- Advertisement -
Beranda blog Halaman 14

Teguran Keras Ketua DPRD Tabanan, Direksi RSUD Harus Evaluasi Manajemen Terkait Isu Obat yang Kosong

Ketua DPRD Tabanan I Nyoman Arnawa.
Ketua DPRD Tabanan I Nyoman Arnawa.

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Kekacauan peralihan administrasi Manual ke Digital melalui Rekam Medik Elektronil (RME), yang berdampak terhadap sistem pelayanan dan juga mengakibatkan krisis obat di RSUD Tabanan, mendapat teguran keras dari Ketua DPRD Tabanan I Nyoman Arnawa, karena menilai kondisi itu sebagai bukti buruknya manajemen rumah sakit milik pemerintah daerah dan berharap direksi terkait segera melakukan evaluasi total terhadap jajaranya.

Seusai rapat dengan pihak eksekutif di Gedung DPRD Tabanan, Rabu, 11 Maret 2026, Arnawa menyebut persoalan obat kosong tidak bisa lagi ditoleransi. Menurut dia, pelayanan kesehatan tidak boleh lumpuh hanya karena persoalan manajemen internal rumah sakit.

“Apapun alasannya bisa dibuat. Tapi yang paling penting adalah bagaimana direksi RSUD mempersiapkan sistem dan kinerja mereka. Jangan sampai pelayanan terbengkalai seperti ini,” kata Arnawa.

Ia menilai kelangkaan obat merupakan tamparan keras bagi pelayanan kesehatan di Kabupaten Tabanan yang selama ini mengandalkan RSUD sebagai rumah sakit rujukan utama.

Arnawa juga menyoroti cara kerja manajemen rumah sakit yang dinilainya tidak fokus pada pelayanan publik. Ia bahkan menyindir keras perilaku pejabat yang dinilai lebih sibuk dengan acara seremoni daripada menyelesaikan persoalan mendasar di rumah sakit.

“Sistem apa pun yang dipakai harus dijalankan dengan benar. Jangan hanya ikut sana ikut sini, hormat sana hormat sini, tapi kerjaan utama terbengkalai,” ujarnya.

Ketua DPRD Tabanan menegaskan dalam hal ini DPRD tidak akan tinggal diam. Ia langsung memerintahkan Komisi IV DPRD Tabanan untuk memanggil manajemen RSUD dan membedah akar persoalan kelangkaan obat yang sempat memicu kegaduhan di masyarakat, pasca viralnya rekaman Voice Note Seorang Dokter Senior yang bertugas di RSUD Tabanan.

Komisi IV diminta duduk bersama dengan pihak rumah sakit dan juga pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk menilai kinerja direksi RSUD selama ini.

Menurut Arnawa, langkah evaluasi itu penting agar persoalan serupa tidak kembali terulang dan pelayanan kepada pasien tidak lagi menjadi korban dari buruknya tata kelola rumah saki. TIM-01

Diduga Akhiri Hidup, Pria Ditemukan Tewas Tergantung di Gudang Rumah

Petugas BPBD Kota Denpasar mengevakuasi jenazah pria yang ditemukan meninggal diduga gantung diri di gudang rumahnya di kawasan Renon, Denpasar Selatan.
Petugas BPBD Kota Denpasar mengevakuasi jenazah pria yang ditemukan meninggal diduga gantung diri di gudang rumahnya di kawasan Renon, Denpasar Selatan.

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Warga di kawasan Jalan Tukad Yeh Aya IX, Renon, Denpasar Selatan, digegerkan dengan penemuan seorang pria yang meninggal dunia di gudang rumahnya pada Selasa malam (10/3). Korban berinisial KK diduga mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh seorang perempuan berinisial DS (48) yang tinggal di rumah tersebut sekitar pukul 20.00 WITA. Saat pulang dari bekerja, DS tidak melihat korban berada di rumah seperti biasanya sehingga mencoba menghubungi kerabat korban untuk menanyakan keberadaannya.

