menerima Rp 750 ribu per bulan,” jelasnya.

Saat ini, manajemen masih menunggu jadwal pertemuan dengan tujuh tempek di kawasan Jatiluwih yakni Telabah Gede, Besi Kalung, Uma Dwi, Gunung Sari, Uma Kayu, Kesambi, dan Kedamian.

Lebih lanjut, Jhon menyebut, berdasarkan aturan sebelumnya yang ia ketahui, masyarakat diperbolehkan mendirikan bangunan berukuran 3 x 6 meter di area sawah untuk keperluan berteduh, menyimpan alat pertanian, atau untuk ternak para petani.

Jika petani ingin memanfaatkannya untuk berjualan, masih diperbolehkan selama bentuk bangunannya menyerupai kandang sapi.

“Kita harus melihat ini untuk jangka panjang, untuk anak dan cucu. Jangan sampai Jatiluwih ditinggalkan UNESCO. Demi keberlanjutan, aturan tetap harus ditegakkan,” tegasnya. (ana)

Warga di Jatiluwih Kembali Pasang Seng dan Plastik di Area Sawah

Warga kembali pasang seng serta plastik di kawasan Subak Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Jumat (5/12/2025).
Warga kembali pasang seng serta plastik di kawasan Subak Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Jumat (5/12/2025).

PANTAUBALI. COM, TABANAN – Aksi protes para petani serta warga di Subak Jatiluwih, Kecamatan Penebel, kembali berlanjut. Pada Jumat (5/12/2025), petani kembali memasang seng di sejumlah titik sawah sebagai bentuk solidaritas sekaligus desakan mereka kepada pemerintah agar segera membuka ruang dialog dan mencari solusi terbaik atas polemik penutupan sejumlah akomodasi wisata warga oleh Pansus TRAP DPRD Bali dan Satpol PP Bali pada Selasa (2/12/2025) lalu.

Pemilik Warung Wayan Jatiluwih, I Wayan Subadra, mengatakan, aksi ini merupakan aksi lanjutan dari pemasangan seng kemarin. Total ada 30 seng kembali dipasang di sekitar Warung Sunari yang sebelumnya ditutup oleh Pansus TRAP. Kemudian, di sepanjang jalan subak sisi selatan warung.

“Masih ada kiriman 65 seng tambahan dan besok akan dipasang lagi. Nanti kami diskusikan titik pemasangannya,” ungkap Subadra.

Ia menyebut, pemasangan seng kali ini dilakukan oleh sekitar 30 petani serta warga di sekitar Subak Jatiluwih yang usahanya disegel oleh pemerintah. Beberapa bahan seng juga merupakan bantuan dari rekan mereka yang memiliki usaha restoran.

Selain seng, petani dan warga juga memasang plastik sepanjang sekitar 40 meter di sepanjang jalan subak.

“Kegiatan pemasangan kami lakukan antara pukul 09.00 hingga 11.00 Wita,” jelas Subadra.

Subadra menegaskan, aksi ini bukan semata bentuk protes, tetapi upaya mendorong pemerintah agar segera duduk bersama warga agar mencarikan solusi terbaik.

“Aksi ini kami lanjutkan dengan harapan bisa bertemu aparat pemerintah untuk mencari solusi terbaik. Kami ingin ada aturan baru agar persoalan seperti ini tidak terulang,” jelasnya.

Sementara itu petani lainnya, I Nengah Sridana, mengungkapkan, pemasangan seng juga dilakukan di area Tempek Telabah Gede dan Tempek Telabah Muntig Subak Jatiluwih, dengan jumlah sekitar 45 lembar.

Selain seng, petani turut memasang plastik di pinggir jalan untuk merusak pemandangan sawah di Subak Jatiluwih yang menjadi daya tarik utama wisata.

Menurut Sridana, aksi lanjutan ini dilakukan agar pemerintah lebih memperhatikan nasib petani kecil yang menggantungkan hidup dari usaha sederhana di kawasan pertanian.

“Aksi ini kami lakukan supaya ke depannya usaha kecil seperti kami tidak langsung ditindak. Saya memiliki lahan 10 are, dulunya kandang sapi yang hanya sedikit dimodifikasi, tetapi tetap ikut disegel. Kami ingin pemerintah mendengar suara rakyat, jangan hanya memberi janji,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tabanan I Gede Susila serta Kepala Dinas Pariwisata Tabanan Anak Agung Ngurah Satria Tenaya belum memebrikan tanggapan ketika dimintai keterangan atas aksi lanjutan ini. (ana)

Magic Garden Nuanu Genap Setahun, Sebuah Kelas Belajar dengan Delapan Pengalaman Berbeda

Magic Garden, fasilitas edutainment botani seluas 3.600m2 dalam Nuanu Creative City.
Magic Garden, fasilitas edutainment botani seluas 3.600m2 dalam Nuanu Creative City.

