- Advertisement -
Beranda blog Halaman 2

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (lomba) gender tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Senin (15/6/2026). Dalam penampilannya empat peserta putra dan putri dari Sanggar Batel Giri Sunari, Banjar Busana, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal dengan membawakan tiga gending. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 ini, mereka berhadapan dengan pesaing yakni Duta Kabupaten Karangasem.

Pembina Tabuh, I Made Gawi Antara mengatakan, ada empat orang yang tampil dalam gender anak-anak ini. Namun sebelum tampil sejumlah persiapan telah dilakukan untuk tampil mewakili Kabupaten Badung dalam ajang PKB 2026. Terlebih penampilan dari Sanggar Batel Giri Sunari ini adalah yang pertama kalinya.

“Penampilan ini adalah yang pertama kali dari Sanggar Batel Giri Sunari. Persiapannya sudah dari bulan Januari. Sebelumnya juga ada persiapan untuk mempersiapkan diajang yang bergengsi ini,” ujar Gawi Antara.

Pihaknya menyebutkan, dalam penampilan ini ada tiga gending yang dibawakan, yakni Cangak Merengang, Pemungkah Wayah, dan Mesem. Sebelum tampil sanggar binaannya pun mengikuti seleksi yang telah digelar oleh Pemkab Badung. Mengingat saingan dalam lomba gender anak-anak ini lumayan kuat.

“Persaingannya lumayan, karena Gender Wayang ini kan ajang yang bergensi di PKB. Hampir setiap kabupaten, sudah pasti kalau sudah ke PKB-kan mempersiapkan diri untuk mewakili itu. Pasti ada seleksi. Seleksi yang terbaik, mewakili kabupaten dalam ajang itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gawi Antara berharap, dapat meraih juara dalam lomba gender wayang anak-anak ini. Lantaran hal ini pun akan menjadi sebuah kebanggaan bagi peseeta, sanggar, maupun Kabupaten Badung. “Harapannya Jayanti. Kita membawa nama Badung, otomatis, kalau boleh, jangan minta juara lebih-lebih, juara satu lah,” paparnya.

Pembina Tabuh lainnya, I Gede Kristya Dika Santana pun menambahkan, dalam ajang ini sebenarnya adalah untuk pelestarian seni dan budaya Bali. Terlebih setiap kabupaten/kota memiliki ciri khasnya tersendiri dalam setiap penampilan. “Tujuan utamanya yang pasti kan pelestarian. Pelestarian seni, penggalian seni-seni, karena setiap kabupaten memiliki style, memiliki ciri khas atau karakter masing-masing,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Wayan Wiryadi menyatakan, gender wayang adalah sebuah permainan alat musik yang sangat langka dan sulit. Namun menjadi progres yang sangat membanggakan ketika mampu tampil dengan memukau.
“Astungkara apa yang terlihat dan disampaikan selama ini, anak-anak kami itu sudah luar biasa untuk penampilan ini, dan semoga pada hari ini mendapatkan hasilnya maksimal,” ujar Wiryadi.

Dirinya juga menyatakan, Pemkab Badung telah memberikan pembinaan dan motovasi semaksimal mungkin. Sebelum penampilan ini juga telah dilakukan seleksi selama dua bulan. “Harapannya adalah dalam proses ini, Badung tetap sempurna, tetap berprestasi,” imbuhnya. (rls/kmf)

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

MANGUPURA, PANTAUBALI.COM – Tercatat 9 peserta dari Kabupaten Badung unjuk kebolehan di ajang Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48, di pelataran Museum Taman Budaya Art Center, Senin (15/6/2026). Dari sembilan peserta, dua di antaranya duta Badung resmi sehingga mendapat gemblengan dari sanggar dan tujuh peserta dari kalangan umum lewat link yang disiapkan panitia.

Dua peserta yang merupakan duta Badung memperoleh gemblengan dari Sanggar Krisnarupa yang beralamat di Abianbase. Hal ini diakui oleh Ketua Sanggar Krisnarupa Ngurah Alit Kapakisan.

Ditemui di arena lomba, Alit Kepakisan menyatakan, dua orang peserta merupakan permintaan resmi dari panitia ke Disbud Badung. Karena itu, hanya dua peserta yang memperoleh pembinaan dari Sanggar Krisnayuda Abianbase. Persiapan yang dilakukan, ungkapnya, melakukan latihan sejak Februari sampai sekarang.

