- Advertisement -
Beranda blog Halaman 153

Pria Ditemukan Meninggal di Bawah Kantin Taman Lumintang, Ini Kata Polisi

Petugas mengevakuasi jasad pria yang ditemukan tak bernyawa di area kantin bawah Taman Kota Lumintang, Denpasar.
Petugas mengevakuasi jasad pria yang ditemukan tak bernyawa di area kantin bawah Taman Kota Lumintang, Denpasar.

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Seorang pria ditemukan meninggal dunia di area kantin bawah Taman Kota Lumintang, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Minggu (20/7/2025) pagi sekitar pukul 07.30 Wita. Korban diketahui bernama Lulus As Mujianto (44), seorang karyawan swasta asal Banyuwangi yang tinggal di Batubulan, Gianyar.

Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi membenarkan peristiwa tersebut. “Dari hasil pemeriksaan awal Tim Identifikasi, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” ungkapnya, Minggu siang.

Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh Made Widiada (46), seorang pedagang yang hendak membuka warung di sekitar lokasi. Saat itu, ia melihat korban tergeletak terlentang namun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sekitar 20 menit menunggu, korban tak juga bergerak.

Made lalu memanggil temannya, Komang Mandira, untuk memeriksa kondisi korban. Setelah dicek, keduanya menduga korban sudah tidak bernyawa dan segera melapor ke Polsek Denpasar Utara.

Menurut keterangan saksi, korban memang kerap terlihat berada di sekitar kawasan taman. Bahkan sepekan sebelumnya, Komang sempat berbincang dengan korban yang mengaku sedang mengalami batuk.

Saat ditemukan, korban mengenakan jaket hitam dan celana panjang krem, serta bagian kakinya ditutupi kain batik. Di lokasi, polisi juga menemukan sejumlah barang pribadi milik korban, di antaranya satu unit ponsel Realme warna merah, dompet berisi uang tunai Rp380 ribu, KTP, balsem, serta vitamin yang telah dikonsumsi sebagian.

Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUP Sanglah oleh tim BPBD Kota Denpasar untuk pemeriksaan lebih lanjut. RA

Warga Selamatkan Gadis yang Hendak Terjun di Jembatan Tukad Bangkung

Warga menyelamatkan remaja perempuan yang nyaris melompat dari Jembatan Tukad Bangkung, Petang, Badung.
Warga menyelamatkan remaja perempuan yang nyaris melompat dari Jembatan Tukad Bangkung, Petang, Badung.

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Suasana siang di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, mendadak tegang pada Sabtu (19/7) siang. Seorang remaja perempuan berinisial NKDP (16), asal Desa Dausa, Kintamani, nyaris saja mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan tertinggi di Bali itu.

Beruntung, dua warga yang kebetulan melintas melihat gerak-gerik mencurigakan korban. Ia berdiri di tepi jembatan, menangis keras dan berteriak ingin melompat.

Tanpa pikir panjang, Gek Diah (40), warga Sempidi, Mengwi, dan I Putu Ogik Pratama (23), warga Petang Dalem, langsung menghentikan motor mereka dan berlari ke arah korban. Saat itu, keduanya baru saja pulang dari kegiatan tanam tuuh di SD 4 Belok Sidan.

“Korban sudah histeris. Terus menangis dan teriak ingin lompat,” kata Kapolsek Petang, AKP I Nyoman Arnaya. “Untung cepat dipeluk dan ditenangkan warga yang melihat.”

Setelah berhasil diamankan, NKDP dibawa ke rumah warga untuk menenangkan diri. Sekitar satu jam kemudian, ayah korban, I Gede Ratna Putra (49), datang menjemput setelah mendapat informasi dari Bhabinkamtibmas Desa Belok/Sidan.

Dari keterangan sang ayah, diketahui NKDP sudah meninggalkan rumah sejak Kamis (17/7) dan sempat tinggal di rumah temannya di Buleleng. Ia juga menyebutkan bahwa anaknya memiliki riwayat epilepsi.

Pihak Polsek Petang bersama Tim Unit Kecil Lengkap (UKL) langsung turun ke lokasi, meminta keterangan para saksi, dan mengamankan situasi. Namun hingga saat ini, kondisi psikologis NKDP masih labil dan belum memungkinkan untuk dimintai keterangan lebih jauh.

