- Advertisement -
Beranda blog Halaman 145

Praktik Oplos Beras, Mentan Ungkap Kerugian Rakyat Hingga Rp 99 Triliun

Ilustrasi beras.
Ilustrasi beras.

PANTAUBALI.COM – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap praktik curang yang dilakukan oleh sejumlah produsen beras di Indonesia. Bersama Satgas Pangan Polri, Kementerian Pertanian menemukan 10 produsen yang diduga melanggar standar kualitas dan mutu beras, dengan potensi kerugian mencapai Rp99 triliun.

Menurut Amran, praktik kecurangan yang dilakukan termasuk pengurangan berat kemasan. Beberapa produsen menjual beras dengan label 5 kilogram, padahal isinya hanya 4,5 kilogram. Selain itu, ada juga yang memasarkan beras dengan klaim kualitas premium 96%, padahal pada kenyataannya hanya beras biasa.

“Kerugian akibat selisih harga mencapai Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram, seperti menjual emas 24 karat yang sebenarnya hanya 18 karat,” jelas Amran pada Sabtu (12/7/2025), dikutip CNBC Indonesia.

Amran menyoroti dampak terberat dari kecurangan ini yang dirasakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, yang sangat membebankan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah, dengan komitmen dari Presiden RI, bertekad keras untuk memberantas mafia pangan dan korupsi di sektor ini. “Penegakan regulasi yang konsisten akan meningkatkan daya beli masyarakat serta kesejahteraan petani,” tambahnya.

Saat ini, pemerintah terus menyelidiki dan memeriksa perusahaan-perusahaan besar yang terlibat, termasuk Wilmar dan Tjipinang Food. (*)

Jajaran Pemkab Tabanan Sembahyang Bhakti Penganyar di Pura Semeru Agung Jawa Timur

Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan saat melaksanakan bhakti penganyar di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025).
Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan kegiatan spiritual di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan kegiatan spiritual di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025).

Dipimpin langsung oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, bersama Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, didampingi Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta istri, Ny. Budiasih Dirga, dan seluruh jajaran Pemkab Tabanan kompak ngaturang sembah Bhakti Penganyar dalam rangkaian Karya Pujawali Krama Satunggil Warsa di pura Mandhara Giri Semeru

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Para Sulinggih, Ketua PHDI Kabupaten Lumajang beserta tokoh masyarakat setempat.

Dengan diikuti oleh kurang lebih 300 orang penganyar dari Pemerintah Kabupaten Tabanan, termasuk Sekretaris Daerah, para Asisten Setda, pimpinan perangkat daerah, hingga unsur masyarakat.

Hal ini mencerminkan kekompakan Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam menjaga nilai-nilai spiritual serta melestarikan warisan leluhur.

Tidak hanya menghaturkan sembah bahkti, kehadiran penganyar Pemkab Tabanan turut ngayah dengan menghadirkan Sekaa Gong Lanang, Sekaa Santhi hingga Sekaa rejang Tri Datu Sanjayaning Singasana yang dipimpin langsung oleh Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, yang menambah suasana khidmat persembahyangan di Pura Kahyangan jagat tersebut.

Dalam sambrama wacananya usai sembahyang, Bupati Sanjaya menyampaikan rasa syukurnya atas keselamatan dan kelancaran perjalanan rombongan. Ia mengungkapkan, meski menempuh perjalanan jauh dengan kendala infrastruktur, namun perjalanan berjalan dengan lancar, bahkan kehadirannya disambut dengan cuaca yang cerah dan sejuk.

“Ini membuktikan masyarakat Tabanan beda. Kita jengah, jangankan di sini, dimanapun semasih bisa kita lalui, kita lewati. Karena kita tidak pernah lupa pada leluhur, karena leluhur kita berasal dari sini, dari tanah Jawa,” tegasnya.

Lebih lanjut Sanjaya menilai, kegiatan ngayarin merupakan implementasi dari nilai-nilai yadnya yang mengandung makna penyucian lahir dan batin, serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, sesuai filosofi Tri Hita Karana.

