- Advertisement -
Beranda blog Halaman 150

Gong Gebyar Wanita Tabanan di PKB Tampil Apik Meski Tertunda Hujan

Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.
Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Meski sempat tertunda selama dua jam akibat hujan deras, penampilan duta Gong Kebyar Wanita Kabupaten Tabanan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tetap berhasil memukau penonton.

Semangat dan kekompakan para penabuh dari Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan ini mampu mencuri perhatian saat tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, Minggu (6/7/2025) malam.

Penampilan ini menjadi lebih istimewa karena disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Ny. Putri Suastini Koster, Wakil Bupati Tabanan, serta para kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Tak hanya itu, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, juga turut menyaksikan penampilan secara langsung melalui siaran live streaming, menunjukkan dukungan penuh terhadap kiprah seni budaya perempuan Tabanan.

Nama Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana mengandung filosofi mendalam. Kata Dahayu berarti cantik, elok, dan estetis, sedangkan Singasana bermakna benteng kekuatan.

Dua kata ini bila disatukan menggambarkan sosok perempuan Tabanan yang tidak hanya menawan dari segi penampilan, namun juga kuat dan penuh semangat dalam menjunjung nilai-nilai budaya serta semangat berkarya membangun Tabanan di Era Baru.

Pada Parade Gong Kebyar Wanita kali ini, Sekaa Gong Dahayu Singasana mempersembahkan tiga garapan utama yakni Sandhya Gita Kaweruhan Batukau, Lelambatan Tabuh Telu Hulu Teben, serta Tari Margapati.

Garapan pertama yang dibawakan adalah Sandhya Gita Kaweruhan Batukau. Karya ini menyiratkan keagungan Gunung Batukau sebagai sumber spiritual dan sumber kehidupan bagi masyarakat Tabanan.

Dengan nuansa melodi dan ritme yang menggambarkan kekuatan alam dan konsep keagungan, garapan ini menekankan pentingnya pembangunan Tabanan secara skala dan niskala.

Penata karawitan dan vokal dipercayakan kepada I Made Putra Wantara penata gerak oleh Ni Ketut Candra Lestari, naskah garapan oleh Jero Arum dan I Made Adi Sutrisna, serta properti pendukung oleh Gede Ersa dan Wayan Supandiyasa.

Garapan kedua yang ditampilkan adalah Lelambatan Tabuh Telu berjudul Hulu Teben yang terinspirasi dari filosofi wilayah Tabanan.

Gunung Batukaru di bagian hulu, persawahan yang subur di tengah, dan garis pantai seperti Tanah Lot di bagian teben mencerminkan keharmonisan alam dan kehidupan masyarakat Tabanan.

Tabuh ini tetap berpijak pada pakem klasik Tabuh Telu yang terdiri dari pengawit (awal), pengawak (tengah), dan pengecet (penutup), yang masing-masing mewakili bagian dari wilayah Tabanan.

Garapan ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat Tabanan atas kelimpahan alam dan keharmonisan hidup yang dijalani, serta sebagai refleksi arah pembangunan Kabupaten Tabanan menuju Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). Ide garapan ditata secara apik oleh I Nyoman Sudarmika dengan konsep oleh I Made Adi Sutrisna.

Persembahan pamungkas adalah Tari Margapati, sebuah tari klasik ciptaan maestro I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Tarian ini mengisahkan tentang kekuatan seekor raja hutan dalam memburu mangsanya, dihadirkan oleh penari perempuan dengan gerak tegas, lincah dan ekspresif.

Gerakan tari yang menggambarkan kekuatan dan keberanian menjadi simbol dari kepemimpinan yang sigap dan tangkas, mencerminkan arah pembangunan Tabanan yang progresif dan berkelanjutan. Iringan gamelan yang dinamis dalam intensitas tempo memperkuat suasana ketegangan dan ketegasan yang khas dalam tarian ini.

Seluruh rangkaian penampilan dikemas dengan tata busana berkonsep Tri Datu, yakni merah, putih, dan hitam sebagai perlambang keberanian, kesucian, dan keagungan. Warna-warna ini juga merujuk pada filosofi Trimurti dalam keyakinan Hindu, serta mengandung makna harmoni alam melalui konsep Tri Angga yang melambangkan kepala, badan, dan kaki.