Kapolsek Arnaya pun mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi mental anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. “Jika melihat tanda-tanda yang mengarah pada upaya bunuh diri atau gangguan psikologis, segera laporkan. Lebih baik mencegah sebelum terlambat,” tegasnya. RA

Kunjungan Wisatawan DTW Ulun Danu Beratan Lesu Saat Festival Gebogan

Parade Gebogan di DTW Ulun Danu Beratan, Baturiti, Tabanan.
Parade Gebogan di DTW Ulun Danu Beratan, Baturiti, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Festival Gebogan yang digelar selama sebulan penuh di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Kecamatan Baturiti, Tabanan, belum mampu mendongkrak secara signifikan jumlah kunjungan wisatawan.

Padahal, festival yang berlangsung sejak 10 Juli hingga 9 Agustus 2025 ini menyuguhkan parade gebogan sebagai acara utama, disertai berbagai pertunjukan seni budaya khas Bali seperti Gong Baleganjur, Tari Barong, dan Tari Kecak yang mengangkat kisah rakyat “Legenda Ulun Danu Beratan”.

Pihak pengelola berharap rangkaian acara ini dapat menarik minat wisatawan, khususnya domestik yang sedang menikmati libur panjang sekolah. Namun hingga pertengahan pelaksanaan, peningkatan kunjungan belum terlihat signifikan akibat sejumlah kendala eksternal.

Hal itu diungkapkan oleh Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Saputra. Ia menyebut, jumlah kunjungan wisatawan selama festival tercatat mencapai 1.600 orang per hari, didominasi oleh wisatawan mancanegara. Angka ini sebenarnya tak jauh berbeda dibanding hari biasa sebelum festival digelar, yang berkisar antara 1.000 hingga 2.000 kunjungan per hari.

“Di awal festival sempat mencapai 2.000 orang, tapi secara umum tidak terjadi lonjakan signifikan,” ujarnya, Sabtu (19/7/2025).

Agus menjelaskan, kunjungan wisatawan mancanegara terpantau cukup stabil, berada di kisaran 1.100 orang per hari. Namun, jumlah kunjungan dari wisatawan domestik, terutama rombongan, mengalami penurunan.

Salah satu penyebabnya adalah terganggunya akses transportasi akibat kerusakan jalur utama Denpasar–Gilimanuk di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, yang jebol pada Senin (7/7/2025) lalu. Kondisi ini menyebabkan pengalihan arus lalu lintas dan berdampak pada kenyamanan perjalanan wisatawan.

Selain itu, banyak rombongan wisata dari pulau Jawa yang membatalkan kunjungan karena persoalan penyebrangan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk sehingga mereka lebih memilih mengunjugi tempat wisata lain di pulau Jawa.

Bahkan, beberapa wisatawan yang sudah melakukan pemesanan sebelumnya, terpaksa menjadwal ulang atau mengganti tujuan wisata.

“Namun kami tetap berharap dan optimis kunjungan bisa meningkat, terlebih jalur Denpasar-Gilimanuk sudah normal kembali,” harap Agus Teja. (ana)

Parkir DTW Jatiluwih Masih Jadi PR, Bupati Tabanan Sebut 2026 Akan Terealisasi

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Ketersediaan lahan parkir di Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, hingga kini masih menjadi kendala bagi para pengunjung.

Saat terjadi lonjakan wisatawan, kendaraan kerap diparkir di pinggir jalan, yang akhirnya memicu kemacetan di kawasan wisata yang terkenal dengan panorama sawah berterasering tersebut.

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, saat membuka Festival Jatiluwih pada Sabtu (19/7/2025), tak menampik bahwa persoalan lahan parkir di DTW Jatiluwih masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kabupaten Tabanan.

“PR ini sudah kami pikirkan. Sebelumnya saya sudah berdiskusi dengan Manager DTW Jatiluwih agar mencarikan lahan parkir yang tidak mengganggu eksotik panorama. Parkir ada, alam juga tetap terjaga,” ucap Sanjaya.

Ia menyebutkan, rencananya lahan parkir akan disiapkan di sekitar Pura Luhur Pucak Petali, sekitar 1 kilometer dari lokasi DTW Jatiluwih. Untuk memudahkan akses wisatawan, pengelola akan menyiapkan shuttle sebagai transportasi antar-jemput dari lokasi parkir ke kawasan wisata.