“Tiang bangga kita kompak bersatu, apalagi kebanggaan kita, hanya kekompakan, kebersamaan, persatuan dan Sradha Bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Ida betara kawitan, leluhur dan juga sesama,” ucap Sanjaya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PHDI Kabupaten Lumajang, Teguh Widodo, turut menyampaikan apresiasi dan banyak-banyak terima kasihnya atas kehadiran rombongan penganyar dari Kabupaten Tabanan yang begitu kompak dan antusias.

Ia bahkan menyebut, bahwa rombongan dari Tabanan merupakan yang terbanyak hadir dari Bali hingga saat ini. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada Bupati Sanjaya beserta jajaran, serta berharap jalinan spiritual dan kebersamaan ini terus terjaga di masa yang akan datang. (rls)

Petani Jagung Beralih Tanam Padi di Tengah Kemarau Basah

Tanam Pertama Demplot Padi Organik dan Sarasehan Pengembangan Pertanian Organik yang berlangsung di Subak Bengkel, Desa Bengkel Kecamatan Kediri, Jumat (9/6/2023). (DOC)
Tanam Pertama Demplot Padi Organik dan Sarasehan Pengembangan Pertanian Organik yang berlangsung di Subak Bengkel, Desa Bengkel Kecamatan Kediri, Jumat (9/6/2023). (DOC)

PANTAUBALI.COM, TABANAN — Musim kemarau basah yang terjadi di wilayah Bali pertengahan tahun ini mendorong sejumlah petani mengalihkan pola tanam mereka.

Jika biasanya pada musim kemarau petani menanam jagung, kini mereka memilih menanam padi karena curah hujan yang masih cukup tinggi dan pasokan air yang mencukupi.

Peralihan ini terjadi di sejumlah subak di Kabupaten Tabanan, terutama di Kecamatan Selemadeg dan Kerambitan yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi jagung.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia. Menurutnya, fenomena kemarau basah saat ini membuat petani menyesuaikan diri. Beberapa subak pun memutuskan mengganti tanaman dari jagung menjadi padi karena ketersediaan air memungkinkan tanaman padi tumbuh optimal.

“Biasanya, saat kemarau petani menanam jagung. Namun karena masih turun hujan, beberapa subak memutuskan menanam padi. Ini juga sesuai dengan dorongan dari pemerintah pusat untuk meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) padi demi ketahanan pangan,” ujar Subagia Sabtu (12/7/2025).

Meski sebagian petani beralih ke padi, tanam jagung masih tetap berlangsung di sejumlah wilayah. Salah satunya di Kecamatan Selemadeg, yang menjadi salah satu sentra produksi jagung di Tabanan. Hingga awal Juli ini, sudah tercatat sekitar 700 hektare lahan yang ditanami jagung.

“Tanamannya sudah mulai tumbuh. Petani harus memperbaiki irigasi agar air bisa mengalir lancar dan tidak menyebabkan lahan cepat kering,” ujar Subagia.

Ia menambahkan, pada musim tanam sebelumnya, curah hujan yang tinggi memungkinkan petani menabur benih langsung tanpa membuat saluran irigasi. “Tahun ini, petani harus lebih waspada karena meski masih hujan, kebutuhan irigasi tetap penting jika musim kemarau kembali normal,” jelasnya.

Dinas Pertanian Tabanan sebelumnya telah menargetkan penanaman jagung di lahan seluas hampir 2.000 hektare, yang tersebar di subak-subak wilayah Kecamatan Selemadeg Timur, Kerambitan, dan sekitarnya. Para petani juga telah menerima bantuan benih jagung.

Namun, karena air masih melimpah, ada tiga subak di Kerambitan yang memilih menanam padi. Benih jagung yang sudah terlanjur dibagikan kemudian direalokasikan ke subak lain yang siap menanam jagung pada bulan Juli dan Agustus.