“Persiapannya mulai penentuan tema yang menyesuaikan dengan tema PKB sekarang yakni Atma Kerthi. Selanjutnya menggelar latihan sket serta latihan mewarnai. Proses itu sudah kami lalui dan sudah kami maksimalkan untuk tampil di ajang PKB kali ini. Astungkara ke depannya bisa mendapatkan juara,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Badung Made Adi Adnyana. Menurutnya, Dinas Kebudayaan hanya men-support dari sisi anggaran yang dibutuhkan, sementara secara teknis melukis dan kreativitasnya diserahkan sepenuhnya kepada pihak sanggar. “Kami hanya men-support dari sisi anggaran,” tegasnya.

Soal peserta Badung tercatat 9 orang, sementara yang mendapat pembinaan hanya dua orang, Kabid Adi Adnyana memastikan bahwa secara resmi sesuai undangan, Badung hanya mengirim dua duta sebagai peserta. “Tujuh lainnya berasal kategori umum yang mendaftar lewat link panitia PKB. Karena itu, pihak Disbud hanya memberikan pembinaan kepada dua orang peserta yang secara resmi menjadi duta Badung di ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik ini,” ungkapnya.

Di sisi lain Dewan Juri Made Yasana didampingi dua juri lainnya Ni Made Rinu dan Made Bendi Yudha memaparkan ketentuan umum wimbakara ini. Peserta wimbakara adalah perorangan dan/atau umum, pria maupun wanita dengan jumlah maksimal 100 orang peserta. Peserta sebagai duta kabupaten/kota maksimal 2 orang peserta. Selanjutnya, peserta berusia 13 hingga 18 tahun (terhitung pada tanggal 31 Desember 2026) dan dibuktikan dengan mengirimkan fotokopi identias diri berupa KIA/KTP/Kartu Keluarga/surat keterangan siswa dari kepala sekolah peserta bersangkutan.

Ketentuan lainnya, ujarnya, peserta tampil dengan menggunakan busana adat Bali madya. “Peserta diwajibkan menggunakan busana Bali madya,” ujarnya.

Ditanya ketentuan khusus, Made Yasana mengungkapkan, karya seni lukis wayang klasik mengacu pada seni lukis wayang gaya Kamasan, selanjutnya relevan dengan tema PKB ke-48 tahun 2026. Karya seni lukis wayang klasik Bali dibuat di atas kertas gambar (ukuran kertas A3) yang disediakan panitia, dengan orientasi bebas, sedangkan alat-alat lain disiapkan oleh peserta.

Dia menambahkan, peserta tidak diperkenankan membawa contoh gambar dan pewarnaan menggunakan teknik sigar warna (gradasi warna). Karya akhir tidak diperkenankan dilapisi dengan cat spray, terakhir durasi wimbakara selama 180 menit atau 3 jam. Hasil karya peserta wimbakara menjadi milik panitia.

Soal penilaian, ujar Yasana, berasal dari gagasan dan kreativitas dengan nilai 25-35 poin, teknik karya dengan nilai 15-30 poin serta kesesuaian tema dan keutuhan karya senilai 25-35 poin. “Penilaian menyangkut 3 aspek ini dengan bobot nilai seperti di atas,” tegas Dewa Juri yang berasal dari ISI Bali tersebut.

Made Yasana menambahkan, seni lukis wayang klasik tidak sama dengan Kamasan. “Klasik yang sebenarnya ada di Bali. Klasik hidup di Kamasan, itu sangat bagus. Namun bukan berarti klasik itu Kamasan. Akarnya itu tetap dan yang namanya pakem itu jangan diubah,” ujarnya.

Dia mencontohkan jangan sampai gelung Bima diganti dengan gelung Kresna. “Itu jelas tak bisa. Yang boleh ditukar-tukar sedikit itu adalah sesaluk atau kostum. Silakan hias sepintar-pintarnya yang penting lengut atau pangus,” ungkap Made Yasana. (rls/kmf)

Polisi Ungkap Motif Ibu Buang Bayi di Denpasar: Malu Ditinggal Kabur Kekasih

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Misteri penemuan bayi perempuan yang ditinggalkan di dalam tas berwarna ungu di kawasan Jalan Imam Bonjol, Gang Penataran Sari, Denpasar Barat, akhirnya terungkap. Polisi memastikan pelaku yang membuang bayi malang tersebut adalah ibu kandungnya sendiri.

Pelaku berinisial NKSD (33), seorang karyawan swasta yang tinggal tidak jauh dari lokasi penemuan bayi, berhasil diamankan jajaran Polsek Denpasar Barat dalam waktu kurang dari enam jam setelah laporan diterima pada Jumat (12/6/2026).