“Untuk target, mudah-mudahan tahun 2026 sudah terealisasi karena saya juga baru dilantik empat bulan,” imbuhnya.

Adapun estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk membangun lahan parkir tersebut diperkirakan mencapai Rp 20 hingga Rp 30 miliar. Mengingat besarnya kebutuhan dana, pihaknya berencana menggandeng Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali untuk mendukung pembiayaan proyek ini.

“Nanti kami berkolaborasi. Mudah-mudahan, kita juga bisa minta bantuan ke pemerintah pusat agar lebih lancar lagi. Saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur meminta bantuan ke pemerintah pusat lewat BKK (Bantuan Keuangan Khusus),” jelasnya. (ana)

Balaganjur Remaja ‘Pangurip Bumi’ Duta Tabanan Raih Juara 2 di PKB 2025

Sekaa Gong Abinaya tampil memukau membawakan garapan “Pangurip Bumi” di ajang Utsawa Balaganjur Remaja PKB XLVII 2025.
Sekaa Gong Abinaya tampil memukau membawakan garapan “Pangurip Bumi” di ajang Utsawa Balaganjur Remaja PKB XLVII 2025.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Setelah berlangsung selama sebulan penuh, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025 resmi ditutup pada Sabtu (19/7/2025).

Ajang seni budaya tahunan kebanggaan masyarakat Bali ini kembali menjadi panggung ekspresi kreatif para seniman dari seluruh kabupaten/kota se-Bali, termasuk dari Kabupaten Tabanan yang berpartisipasi aktif dalam 14 materi kesenian, terdiri dari 8 parade dan 6 lomba atau wimbakara.

Dari partisipasi tersebut, Kabupaten Tabanan berhasil menorehkan dua prestasi membanggakan di bidang lomba (wimbakara).

Lomba Balaganjur Remaja, yang diwakili oleh Sekaa Gong Abinaya dari Desa Batannyuh, Desa Adat Belayu, Kecamatan Marga. Dengan garapan bertajuk “Pangurip Bumi”, mereka berhasil menyabet Juara II, mengungguli sejumlah peserta dari kabupaten/kota lainnya.

Selain itu, Lomba Mewarnai, di mana Putra Tabanan, I Made Karonito, juga berhasil meraih Juara Harapan I.

Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas prestasi yang diraih para duta seni Tabanan.

Bupati Penghargaan Satyalancana Wirakarya Tahun 2023 ini menilai pencapaian tersebut merupakan bukti semangat dan dedikasi luar biasa dari para seniman muda Tabanan dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal.

“Ini merupakan buah dari kerja keras, latihan, dan semangat yang luar biasa,” ujar Sanjaya.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh Duta Kabupaten Tabanan yang telah tampil selama ajang PKB 2025.

Ia mengapresiasi peran semua pihak, mulai dari para seniman, pembina, pelatih, hingga para official yang telah memberikan waktu, tenaga, dan dedikasi penuh demi menyukseskan partisipasi Tabanan dalam PKB XLVII.

“Kita patut bangga karena keikutsertaan Tabanan dalam 14 materi PKB adalah wujud nyata kita bersama dalam menjaga, merawat, dan memajukan seni budaya Bali. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh duta, para seniman, pembina, dan juga seluruh tim yang terlibat. Dedikasi panjenengan semua sangat berarti bagi kemajuan budaya dan seni di Tabanan,” tambahnya.

Dengan berakhirnya PKB XLVII Tahun 2025, Bupati Sanjaya berharap agar semangat berkesenian dan semangat kebudayaan ini terus menyala, tidak hanya sebagai ajang tahunan, namun sebagai gerakan berkelanjutan dalam membumikan seni budaya Bali yang adi luhung di tengah kehidupan masyarakat modern. (ana)

Pesta Kesenian Bali 2025 Ditutup

Acara penutupan PKB 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (19/7/2025) malam. 
Acara penutupan PKB 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (19/7/2025) malam. 

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025 resmi ditutup oleh Gubernur Bali, Wayan Koster pada Sabtu (19/7/2025) malam.

Penutupan ini juga dirangkaikan dengan pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII Tahun 2025 yang ditandai dengan pemutaran Padma Asta Dala di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali.