“Pemerintah pusat pada tahun 2024 juga sudah mengalokasikan bantuan pompa air. Jadi, kalau musim kemarau tiba saat pertengahan tanam padi nanti maka kebutuhan air tetap aman,” tambah Subagia.

Terkait kondisi saluran irigasi, Subagia menegaskan, hingga kini tidak ada laporan kerusakan signifikan akibat hujan deras beberapa waktu terakhir.

“Saya belum menerima laporan kerusakan saluran irigasi, baik yang jebol maupun rusak parah. Secara umum, saluran irigasi di tingkat primer relatif aman,” imbuhnya. (ana)

Jadi Buronan Kasus Siber dan Suap, WNA Rusia Diekstradisi dari Bali

WN Rusia diekstradisi dari Bali.
WN Rusia diekstradisi dari Bali.

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Aleksandr Vladimirovich Zverev, seorang warga negara Rusia, dipulangkan ke negaranya lewat proses ekstradisi setelah sempat diamankan di Bali. Pria tersebut diketahui masuk daftar buronan atas dugaan kejahatan siber dan tindak penyuapan di Rusia.

Zverev diterbangkan menggunakan maskapai Aeroflot pada Jumat (11/7/2025), setelah semalaman dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar, Jimbaran.

“Proses ekstradisi ini dilakukan karena yang bersangkutan tidak memiliki perkara hukum di Indonesia. Permintaan dari pemerintah Rusia pun telah dikabulkan sesuai prosedur,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Bali, Putu Agus Eka Sabana Putra.

Proses ekstradisi ini diawali pada Kamis malam (10/7), ketika Zverev dijemput di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar pukul 22.30 WITA. Penjemputan melibatkan tim gabungan dari Kejaksaan Agung RI, Direktorat Jenderal Imigrasi, serta tiga perwakilan resmi dari Pemerintah Rusia. Turut hadir pula jajaran Kejati Bali, Kejari Denpasar dan Badung, Polda Bali, Imigrasi Kanwil Bali, hingga Kapolres Bandara.

Setibanya di Terminal VIP 2 bandara, dilakukan pemeriksaan administrasi sebelum Zverev dibawa ke Rudenim Denpasar dengan pengawalan ketat dari personel Kejaksaan, Brimob Gegana, Kepolisian, dan petugas Imigrasi.

Pada keesokan paginya, Jumat pukul 09.30 WITA, Zverev resmi diterbangkan menuju Rusia. Proses ekstradisi ini telah melalui jalur hukum yang panjang dan mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Republik Indonesia melalui Surat Presiden Nomor 12 Tahun 2025.

“Karena tidak ada alasan hukum untuk menahan atau memproses yang bersangkutan di Indonesia, ekstradisi menjadi langkah yang tepat,” tutup Putu Agus. (RA)

Koster: Kepala Desa, Lurah, dan Bendesa Adat Jadi Kunci Sukses Gerakan Bali Bersih Sampah

Konsolidasi Gerakan Bali Bersih Sampah yang berlangsung di Pura Samuan Tiga, Gianyar, Jumat (11/7/2025).
Konsolidasi Gerakan Bali Bersih Sampah yang berlangsung di Pura Samuan Tiga, Gianyar, Jumat (11/7/2025).

PANTAUBALI.COM, GIANYAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan keberhasilan Gerakan Bali Bersih Sampah sangat bergantung pada komitmen kepala desa, lurah, serta bendesa adat sebagai ujung tombak pengelolaan sampah berbasis sumber.

Penegasan ini disampaikan saat memberikan arahan dalam Konsolidasi Gerakan Bali Bersih Sampah yang berlangsung di Pura Samuan Tiga, Gianyar, Jumat (11/7/2025), yang dihadiri lebih dari 2.000 lurah, kepala desa, dan bendesa adat se-Bali.