Sementara itu, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya,memberikan apresiasi atas dedikasi dan semangat para seniman perempuan ini.

“Saya sangat bangga dan terharu menyaksikan penampilan luar biasa dari Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana. Meskipun sempat tertunda akibat hujan, semangat dan dedikasi para seniman tidak luntur sedikit pun. Penampilan ini bukan hanya persembahan seni, tetapi juga bentuk pengabdian dan cinta terhadap budaya, alam, dan tanah kelahiran. Ini adalah wajah Tabanan Era Baru yang sesungguhnya: Aman, Unggul, dan Madani,” ungkapnya.

Melalui penampilan ini, Tabanan kembali menegaskan perannya sebagai lumbung budaya Bali, tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga penuh dengan kreativitas dan semangat berkesenian yang diwariskan secara turun-temurun.

Srikandi-srikandi muda Tabanan membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus sebagai motor penggerak kemajuan daerah. (ana)

Proyek diatas Sawah Dilindungi dan Kawasan Suci Tanah Lot Kembali Berlanjut, Sempat Dihentikan Tahun 2023

Proyek pembangunan yang kembali berjalan ini berdiri di atas lahan sawah dilindungi dan kawasan suci di Banjar Batugaing, Desa Beraban, Tabanan.
Proyek pembangunan yang kembali berjalan ini berdiri di atas lahan sawah dilindungi dan kawasan suci di Banjar Batugaing, Desa Beraban, Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Setelah sempat dihentikan pada tahun 2023 lalu, sebuah proyek pembangunan di kawasan suci Pura Tanah Lot dan di atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, kembali menunjukkan aktivitas. Proyek ini kembali mencuat ke publik lantaran berdiri di zona yang masuk kawasan perlindungan spiritual dan pertanian abadi.

Berlokasi hanya beberapa kilometer dari kawasan wisata rohani Tanah Lot, proyek pembangunan tersebut terletak di Banjar Batugaing, pada lahan yang secara aturan masuk dalam zona penyangga tempat suci Tipe II serta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), berdasarkan Keputusan Menteri ATR/BPN Nomor 1589/SK-HK.02.01/XII/2021 tanggal 16 Desember 2021.

Tak hanya itu, proyek juga diduga melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan No. 11 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang menyatakan kawasan tersebut merupakan jalur hijau. Artinya, tidak diperkenankan ada alih fungsi lahan untuk kegiatan komersial atau hunian.

Pembangunan sempat dihentikan pada tahun 2023. Namun, kini aktivitas kembali berlangsung secara diam-diam, memicu kekhawatiran masyarakat atas potensi kerusakan lingkungan dan penodaan nilai-nilai kesucian kawasan pura.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lahan tersebut tercatat atas dua Sertifikat Hak Milik (SHM), dengan pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atas nama seorang warga negara asing asal Jerman, yang juga disebut sebagai investor.

Menanggapi hal ini, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tabanan, I Gede Sukanada, mengatakan pihaknya akan turun langsung mengecek ke lokasi.

“Coba kami cek ke lapangan, tentunya kita harus sama sama menghormati serta mentaati norma dan aturan yang ada,” ujarnya, Senin (7/7/2025).

Pemerintah daerah sejauh ini belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait langkah penindakan. Namun, kasus ini menjadi sorotan baru atas lemahnya pengawasan di daerah, serta potensi pembiaran pelanggaran yang bisa merusak warisan budaya dan lingkungan Bali. (Ra)

Lepas Sambut Dandim Tabanan, Bupati Sanjaya Tegaskan Sinergi TNI-Pemkab

Acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).
Acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Suasana penuh kehangatan menyelimuti acara Lepas Sambut Komandan Kodim (Dandim) 1619 Tabanan yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan, pada Minggu (6/7/2025).

Dalam acara tersebut, Letkol Inf Riza Taufiq Hasan resmi mengakhiri masa tugasnya di Bumi Lumbung Beras Bali dan menyerahkan tongkat komando kepada pejabat baru, Letkol Inf Trijuang Danarjati, yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 742/SWY Korem 162/Wira Bakti, Kota Mataram.