Kapolsek Denpasar Barat Kompol Ni Wayan Adnyani Prabawati menjelaskan, pengungkapan kasus bermula dari laporan warga yang menemukan seorang bayi perempuan dalam kondisi hidup di dalam sebuah tas yang ditinggalkan di gang tersebut.

“Bayi perempuan itu ditemukan berada di dalam tas berwarna ungu dan selanjutnya dibawa ke klinik untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan,” ujar Kompol Adnyani, Senin (15/6/2026).

Setelah menerima laporan, polisi langsung melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Dari hasil penelusuran, petugas menemukan rekaman seorang perempuan yang datang menggunakan sepeda motor dan diduga kuat terkait dengan pembuangan bayi tersebut.

Keberadaan pelaku berhasil dilacak setelah sejumlah warga mengenali kendaraan yang digunakan. Informasi itu menjadi petunjuk penting hingga akhirnya polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap pelaku.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan CCTV dan keterangan saksi-saksi, kurang dari enam jam pelaku berhasil diamankan dan dibawa ke Polsek Denpasar Barat untuk pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.

Dalam pemeriksaan, NKSD mengakui bayi yang ditemukan warga merupakan anak kandungnya. Ia mengaku melahirkan seorang diri di dalam kamar sekitar pukul 13.00 WITA tanpa bantuan tenaga medis maupun keluarga.

Usai melahirkan, tersangka bahkan disebut memotong sendiri tali pusar bayinya menggunakan gunting. Sekitar dua jam kemudian, bayi yang baru dilahirkan itu dimasukkan ke dalam tas dan dibawa menggunakan sepeda motor sebelum akhirnya ditinggalkan di sebuah gang.

Polisi menilai tindakan tersebut dilakukan secara sengaja sehingga NKSD ditetapkan sebagai tersangka kasus penelantaran anak.

Kepada penyidik, tersangka mengaku nekat membuang bayinya karena merasa malu atas kehamilan yang dialaminya. Selain itu, pria yang menghamilinya disebut tidak bersedia bertanggung jawab setelah mengetahui dirinya hamil.

“Motifnya karena malu, yang mana pacar dari pelaku ini tidak mau bertanggung jawab,” tegas Kompol Adnyani.

Diketahui, NKSD merupakan seorang janda yang menjalin hubungan dengan seorang pria yang dikenalnya di sebuah kafe. Namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah mengetahui kehamilan NKSD, pria tersebut disebut memutus komunikasi dan tidak lagi dapat dihubungi.

Saat ini polisi masih melakukan pendalaman untuk menelusuri identitas serta kemungkinan keterlibatan pria tersebut dalam perkara yang sedang ditangani.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun.

Sementara itu, bayi perempuan yang sempat ditelantarkan tersebut berhasil diselamatkan dan kini berada dalam pengawasan tenaga medis. Kondisinya dilaporkan stabil dan terus mendapatkan perawatan serta perlindungan dari pihak berwenang. RAN

Selamatkan Anjing di Tebing Pantai Pandawa, Pria ini Berujung Terjebak dan Dievakuasi

Tim SAR gabungan mengevakuasi Roger (55) yang terjebak di tebing Pantai Pandawa.
Tim SAR gabungan mengevakuasi Roger (55) yang terjebak di tebing Pantai Pandawa.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Aksi penyelamatan seekor anjing di kawasan tebing Pantai Pandawa, Kuta Selatan, Badung, berujung operasi evakuasi dramatis pada Sabtu (13/6/2026) malam. Seorang pria bernama Roger (55) terjebak di area tebing setelah berusaha menolong hewan tersebut bersama sejumlah rekannya.

Informasi mengenai kejadian itu diterima petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar sekitar pukul 18.40 Wita. Laporan disampaikan oleh seorang warga bernama Ratih yang menyebutkan insiden terjadi sekitar pukul 17.00 Wita.

Menurut keterangan yang diterima tim SAR, Roger bersama tiga rekannya turun ke area tebing untuk menyelamatkan seekor anjing. Namun setelah berhasil mencapai lokasi, Roger mengalami kesulitan untuk kembali naik ke atas sehingga membutuhkan bantuan evakuasi.

Merespons laporan tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar segera mengerahkan tujuh personel tim rescue menuju lokasi kejadian.

Setibanya di Pantai Pandawa sekitar pukul 19.30 Wita, tim langsung melakukan asesmen medan yang cukup menantang. Setelah menyusun strategi penyelamatan, satu personel SAR diturunkan menggunakan teknik khusus untuk menjangkau posisi korban yang berada di area tebing.