Gubernur Koster menyampaikan bahwa volume sampah di Bali saat ini mencapai 3.436 ton per hari, dengan lebih dari 60 persen berasal dari rumah tangga, dan 17 persen di antaranya berupa sampah plastik sekali pakai. Dari total sampah rumah tangga tersebut, mayoritas berasal dari wilayah desa, kelurahan, dan desa adat.

Oleh karena itu, desa menjadi medan utama dalam pengelolaan sampah. Jika desa-desa berhasil dalam pengelolaan sampah, maka sebagian besar persoalan sampah di Bali dapat teratasi.

“Namun, setelah enam tahun penerapan kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber, hasilnya belum memuaskan. Ini disebabkan lemahnya implementasi di tingkat desa dan desa adat, serta kurangnya komitmen dari berbagai pihak,” ungkap Gubernur Koster.

Ia mengingatkan, jika persoalan sampah tidak segera ditangani dengan serius, maka akan mengancam keberlanjutan alam Bali dan merusak citra pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Untuk itu, Gubernur meminta seluruh kepala desa, lurah, dan bendesa adat memperkuat komitmen dalam menangani persoalan sampah.

Mereka diwajibkan mengelola sampah berbasis sumber secara menyeluruh, mulai dari rumah tangga hingga ke TPS3R, serta melarang penggunaan plastik sekali pakai (seperti tas kresek, pipet, dan kemasan plastik di bawah 1 liter) dalam seluruh kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan adat dan pasar tradisional.

Selain itu, desa dan desa adat diminta menetapkan pararem atau peraturan desa yang mengikat, dengan tetap mengacu pada nilai-nilai kearifan lokal.

“Sampah yang dihasilkan di desa harus diselesaikan di desa. Tidak boleh ada lagi sampah yang dibuang ke TPA atau keluar desa. Desaku bersih tanpa mengotori desa lainnya,” tegasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan di lapangan, Gubernur juga meminta agar lurah, kepala desa, dan bendesa adat membentuk tim terpadu yang melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta kelompok peduli lingkungan.

Tim ini bertugas memberikan edukasi dan pengawasan kepada masyarakat, serta mendorong pasar tradisional untuk meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke tas ramah lingkungan.

“Seluruh desa, kelurahan, dan desa adat wajib mengelola sampahnya secara mandiri paling lambat 1 Januari 2026. Sebagai bentuk penghargaan, saya akan memberikan insentif keuangan hingga Rp1 miliar kepada yang berhasil menjalankan program ini secara optimal. Sebaliknya, bagi yang tidak melaksanakan, akan dikenakan sanksi administratif, termasuk penundaan bantuan keuangan dan insentif,” tandasnya.

Menutup arahannya, Gubernur Koster menegaskan kepala desa, lurah, dan bendesa adat bukan sekadar pemimpin administratif, tetapi juga pemimpin moral dan pelindung alam. Gerakan Bali Bersih Sampah menurutnya bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata komitmen bersama menjaga masa depan Pulau Bali.

“Jika saudara-saudara gagal mengelola sampah di desa masing-masing, berarti saudara gagal menjaga Bali. Tidak ada pilihan lain, kita harus berhasil. Ini adalah ikhtiar bersama demi Bali yang bersih, lestari, dan bermartabat,” tegasnya.

Acara ini turut dihadiri oleh Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati/Wali Kota se-Bali, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, serta jajaran Forkopimda Provinsi Bali.

Kegiatan juga diisi dengan sesi berbagi pengalaman dari para bendesa adat yang telah sukses dalam pengelolaan sampah di desanya, antara lain Bendesa Adat Desa Punggul (Abiansemal, Badung), Bendesa Adat Desa Taro (Tegallalang, Gianyar), Bendesa Adat Desa Adat Bindu (Abiansemal, Badung), dan Bendesa Adat Desa Adat Cemenggaon (Sukawati, Gianyar). (rls)

Pria Karangasem yang Culik Anak Mantan Bos dan Minta Rp 100 Juta Kini Diseret ke Meja Hijau

I Wayan Sudirta jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Denpasar.
I Wayan Sudirta jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Denpasar.