Namun, kerabat korban menyampaikan bahwa KK juga tidak berada di rumah kakaknya. Tak lama kemudian, paman korban datang ke rumah tersebut untuk membantu mencari keberadaan KK, tetapi korban tetap tidak ditemukan.

Sekitar pukul 21.30 WITA, saat hendak mandi dan melintas di area gudang rumah, DS melihat bayangan mencurigakan dari dalam ruangan tersebut. Ketika pintu gudang dibuka, saksi terkejut karena mendapati korban sudah dalam kondisi tergantung di bagian plafon gudang.

Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, saksi langsung melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian.

Ia menjelaskan, kakak kandung korban yang datang ke lokasi setelah dihubungi saksi mengaku tidak mengetahui adanya permasalahan yang dialami korban, baik terkait pekerjaan maupun hubungan pribadinya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh tim Inafis Polresta Denpasar, korban ditemukan dengan posisi kepala mengarah ke barat dan miring ke kiri. Tangan kanan lurus, tangan kiri berada di belakang pinggang, sementara kedua kaki menyentuh lantai. Saat ditemukan, korban hanya mengenakan celana boxer pendek berwarna biru tanpa mengenakan baju.

Petugas juga menemukan selendang berwarna kuning yang digunakan sebagai alat gantung. Selendang tersebut terikat pada kayu plafon dengan simpul pada bagian leher korban.

“Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dugaan sementara korban meninggal dunia karena gantung diri,” jelasnya.

Jenazah korban kemudian dievakuasi oleh petugas BPBD Kota Denpasar sekitar pukul 00.43 WITA dan dibawa ke RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah untuk penanganan lebih lanjut. Sementara itu, lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi guna kepentingan penyelidikan. RAN

ART Asal Banyuwangi Gasak Uang dan Perhiasan Emas Majikan di Denpasar

ART asal Banyuwangi yang diduga mencuri uang dan cincin emas milik majikannya diamankan polisi di Denpasar Timur.
ART asal Banyuwangi yang diduga mencuri uang dan cincin emas milik majikannya diamankan polisi di Denpasar Timur.

DENPASAR PANTAUBALI.COM – Seorang asisten rumah tangga (ART) asal Banyuwangi, Jawa Timur, berinisial AD (22) diamankan aparat Polsek Denpasar Timur setelah diduga mencuri uang dan perhiasan milik majikannya. Aksi tersebut menyebabkan korban mengalami kerugian hingga Rp11,5 juta.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, mengatakan peristiwa pencurian itu terjadi di sebuah rumah di Jalan Sekar Sari, Banjar Batur Sari, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Kasus ini terungkap setelah korban, I Putu Oka Sudarsana (32), memeriksa rekaman CCTV di dalam rumahnya. Dari rekaman tersebut terlihat seseorang mengambil dompet yang berada di atas meja di kamar tidur.

Saat diperiksa, uang tunai di dalam dompet yang semula sekitar Rp1,6 juta tersisa Rp1,1 juta. Korban kemudian mengecek barang-barang lain dan mendapati dua cincin emas bermata biru dan putih milik anaknya yang disimpan di rak dekat dompet juga sudah hilang.

Selain itu, korban juga menemukan uang dalam celengan kaleng berwarna biru yang berisi pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu dengan total sekitar Rp6 juta turut raib.

“Atas kejadian tersebut korban mengalami kerugian sekitar Rp11,5 juta dan melaporkan kasus ini ke Polsek Denpasar Timur,” ujar Iptu Adi Saputra Jaya, Rabu (11/3/2026).

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim opsnal Polsek Denpasar Timur yang dipimpin Kanit Reskrim Iptu I Nyoman Agus Putra Ardiana bersama personel melakukan penyelidikan dan berhasil melacak keberadaan pelaku di sebuah rumah kos di sekitar Jalan Sekar Sari.