Proses evakuasi berlangsung cukup menegangkan mengingat kondisi lokasi yang gelap dan minim pencahayaan. Meski demikian, tim SAR gabungan berhasil menjangkau korban dan melakukan proses pengangkatan menggunakan teknik lifting.

Roger akhirnya berhasil dievakuasi ke atas tebing pada pukul 21.05 Wita dalam kondisi selamat.

“Situasi di lokasi cukup menantang karena kondisi malam hari dan minim penerangan. Namun berkat koordinasi dan kehati-hatian seluruh unsur yang terlibat, korban berhasil dievakuasi dengan selamat,” demikian keterangan tim SAR.

Operasi penyelamatan tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya tujuh personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, satu personel Balawista Pantai Pandawa, enam personel pengelola Pantai Pandawa, rekan korban, serta masyarakat setempat.

Peristiwa ini menjadi pengingat agar masyarakat selalu mengutamakan keselamatan saat melakukan aktivitas di kawasan tebing maupun lokasi dengan medan berbahaya, terlebih saat menjelang malam hari. RAN

Viral Video Perundungan Siswa SMP di Jimbaran Berakhir Damai, Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi

Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi Dugaan Perundungan Siswa SMP di Jimbaran.
Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi Dugaan Perundungan Siswa SMP di Jimbaran.

BADUNG, PANTAUBALI.COM  – Kasus dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, menjadi perhatian publik setelah video kejadian tersebut viral di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, seorang siswa berinisial IGDA (13) tampak menjadi korban tindakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa teman sebayanya. Peristiwa itu disebut terjadi pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 11.00 Wita dan videonya mulai ramai diperbincangkan masyarakat pada Kamis (11/6/2026).

Video tersebut memperlihatkan korban yang masih mengenakan seragam sekolah mengalami tendangan dan pukulan secara bergantian. Korban bahkan sempat didorong hingga terjatuh. Sejumlah siswa lainnya terlihat menyaksikan kejadian itu, sementara beberapa di antaranya merekam dan meneriakkan kata-kata yang dianggap memprovokasi.

Menyikapi viralnya peristiwa tersebut, Polsek Kuta Selatan bersama tokoh masyarakat, Bendesa Adat Jimbaran, pihak kelurahan, serta keluarga para siswa yang terlibat menggelar mediasi untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menjelaskan mediasi dilaksanakan pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 18.00 Wita di kediaman Bendesa Adat Jimbaran, Jalan Bukit Permai Nomor 1, Jimbaran.

Pertemuan tersebut dihadiri Kanit Intelkam Polsek Kuta Selatan AKP I Wayan Dirga Adnyana, Kanit Reskrim Polsek Kuta Selatan IPTU I Wayan Widiarta, anggota DPRD Badung sekaligus tokoh masyarakat Dr. I Made Sudira, Bendesa Adat Jimbaran I Putu Subamia, Lurah Jimbaran I Wayan Kardiasa, Kapospol Jimbaran, Bhabinkamtibmas, serta keluarga korban dan para siswa yang diduga terlibat.

“Dalam mediasi tersebut, pihak kepolisian mendorong penyelesaian secara kekeluargaan dengan syarat korban dan keluarganya bersedia memberikan maaf kepada para pelaku,” ujar Iptu Adi.

Sebagai bagian dari kesepakatan, para siswa yang terlibat diwajibkan membuat surat pernyataan berisi permohonan maaf serta komitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Kanit Intelkam Polsek Kuta Selatan AKP I Wayan Dirga Adnyana menegaskan seluruh pihak yang hadir sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara damai demi menjaga keharmonisan lingkungan sosial di Jimbaran.

Sementara itu, orang tua korban berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tindakan perundungan tidak boleh dianggap sebagai candaan karena dapat menimbulkan dampak psikologis bagi korban.

“Karena kita satu desa dan satu banjar, saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Jangan menganggap hal seperti ini sebagai bercandaan. Setelah ini saya harap kalian bisa kembali berteman dengan baik,” ujarnya dalam forum mediasi.

Perwakilan orang tua para siswa yang terlibat juga menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya. Mereka berjanji akan melakukan pembinaan serta pengawasan lebih intensif terhadap anak-anak mereka agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Dari hasil mediasi tersebut, seluruh pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai. Kesepakatan dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani bersama. Orang tua korban menerima permohonan maaf yang disampaikan dan menganggap permasalahan telah selesai, dengan harapan lingkungan sekolah dan masyarakat terbebas dari praktik perundungan di masa mendatang. RAN

26 Siswa Kelas 1-3 Badung Bersaing Jadi Terbaik Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026

26 Siswa Kelas 1-3 Badung Bersaing Jadi Terbaik Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Tercatat 26 siswa-siswi SD dari Kabupaten Badung bersaing untuk menjadi yang terbaik Wimbakara (Lomba) Mewarnai Sekolah Dasar (SD) kelas I hingga III pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Lomba yang diikuti 132 orang siswa SD se-Bali tersebut berlangsung pada hari kedua pelaksanaan PKB di Gedung Museum Mahudara Mandara Giri Bhuwana, Kawasan Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, pada Minggu (14/6/2026).