PANTAUBALI.COM, KARANGASEM – Rasa sakit hati dan tekanan ekonomi mendorong I Wayan Sudirta (29) melakukan aksi nekat yang kini menjerumuskannya ke meja hijau. Pria asal Seraya, Karangasem itu diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar karena menculik anak mantan bosnya dan menuntut tebusan Rp 100 juta.

Sidang perdana kasus ini digelar secara tertutup pada Kamis (10/7/2025). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Finna Wulandari dari Kejari Denpasar menyatakan Sudirta dijerat dengan dua dakwaan berat, yakni Pasal 83 jo Pasal 76F Undang-Undang Perlindungan Anak serta Pasal 328 KUHP tentang penculikan.

Kasus bermula dari pemecatan Sudirta dari tempat kerjanya di sebuah toko kosmetik milik orang tua korban, bocah laki-laki berinisial IMRAK (10), pada November 2024. Setelah dipecat, ia terus berpura-pura kepada keluarganya bahwa dirinya bekerja di kapal pesiar.

Menjelang kepulangannya ke kampung halaman pada Februari 2025, kepepet ekonomi membuat Sudirta gelap mata. Ia pun menyusun rencana penculikan dengan sasaran anak mantan bosnya sendiri.

Pada Kamis, 6 Februari 2025, Sudirta datang ke sekolah IMRAK di kawasan Sesetan, Denpasar, dan berpura-pura sebagai utusan orang tua korban. Karena sebelumnya mengenal pelaku, korban pun ikut tanpa curiga.

Setelah membawa korban keliling kota, pelaku sempat membeli kartu SIM baru dan berhenti di sebuah minimarket kawasan Renon. Dari sana, ia menghubungi orang tua korban dengan nomor tak dikenal dan menyampaikan ancaman.

“Aku bawa anakmu. Jangan coba-coba lapor polisi, anak yang di Surabaya juga bisa kena,” ujar Sudirta dalam pesan ancamannya.

Tak hanya mengancam, ia juga menuntut uang tebusan Rp 100 juta. Orang tua korban sempat menawar karena keterbatasan limit internet banking, namun pelaku tetap ngotot dan bahkan mengirimkan foto korban sebagai tekanan.

“Uangnya atau anaknya?” tulisnya dengan nada mengancam.

Beruntung, orang tua korban langsung melapor ke polisi. Petugas dari Polsek Denpasar Selatan dan Polresta Denpasar bergerak cepat. Setelah uang ditransfer, polisi berhasil melacak dan menangkap Sudirta di lokasi.

Kini, Sudirta harus menghadapi proses hukum atas aksinya yang membahayakan keselamatan anak. Sidang lanjutan dijadwalkan digelar dalam waktu dekat. (RA)

Kecelakaan Beruntun di Jalur Denpasar-Singaraja, Satu Kendaraan Terjun ke Jurang Sedalam 9 Meter

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Kecelakaan beruntun terjadi di jalur nasional Denpasar–Singaraja tepatnya di Banjar Abianluang, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, pada Kamis (10/7/2025) sore.

Kecelakaan yang melibatkan tiga kendaraan ini diduga akibat rem blong pada truk boks yang melaju dari arah Singaraja menuju Denpasar. Beruntung tidak ada korban luka serius maupun meninggal dalam insiden mengerikan tersebut.

Kasi Humas Polres Tabanan Iptu I Gusti Made Berata menyebutkan, peristiwa terjadi sekitar pukul 16.40 WITA. Tabrakan melibatkan Hino Truck Box bernomor polisi P 8845 VM, Mitsubishi Colt Diesel DK 8809 DC, dan Toyota Car Carrier DK 9085 FA.

“Kecelakaan beruntun menyebabkan kendaraan Toyota Car Carrier DK 9085 FA jatuh kedalam jurang sedalam kurang lebih 9 meter. Beruntung sopir selamat,” jelasnya dikonfirmasi Jumat (11/7/2025).

