
DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Kabupaten Badung kembali menunjukkan kualitas garapan seni tradisinya dalam ajang Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil sebagai peserta pertama di panggung terbuka Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, Kamis (18/6/2026) malam, Duta Badung yang diwakili Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, sukses menyuguhkan penampilan memikat melalui karya bertajuk Baradwara.
Garapan tersebut terinspirasi dari ritual sakral Sanghyang Jaran yang hidup dan berkembang di Pura Dalem Solo, Desa Adat Sedang. Melalui konsep artistik yang kuat, Baradwara mengangkat makna perjalanan spiritual manusia menuju penyucian diri, sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya Bali.
Secara filosofis, Baradwara dimaknai sebagai “Gerbang Api”, simbol ruang transisi yang menjadi tempat peleburan berbagai kekotoran lahir dan batin sebelum seseorang mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Api dalam karya ini diposisikan sebagai media pemurnian sekaligus simbol transformasi spiritual.
Koreografer tari dan gerak, Ida Bagus Yodhie Harischandra, menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan sajian yang matang.
“Persiapan sudah berlangsung sekitar enam bulan. Para penabuh direkrut dari sejumlah sekaa di Desa Sedang dan kemudian disatukan menjadi satu barungan untuk tampil pada lomba tahun ini,” ujarnya usai pementasan.
Menurut Yodhie, tantangan terbesar selama proses penggarapan adalah menyelaraskan jadwal latihan para seniman yang memiliki aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Namun kondisi tersebut justru menjadi pembelajaran penting dalam membangun kekompakan tim.
“Kami belajar menyatukan waktu, rasa, dan semangat dalam berkarya. Itu menjadi proses yang sangat berharga bagi seluruh pendukung garapan,” katanya.
Sebagai juara bertahan pada Wimbakara Balaganjur Remaja PKB tahun 2025, Duta Badung tetap optimistis menghadapi kompetisi tahun ini. Kendati demikian, pihaknya tidak ingin terlalu terbebani oleh target mempertahankan gelar.
“Yang terpenting seluruh tim sudah memberikan kemampuan terbaik. Soal hasil akhir, kami serahkan kepada dewan juri. Bagi kami, pencapaian itu adalah bonus dari kerja keras yang telah dilakukan bersama,” ujarnya.
Dari sisi musikal, Baradwara menghadirkan komposisi yang berlandaskan konsep tri angga dengan pengolahan ritme dan dinamika yang menggambarkan karakter Sanghyang Jaran yang energik, lincah, dan penuh kekuatan. Struktur musikal yang dibangun mampu menghadirkan nuansa magis sekaligus heroik sepanjang pementasan.
Eksplorasi bunyi ceng-ceng menjadi salah satu kekuatan utama karya ini. Permainan ritme yang kompleks dipadukan dengan stimulasi musikal dari Gending Sanghyang Jaran khas Desa Adat Sedang, menciptakan atmosfer yang kuat dan sarat makna spiritual.
Kombinasi antara komposisi musik, koreografi, dan eksplorasi ritmis tersebut berhasil menghadirkan representasi perjalanan jiwa menuju pemurnian. Penampilan Duta Badung pun mendapat apresiasi dari penonton yang memadati arena pertunjukan.
Karya Baradwara dikonseptualisasikan oleh I Gusti Made Darma Putra. Komposisi musik digarap oleh I Made Adipramana Suparsa bersama I Nyoman Arista Adiwijaya, sementara koreografi ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra dan Komang Jana Arta Suputra.
Melalui garapan ini, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kemampuan teknis dalam seni balaganjur, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis tentang pentingnya penyucian diri dan keseimbangan spiritual sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bali. (rls/kmf)