Ketua Dewan Juri Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026 Dewa Putu Gede Budiarta bahwa menyampaikan lomba mewarnai merupakan agenda rutin PKB yang diselenggarakan setiap tahun. Dia menyatakan pelaksanaan lomba tahun ini melibatkan siswa SD kelas I hingga III agar kesempatan mengikuti lomba dapat lebih merata. “Lomba mewarnai ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian PKB. Tahun ini pesertanya siswa SD kelas I sampai III agar kesempatan berpartisipasi bisa lebih bergilir,” ujarnya.
Dia menyebutkan tema lomba mengacu pada tema besar PKB XLVIII Tahun 2026, yakni “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”. “Panitia telah menyiapkan gambar dasar yang kemudian harus diselesaikan peserta dengan pewarnaan dan kreativitas masing-masing. Penilaian lomba meliputi tiga aspek utama, yakni kesesuaian dengan tema, kreativitas, dan keharmonisan warna dengan penekanan pada kreativitas,” katanya.

Menurut Dewa Budiarta, kreativitas menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian. “Ya, bagaimana peserta mengolah warna, menambahkan elemen pendukung, serta menampilkan hasil yang menarik dan harmonis. Selain itu kebersihan dan kerapian karya juga menjadi perhatian,” katanya.

Peserta diberikan waktu tiga jam untuk menuntaskan kreativitasnya. Seluruh karya dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari tiga orang seraya menambahkan, karya peserta dinilai oleh tiga juri dari ISI Denpasar yakni Dewa Budiarta sendiri selaku Ketua, Ni Made Purnami Utami dan I Made Ruta. Panitia menetapkan enam peserta terbaik yang terdiri dari juara I, II, III, serta juara harapan I, II, dan III. “Kami mencari enam karya terbaik. Selain menjadi ajang mengembangkan kreativitas anak-anak, penghargaan yang diperoleh juga dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkarya dan berprestasi,” katanya.

Sesungguhnya, kata dia, panitia menargetkan 200 peserta dalam lomba tersebut dengan mengundang masing-masing kabupaten dan Kota Denpasar 10 orang dan peserta umum yang mendaftar lewat link. Hingga masa pendaftaran ditutup, tercatat 180 lebih peserta mendaftar dari seluruh kabupaten/kota di Bali.
Sementara satu di antara orangtua peserta yang berasal dari Desa Buduk, Kabupaten Badung, Komang Tri Jayanthi, mengaku sangat bersyukur putrinya mendapat kesempatan mengikuti lomba tersebut. Siswa SD Imanuel, Dalung, itu tampil penuh percaya diri. “Harapan kami kegiatan seperti ini terus dilaksanakan untuk mengembangkan bakat dan minat anak-anak, khususnya di bidang seni,” ujarnya.

Dalam hal penilaian hasil karya anaknya, dia menyatakan percaya kepada dewan juri yang telah dipilih panitia, karena memiliki kompetensi dan profesionalisme di bidangnya. “Saya yakin juri yang dipilih sudah profesional dan kompeten. Apapun hasilnya nanti, tentu itu merupakan hasil terbaik sesuai penilaian yang telah dilakukan,” katanya. (rls/kmf)

Hadirkan Kekayaan Tradisi dan Spirit Agraris, Tabanan Semarakkan Peed Aya PKB XLVIII Tahun 2026

Hadirkan Kekayaan Tradisi dan Spirit Agraris, Tabanan Semarakkan Peed Aya PKB XLVIII Tahun 2026

TABANAN, PANTAUBALI.COM — Kontingen Kabupaten Tabanan sukses mencuri perhatian dalam Pembukaan dan Pelepasan Peed Aya (Pawai) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (13/6/2026). Penampilan yang sarat nilai seni dan budaya tersebut mendapat apresiasi dari para tamu undangan serta penonton yang hadir.

Peed Aya secara resmi dilepas oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster, didampingi Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, dan Ketua DPRD Provinsi Bali. Hadir dalam kesempatan tersebut anggota DPR RI, Anggota DPD RI, Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, jajaran Forkopimda Provinsi Bali, para Bupati dan Walikota se-Bali, serta undangan terkait lainnya.