PANTAUBALI.COM, TABANAN — Satu tahun lalu, Nuanu Creative City yang berkomitmen mendedikasikan 70 persen lahan sebagai ruang hijau dan menjadikan sebagian besar ruang tersebut sebagai habitat bagi fauna kecil yang bermanfaat dan juga spesies flora asli.

Kemudian, Magic Garden dibangun sebagai penanggung jawab dalam menjalankan visi ini, terutama dalam pembelajaran regenerasi, keanekaragaman hayati, dan lingkungan.

Dalam waktu 12 bulan, fasilitas ini telah berkembang menjadi ekosistem bagi anggrek, tanaman asli, kupu-kupu, dan juga para serangga penyerbuk (pollinators), dari tiga fasilitas menjadi delapan, salah satunya adalah yang paling ditunggu-tunggu, The Glow Project yang akan diluncurkan secara resmi tahun 2026.

Perkembangan ini adalah cerminan dari posisi Magic Garden sebagai fasilitas yang paling populer di Nuanu untuk belajar dan beraktivitas secara menyeluruh dengan alam bersama keluarga.

“Di Nuanu, tujuan kami adalah untuk membangun ekosistem secara konsisten sehingga menjadi inkubator bagi orang yang berbakat untuk bekerja dengan tanaman dan serangga,” kata Brand & Communications Director Nuanu Creative City, Ida Ayu Astari Prada.

“Membangun kembali habitat lebih dari sekadar mengadakan rumah bagi para serangga, tapi juga merupakan warisan bagi murid sekolah kami dan juga para pengunjung, mendorong kepedulian mereka terhadap alam sebagaimana mestinya,” tambahnya.

Magic Garden diluncurkan pada tahun 2024, menghadirkan Kebun Kupu-Kupu (Butterfly Garden), Galeri Botani (Botanical Gallery), dan Taman Anggrek (Orchid Galore).

Dalam setahun, Magic Garden ini mempertajam keanekaragaman hayatinya, dari menjaga tingkat kelangsungan hidup kupu-kupu 10x lipat lebih tinggi dibandingkan di alam liar sampai menambah koleksi flora asli dan juga program reforestasi Miyawaki.

Pertumbuhan ini terlihat dari penambahan lima fasilitas: Permaculture Garden, Biota Lab, Miyawaki Forest, Rabbit Park, dan juga tampilan awal dari The Glow Project.

Penambahan ini menjadikan Magic Garden sebagai destinasi edukatif utama bagi murid sekolah dan keluarga di Bali, menawarkan pengalaman belajar dan interaksi secara langsung dengan alam.

Di samping penambahan fasilitas, Magic Garden juga menjalankan berbagai macam inisiatif penting, dari melepasliarkan 14,000 lebih kupu-kupu, 30+ kerja sama dengan sekolah, dan mendedikasikan ruang untuk flora bali yang terancam.

Sebagai bagian dari ekosistem Nuanu, Magic Garden turut berpartisipasi untuk menyediakan lokakarya (workshop), sebanyak 21 lokakarya (terrarium dan kokedama).

Tempat ini juga merupakan rumah bagi salah satu bunga nasional Indonesia, yaitu Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) dan menjalankan pameran pertama dalam Labyrinth Art Gallery, dengan tema Liana Reverie.

Untuk merayakan ulang tahun pertamanya, Magic Garden memberi sedikit cuplikan dari The Glow Project, yang sudah dikembangkan selama dua tahun.

Pengalaman ini menghadirkan 13 organisme bioluminesen dan 31 spesies tanaman fluoresen, masing-masing dipilih berdasarkan relevansi ekologis dan nilai edukatifnya.

