Revitalisasi Bale Sikap Hidupkan Jejak Prajurit Munggu di Panggung PKB XLVIII

Revitalisasi Bale Sikap Hidupkan Jejak Prajurit Munggu di Panggung PKB XLVIII

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Upaya pelestarian kesenian klasik Bali kembali mendapat ruang dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Komunitas Seni Grahasta Bawera dari Banjar Pengayehan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, yang tampil sebagai Duta Kabupaten Badung, menghadirkan pergelaran revitalisasi kesenian klasik bertajuk “ELING” di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (6/7/2026).

Garapan tersebut tidak hanya menyuguhkan estetika seni pertunjukan, tetapi juga mengangkat kembali sejarah para prajurit Desa Adat Munggu yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Melalui konsep revitalisasi Bale Sikap, komunitas seni itu berupaya menghidupkan kembali warisan budaya yang mulai jarang dikenal generasi muda.

Selama sekitar 90 menit, penonton disuguhi perpaduan tabuh klasik, tari Baris, tari Topeng, dan lantunan gerong yang dikemas dalam satu alur dramatik. Sebanyak 36 seniman terlibat dalam pementasan tersebut, terdiri atas 22 penabuh, delapan penari Baris, empat penari Topeng, serta dua penembang. Seluruh materi dipersiapkan melalui proses latihan intensif selama kurang lebih tiga bulan.

Baca Juga:  Parkir Liar Puluhan Truk di Terminal Mengwi Ditertibkan, Dishub Siapkan Solusi Jangka Panjang

Ketua Komunitas Seni Grahasta Bawera sekaligus penata tabuh, I Kadek Sugiarta, mengatakan garapan ELING berangkat dari hasil penelusuran sejarah mengenai keberadaan Bale Sikap yang menjadi bagian dari kearifan lokal Desa Adat Munggu.

Menurutnya, Bale dimaknai sebagai prajurit, sedangkan Sikap menggambarkan pengorbanan. Filosofi tersebut merefleksikan dedikasi para leluhur yang mengabdikan hidupnya demi menjaga desa, adat, dan masyarakat.

Baca Juga:  Parkir Liar Puluhan Truk di Terminal Mengwi Ditertibkan, Dishub Siapkan Solusi Jangka Panjang

Ia menjelaskan jejak sejarah para prajurit itu masih dapat ditelusuri melalui peninggalan Tameng Kolem yang tersimpan di Pura Dalem Kahyangan Wisesa. Warisan tersebut menjadi inspirasi utama dalam penyusunan konsep pertunjukan yang bertujuan mengingatkan masyarakat akan pentingnya menghargai jasa para pendahulu.

Sugiarta menilai revitalisasi kesenian klasik menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman. Melalui seni pertunjukan, sejarah lokal dapat disampaikan kembali kepada masyarakat dengan cara yang lebih menarik sekaligus mudah dipahami oleh generasi muda.

Selain menonjolkan unsur sejarah, garapan ELING juga mengangkat pesan spiritual mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lahir dan batin sebagaimana tercermin dalam konsep Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui perpaduan musik, tari, vokal, serta simbol-simbol ritual yang membangun suasana sakral sepanjang pementasan.

Pergelaran itu sekaligus menjadi bukti komitmen Kabupaten Badung dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisi. Melalui dukungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bersama Listibiya Kabupaten Badung, berbagai kesenian klasik yang mulai jarang dipentaskan terus didokumentasikan, direvitalisasi, dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat melalui panggung PKB.

Baca Juga:  Parkir Liar Puluhan Truk di Terminal Mengwi Ditertibkan, Dishub Siapkan Solusi Jangka Panjang

Penampilan ELING pun menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak sebatas mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah, pengabdian, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur sebagai bagian dari identitas Bali. (rls/kmfbdg)