Turut hadir mendampingi Kontingen Kabupaten Tabanan, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., bersama Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, serta Ny. Budiasih Dirga dan Perangkat Daerah terkait. Penampilan Kabupaten Tabanan tahun ini merepresentasikan kekayaan budaya yang lahir dari kehidupan masyarakat agraris, dipadukan dengan nilai-nilai adat, tradisi, dan spiritualitas yang menjadi kekuatan serta jati diri masyarakat Tabanan.

Di barisan terdepan, Kontingen Kabupaten Tabanan menampilkan pasangan Jegeg Bagus Tabanan yang anggun mengenakan Payas Agung khas Tabanan sebagai representasi masyarakat Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani. Kehadiran empat anak yang mengiringi menjadi simbol dukungan terhadap keberlangsungan generasi Bali melalui program Keluarga Berencana Krama Bali, sekaligus pelestarian tradisi penamaan Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut sebagai bagian dari identitas budaya Bali. Penampilan tersebut semakin semarak dengan hadirnya Uparengga yang merepresentasikan keindahan seni dan nilai spiritual masyarakat Bali, serta Tari Jayaning Singasana AUM yang mencerminkan semangat pembangunan dan kemajuan Kabupaten Tabanan.

Kekayaan budaya Tabanan selanjutnya ditampilkan melalui Okokan, kesenian tradisional yang telah lama hidup dalam masyarakat agraris Tabanan dan sarat makna pelestarian tradisi. Kontingen juga menghadirkan Barong Bangkung, Barong Macan, dan Barong Lembu dalam konsep Tri Murti yang ditampilkan melalui ritual Mapetuk Agung dengan iringan Tabuh Bebolangan khas Paiketan Seniman Jayaning Singasana. Sebagai puncak penampilan, disuguhkan kesenian tematik Kunti Seraya yang mengangkat nilai-nilai penyucian diri, kemenangan dharma, serta keharmonisan kehidupan yang menjadi bagian dari filosofi dan kearifan budaya Bali.

Penampilan ini menjadi bukti nyata sinergi pemerintah daerah bersama para seniman dan budayawan dalam memberikan ruang kreativitas, sekaligus mendukung pelestarian seni budaya sebagai bagian dari implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani.

Bupati Sanjaya menyebut PKB sebagai momentum penting bagi para seniman untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada masyarakat luas. Pihaknya mengapresiasi seluruh seniman dan pelaku budaya yang telah berkontribusi menampilkan karya terbaik dalam ajang tersebut.

“Ini sebuah ajang yang sangat luar biasa dimana ini adalah gengsinya seni budaya bali, tabanan sangat mendukung program ini, mudah-mudahan ini terus berlanjut dan tambah berkualitas. Kami bangga melihat para seniman Tabanan, terbukti tampil dengan sangat baik dan menunjukkan kualitas yang luar biasa. Semoga kedepan semakin banyak seniman muda yang terlibat dan terus mengembangkan kreativitasnya sehingga seni budaya Tabanan tetap lestari dan semakin dikenal luas,” pungkas Sanjaya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh kontingen yang telah menampilkan karya terbaiknya. Pihaknya berharap keterlibatan generasi muda dalam kegiatan budaya seperti PKB terus ditingkatkan sehingga nilai-nilai luhur budaya Bali tetap lestari dan menjadi kebanggaan bersama.

“Saya sangat bangga melihat semangat para seniman dan generasi muda Tabanan yang terus menjaga taksu budaya daerah. Semoga semangat berkarya dan melestarikan budaya terus tumbuh sehingga warisan leluhur yang kita miliki dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” imbuh Bunda Rai. (rls/tbn)

Pemkab Badung Cek Harga dan Ketersediaan Pangan Jelang Galungan

Pemkab Badung Cek Harga dan Ketersediaan Pangan Jelang Galungan

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Pemerintah Kabupaten Badung menjamin stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok aman menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Meski terjadi lonjakan harga wajar pada komoditas bunga akibat tingginya animo masyarakat, Pemkab Badung memastikan stok pangan lain seperti beras dan daging babi dalam kondisi surplus dan terkendali.

​Pantauan di sejumlah pasar terjadi lonjakan harga jual sejumlah barang kebutuhan dan perlengkapan upacara seperti beras, daging, hingga bunga di sejumlah pasar di Badung. Namun kondisi itu dinilai masih dalam batas wajar karena tingginya animo masyarakat.