Proyek ini memperkenalkan pengunjung bagaimana cara organisme menggunakan cahaya untuk berkomunikasi, beradaptasi, dan bertahan hidup, serta bagaimana mekanisme alami tersebut berkontribusi pada kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

“Setiap makhluk hidup yang kami rawat di Magic Garden memiliki cerita dan perannya sendiri dalam menjaga keseimbangan ekologi. Mengelola proyek ini mengajarkan saya bahwa tanggung jawab kami bukan hanya merawat ruang tersebut, tetapi juga menghadirkan pengetahuan ini lebih dekat kepada masyarakat,” ujar Venue Manager Magic Garden, Komang Sri Junisabtika.

“Ketika orang mengerti bagaimana peran cahaya di alam, mereka secara alami menjadi lebih terhubung dengan ekosistem di sekitar mereka,” jelasnya.

The Glow Project akan dibuka tahun 2026 khusus pada malam hari dengan harga Rp250.000 per orang. Pengalaman hanya bisa dinikmati bersama pemandu khusus untuk melihat organisme yang menyala secara dekat dan belajar tentang peran ekologisnya.

Memasuki tahun kedua, Magic Garden terus menjadi kelas belajar yang hidup. Sebuah kelas di mana percakapan, kreativitas, dan pembelajaran berbasis komunitas bertemu secara bersamaan.

Ulang tahun ini menandakan perjalanan Magic Garden yang terus berlanjut, merawat keanekaragaman hayati dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap alam di seluruh Bali melalui pendekatan yang tidak biasa dan berinteraksi secara langsung. (rls)

Usai Insiden Pohon Tumbang, Wabup Tinjau DTW Alas Pala Sangeh

Wabup Bagus Alit Sucipta didampingi Ketua WHDI Badung Yunita Alit Sucipta meninjau langsung lokasi bencana pohon tumbang di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh, Abiansemal, Kamis, (4/12/2025).
Wabup Bagus Alit Sucipta didampingi Ketua WHDI Badung Yunita Alit Sucipta meninjau langsung lokasi bencana pohon tumbang di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh, Abiansemal, Kamis, (4/12/2025).

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta didampingi Ketua WHDI Badung Yunita Alit Sucipta meninjau langsung lokasi bencana pohon tumbang di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh, Abiansemal, Kamis, (4/12/2025).

Kejadian tumbangnya pohon pala ini terjadi di Pura Puncak Sari Sangeh yang berada di kawasan DTW Alas Pala Sangeh, akibat hujan lebat yang disertai angin kencang pada Rabu, 3 Desember 2025. Akibat kejadian ini dua pemandu wisata lokal tertimpa saat berteduh di balai gong.

Satu orang staf dinyatakan meninggal dunia dan satu korban mengalami patah tulang dan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mangusada.

Wabup Bagus Alit Sucipta menyampaikan bela sungkawa atas kejadian tersebut.

“Setelah jenazah korban sudah berada di Griya, mungkin kami bersama anggota DPRD Badung akan berkunjung kesana. Semoga, saudara kita yang masih dirawat bisa segera pulih dan kembali bisa beraktivitas seperti sedia kala,” ujarnya

Wabup Bagus Alit Sucipta juga menyampaikan apresiasi kepada BPBD dan DisKarmat Badung beserta warga dan seluruh pihak yang membantu proses evakuasi dan pembersihan tempat kejadian.

Beberapa bangunan berada di Jaba, tengah dan utama yang ada di Pura Puncak Sari, dan ada beberapa bangunan yang terkena dampak pohon tumbang.

“Sudah saya perintahkan ke BPBD Badung untuk segera menghitung, setelah itu kita akan bantu dengan cepat. Kita fokus, yang pertama adalah infrastruktur, membantu terkait bangunan-bangunan dan pelinggih-pelinggih atau bale-bale yang terkena dampak pohon pala yang jatuh. Setelah itu kita akan tata ulang, selanjutnya Melaspas dan kita akan adakan upacara yang lain. Saya juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan kejadian serupa,” ucapnya.

Turut hadir pada kesempatan ini, anggota DPRD Badung Dendy Astra Wijaya, Kepala OPD terkait di lingkungan Pemkab Badung, Camat Abiansemal IB. Putu Mas Arimbawa beserta unsur tripika kecamatan, Perbekel Sangeh I Made Werdiana, Bendesa Sangeh Ida Bagus Dipayana beserta Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh, Ida Bagus Gede Pujawan beserta seluruh staf DTW Alas Pala Sangeh dan Warga Desa Sangeh. (rls)

Petani di Jatiluwih Protes, Pasang Seng di Tengah Sawah Imbas Penutupan Akomodasi Wisata

Petani di Jatiluwih, Penebel, Tabanan, pasang segel sebagai bentuk protes setelah belasan akomodasi pariwisata ditutup oleh pemerintah.
Petani di Jatiluwih, Penebel, Tabanan, pasang segel sebagai bentuk protes setelah belasan akomodasi pariwisata ditutup oleh pemerintah.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Aksi protes dilakukan oleh sejumlah petani di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan pada Kamis (4/12/2025). Mereka memasang puluhan seng di lahan sawah yang terdapat akomodasi pariwisata di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih.