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya yang turut didampingi jajaran Forkopimda dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Letkol Inf Riza Taufiq Hasan atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa selama hampir tiga tahun bertugas di Tabanan.

Bupati Sanjaya juga mengucapkan selamat datang kepada Letkol Inf Trijuang Danarjati dan berharap sinergi yang telah terjalin antara Pemkab Tabanan dan Kodim 1619 dapat terus diperkuat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Peraih Penghargaan Manggala Karya Kencana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Tahun 2024 ini juga menyampaikan secara singkat sejarah Kabupaten Tabanan sejak masa kerajaan hingga menjadi kabupaten modern, termasuk menjelaskan potensi besar yang dimiliki, khususnya di sektor pertanian.

Ia menegaskan, masyarakat Tabanan memiliki karakter sebagai pejuang sejati dan menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri.

“Tabanan adalah kabupaten penyangga dengan potensi luar biasa. Masyarakatnya memiliki jiwa tempur yang kuat. Banggalah menjadi bagian dari Tabanan,” ucapnya.

Letkol Inf Riza Taufiq Hasan dalam kesan dan pesannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah selama ia bertugas.

“Saya sangat terkesan dengan Tabanan, baik dari sisi potensi daerah maupun karakter masyarakatnya yang luar biasa,” Kini, pria asal Karanganyar, Solo tersebut dipercaya untuk menjalankan tugas baru di Mabes TNI AD di Jakarta.

Sementara itu, Letkol Inf Trijuang Danarjati menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Pemerintah Kabupaten Tabanan. Ia menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pengabdian dan menjaga sinergisitas antarinstansi guna mendukung pembangunan daerah.

“Kami mohon dukungan dan sinergi seluruh elemen di Tabanan, agar bersama-sama kita dapat mensukseskan program TNI serta mendukung Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani,” ujarnya.

Acara pisah sambut ini ditutup secara simbolis dengan penyerahan cinderamata oleh Bupati Tabanan kepada Letkol Inf Riza Taufiq Hasan, didampingi Forkopimda sebagai bentuk penghormatan dan kenangan atas pengabdiannya yang berkesan selama bertugas di Kodim 1619 Tabanan. (ana)

Tiga Kawasan Perumahan di Kediri Tabanan Dilanda Banjir, Puluhan Warga Mengungsi

Puluhan warga mengungsi di SD Negeri 6 Banjar Anyar akibat rumah mereka direndam banjir, pada Minggu (7/7/2025).
Puluhan warga mengungsi di SD Negeri 6 Banjar Anyar akibat rumah mereka direndam banjir, pada Minggu (7/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tabanan, Bali, pada Minggu (6/7/2025) kemarin, mengakibatkan banjir di beberapa kawasan permukiman. Puluhan warga pun terpaksa mengungsi hingga banjir surut.

Selain banjir, insiden pohon tumbang juga terjadi di Pura Celagi Kembar Banjar Batugaing, Desa Beraban. Pohon jenis Asem itu menimpa pura dan sempat menutup akses utama menuju objek wisata Tanah Lot.

Kapolsek Kediri, Kompol I Nyoman Sukadana ketika dikonfirmasi Senin (7/7/2025) mengatakan, banjir terjadi di tiga titik yakni di Desa Banjar Anyar dan Desa Nyitdah.

Di Desa Banjar Anyar, banjir menggenangi dua kompleks permukiman, yakni Perumahan Panorama Sanggulan dan Lembah Sanggulan.

Tinggi air di Panorama Sanggulan mencapai sepinggang orang dewasa. Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) mengungsi ke SD Negeri 6 Banjar Anyar, dan lima KK lainnya memilih tinggal di rumah saudara mereka.

Kemudian di Perumahan Lembah Sanggulan, warga sempat mengungsi ke Yayasan Al-Hijrah Sanggulan. Sebagian dari mereka kini telah kembali ke rumah untuk membersihkan sisa lumpur dan endapan banjir.

“Yang di SD 6 masih ada satu KK mengungsi, sisanya sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Sukadana.

Sementara itu, di Perumahan Pondok Asri Residen Indah, Desa Nyitdah, banjir merendam rumah milik satu keluarga atas nama Bapak Dana. “Lima orang anggota keluarga tersebut telah dievakuasi ke rumah tetangga terdekat,” tambahnya.