Adapun kronologi kecelakaan bermula ketika truk boks yang dikemudikan Amanto Filimon Yusuf (41), warga Banyuwangi, mengalami rem blong saat melintasi turunan dan tikungan landai di lokasi kejadian.

Truk tersebut kemudian menabrak bagian belakang Colt Diesel yang dikemudikan Antonius Poto Lelan (29), warga Timor Tengah Utara, NTT. Benturan berlanjut hingga menabrak Toyota Car Carrier yang dikemudikan Dhomir Mubarizihi (35), asal Bekasi.

Benturan keras mengakibatkan mobil car carrier tersebut terjun ke jurang sedalam sekitar 9 meter. Beruntung, ketiga pengemudi kendaraan dalam keadaan selamat dan tidak mengalami luka serius.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini, hanya kerusakan pada kendaraan dan kerugian material,” jelas Berata.

Adapun rincian kerusakan kendaraan dan kerugian materi yakni Truk Hino mengalami penyok di bagian depan, ditaksir merugi sekitar Rp3 juta. Colt Diesel mengalami retak pada kaca depan, penyok pada bemper depan dan belakang kiri, kerugian ditaksir Rp7 juta. Kemudian, Toyota Car Carrier mengalami kerusakan parah di bagian depan, dengan taksiran kerugian mencapai Rp80 juta.

Atas kejadian tersebut, Berata mengimbau para pengendara untuk selalu berhati-hati dan memeriksa kondisi kendaraan sebelum digunakan. Terlebih lagi, saat ini pengalihan arus akibat perbaikan jalan jebol di Jalur Denpasar-Gilimanuk tepatnya di depan Pasar Bajera, Selemadeg, Tabanan masih berlangsung.

Kendaraan besar seperti truk dan bus dari arah Denpasar dan Gilimanuk dialihkan ke jalur alternatif Denpasar-Singaraja. (ana)

Cuaca Dingin Akhir-Akhir ini di Jawa-Bali-Nusa Tenggara, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Ilustrasi - cuaca di wilayah pegunungan Batur, Kintamani, Bangli, Bali.
Ilustrasi - cuaca di wilayah pegunungan Batur, Kintamani, Bangli, Bali.

PANTAUBALI.COM, NASIONAL – Akhir-akhir ini, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya.

Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena Aphelion. Fenomena astronomi ini terjadi ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya.

Peristiwa ini biasanya terjadi setiap bulan Juli. Namun, dilansir dari akun Instagram resmi BMKG @infobmkg pada Jumat (11/7/2025) dijelaskan bahwa udara dingin belakangan ini tidak disebabkan oleh Aphelion melainkan disebabkan oleh tiga faktor cuaca.

Pertama, mulai memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan dominasi angin timuran (Monsoon Australia) yang bersifat kering dan dingin.

Kedua, langit cerah yang mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer saat malam hari. Ketiga, hujan yang masih terjadi di beberapa wilayah turut menambah rasa dingin karena membawa massa udara dingin dari awan ke permukaan dan menghalangi pemanasan sinar matahari.

Cuaca dingin yang dirasakan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sebenarnya merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau, yakni sekitar bulan Juli hingga September,” tulis postingan @infobmkg.

BMKG juga menegaskan, Aphelion adalah fenomena rutin yang terjadi setiap tahun dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran. Tidak ada bukti bahwa fenomena ini menyebabkan gangguan cuaca ekstrem di Indonesia. Penurunan suhu saat ini lebih dipengaruhi oleh pola angin muson timur daripada jarak Bumi-Matahari.

Dalam menghadapi beredarnya berbagai informasi cuaca yang simpang siur di media sosial, BMKG mengimbau masyarakat untuk tdak langsung percaya pada informasi yang viral tanpa sumber resmi.