Pengecekan dilakukan salah satunya di Pasar Bunga Desa Baha, Kecamatan Mengwi dengan karakteristik khusus sebagai pusat grosir khusus bunga dinilai tetap mampu memberikan selisih harga yang lebih murah bagi konsumen dibanding harga jual di pasar umum.

​”Pasar Baha ini agak spesifik, yang khusus menjual bunga dan sudah kelasnya ini adalah grosir. Kalau dilihat jenis komoditas bunga yang dijual itu ada lima; bunga pacar, bunga gumitir, bunga kembang seribu, eh dan juga ada bunga-bunga lainnya, sekitar lima lah rata-rata per hari,” jelas Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Badung, I Made Agus Aryawan saat memantau pasar, Kamis siang.

​Agus menyebutkan perbedaan harga untuk komoditas bunga pacar dan bunga gumitir di Pasar Baha berkisar antara Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu, yang lebih murah daripada pasar umum. Pihaknya mencatat rata-rata kenaikan harga menjelang hari raya ini berkisar antara Rp 5 ribu hingga maksimal Rp 10 ribu per kg.

​”Kebutuhan masyarakat akan bunga tentu meningkat menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Jadi memang betul ada kenaikan harga rata-rata ya, kalau kami rata-rata sekitar Rp 5 ribu sampai dengan maksimal Rp 10 ribu ya,” ungkap I Made Agus Aryawan.

​Masyarakat diimbau tidak panik karena pasokan bunga dipastikan aman dan segar. Kelancaran distribusi ini didukung oleh pasokan yang datang dari para petani di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Badung.

​Pemkab Badung memastikan ketersediaan bahan pangan pokok seperti beras dalam kondisi aman. Berdasarkan pemantauan di lapangan, cadangan beras saat ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 5 sampai 6 bulan ke depan.

​”Ya kalau bahan pokok untuk beras, sebagaimana tadi kami cek di Bulog Sempidi, stoknya aman 5 sampai 6 bulan ke depan. Jadi setiap hari paling tidak ada 2.500 ton itu tersedia ya, stok beras idle,” terang I Made Agus Aryawan.

​Ketersediaan beras di Badung juga didukung oleh panen raya yang sedang berlangsung di beberapa wilayah subak. Salah satunya di Subak Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal yakni hasil panen mencatatkan puluhan ton gabah, sementara di Subak Lepud luas panennya mencapai dua kali lipat.

​”Di Subak Blahkiuh itu ada sekitar 70 ton lebih gabah hasil panen dengan luas panen sekitar 130-an hektar. Lalu luas lahan panen di Subak Lepud mencapai lebih dari 250 hektar dengan tingkat produktivitas yang cukup bagus. Rata-rata produktivitas lahan di kedua subak tersebut berada di angka 6,3 ton hingga 7,5 ton gabah kering per hektar,” urai I Made Agus Aryawan.

Sementara itu, Pemkab Badung juga mengecek harga babi hidup di tingkat peternak yang saat ini masih bertahan di angka Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk daging babi yang sudah bersih di pasar tradisional dijual dengan harga di bawah Rp 100 ribu per kilogram.

​”Salah satu peternak di Ayunan kami cek, terlihat ada stabilitas harga yang cukuplah ya, tidak terlalu signifikan kenaikannya. Kalau harga tabelnya itu sekitar Rp 38 ribu sampai Rp 40 ribu lah ya, masih belum bersih atau dipotong. Sedangkan yang sudah bersih, itu daging ya, sekitar Rp 90 ribu sampai Rp 95 ribu, itu di pasar umum,” kata Agus.

​Menurutnya stok daging untuk pasar tradisional dipastikan masih bisa dipenuhi secara normal dari peternak. Namun, untuk pemenuhan konsumsi dalam jumlah besar, pemesanan disarankan dilakukan lebih awal untuk menjamin ketersediaan stok daging. (rls/kmf)

Berawal dari Bermain Bola, Dua Bocah Hilang Digulung Ombak Kuta

Ilustrasi tenggelam.
Ilustrasi tenggelam.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua bocah yang dilaporkan hilang setelah terseret arus saat bermain di kawasan Pantai Kuta, tepatnya di depan Smelter Patung Baruna, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Minggu (7/6/2026) sore.

Kedua korban diketahui berinisial AA (13) dan NAS (8). Hingga Senin (8/6/2026), keduanya belum ditemukan meski upaya pencarian telah dilakukan oleh petugas Balawista, Polairud, dan Basarnas Bali.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula saat kedua korban bersama seorang rekannya berinisial MH (13) datang ke Pantai Kuta untuk bermain bola sekitar pukul 16.30 Wita.