Aksi protes ini sebagai bentuk kekecewaan mereka atas tindakan Pansus TRAP DPRD Provinsi Bali dan Satpol PP Bali karena telah menutup sejumlah tempat usaha yang menjadi pendukung akomodasi wisata sekaligus tempat usaha dari para petani di Jatiluwih pada Selasa (2/12/2025) lalu.

Wayan Kawiasa (52), warga Banjar Jatiluwih Kawan, menyampaikan kekecewaannya terhadap penyegelan yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, kebijakan itu sangat merugikan petani yang berupaya memperbaiki perekonomian keluarga di tengah berkembangnya sektor pariwisata Jatiluwih.

“Kami petani lokal seperti ayam bertelur di atas padi. Telurnya diambil, tapi tidak boleh makan padinya,” ujarnya menggambarkan keadaan yang mereka rasakan.

Ia menjelaskan, hasil dari bertani tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga dirinya membuka warung sederhana sebagai tambahan penghasilan mengikuti pesatnya perkembangan wisata. Karena itu, ia meminta pemerintah memberi kepastian dan keadilan bagi para petani.

“Saya hanya minta keadilan. Kalau ditutup, apakah pemerintah mau menjamin kehidupan anak, istri, dan keluarga saya?” ucapnya.

Kawiasa juga belum mengetahui apakah bangunan miliknya termasuk dari 13 bangunan yang dinilai melanggar aturan tata ruang. Bangunan yang ia manfaatkan saat ini hanya gubuk berukuran 3×4 meter yang sebelumnya merupakan kandang sapi, lalu diubah menjadi warung.

“Terasering memang dibentuk dari dulu, tetapi kondisi seperti sekarang adalah hasil leluhur kami. Kenapa justru petani kecil yang dipersulit di tanahnya sendiri?” katanya.

Ia menambahkan, tidak ada insentif langsung dari pengelola DTW, dan bantuan yang diterima selama ini berupa pupuk dan bibit yang dibagikan ke kelompok subak, bukan per individu.

Selain itu, Kawiasa juga khawatir akan masa depan sawah di Jatiluwih. Ia menyebutkan bahwa minimnya regenerasi petani dapat mengancam keberlanjutan pertanian di kawasan tersebut.

“Mungkin saya generasi terakhir yang mau jadi petani. Anak saya kerja di kota dan tidak ingin bertani,” ujarnya.

Para petani berharap pemerintah dapat bersikap lebih bijak dan memberikan keadilan, sebab mereka juga ingin merasakan manfaat dari pariwisata yang semakin maju di Jatiluwih.

Sementara itu, warga lainnya, Nengah Darmika Yasa, salah satu pemilik lahan, menuturkan bahwa pemasangan seng dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus upaya untuk mengingatkan pemerintah akan pentingnya menjaga status Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO.

“Saat ini ada 15 seng yang kami pasang. Nanti menyusul lainnya di lahan petani yang dianggap melanggar oleh pansus,” ungkapnya.

Menurutnya, seng tersebut dipasang agar pengunjung merasa terganggu secara visual. Namun, di sisi lain, aksi itu disebut sebagai upaya menjaga kelestarian WBD karena pemerintah dinilai tidak konsisten dalam penegakan aturan.

“Kalau WBD tidak boleh terusik, ya sekalian saja jangan ada pariwisata. Tutup semua, jangan tebang pilih. Mereka datang tanpa permisi dan langsung menyegel. Bahkan Surat Peringatan ke-3 baru saya terima hari ini,” keluhnya.