Selanjutnya di Desa Beraban, hujan lebat menyebabkan pohon asem berukuran besar tumbang di kawasan Pura Celagi Kembar, Banjar Batugaing.

Pohon itu menimpa penyengker pura, kabel listrik, dan menutup jalan utama menuju objek wisata Tanah Lot. Akibatnya, akses lalu lintas sempat terganggu.

“Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Tim BPBD Tabanan bersama warga setempat langsung melakukan penanganan sehingga akses jalan sudah normal kembali,” terang Sukadana.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan bantaran sungai. Masyarakat juga diminta segera melapor ke BPBD atau aparat desa jika terjadi kondisi darurat.

“Kami juga imbau masyarakat terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan sumber resmi lainnya,” ucap Sukadana. (ana)

Bupati Klungkung Hentikan Proyek Diduga Milik WNA yang Nempel Dengan Pura

Bupati Klungkung I Made Satria saat menghentikan langsung aktivitas pembangunan di dekat kawasan suci Pura.
Bupati Klungkung I Made Satria saat menghentikan langsung aktivitas pembangunan di dekat kawasan suci Pura.

PANTAUBALI.COM, KLUNGKUNG – Bupati Klungkung I Made Satria bertindak tegas menghentikan langsung aktivitas pembangunan sebuah bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan kawasan suci Pura Penataran Ped, Desa Ped, Nusa Penida, pada Sabtu (5/7/2025). Bangunan yang diduga milik seorang warga negara asing (WNA) itu diketahui belum mengantongi izin resmi.

Tindakan ini diambil setelah muncul keluhan dari masyarakat pengempon pura yang merasa resah atas keberadaan bangunan tersebut. Lokasinya yang hampir menempel dengan tembok pura dinilai mencemari kesucian Pura Penataran Ped, salah satu pura Sad Kahyangan Jagat yang sangat disakralkan umat Hindu di Bali.

Bupati Satria, yang merupakan warga asli Dusun Sental, Desa Ped, langsung mengecek lokasi usai melakukan persembahyangan di pura tersebut. Ia terkejut mendapati bangunan berdiri di pesisir timur pura, nyaris menempel dengan areal suci.

“Pembangunan ini tidak boleh dilanjutkan. Ini sudah masuk wilayah suci dan tidak bisa kami toleransi,” tegasnya kepada para pekerja di lokasi proyek.

Bupati juga menyoroti absennya pemilik bangunan saat peninjauan berlangsung. Para pekerja pun tidak dapat menunjukkan dokumen izin maupun legalitas pembangunan. Hal ini makin memperkuat dugaan adanya pelanggaran serius terhadap aturan tata ruang dan perlindungan kawasan suci.

“Saya tidak akan mentoleransi pembangunan yang mencemari tempat suci. Pura Penataran Ped adalah pusat spiritual, bukan tempat untuk kepentingan pribadi apalagi komersial,” tandasnya.

Kepala Satpol PP dan Damkar Klungkung, Dewa Suwarba, menyatakan siap menindaklanjuti arahan Bupati. “Kami segera turun ke lokasi dan akan bertindak sesuai aturan yang berlaku. Instruksi Bupati sudah jelas,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah masih menelusuri kepemilikan bangunan dan legalitas izinnya. Dugaan sementara mengarah pada seorang WNA yang identitasnya belum diketahui.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganan kepada pihak berwenang demi menjaga kesucian Pura Penataran Ped dan keharmonisan spiritual masyarakat Bali. (ra)

Ibu dan Anak Tewas Terseret Arus Sungai di Karangasem, Usai Meninjau Rumah yang Sedang Dibangun

Warga Desa Seraya, Karangasem, mengevakuasi jenazah korban ibu dan anak yang terseret arus sungai usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Minggu (6/7/2025).
Warga Desa Seraya, Karangasem, mengevakuasi jenazah korban ibu dan anak yang terseret arus sungai usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, KARANGASEM – Duka mendalam menyelimuti warga Dusun Gambang, Desa Seraya, Karangasem, setelah seorang ibu dan anaknya tewas terseret arus sungai yang meluap, Minggu sore (6/7/2025).