Petugas kemudian mendatangi lokasi tersebut dan mengamankan pelaku tanpa perlawanan.

Dalam pemeriksaan, pelaku mengakui telah mengambil uang dan perhiasan milik korban tanpa izin. Ia juga mengaku melakukan pencurian secara bertahap, mulai dari mengambil uang di celengan, dompet, hingga kantong celana dan tas milik korban.

Polisi turut mengamankan barang bukti berupa satu set pakaian yang digunakan pelaku saat beraksi serta uang tunai sebesar Rp400 ribu.

“Pelaku saat ini telah diamankan di Polsek Denpasar Timur untuk menjalani proses hukum lebih lanjut,” pungkasnya. RAN

Tak Hanya Panggung Kreativitas Ogoh-Ogoh, Badung Caka Fest Putar Ekonomi Hingga Rp 1,49 Miliar

Bupati Wayan Adi Arnawa saat hadir di Badung Caka Fest Tahun 2026, Puspem Badung.

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Dalam sambutannya di Badung Caka Fest Tahun 2026 beberapa waktu lalu, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, mengatakan bahwa Badung Caka Fest tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara seni, kreativitas, dan penguatan ekonomi masyarakat.

 

“Badung Caka Fest kami siapkan bukan hanya sebagai panggung kreativitas ogoh-ogoh terbaik di Badung, tetapi juga sebagai upaya membuka sumber-sumber ekonomi baru melalui event-event daerah. Dengan melibatkan UMKM binaan yang telah melalui proses kurasi, kami ingin memastikan setiap kegiatan yang digelar mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Hal tersebut terbukti dengan lonjakan transaksi UMKM turut mewarnai pelaksanaan Badung Caka Fest yang digelar di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung. Selama empat hari penyelenggaraan kegiatan yang menampilkan 21 ogoh-ogoh terbaik se-Kabupaten Badung tersebut, perputaran ekonomi masyarakat berhasil menembus angka Rp1.494.883.240.

 

Pada hari pertama yang bertepatan dengan proses loading atau kedatangan ogoh-ogoh, transaksi UMKM sudah mencapai Rp 253.740.000. Memasuki hari kedua yang merupakan hari pertama pementasan ogoh-ogoh, angka transaksi kembali meningkat hingga Rp 338.211.240.

 

Antusiasme masyarakat yang terus berdatangan mendorong transaksi pada hari ketiga meningkat signifikan hingga Rp 441.537.000. Sementara pada hari keempat, transaksi kembali bergerak positif dengan capaian Rp 461.395.000.

 

Secara keseluruhan, total transaksi selama rangkaian kegiatan Badung Caka Fest tercatat mencapai Rp1.494.883.240. Capaian ini menunjukkan kuatnya potensi ekonomi kreatif yang dapat tumbuh dari penyelenggaraan event budaya di Kabupaten Badung.

 

Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Badung juga melibatkan UMKM binaan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Badung yang telah melalui proses kurasi bersama Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Badung. Para pelaku UMKM tersebut secara bergantian dilibatkan dalam berbagai event di Badung sehingga memiliki kesempatan yang merata untuk memasarkan produk mereka. Menariknya, seluruh pelaku UMKM yang terlibat tidak dipungut biaya apapun.

 

Bupati Adi Arnawa juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, khususnya para seniman ogoh-ogoh, komunitas, serta pelaku UMKM yang telah berpartisipasi dan menyukseskan pelaksanaan Badung Caka Fest.

 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Kolaborasi antara kreativitas budaya dan penguatan ekonomi masyarakat seperti ini akan terus kami dorong agar event-event di Kabupaten Badung mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah,” tutupnya. (rls)

Buka Pasar Murah di Sading, Wabup Bagus Alit Sucipta Jamin Stabilitas Harga Jelang Nyepi dan Idul Fitri

Wabup Bagus Alit Sucipta bersama Ketua WHDI Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta membuka Pasar Murah dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Caka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Umum Pratu I Gusti Ngurah Jana, Kelurahan Sading, Selasa (10/3).