Padahal, ia mengaku rutin membayar pajak tanah hingga 50 persen serta pajak rumah makan kepada pemerintah. Namun setelah memenuhi kewajiban pajak, justru akomodasi wisatanya ditutup. “Saya hanya menuntut keadilan,” tegasnya. (ana)

Pemkab Tabanan Teguhkan Nilai Spiritual Lewat Persembahyangan Purnama

Persembahyangan bersama Purnama Sasih Kanem di Padmasana Kantor Bupati Tabanan, Kamis, (4/12/2025).
Persembahyangan bersama Purnama Sasih Kanem di Padmasana Kantor Bupati Tabanan, Kamis, (4/12/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan Persembahyangan bersama Purnama Sasih Kanem di Padmasana Kantor Bupati Tabanan, Kamis, (4/12/2025). Persembahyangan ini sebagai wujud syukur dan bakti kolektif jajaran Pemkab.

Kegiatan dihadiri langsung Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya didampingi Sekda, Para Asisten, Kepala Perangkat Daerah dan pegawai di lingkungan Pemkab Tabanan.

Selain sebagai kegiatan rutin setiap rahina Purnama, kegiatan ini juga bertujuan untuk menguatkan rasa kebersamaan, kekompakan, dan keselarasan antara pemerintah dan adat, sebagai bagian dari komitmen menjaga tradisi dan nilai spiritual Bali.

“Kegiatan ini juga sebagai wujud sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta meningkatkan spiritualitas diri sebagai umat beragama,” kata Bupati Sanjaya.

Dengan kegiatan ini, Pemkab Tabanan berharap nilai spiritual dan kebersamaan yang terbangun dapat menjadi landasan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. (rls)

Mayat Perempuan Tanpa Identitas Mengapung di Pantai Kuta, Begini Kondisinya

Petugas mengevakuasi jasad wanita tanpa identitas di Pantai Kuta.
Petugas mengevakuasi jasad wanita tanpa identitas di Pantai Kuta.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Suasana Pantai Kuta mendadak gempar setelah warga dan petugas balawista menemukan mayat perempuan tanpa identitas yang diduga korban laka laut, Selasa (2/12/2025) siang. Jenazah ditemukan mengapung di tengah gelombang sekitar pukul 13.15 WITA, tepat di depan Hotel Wyndham Garden.

Dua balawista, I Made Mardika (30) dan I Made Mardiasa (38), awalnya mengira benda yang mengapung itu hanya potongan kayu. Namun seorang turis asing yang tengah berselancar tiba-tiba melambaikan tangan meminta pertolongan. Keduanya kemudian melakukan pengecekan menggunakan papan rescue dan mendapati sesosok perempuan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Korban segera dievakuasi ke tepi pantai dan dibawa ke RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar menggunakan ambulans Balawista Badung.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, membenarkan kejadian tersebut. “Saat ini jenazah masih dalam proses identifikasi. Tim Identifikasi Polresta Denpasar sudah melakukan pengambilan sidik jari untuk memastikan identitas korban,” ujarnya.

Menurut Sukadi, polisi telah melakukan serangkaian langkah awal, mulai dari olah TKP, memeriksa saksi-saksi, hingga berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. “Kami juga mendalami ciri-ciri korban dan melakukan penyisiran area sekitar lokasi penemuan untuk mencari petunjuk tambahan,” tambahnya.

Adapun ciri-ciri korban saat ditemukan adalah perempuan memakai gaun hitam tanpa lengan setinggi paha, celana pendek hitam, anting oval berwarna putih, serta kalung berliontin hati. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak keluarga atau masyarakat yang melaporkan kehilangan dengan ciri tersebut.

Kompol Sukadi mengimbau masyarakat, termasuk para nelayan, segera melapor apabila mengenali ciri-ciri korban. “Kami berharap informasi dari masyarakat dapat membantu mempercepat proses identifikasi,” katanya.

Untuk sementara, jenazah perempuan tanpa identitas tersebut masih disimpan di kamar jenazah RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar. Polisi terus melanjutkan penyelidikan guna mengungkap identitas dan penyebab pasti kematian korban. RA

Laka Maut di Goa Gong, Ayah dan Dua Anak Tewas Terlindas Truk Tangki

Polisi melakukan olah TKP di laka maut yang menewaskan ayah dan 2 anaknya.
Polisi melakukan olah TKP di laka maut yang menewaskan ayah dan 2 anaknya.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Kecelakaan maut terjadi di Kuta Selatan dan menggemparkan warga Desa Ungasan. Seorang ayah bersama dua anaknya meninggal dunia seketika setelah terlindas truk tangki air di Jalan Goa Gong, tepat di Simpang Gang Buahan, Selasa (2/12) siang. Ketiganya tewas di lokasi kejadian akibat luka parah yang dialami.