Jangan menyebarkan hanya informasi terverifikasi, agar tidak memicu kepanikan. Kemudian, masyarakat harus mastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi BMKG seperti: Situs: www.bmkg.go.id, Instagram: @infobmkg, serta Aplikasi resmi BMKG.

BMKG juga mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan siaga terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti suhu dingin, hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Pemahaman dan kesiapan menghadapi kondisi ini penting untuk keselamatan. (ana)

Kunjungan Wisatawan Domestik ke Tanah Lot dan Ulun Danu Beratan Turun 20 Persen Dampak Jalur Denpasar-Gilimanuk Jebol

Kunjungan Wisatawan di DTW Tanah Lot, Kediri, Tabanan.
Kunjungan Wisatawan di DTW Tanah Lot, Kediri, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Jebolnya jalur nasional Denpasar-Gilimanuk berdampak terhadap sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan. Dua destinasi unggulan yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan domestik yakni DTW Tanah Lot di Kecamatan Kediri dan DTW Ulun Danu Beratan di Kecamatan Baturiti mengalami penurunan kunjungan wisatawan hingga 20 persen.

Penurunan ini mulai terjadi sejak sehari setelah jalan nasional tersebut jebol di kawasan depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg pada Senin (7/7/2025). Gangguan lalu lintas akibat insiden itu menyebabkan rombongan wisatawan dari arah barat, khususnya yang menggunakan bus besar dari Pulau Jawa, mengurungkan atau menunda kunjungan mereka.

Asisten Manajer DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan, mengungkapkan, angka kunjungan harian kini berada di kisaran 3.000 hingga 4.000 orang, turun sekitar 20 persen dibandingkan sebelumnya.

“Penurunan sekitar 20 persen. Rata-rata terjadi pada wisatawan domestik yang biasanya datang secara rombongan dengan bus. Sejak jalan jebol, banyak yang menunda kunjungan ke hari berikutnya,” jelasnya saat dikonfirmasi, Jumat (11/7/2025).

Menurutnya, pengalihan arus lalu lintas ke jalur alternatif yang lebih kecil dan memutar membuat waktu tempuh menjadi lebih lama, terutama bagi kendaraan berat seperti truk, bus, dan kendaraan roda enam. Sebagian besar kendaraan kini dialihkan melalui jalur Singaraja.

“Kondisi itu menyebabkan wisatawan menunda kunjungan dan menggantinya ke hari berikutnya, bahkan ada juga yang membatalkan,” imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan Manajer DTW Ulun Danu Beratan, I Wayan Mustika. Ia menyebut, sejak insiden tersebut, kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Beratan tercatat hanya 1.000 hingga 2.000 orang per hari.

“Kunjungan turun sekitar 20 persen. Mayoritas wisatawan yang datang saat ini adalah wisatawan domestik, seiring dengan momentum liburan sekolah. Namun karena pengalihan arus ke jalur Denpasar-Singaraja, kemacetan parah terjadi di kawasan Bedugul,” ujar Mustika.

Akibat kemacetan tersebut, tidak sedikit rombongan wisatawan yang akhirnya membatalkan kunjungan ke Ulun Danu Beratan.

Pihak pengelola DTW Tanah Lot dan Ulun Danu Beratan berharap proses perbaikan jalan nasional Denpasar-Gilimanuk dapat segera rampung, sehingga akses menuju destinasi wisata kembali lancar dan kunjungan wisatawan dapat pulih seperti semula. (ana)

Topeng Bondres Damar Sasangka, Panggung Refleksi Kepemimpinan di PKB 2025

Sanggar Seni Bajra Geni, Banjar Batu, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, tampil membawakan pagelaran Topeng Bondres bertajuk Damar Sasangka, mewakili Kabupaten Badung.
Sanggar Seni Bajra Geni, Banjar Batu, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, tampil membawakan pagelaran Topeng Bondres bertajuk Damar Sasangka, mewakili Kabupaten Badung.