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta bersama Ketua WHDI Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta membuka Pasar Murah dalam rangka menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Hari Raya Nyepi Caka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Umum Pratu I Gusti Ngurah Jana, Kelurahan Sading, Selasa (10/3/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya preventif pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

 

Wabup Bagus Alit Sucipta menjelaskan bahwa setiap menjelang hari besar keagamaan, permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok cenderung meningkat yang berimbas pada kenaikan harga.

 

“Pemerintah berkewajiban mengambil langkah preventif. Melalui pasar murah ini, kami memberikan jaminan stabilitas harga di pasaran. Barang yang dijual di sini harus benar-benar di bawah harga pasar sehingga meringankan beban masyarakat,” ujarnya.

 

Ia juga mengapresiasi kolaborasi Bank BPD Bali, PDAM Tirta Mangutama, dan Bank Indonesia yang memberikan subsidi pada komoditas tertentu. Kegiatan ini turut melibatkan Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku usaha lokal.

 

“Kami berikan apresiasi dan penghargaan kepada Bank BPD Bali, PDAM Tirta Mangutama dan Bank Indonesia yang telah bersedia berkolaborasi dalam penyediaan barang kebutuhan pokok bersubsidi yang dijual dalam pasar murah ini,” ucap Wabup.

 

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Badung, I Made Wirya Santosa, menyebutkan bahwa momen Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan tahun ini menjadi tantangan tersendiri dalam ketersediaan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting (Bapokting).

 

“Pasar murah ini adalah bagian dari rangkaian pengendalian inflasi di Kabupaten Badung. Kami berharap langkah ini efektif mengantisipasi lonjakan harga yang biasanya terjadi menjelang hari raya,” jelasnya.

 

Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Badung, Direksi BUMD, serta tokoh masyarakat setempat. (rls)

Parade Ogoh-Ogoh PAUD Mengwi Libatkan Ribuan Anak, Tanamkan Cinta Budaya Sejak Dini

Bunda PAUD Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa membuka Parade Ogoh-Ogoh PAUD dan TK se-Kecamatan Mengwi di areal GOR Lapangan Umum Mengwi, Selasa (10/3).

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Ribuan anak Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memeriahkan Parade Ogoh-Ogoh se-Kecamatan Mengwi yang digelar di areal GOR Lapangan Umum Mengwi, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya Bali sejak usia dini sekaligus menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948.

Parade ogoh-ogoh tersebut secara resmi dibuka oleh Bunda PAUD Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, yang ditandai dengan pemukulan gong. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Badung, Camat Mengwi, Perbekel Mengwi, Bunda PAUD Kecamatan Mengwi, serta Bunda PAUD desa dan kelurahan se-Kecamatan Mengwi.

Sebanyak 34 perwakilan TK dan PAUD dari berbagai wilayah di Kecamatan Mengwi ambil bagian dalam parade tersebut. Masing-masing peserta menampilkan ogoh-ogoh hasil kreativitas bersama antara anak-anak, guru, dan orang tua.

Kreasi ogoh-ogoh yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan keterampilan seni, tetapi juga menggambarkan pemahaman terhadap filosofi ogoh-ogoh sebagai bagian dari tradisi budaya Bali.

Dalam sambutannya, Rasniathi Adi Arnawa mengatakan kegiatan ini memiliki makna penting bagi perkembangan anak-anak, terutama dalam mengenalkan nilai-nilai budaya lokal sejak dini.

“Melalui parade ogoh-ogoh ini, anak-anak tidak hanya mengenal bentuk ogoh-ogoh secara fisik, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya Bali yang mengajarkan kesadaran diri, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya hidup rukun dalam kebersamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan seperti ini akan terus didorong untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Bali.