Kasat Lantas Polresta Denpasar Kompol Yusuf Dwi Admodjo turun langsung ke lokasi dan memastikan peristiwa tragis tersebut. Para korban diketahui berinisial PH (ayah), RMH (anak SMP), dan NMH (anak TK). Ketiganya berboncengan dengan sepeda motor Honda Vario berpelat DK 2750 IS.

“korban adalah ayah dan dua anaknya,” ujar Kompol Yusuf.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 12.15 WITA. Truk tangki air bernomor polisi DK 8286 IQZ yang dikemudikan TB melaju dari arah Jimbaran menuju Ungasan. Di saat bersamaan, korban yang berada di belakang truk berusaha mendahului dari sisi kanan.

Namun, situasi berubah drastis ketika sebuah mobil Ford yang dikemudikan IWB secara mendadak keluar dari Gang Buahan. Motor yang dikendarai korban sontak melakukan pengereman mendadak, sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di depan truk tangki.

“Korban jatuh tepat di depan truk, sehingga truk tidak bisa ngerem mendadak,” jelas Kompol Yusuf, yang sebelumnya menjabat Kapolsek Kuta Utara.

Dengan jarak yang sangat dekat, sopir truk tidak dapat menghindari kendaraan maupun pengendara. Ketiga korban terlindas dan meninggal di tempat. Warga yang melihat kejadian langsung berhamburan ke TKP untuk memberikan pertolongan, namun nyawa para korban sudah tidak dapat diselamatkan.

Tak lama setelah kejadian, TKP dipadati warga dan pengendara yang melintas. Banyak dari mereka tampak syok dan sedih, terutama karena dua korban masih berusia sekolah.

Satlantas Polresta Denpasar segera melakukan olah TKP dan mengamankan sopir truk serta pengemudi mobil Ford untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

Kompol Yusuf menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung, termasuk pemeriksaan saksi-saksi dan rekaman CCTV di sekitar lokasi. “Kami akan mendalami detail kejadian untuk memastikan ada tidaknya unsur kelalaian,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh pengendara untuk selalu menjaga jarak aman dan meningkatkan kewaspadaan di jalan, khususnya di kawasan dengan persimpangan gang yang rawan kemunculan kendaraan dari sisi tak terduga. ra

BPBD Tabanan Rilis Peringatan Cuaca Ekstrem, Tiga Kecamatan Status Awas

Penanganan Pohon Tumbang Oleh BPBD Tabanan saat terjadi Hujan Lebat.
Penanganan Pohon Tumbang Oleh BPBD Tabanan saat terjadi Hujan Lebat.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan merilis peringatan dini potensi curah hujan tinggi yang diprakirakan terjadi pada 1–10 Desember 2025.

Sepuluh Kecamatan di wilayah Tabanan diprediksi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat, disertai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan prakiraan, tiga kategori kewaspadaan ditetapkan untuk wilayah Tabanan. Kecamatan Selemadeg Timur, Kediri, dan Marga masuk kategori Waspada dengan potensi cuaca buruk dan intensitas hujan mencapai 150–200 mm per dasarian.

Sementara Kecamatan Selemadeg Barat, Selemadeg, Kerambitan, dan Tabanan berada pada kategori Siaga dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, yakni 200–300 mm per dasarian.

Kategori paling tinggi yakni Awas diberlakukan untuk Kecamatan Pupuan, Baturiti, dan Penebel yang diprakirakan mengalami curah hujan lebih dari 300 mm per dasarian dan berisiko memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang.

Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, Nyoman Srinada Giri, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap dampak seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, gelombang tinggi dan cuaca ekstrem. Selalu perhatikan informasi yang valid dari instansi berwenang,” ujarnya.

Imbauan ini dikeluarkan agar masyarakat melakukan langkah antisipatif secara mandiri, termasuk waspada terhadap hujan deras, angin kencang, dan sambaran petir.

Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, dekat papan reklame, atau bangunan yang berpotensi roboh. Kebersihan saluran air perlu dijaga agar tidak terjadi penyumbatan yang dapat menyebabkan banjir, serta tetap menjaga kesehatan selama periode cuaca ekstrem.

Informasi ini diharapkan menjadi dasar bagi masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi dini. Jika terjadi keadaan darurat yang memerlukan penanganan BPBD, warga dapat menghubungi PUSDALOPS BPBD Tabanan melalui Emergency Call: 0361 811171 atau WhatsApp: 0838 4856 8111. (ana)