Korban diketahui bernama Ni Luh Sutriadnyani dan putranya, I Wayan Eka (10). Keduanya terseret arus deras saat melintasi jalur sungai menggunakan sepeda motor sepulang meninjau pembangunan rumah mereka di kawasan Seraya Barat. Saat kejadian, hujan deras mengguyur wilayah tersebut hingga menyebabkan aliran sungai meluap ke badan jalan.

“Mereka habis melihat rumah yang sedang dibangun. Tinggalnya di rumah mertua di Banjar Ijo Gading. Saat pulang, mereka lewat jalur sungai yang biasa dilewati warga,” jelas Perbekel Desa Seraya, I Wayan Dandri.

Tanpa menyadari arus yang menguat dan meluber ke jalan, keduanya terjebak dan langsung terseret arus deras. Warga yang mengetahui kejadian itu segera melakukan pencarian. Jenazah sang anak ditemukan lebih dulu, disusul tubuh sang ibu yang juga ditemukan tak bernyawa tak lama kemudian.

“Keduanya ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dan langsung dibawa ke rumah sakit,” tambah Dandri.

Pemerintah desa pun mengimbau masyarakat agar menghindari jalur rawan banjir ketika hujan deras turun, demi mencegah insiden serupa terulang. (RA)

Sudah SP 3 Kali, Bangunan Ilegal di Pantai Bingin Akan Dibongkar, Jumlahnya 48

Ilustrasi pembongkaran bangunan.
Ilustrasi pembongkaran bangunan.

PANTAUBALI.COM, BADUNG – Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemkab Badung segera mengeksekusi pembongkaran 48 bangunan usaha ilegal di kawasan Pantai Bingin, Desa Pecatu. Seluruh pemilik bangunan telah menerima Surat Peringatan (SP) tahap ketiga, menandakan bahwa proses eksekusi tinggal menunggu surat perintah teknis dari Bupati Badung.

Bangunan-bangunan tersebut dinyatakan melanggar karena berdiri di atas tanah negara yang termasuk dalam kawasan perlindungan setempat. Kepala Satpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Darmadi, menyatakan bahwa sebelumnya terdata 45 bangunan, namun hasil verifikasi terbaru menemukan tiga tambahan yang sempat terlewat.

“Total ada 48 bangunan milik 38 pengusaha. Beberapa di antaranya memiliki lebih dari satu unit usaha. Surat permintaan eksekusi juga telah kami kirimkan melalui Sekda Provinsi Bali ke Pemkab Badung,” ujar Darmadi saat ditemui di Denpasar, Jumat (4/7/2025).

Pemerintah Kabupaten Badung akan bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan dan pendanaan pembongkaran. Meski sempat muncul gelombang penolakan dari sejumlah pengusaha yang mengajukan keberatan hingga menggelar audiensi dengan Bupati, pemerintah tetap pada keputusan semula: seluruh bangunan yang melanggar harus dibongkar.

“Silakan jika ingin menempuh jalur hukum, tetapi proses pembongkaran tidak akan ditunda,” tegas Darmadi.

Sebagian pemilik bangunan bahkan sudah diarahkan untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Hal ini dilakukan agar material yang masih layak pakai bisa diselamatkan, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi geografis Pantai Bingin yang sulit dijangkau alat berat.

“Pembongkaran akan dilakukan manual. Pemkab Badung sudah menyanggupi,” tambahnya.

Sementara itu, Pemprov Bali juga menyoroti pelanggaran lain di kawasan pesisir, termasuk pembangunan Hotel Step Up di Pantai Jimbaran yang melebihi batas ketinggian izin. Hotel tersebut sempat tercatat memiliki tinggi 15,58 meter dari batas maksimal 14 meter. Namun pengelola dikabarkan sudah memangkas struktur yang melampaui batas dan menyesuaikan dengan arahan terkait Sertifikat Laik Fungsi (SLF) serta estetika arsitektur Bali. (RA)

Yowana Didorong Jadi Pilar Masa Depan Bali

Paruman Agung Pasikian Yowana Bali yang digelar di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Sabtu (5/7/2025). 
Paruman Agung Pasikian Yowana Bali yang digelar di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Sabtu (5/7/2025). 