Sementara itu, Ketua Panitia Ni Putu Sulistya Dewi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Parade ogoh-ogoh tahun ini mengangkat tema “Melalui Kegiatan Ogoh-Ogoh Kita Tanamkan Seni Budaya Bali Sejak Dini.”

Menurutnya, kegiatan ini merupakan agenda Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Mengwi yang didukung oleh Bunda PAUD Kecamatan Mengwi serta mendapat dukungan dari Bunda PAUD Kabupaten Badung.

“Total ada 34 lembaga dari 46 TK yang ada di Kecamatan Mengwi yang ikut berpartisipasi, dengan jumlah peserta sekitar 2.000 anak,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana edukasi budaya bagi anak-anak, tetapi juga mempererat kebersamaan antara lembaga pendidikan, guru, orang tua, dan masyarakat dalam melestarikan tradisi Bali. (rls)

Resah! Dokter Senior Bongkar Krisis Obat RSUD Tabanan, Direktur Akui Dampak Dari Lilitan Utang 36 Miliar

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Ketersediaan sejumlah obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tabanan dilaporkan sempat mengalami kekosongan. Kondisi ini mencuat setelah beredar pesan dari seorang dokter senior yang mengeluhkan tidak tersedianya obat bagi pasien dan viral di kalangan internal rumah sakit.

Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa selama 26 tahun bertugas di RSUD Tabanan, baru kali ini terjadi persoalan kekosongan obat seperti sekarang.

Direktur RSUD Tabanan dr. I Gede Sudiarta membenarkan adanya keterbatasan stok obat. Namun ia menegaskan, obat yang kosong bukan obat kategori darurat atau yang tercantum dalam Formularium Nasional (Fornas), melainkan obat yang masuk dalam kategori suplemen di formularium rumah sakit.

“Yang tidak tersedia ini obat yang sifatnya suplemen atau masuk dalam formularium rumah sakit. Untuk obat emergency atau yang termasuk fornas masih tersedia dan aman,” ujar dr. Sudiarta saat memberikan keterangan di RSUD Tabanan, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi akibat tertundanya pencairan klaim BPJS Kesehatan. Keterlambatan ini berkaitan dengan proses peralihan sistem administrasi rumah sakit dari manual ke sistem digital.

Akibat proses tersebut, pengadaan obat sempat terhambat karena sistem keuangan tidak dapat memproses pembayaran sebelum klaim BPJS dicairkan.

“Saat stok mulai menipis sebenarnya pengadaan sudah kami lakukan. Namun sistem menolak karena kondisi keuangan belum memungkinkan untuk pembayaran, karena klaim BPJS belum cair,” jelasnya.

Pihak manajemen RSUD Tabanan kini tengah mempercepat proses penyesuaian data dari sistem manual ke digital agar klaim BPJS dapat segera diproses. Berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait, klaim BPJS disebut sudah mulai dicairkan.

“Kami pastikan sesuai hasil koordinasi per 16 Januari 2026 klaim BPJS sudah mulai cair, sehingga proses pengadaan obat kembali bisa berjalan,” tegasnya.

Selain itu, RSUD Tabanan yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) murni juga telah mengajukan bantuan dana kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan guna menjaga stabilitas operasional rumah sakit.

“Kami mengajukan subsidi sekitar Rp60 miliar untuk membantu operasional rumah sakit. Astungkara, mudah-mudahan bisa terealisasi pada anggaran perubahan sehingga ketersediaan obat kembali stabil,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Manajemen Operasional RSUD Tabanan Ni Wayan Primayani menjelaskan keterlambatan klaim BPJS terjadi selama tiga bulan, yakni sejak Desember 2025 hingga Februari 2026.

“Setiap bulan nilai klaim yang belum cair rata-rata sekitar Rp7 miliar,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, keterlambatan tersebut terjadi karena proses penyesuaian administrasi dalam peralihan sistem layanan dari manual ke digital. Tercatat sekitar 9.000 berkas klaim harus dilengkapi kembali datanya dalam sistem digital.