Gubernur Koster menegaskan komitmen kuat Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga, melestarikan, dan memajukan seni budaya Bali.

Pihaknya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh seniman yang telah menunjukkan dedikasi dan konsistensinya dalam berkarya dan berinovasi, yang terbukti mampu menghidupkan panggung PKB dari tahun ke tahun.

Lebih jauh Gubernur Koster menilai pelaksanaan PKB tahun ini semakin menunjukkan keberagaman seni berbasis kearifan lokal dan sejarah daerah.

Setiap penampilan yang dihadirkan para sekaa (kelompok seni) disamping menghadirkan kesenian berbasis kearifan lokal daerahnya, juga didukung penari maupun penabuh yang selalu melibatkan  generasi muda maupun tua.

Tidak hanya itu, penampilan para seniman selalu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat yang dapat dilihat dari padatnya panggung Arda Chandra setiap kali ada pertunjukkan. Hal ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat Bali terhadap keberlangsungan seni budaya sangat tinggi.

“Budaya Bali kuat,Budaya Bali tidak pernah mati karena generasi muda kita terus tumbuh dan menunjukkan keterlibatan nyata, sehingga kita tidak perlu khawatir. Seni dan budaya di Bali akan terus hidup, berkembang, dan diwariskan,” tegas Gubernur Bali dua periode ini.

Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini juga mengungkapkan Bali memiliki kekuatan besar dari keunikan budayanya yang menjadi penopang utama pariwisata dan perekonomian.

Dengan populasi hanya 4,4 juta jiwa dan wilayah yang kecil, Bali terus konsisten menunjukkan komitmennya sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang secara rutin menyelenggarakan dua event seni bergengsi: PKB sebagai wahana seni tradisi dan FSBJ sebagai wadah seni modern-kontemporer.

Melalui PKB dan FSBJ, Bali memiliki dua panggung besar bagi para pelaku seni: satu untuk seni tradisi, satu untuk seni modern. Keduanya merupakan strategi kebudayaan yang konkret dan konsisten dalam memperkuat identitas Bali di tengah arus globalisasi.

“Tidak ada pilihan lain bagi Bali jika ingin bertahan. Satu-satunya cara adalah komit menjaga dan merawat budaya kita. Lewat PKB dan FSBJ, para seniman kita semakin berkualitas, karya-karyanya semakin unik, dan penontonnya semakin banyak. Inilah yang membuat budaya Bali hidup dan akan terus berlanjut,” jelasnya.

Omset Penjual Laklak di PKB Tembus Ratusan Juta

PKB XLVII Tahun 2025 tidak hanya menjadi ajang kreativitas seni, namun juga memberi dampak positif bagi para pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan masyarakat. Hal ini terungkap dalam tatap muka Gubernur Bali dengan pedagang, pelaku UMKM serta pengunjung PKB.

Gede Yuta, pedagang kuliner asal Buleleng yang menjual laklak Bali, mengaku selama PKB meraih omset hampir Rp 100 juta selama penyelenggaraan PKB selama sebulan.

Hal senada juga diungkap I Wayan Karmen, pelaku UMKM dari Bangli, dengan produk keben wayang, UMKM nya tembus omset Rp 161 juta selama PKB, dengan keuntungan sekitar 30 persen.

Baik Gede Yuta maupun I Wayan Karmen merasa sangat terbantu karena diberikan fasilitas pameran gratis serta mempermudah penjual dan pembeli bertemu secara langsung.

Sementara itu, I Ketut Rasmini (83) pengunjung setia PKB. Ia menyatakan kebahagiaannya bisa hadir setiap hari, menikmati ragam pertunjukan dari pagi hingga malam. Ia menilai PKB tahun ini semakin berkualitas dan menjadi ajang silaturahmi antara seniman, pelaku budaya, dan masyarakat.

Penutupan PKB tahun 2025 juga dirangkai dengan penyerahan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 9 orang seniman atas dedikasi dan kiprahnya dalam pelestarian seni budaya Bali. Selain itu juga diberikan hadiah lomba dan sertifikat lembaga seni kepada 22 orang penerima.