“Ketiganya kemudian bermain di pinggir pantai sambil bermain air laut dengan ketinggian sebatas lutut,” ujar Kasi Humas.

Saat sedang bermain, bola yang mereka gunakan terlempar ke arah bibir pantai. MH kemudian berusaha mengambil bola tersebut dan mengajak kedua temannya untuk menepi. Namun, AA memilih tetap berada di dalam air dan meminta NAS untuk menemaninya.

Sekitar pukul 17.30 Wita, gelombang besar datang secara tiba-tiba dan menghantam keduanya. MH yang menyaksikan kejadian itu melihat kedua korban terseret arus laut sambil berpegangan tangan.

“Saksi MH yang menyaksikan kejadian itu melihat keduanya terseret arus sambil saling berpegangan tangan,” jelasnya.

Karena kondisi ombak yang semakin besar dan membahayakan, MH tidak dapat memberikan pertolongan. Ia kemudian bergegas meminta bantuan warga sekitar sebelum melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Balawista dan Polairud yang berjaga di kawasan Pantai Kuta.

Menerima laporan itu, petugas Balawista yang dipimpin I Wayan Kresna Widarma langsung melakukan pencarian menggunakan rescue board di sekitar lokasi kejadian. Namun setelah sekitar 30 menit penyisiran dilakukan, kedua korban belum berhasil ditemukan.

Pencarian akhirnya dihentikan sementara karena kondisi mulai gelap dan air laut pasang. Selanjutnya, Balawista berkoordinasi dengan Pos Polairud Kuta serta Basarnas Bali untuk melanjutkan operasi pencarian pada hari berikutnya.

“Korban hingga saat ini masih belum ditemukan. Pencarian dihentikan sementara karena kondisi laut sudah pasang dan akan dilanjutkan kembali melalui SAR Laut serta SAR Terbatas pada pagi hari,” ujar Iptu Adi Saputra Jaya.

Selain fokus melakukan pencarian, petugas juga akan meminta keterangan dari saksi maupun keluarga korban guna mendukung proses penyelidikan. Tim SAR gabungan dijadwalkan terus melakukan penyisiran di perairan Pantai Kuta hingga kedua korban ditemukan. RAN

Dua Bocah Hilang Terseret Ombak di Pantai Kuta, Tim SAR Perluas Area Pencarian

Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di Pantai Kuta untuk mencari dua bocah yang hilang setelah terseret arus saat bermain di bibir pantai, Minggu (8/6). Foto: Istimewa.
Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di Pantai Kuta untuk mencari dua bocah yang hilang setelah terseret arus saat bermain di bibir pantai, Minggu (8/6). Foto: Istimewa.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian terhadap dua bocah yang dilaporkan hilang setelah terseret arus di kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Badung. Hingga Senin pagi, kedua korban belum ditemukan dan operasi pencarian diperluas dengan melibatkan unsur laut maupun darat.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu (7/6) sekitar pukul 18.05 Wita. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua korban saat itu sedang bermain bola di bibir pantai. Beberapa kali bola yang dimainkan terlempar ke laut. Saat berusaha mengambil bola tersebut, keduanya diduga terseret ombak dan kemudian menghilang.

Petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima laporan kejadian pada pukul 18.50 Wita dari seorang pelapor bernama Asad. Korban diketahui bernama Airlangga Andrianto (13) dan Noval Aditya Saputra (8), yang sama-sama berdomisili di Jalan Mataram, Kuta.

Mendapat laporan tersebut, enam personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian. Namun upaya pencarian pada malam hari terkendala kondisi gelap dan terbatasnya jarak pandang.

Tim SAR saat itu melakukan penyisiran di sepanjang garis pantai hingga pukul 22.00 Wita. Meski telah dilakukan pencarian intensif, kedua korban belum berhasil ditemukan.

Memasuki hari kedua operasi SAR, tim gabungan kembali mengerahkan personel dan peralatan untuk memperluas area pencarian. Satu unit rubber boat diturunkan untuk melakukan penyisiran di laut, sementara Balawista Kuta mengerahkan satu unit jetski guna membantu pencarian di sekitar lokasi korban terakhir terlihat.

Di darat, tim melakukan penyisiran ke arah selatan sejauh kurang lebih satu kilometer dari titik kejadian. Sementara SRU laut merencanakan pencarian di area sekitar lokasi dengan cakupan mencapai tiga mil laut persegi.

Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, di antaranya Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Polsek Kuta, Polairud Polresta Denpasar, Babinpotmar, Balawista Kuta, Banser, BRC, keluarga korban, serta masyarakat setempat yang turut membantu proses pencarian.

Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian terhadap kedua korban.