Persoalan administrasi ini turut berdampak pada operasional rumah sakit, termasuk kesejahteraan 952 pegawai serta pengadaan Barang Medis Habis Pakai (BMHP). Bahkan jasa pelayanan (jaspel) pegawai sejak Januari hingga Februari 2026 belum dapat dibayarkan.

Hingga 31 Desember 2025 total utang RSUD Tabanan tercatat lebih dari Rp36 miliar. Rinciannya, utang obat mencapai lebih dari Rp19 miliar dan utang BMHP sekitar Rp16 miliar yang merupakan kewajiban dari tahun-tahun sebelumnya. (*)

Fraksi Gerindra DPRD Tabanan Soroti Keluhan Dokter Senior Soal Stok Obat Habis di RSU

Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyoroti keluhan dokter senior terkait dugaan kekosongan stok obat di RSUD Tabanan.
Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyoroti keluhan dokter senior terkait dugaan kekosongan stok obat di RSUD Tabanan.

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Beredarnya rekaman suara (voice note) seorang dokter senior di RSUD Tabanan pada Senin malam memicu perhatian publik. Rekaman tersebut berisi keluhan terkait kondisi pelayanan di rumah sakit, khususnya mengenai ketersediaan obat di depo farmasi.

Dalam rekaman suara yang beredar di media sosial tersebut, dokter yang mengaku telah bertugas selama 26 tahun di RSUD Tabanan menyampaikan kegelisahannya mengenai kondisi pelayanan medis yang dinilai mengalami penurunan akibat keterbatasan stok obat.

Berikut isi rekaman suara tersebut:

“Selamat pagi para Direksi dan Manajemen yang ada di WA Grup ini, maafkan saya pakai voice note, supaya intonasi saya didengar dengan bagus. Mohon maaf ini sebelumnya, ini rumah sakit mau dibawa kemana ya? Ini satu persatu obat sudah tidak ada di depo,karena kita tidak membayar ya. Kemungkinan karena hutang kita terlalu banyak. Sekarang yang terakhir Citicoline yang tidak ada. Sedangkan kami tidak boleh bicara sama pasien bahwa obat tidak ada.

Berikan saya menumpahkan isi hati saya sekarang disini sebagai dokter yang paling senior saat ini yang ada di RSUD Tabanan. yang sudah bekerja selama 26 tahun, yang kali ini baru merasakan situasi seperti sekarang ini. Entah apa yang menyebabkannya, saya tidak tahu dan saya tidak mau tahu.

Yang saya ingin tahu adalah pelayanan terhadap pasien kita yang ada di Rumah Sakit Tabanan. 26 tahun saya disini, sekarang inilah yang saya rasakan periodenya yang paling jelek. Saya sebagai dokter spesialis saraf yang sudah 26 tahun disini merasakan banget ya, merasakan apa yang harus kami lakukan terhadap pasien-pasien yang sudah terlanjur kami rawat disini dan terlanjur sudah masuk ke rumah sakit ini.

Mohon diberikan jawaban yang terbaik, siapa yang berwenang, kalau saya salah silahkan berikan saya Punishment (hukuman), atau Punishment yang akan diberikan kepada saya sebagai dokter yang paling senior di rumah sakit ini.

Silakan, karena jiwa saya masih Bersatu untuk pasien, jiwa saya untuk pasien, pelayanan nomor satu yang ingin kami berikan kepada pasien-pasien yang ada di rumah sakit Tabanan ini, tolong berikan jawaban yang terbaik hari ini, di hari Senin ini, buat saya pribadi dan untuk kami DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) di Rumah Sakit Tabanan. Saya dr. Ayu, dokter spesialis saraf yang berbicara disini.”