PANTAUBALI.COM, DENPASAR – Generasi muda Bali atau yowana didorong untuk mengambil peran strategis sebagai pilar utama pembangunan Bali ke depan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, saat menghadiri Paruman Agung Pasikian Yowana Bali yang digelar di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Sabtu (5/7/2025).

Wagub Giri Prasta menekankan pentingnya peran generasi muda (yowana) sebagai pilar masa depan Bali, sekaligus bagian dari tiga pilar sosial adat yang dikenal sebagai Wimuda, Winata, dan Wiwerda.

“Tiga pilar Wimuda (anak-anak) – Winata (pemuda/yowana) – Wiwerda (orang tua) adalah fondasi sosial di banjar adat kita. Ketiganya harus bersatu demi kemajuan desa adat dan Bali ke depan,” ujarnya.

Wakil Gubernur Giri Prasta mengajak seluruh yowana untuk bersama-sama membangun masa depan Bali yang berkelanjutan, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga demi anak cucu di masa mendatang.

“Kami telah menyiapkan tatanan. Setelah pengukuhan hari ini dan sebelum pembahasan APBD Provinsi Bali 2025 serta Kabupaten/Kota 2026, saya pastikan yowana akan duduk bersama untuk menyusun program-program strategis,” tegasnya.

Wagub juga mengingatkan agar kemajuan Bali tidak mengorbankan akar budaya dan tradisi. “Bali harus tetap menjadi Bali. Pembangunan harus berlandaskan pada nilai-nilai adat, budaya, dan spiritualitas. Bali bukan sekadar provinsi; Bali dibangun oleh orang-orang suci, oleh nilai luhur dan budaya yang hidup,” katanya.

Di tengah era digital dan kecerdasan buatan (AI), Wagub menekankan pentingnya peran yowana dalam menyikapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

“Kalian sudah mengenal era 4.0 dan 5.0. Gunakan itu untuk membangun jembatan emas menuju masa depan Bali. Tapi ingat, tetaplah menjadi tuan di rumah sendiri,” pesannya kepada seluruh yowana yang hadir.

Sementara itu, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, juga menyatakan bahwa dukungan pemerintah daerah akan semakin memperkuat potensi Yowana Bali.

“Yowana Bali akan semakin mantap dan berdaya atas dukungan pemda. Dari merekalah nantinya akan muncul pemimpin-pemimpin Bali masa depan. Potensi yowana luar biasa, tapi tantangan ke depan tidak semakin mudah, melainkan semakin berat,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa yowana memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa. “Yowana akan menjadi penjaga Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Bali adalah barometer Indonesia. Karena itu, yowana harus mampu memahami dan mengikuti dinamika global, nasional, dan lokal secara cerdas,” tutupnya.

Sebagai perwakilan generasi muda Bali, Diana Putri, yang baru saja dikukuhkan sebagai Ketua Pasikian Yowana Bali periode 2025–2030, turut menyampaikan sambutannya. Ia mengungkapkan komitmennya untuk membawa yowana menjadi kekuatan strategis dalam membangun Bali yang maju dan tetap berakar pada budaya.

“Ini bukan sekadar amanah, tapi sebuah tanggung jawab suci bagi kami, generasi muda Bali. Kami siap bersinergi dengan pemerintah, desa adat, dan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga identitas Bali sekaligus menjawab tantangan zaman,” ujar Diana.

Ia menegaskan bahwa Yowana Bali siap menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban Bali yang adiluhung.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perubahan. Kami ingin menjadi pelaku, pencipta, dan penjaga Bali. Kami siap berjalan di antara modernitas dan kearifan lokal demi masa depan yang gemilang bagi Bali dan generasi penerusnya,” pungkasnya.

Acara Paruman Agung Pasikian Yowana Bali ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah, desa adat, dan generasi muda dalam memperkuat jati diri Bali untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.  (rls)

Ibu dan Anak Dilaporkan Tersesat Saat Turun dari Gunung Batukau

Tim SAR lakukan pencarian dua pendaki tersesat di Gunung Batukaru, Minggu (6/7/2025).
Tim SAR lakukan pencarian dua pendaki tersesat di Gunung Batukaru, Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Belum genap berselang sepekan, empat orang pendaki tersesat di Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Tabanan, kejadian serupa kembali terjadi pada Minggu (6/7/2025).