Penutupan PKB ke-47 sekaligus Pembukaan FSBJ ke-7 juga diisi dengan pementasan karya kolaboratif Sanggar Seni Kokar Bali bersama SMKN 3 Sukawati. (rls)

Penerbitan Sertifikat Mutu Barang di BPSMB Bali Kini Lebih Cepat

Kepala Subbagian Tata Usaha BPSMB Bali, I Gusti Ngurah Putra Arya Damar.
Kepala Subbagian Tata Usaha BPSMB Bali, I Gusti Ngurah Putra Arya Damar.

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – UPTD Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Disperindag Provinsi Bali kini memiliki sistem penyelesaian dokumen untuk penerbitan sertifikat mutu barang.

Inovasi ini dilakukan untuk mempercepat proses penerbitan sertifikat mutu barang secara lebih efektif dan efisien kepada masyarakat.

“Dengan sistem ini, proses administratif dalam penerbitan sertifikat mutu menjadi lebih terstruktur, transparan, dan terintegrasi, sehingga durasi penyelesaian dokumen dapat dipangkas secara signifikan tanpa mengurangi kualitas layanan maupun validitas sertifikat yang diterbitkan,” ungkap Kepala Subbagian Tata Usaha BPSMB Bali, I Gusti Ngurah Putra Arya Damar, di Denpasar, Jumat (18/7/2025).

Ia menjelaskan, sistem ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan publik yang lebih responsif dan adaptif, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital.

Selain itu, dengan adanya sistem ini, proses verifikasi dan pencetakan sertifikat dapat dilakukan lebih cepat dan efektif, namun tetap mengedepankan akurasi dan integritas.

“Dengan sistem ini, waktu tunggu penerbitan sertifikat berkurang secara signifikan, sehingga sangat membantu pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan ekspor maupun untuk menguji mutu komoditas yang dimiliki,” jelas Ngurah Putra.

Selain itu, BPSMB Disperindag Provinsi Bali juga menyediakan berbagai layanan pengujian mutu komoditas, antara lain kopi, kakao, vanili, beras, gabah, jagung, rumput laut, mete, cengkeh, pala, fuli, merica putih, merica hitam, kayu manis, jahe, kapulaga, dan lombok bun.

Seluruh layanan dilaksanakan secara profesional, dengan kompetensi teknis dan manajemen yang berkualitas sesuai dengan ISO/IEC 17025:2017.

Hasil pengujian dan kalibrasi yang diberikan bersifat akurat, dapat diandalkan, dan memenuhi standar internasional, dengan memanfaatkan peralatan laboratorium yang terus diperbarui mengikuti standar global. (rls) 

Polda Bali Bersama Indodax Perkuat Literasi Kripto di Pulau Dewata

Kasubdit II Ditintelkam Polda Bali bersama narasumber dari Indodax dan Komunitas Bitcoin House Bali saat membuka forum diskusi literasi aset digital di Denpasar, Jumat (18/7/2025).
Kasubdit II Ditintelkam Polda Bali bersama narasumber dari Indodax dan Komunitas Bitcoin House Bali saat membuka forum diskusi literasi aset digital di Denpasar, Jumat (18/7/2025).

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Upaya meningkatkan kewaspadaan publik terhadap maraknya penipuan berbasis aset kripto terus digencarkan.

Pada Jumat (18/7/2025) pagi, Direktorat Intelkam Polda Bali bekerja sama dengan platform perdagangan aset kripto Indodax dan Komunitas Bitcoin House Bali menggelar forum diskusi bertema “Literasi dan Perlindungan Investor Aset Digital” di Duta Orchid Garden, Denpasar.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kasubdit II Ditintelkam Polda Bali yang mewakili Direktur Intelkam, Vice President Indodax Anthony Kusuma, Branch Manager Indodax Bali Faza Dwi Prasta, alumni program edukasi kripto Angga Pramuditya, serta edukator dari Komunitas Bitcoin House Bali, Depol. Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa, investor pemula, hingga pelaku UMKM digital.

“Perkembangan aset kripto membuka pintu ekonomi baru, tetapi bersamaan dengan itu potensi kejahatan digital ikut meningkat. Literasi keuangan digital mutlak diperlukan agar masyarakat tidak terjebak skema penipuan,” tegas Kasubdit II Ditintelkam dalam sambutannya.

Ia menambahkan, Bali sebagai tujuan wisata dan investasi—rentan dijadikan target aktivitas ilegal berbasis kripto. “Karena itu perlu kolaborasi erat antara aparat, pelaku industri, dan komunitas,” ujarnya.