Menanggapi beredarnya rekaman tersebut, Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Tabanan, I Wayan Wiryadana, meminta pihak manajemen RSUD Tabanan memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik.

Menurutnya, pihak Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyayangkan jika benar terjadi kekosongan stok obat di rumah sakit daerah tersebut.

“Kami di Fraksi Gerindra sangat menyayangkan jika kondisi ini sampai terjadi. RSUD Tabanan merupakan rumah sakit daerah berstatus tipe B yang menjadi rujukan dari rumah sakit tipe C di Kabupaten Tabanan dan sekitarnya. Kenapa bisa sampai kehabisan obat, ada apa sebenarnya?” ujarnya.

Ia menilai, sebagai rumah sakit daerah, RSUD Tabanan seharusnya memiliki sistem manajemen yang baik, termasuk dalam pengelolaan stok obat dan perlengkapan medis lainnya.

“Sebagai rumah sakit daerah, seharusnya memiliki sistem manajemen yang baik sehingga pengelolaan bisa dilakukan secara transparan. Dengan begitu, ketersediaan obat dan perlengkapan medis dapat terpenuhi dan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” katanya.

Wiryadana juga meminta pihak manajemen rumah sakit segera memberikan klarifikasi terkait kondisi tersebut.

“Kalau sampai kondisinya seperti sekarang, bagaimana pertanggungjawaban pihak rumah sakit. Ada apa ini hingga kondisi ini bisa terjadi. Dokter tidak boleh bicara, obat habis. Kami minta pihak manajemen rumah sakit memberikan penjelasan terkait kondisi ini,” tegasnya. (RAN)

Kukuhkan Pengurus FK2D Abiansemal, Bupati Adi Arnawa Tekankan Penguatan Pelayanan Publik

Bupati Wayan Adi Arnawa saat mengukuhkan Pengurus Forum Komunikasi Kelian Dinas Kecamatan Abiansemal masa bakti 2026–2031 di Sunfield, Darmasaba, Senin (9/3).

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Mengambil tema “Memupuk Silaturahmi dan Rasa Kebersamaan Antar Forum Komunikasi Kelian Dinas se-Kecamatan Abiansemal”, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, mengukuhkan Pengurus Forum Komunikasi Kelihan Dinas (FK2D) Kecamatan Abiansemal masa bakti 2026–2031 di Sunfield, Darmasaba, Senin (9/3/2026).

 

Didampingi Ketua TP PKK Badung, Ny. Rasniathi Adi Arnawa, Bupati menegaskan peran strategis Kelian Dinas sebagai ujung tombak sekaligus garda terdepan pelayanan masyarakat di Kabupaten Badung. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan program pembangunan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah dengan perangkat kewilayahan di tingkat Banjar dan Desa.

 

“Kelihan Dinas adalah perpanjangan tangan pemerintah. Melalui koordinasi yang kuat, berbagai program strategis dapat diterjemahkan secara efektif dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Adi Arnawa.

 

Dalam arahannya, Bupati memaparkan sejumlah capaian dan keberlanjutan program pro-rakyat. Salah satunya adalah pemberian bantuan hari raya sebesar Rp2 juta bagi setiap Kepala Keluarga (KK) saat Galungan, serta santunan lansia senilai Rp3 juta per tahun bagi warga usia 75 tahun ke atas.

 

“Kebijakan ini bukan sekadar bantuan sosial, tapi bentuk penghargaan dan motivasi bagi warga untuk menjaga derajat kesehatan dan pola hidup sehat agar mencapai usia harapan hidup yang tinggi,” jelasnya.

 

Sektor pendidikan juga menjadi sorotan utama. Mulai tahun 2026, Pemkab Badung resmi menggratiskan biaya SMA bagi siswa di wilayah Badung. Selain itu, disiapkan beasiswa perguruan tinggi hingga lulus bagi anak-anak keluarga petani.

 

“Kami ingin memastikan tidak ada anak Badung yang putus sekolah karena faktor ekonomi. Anak petani harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi,” tegas Bupati.