Dua orang pendaki yang merupakan ibu dan anak dilaporkan tersesat saat turun dari Gunung Batukau. Mereka diketahui bernama Astuti (40) dan putranya Resta (19) asal Tuban, Badung.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya mengatakan, pihaknya menerima informasi kejadian itu pada Minggu sekitar pukul 21.15 WITA

Keduanya merupakan bagian dari rombongan berjumlah sembilan orang yang memulai pendakian pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.00 WITA dari jalur Pura Malem, Desa Pupuan.

Setibanya di puncak, mereka memutuskan turun lebih dahulu tanpa menunggu anggota rombongan lainnya. Hingga malam hari, keduanya belum kembali dan dinyatakan hilang.

“Laporan kami terima dari Bapak Bayu Dimas, yang menyebutkan bahwa dua orang diduga tersesat sekitar pukul sebelas siang,” jelasnya.

Begitu menerima laporan, lima personel dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar yang berada di Jimbaran langsung diberangkatkan ke lokasi.

Koordinasi juga telah dilakukan bersama Polsek Penebel dan pemandu lokal Gunung Batukau untuk membantu pencarian.

“Cuaca saat ini di lokasi dilaporkan hujan ringan dengan suhu sekitar 22 derajat Celsius dan jarak pandang 11,6 kilometer. Kami berharap proses pencarian berjalan lancar,” tambah Sidakarya. (ana)

Jalur Denpasar-Gilimanuk Macet Berjam-jam Akibat Banjir di Jembatan Yeh Nu

Tangkapan Layar video kondisi banjir di jalur utama Denpasar-Gilimanuk tepatnya di Jembatan Yeh Nu, Banjar Penyalin, Desa Samsam, Kerambitan, pada Minggu (6/7/2025).
Tangkapan Layar video kondisi banjir di jalur utama Denpasar-Gilimanuk tepatnya di Jembatan Yeh Nu, Banjar Penyalin, Desa Samsam, Kerambitan, pada Minggu (6/7/2025).

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tabanan dan sekitarnya sejak Minggu (6/7/2025) pagi menyebabkan banjir di sejumlah titik.

Seperti yang terjadi di jalur utama Denpasar-Gilimanuk yang terputus sejak Minggu sore hingga malam akibat banjir yang merendam Jembatan Yeh Nu, Banjar Penyalin, Desa Samsam, Kerambitan.

Lokasi jembatan berada di sebelah barat Patung Adipura dan tergenang air usai diguyur hujan deras sejak sore hari.

Akibatnya, kendaraan dari arah Denpasar maupun Gilimanuk tidak dapat melintasi kawasan tersebut. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah pengendara terpaksa memutar arah untuk mencari jalan alternatif.

Seorang warga Selemadeg, Agus Krisna (30), mengaku hampir sejam terjebak macet di jalur Denpasar Gilimanuk akibat banjir yang menggenang. Ia mencoba melewati beberapa jalur berbeda, tetapi semuanya dalam kondisi padat merayap.

“Tadi saya mau lewat jalan utama, tapi tidak bisa karena banjir. Disarankan putar balik lewat perumahan Vista, di sana juga macet,” kata Agus.

Agus pun akhirnya memilih menepi dan menunggu situasi lalu lintas kembali normal sembari menunggu hujan deras reda.

“Kalau dipaksakan, justru makin lama di jalan. Apalagi hujannya belum reda,” imbuh pria yang bekerja di sebuah toko retail di Kabupaten Badung tersebut.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri mengungkapkan,  Jembatan Yeh Nu memang kerap terendam saat curah hujan tinggi.

Hal ini terjadi karena air dari tiga aliran sungai bermuara di titik tersebut, sementara saluran air di sekitar jembatan tidak mampu menampung volume air yang besar.

Pihaknya tidak bisa langsung menangani dengan membongkar saluran air karena jalan tersebut merupakan bagian dari jalan nasional dan berada di bawah wewenang Balai Jalan.

“Karena statusnya jalan nasional, kami tidak berani ambil tindakan langsung. Tapi kami sudah terjunkan personel ke lokasi untuk memantau dan menangani sesuai kewenangan kami,” jelas Srinadha Giri. (ana)