Di sesi pemaparan, edukator Bitcoin House Bali menekankan fungsi Bitcoin sebagai aset digital terdesentralisasi yang memungkinkan transaksi peer‑to‑peer tanpa perantara. “Sejarah menunjukkan nilai uang fiat tergerus inflasi; Bitcoin hadir menawarkan sistem yang lebih transparan,” papar Depol.

Perwakilan Indodax, Anthony Kusuma, menjelaskan perusahaan bursa aset kripto tersebut telah terdaftar di OJK dan Crypto Futures Exchange (CFX).

“Pengguna dapat menukar aset kripto ke Rupiah dengan aman di platform kami. Transparansi dan kepatuhan regulasi adalah kunci melindungi investor,” katanya.

Diskusi dua arah berlangsung dinamis. Peserta menyoroti perlunya: Penguatan pengawasan terhadap investasi kripto ilegal yang tak terdaftar. Program literasi berkelanjutan bagi mahasiswa, UMKM, dan masyarakat umum. Serta saluran pengaduan cepat jika terjadi dugaan penipuan aset digital.

Di akhir acara, Kasubdit II menyerahkan cinderamata kepada perwakilan Indodax dan Bitcoin House Bali sebagai simbol komitmen sinergi. Kegiatan ditutup pukul 12.00 Wita dalam suasana kondusif. (ana)

Koster Tegaskan Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi Tetap Dilanjutkan

Gubernur Bali, Wayan Koster saat membuka kembali Jalur Nasional Denpasar–Gilimanuk yang sebelumnya jebol di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, pada Sabtu (19/7/2025) pagi.
Gubernur Bali, Wayan Koster saat membuka kembali Jalur Nasional Denpasar–Gilimanuk yang sebelumnya jebol di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, pada Sabtu (19/7/2025) pagi.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan rencana pembangunan jalan Tol Gilimanuk-Mengwi tetap dilanjutkan.

Menurutnya, proyek strategis nasional ini bersifat urgen karena akan menghubungkan jalur Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana dengan Kota Denpasar.

Pernyataan itu disampaikan Koster saat membuka kembali Jalur Nasional Denpasar–Gilimanuk yang sebelumnya jebol di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, pada Sabtu (19/7/2025) pagi.

“Tol Gilimanuk-Mengwi tetap berlanjut. Minggu depan saya akan rapat lagi dengan Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU untuk membahas tahapan yang akan dilakukan terhadap pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi ini,” ujar Gubernur dua periode tersebut.

Koster menjelaskan bahwa jalur Denpasar–Gilimanuk tidak hanya dilalui kendaraan penumpang, tetapi juga merupakan tulang punggung distribusi logistik antara Bali dan Pulau Jawa. Karena itu, gangguan pada jalur ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian Bali.

“Jalur ini tidak saja mengangkut penumpang biasa, tapi juga logistik dari Jawa ke Bali maupun sebaliknya. Itu sangat menentukan kehidupan perekonomian. Jadi kalau terganggu, perekonomian kami ikut terdampak,” jelasnya.

Sebagai informasi, proyek Tol Gilimanuk–Mengwi merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digarap dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Proyek ini dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.

Tol dengan panjang 96,84 kilometer itu diharapkan mampu mempercepat distribusi logistik sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat dan wisatawan antardaerah di Bali.

Meski begitu, pemerintah pusat terus melakukan evaluasi terhadap kelanjutan proyek tersebut, padahal tahapan persiapan, termasuk pengadaan lahan, telah dimulai sejak tahun 2022. (ana)

Jatiluwih Festival Ke-6 Tampilkan Tradisi Metekap, Tarian Maskot hingga Kuliner Lokal

Tradisi Metekap dan parade gebogan di Festival Jatiluwih, Tabanan, Sabtu (19/7/2025).
Tradisi Metekap dan parade gebogan di Festival Jatiluwih, Tabanan, Sabtu (19/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Jatiluwih Festival kembali digelar pada tahun 2025 di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Festival tahunan ini berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu (19/7/2025) dan Minggu (20/7/2025), dengan mengusung tema Grow With Nature.