 

Terkait administrasi kependudukan, Bupati mengingatkan pembaruan skema santunan kematian sebesar Rp 10 juta yang kini mensyaratkan pengurusan akta kematian maksimal satu minggu setelah kejadian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan tertib administrasi.

 

Di sisi lain, menjelang rencana penutupan TPA Suwung pada April 2026, Adi Arnawa menginstruksikan seluruh Kelian Dinas untuk masif mengedukasi warga mengenai pemilahan sampah berbasis sumber.

 

“Sampah harus selesai di tingkat rumah tangga. Tanpa kesadaran bersama, ini akan menjadi tantangan besar bagi kita,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Ketua FK2D Abiansemal terpilih, I Made Nada Sariada, menyatakan kesiapannya memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Ia berkomitmen menjadikan forum ini sebagai jembatan yang solid dalam mensosialisasikan program pembangunan kepada masyarakat.

 

Acara pengukuhan ini juga diisi dengan apresiasi dari Ketua FK2D periode sebelumnya, I Gusti Ngurah Suwindra, atas kerja sama yang telah terjalin baik selama masa jabatannya. (rls)

Fraksi Gerindra Soroti Krisis Obat di RSUD Tabanan, Desak Manajemen Buka Kondisi Sebenarnya

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Kondisi pelayanan di RSUD Tabanan menjadi sorotan setelah beredar rekaman suara seorang dokter senior yang mengeluhkan kosongnya sejumlah obat di depo rumah sakit. Rekaman tersebut viral di media sosial pada Senin malam dan memicu perhatian publik terhadap kondisi rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

Dalam rekaman berdurasi sekitar dua menit itu, dr. Ayu, dokter spesialis saraf yang telah mengabdi selama 26 tahun di RSUD Tabanan, menyampaikan kekecewaannya kepada jajaran direksi dan manajemen rumah sakit. Dengan suara bergetar, ia mempertanyakan arah pengelolaan rumah sakit yang dinilai sedang menghadapi persoalan serius, terutama terkait ketersediaan obat.

Ia menyebutkan bahwa beberapa jenis obat mulai habis di depo farmasi rumah sakit. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan persoalan pembayaran kepada vendor penyedia obat yang belum terselesaikan. Salah satu obat yang disebut terakhir kali tidak tersedia adalah Citicoline.

Dalam pesan suara itu, dr. Ayu juga mengungkapkan bahwa selama lebih dari dua dekade bekerja di RSUD Tabanan, baru kali ini ia merasakan kondisi pelayanan yang menurutnya paling sulit. Ia menekankan bahwa para dokter tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, meski dihadapkan pada keterbatasan obat.

Menanggapi beredarnya rekaman tersebut, Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Tabanan, I Wayan Wiryadana, menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang terjadi di RSUD Tabanan. Ia menilai sangat disayangkan apabila rumah sakit daerah yang berstatus tipe B sampai mengalami kekosongan obat.

Menurut Wiryadana, RSUD Tabanan merupakan rumah sakit rujukan bagi sejumlah rumah sakit tipe C di Kabupaten Tabanan dan wilayah sekitarnya. Karena itu, ketersediaan obat dan kelengkapan pelayanan medis seharusnya menjadi prioritas utama.

Ia menegaskan bahwa sebagai rumah sakit milik daerah, RSUD Tabanan seharusnya memiliki sistem manajemen yang kuat dan transparan, terutama dalam pengelolaan keuangan serta pengadaan obat dan alat kesehatan.

“Kami meminta pihak manajemen rumah sakit memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait kondisi ini. Jangan sampai pelayanan kepada masyarakat terganggu karena persoalan manajemen,” tegasnya.

Fraksi Gerindra DPRD Tabanan pun mendesak agar persoalan tersebut segera diselesaikan sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat kembali berjalan optimal. (tim)