PANTAU BALI.COM, DENPASAR — Panggung Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, kembali menghadirkan nuansa magis Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Rabu (9/7/2025).

Kali ini, giliran Sanggar Seni Bajra Geni, Banjar Batu, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, yang tampil membawakan pagelaran Topeng Bondres bertajuk Damar Sasangka, mewakili Kabupaten Badung.

Pagelaran ini bukan sekadar sajian seni pertunjukan, tetapi sekaligus menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur tentang kepemimpinan, lingkungan, dan harmoni semesta.

Melalui lakon Damar Sasangka, penonton diajak menyelami kisah seorang pemimpin bijak yang rela menempuh laku tapa demi menemukan solusi di tengah bencana kekeringan dan konflik sosial.

Tokoh sentral dalam kisah ini adalah Ida Cokorda Nyoman Mayun, Raja Kawya Pura, yang dihadapkan pada persoalan pelik saat Subak Batan Tanjung mengalami kekeringan panjang. Alih-alih gegabah mengambil keputusan, sang raja memilih bertapa di Pucak Pengelengan untuk menyatukan batin dengan kehendak alam.

Hingga akhirnya, lewat wahyu yang diterima, solusi didapatkan melalui upacara suci Aci Tulak Tunggul di Dam Pura Taman Ayun, lengkap dengan sarana pekelem ulam suci dan iringan tari sakral Baris Keraras. Tradisi ini hingga kini masih lestari dalam piodalan Pura Taman Ayun.

Cerita ini tak hanya menyuguhkan potret kepemimpinan spiritual yang penuh tanggung jawab, tetapi juga menyuarakan pesan lingkungan yang relevan: pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan dan keberlangsungan pertanian.

Dalam konteks kekinian, pesan ini menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan semesta.

Sebelum inti cerita dimulai, pementasan diawali dengan tabuh pembuka dan tiga penampilan Topeng klasik, yakni Topeng Keras, Topeng Tua, dan Topeng Bondres Monyer Manis. Ketiganya menghadirkan karakter-karakter khas yang memancarkan kekuatan, kebijaksanaan, hingga sindiran sosial yang cerdas.

Pembina tari, Anak Agung Bagus Sudarma, menjelaskan bahwa lakon ini terinspirasi dari Babad Mengwi, khususnya kisah tentang Aci Tulak Tunggul. “Cerita ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah dan tradisi Subak Batan Tanjung, serta menyampaikan filosofi tentang pentingnya air dan bendungan sebagai sumber kemakmuran,” jelasnya.

Ia menuturkan, persiapan pementasan telah dilakukan sejak Maret 2025, melibatkan sekitar 50 seniman, baik penari maupun penabuh. “Hari ini menjadi puncak dari proses panjang kami. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bali yang konsisten menyediakan ruang untuk seniman daerah melalui PKB,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pembina tabuh, I Wayan Griya. Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang memberi kesempatan kepada seniman muda untuk tampil di ajang bergengsi ini. “Lewat berkesenian, generasi muda bisa belajar nilai-nilai kehidupan dan menjauh dari hal negatif. Inilah tujuan utama kami,” katanya.

Wayan Griya juga menyebutkan bahwa perkembangan seni di Badung saat ini sangat membanggakan. “Pembinaan seni kini berjalan terstruktur dari tingkat desa hingga kabupaten, menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku seni,” imbuhnya.

Pagelaran Topeng Bondres Damar Sasangka pun menjadi lebih dari sekadar tontonan. Pertunjukan ini berhasil menyentuh penonton, tidak hanya lewat keindahan gerak tari dan tabuhan gamelan, tetapi juga melalui pesan moral tentang tanggung jawab, spiritualitas, serta pentingnya menjaga harmoni dengan alam.

Sanggar Seni Bajra Geni sukses menunjukkan bahwa panggung seni adalah ruang edukasi, kontemplasi, sekaligus pelestarian warisan budaya yang tak lapuk oleh waktu. (ana)