Festival ini diramaikan oleh berbagai kegiatan menarik, seperti partisipasi UMKM Tridatu Desa Jatiluwih, workshop membuat teh beras merah, kopi nyahnyah, dan laklak beras merah. Selain itu, digelar pula lomba memasak tum bungkil gedebong, atraksi metekap dan menangkap belut, serta atraksi budaya tebak lesung.

Sebuah patung Dewi Sri dari bambu turut ditampilkan, bersamaan dengan pementasan perdana tarian maskot Desa Jatiluwih. Ratusan seniman pun dilibatkan untuk memeriahkan pergelaran festival.

Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Martini, menyampaikan harapannya agar Jatiluwih Festival bisa terus berkembang menjadi ajang tahunan yang lebih besar dan mampu menarik perhatian dunia.

“Harapannya bisa dijadikan festival tahunan yang lebih megah dan mewah, sehingga semua masyarakat hingga dunia bisa merayakan. Kami dari kementerian siap mendukung dan bekerja sama untuk masyarakat serta pariwisata,” ujarnya.

Ia juga menekankan, Desa Jatiluwih memiliki keunikan tersendiri karena memiliki sistem Subak sebagai budaya warisan leluhur yang harus dijaga.

“Tidak ada tempat yang sama dengan Desa Jatiluwih, yang memiliki Subak, kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur. Dengan luas 200 hektare sawah di Jatiluwih ini bisa dijaga. Mari jaga Jatiluwih ini, teruskan budaya Subak, jangan dirusak, sehingga kita bisa menikmati dari generasi ke generasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengapresiasi terselenggaranya Jatiluwih Festival sebagai ajang promosi pariwisata, budaya, dan kuliner khas daerah.

“Desa Jatiluwih sudah sangat dikenal dunia karena keindahan alam dan terasering sawahnya. Perekat budaya lokal di sini telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 6 Juli 2012 lalu, dan juga menerima berbagai penghargaan bergengsi lainnya,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa penghargaan tersebut juga menjadi tantangan besar, terutama dalam menjaga warisan budaya dan lingkungan. Terlebih saat ini kunjungan ke Jatiluwih mencapai sekitar 3.000 orang per hari.

“Tantangan ke depan adalah menjaga alam tetap lestari di tengah geliat pariwisata. Tema festival kali ini sejalan dengan visi-misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yaitu menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan alam lingkungan, yang sejalan dengan konsep Tri Hita Karana,”

Sanjaya berharap, di tahun berikutnya, festival Jatiluwih bisa digelar selama sepekan atau sebulan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Manager DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, menyampaikan, festival ini merupakan pelaksanaan ke-6, dengan tema Grow With Nature atau Tumbuh Bersama Alam.

Tema tersebut mengandung makna ajakan untuk membangun kesejahteraan dengan menghormati siklus, menjaga ekosistem, dan memperkuat budaya hidup yang berkelanjutan

“Tema ini mencerminkan semangat kami untuk berkembang tanpa meninggalkan akar. Bahwa pertumbuhan sejati bukan berasal dari eksploitasi alam, tetapi dari harmoni dengannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Jhon menyampaikan sebagai desa yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia sejak 2012 dan meraih predikat Desa Terbaik Dunia dari UN Tourism pada 2024, Jatiluwih terus menampilkan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya seperti kerja sama, kebersamaan, dan keharmonisan.

Adapun Tarian maskot Desa Jatiluwih yang kami tampilkan perdana hari ini menjadi simbol regenerasi dan kolaborasi. Fashion Show perdana Custom Carnival Jatiluwih Dewi Sri dan Jatayu, juga turut ditampilkan sebagai warisan budaya masyarakat Desa Jatiluwih yang dikemas untuk membangun semangat baru bagi generasi muda.

Festival ini juga menjadi ruang pelestarian dan interaksi melalui berbagai kegiatan seperti workshop kuliner tradisional, kompetisi pelajar, pertunjukan seni, hingga pameran UMKM lokal.

“Kami percaya desa akan kuat jika ekonomi warganya tumbuh. Oleh karena itu, festival ini juga menjadi panggung untuk UMKM lokal, yang menyajikan cita rasa, kerajinan, dan kreativitas khas Jatiluwih. Ini bukan sekadar jualan ini cara kami membangun kesejahteraan bersama,” pungkas Jhon. (ana)