- Advertisement -
Beranda blog Halaman 729

Tim Pembinaan dan Pengawasan Produksi Arak Bali Turun ke Kabupaten Jembrana

JEMBRANA – Pantau bali.com – Tim gabungan yang terdiri dari Disperindag Provinsi Bali, BPOM dan Bea Cukai turun melakukan pembinaan dan pengawasan minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali di wilayah Kabupaten Jembrana. Kegiatan pembinaan dan pengawasan pada Rabu (Buda Paing Krulut) 20 Juli 2022, difokuskan pada tata kelola produksi arak Bali.

Pembinaan dan pengawasan yang dikoordinir oleh Penyuluh Perindag Ahli Muda/Sub Koordinator Unit Substansi Industri Agro Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Dewa Agung Gede Purnama, SE, M.Si, dimulai dari Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo. Tim menyambangi petani arak Nyoman Wantra di Banjar Pangkung Lubang, Desa Pergung. Dalam peninjauan, tim gabungan didampingi Camat Mendoyo I Putu Sindhu dan Kelian Banjar Pangkung Lubang I Made Irawan.

Dewa Purnama menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan alat destilasi arak bantuan Pemprov Bali. Tim ingin mengetahui efektivitas penggunaan alat tersebut serta kendala yang dihadapi dalam pemakaian. Selain itu, pembinaan dan pengawasan ini juga dimaksudkan untuk memastikan petani arak benar-benar menggunakan bahan baku sesuai dengan amanat Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali.

Petani arak Nyoman Wantra yang dikunjungi tim menyampaikan terima kasih atas bantuan alat destilasi arak yang diberikan Pemprov Bali. Dijelaskan olehnya, selain lebih terjamin kebersihannya, alat destilasi ini mempercepat proses produksi arak.

“Jumlah produksinya stabil dan lebih cepat jika dibanding sebelum menggunakan alat ini. Tingkat kandungan alkohol juga dapat diketahui karena ada alat ukurnya,” ucapnya.

Namun demikian, ia menyampaikan salah satu kekurangan alat ini yaitu belum dilengkapi alat pengeluaran sisa sulingan sehingga tutup tabung harus sering dibuka dan menyebabkan cepat longgar. Hal ini menurutnya bisa mempengaruhi kualitas arak yang dihasilkan.

Selain itu, Wantra juga menyampaikan harapan agar Pemprov Bali bisa memfasilitasi pemasaran yang selama ini masih terkendala. Harapan senada diutarakan Kelian Banjar Pangkung Lubang I Made Irawan. Diinformasikan olehnya, di wilayahnya terdapat lebih dari 100 orang petani arak. Menurut dia, besarnya perhatian Gubernur Bali Wayan Koster terhadap arak Bali menjadi angin segar bagi petani arak di wilayah ini.

“Sebelumnya berbagai upaya telah kami lakukan, tapi tak membuahkan hasil optimal. Karena itu kami menyampaikan terima kasih atas kebijakan yang dikeluarkan Bapak Gubernur,” ungkapnya.

Setelah bantuan alat destilasi, ke depannya ia sangat berharap fasilitasi pemasaran bagi petani arak. Menambahkan penyampaian Made Irawan, Direktur Bumdes Pergung I Wayan Suriandana berharap adanya regulasi yang memungkinkan distribusi arak melalui lembaga yang dikelolanya.

Selanjutnya, tim mengunjungi petani arak di Kelurahan Baler Bale Agung. Serupa dengan aspirasi petani arak di Desa Pergung, petani arak di Kelurahan Baler Bale Agung juga menyampaikan kendala pemasaran dan tutup tabung destilasi yang mudah kendur.

Aspirasi yang disampaikan sejumlah petani arak di wilayah Jembrana akan menjadi bahan evaluasi agar kedepannya produksi dan distribusi arak Bali bisa lebih lancar dan memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Dewa Purnama menyampaikan, untuk wilayah Jembrana, Pemprov Bali telah menyalurkan bantuan tiga buah alat destilasi yang digunakan secara berkelompok.

Manggala Utama PAKIS Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Manggala Utama Pasikian Paiketan Krama Istri Desa Adat (PAKIS) MDA Provinsi Bali Ny. Putri Koster sangat konsen memperjuangkan serta mengajegkan seni, adat, tradisi, dan budaya Bali. Salah satu yang menjadi perhatiannya saat ini adalah keberadaan tari-tarian wali atau tari untuk upacara yadnya yang bersifat sakral, di antaranya tari Rejang. Ia berharap keberadaan tari Rejang bisa terus ajeg dan sesuai dengan pakem serta fungsi tari Rejang itu sendiri.

“Akhir-akhir ini semakin banyak jenis tarian Rejang yang bermunculan, saya harap keberadaan tari-tarian tersebut sudah sesuai dengan pakem dan nilai-nilai kesakralan tarian Rejang,” demikian ditegaskannya saat membuka webinar dengan tema “Ngerajegang Tari Rejang Ring Desa Adat” yang dilaksanakan dari Gedung Gajah, Jayasaba, Denpasar, Selasa, Anggara Umanis Krulut (19/20).

Pendamping orang nomor satu di Bali itu pun mengatakan bahwa raung kreativitas masyarakat Bali sangat tinggi, sehingga bisa menciptakan karya seni, baik tari wali, bebali maupun balih-balihan. Hal itu tentu sangat baik, namun ia mengingatkan agar dalam penciptaan tari terutama untuk tari Wali harus sesuai dengan pakem, nilai dan norma keagamaan yang dianut.

Lebih lanjut, ia pun menyatakan apresiasi akan semangat masyarakat terutama para seniman dalam mengekspresikan rasa syukur dan cinta mereka kepada Hyang Widhi melalui penciptaan tari wali.

“Saya harap melalui webinar kali ini, masyarakat banyak yang ikut dan lebih memahami unteng penciptaan dan peruntukan tari Rejang tersebut,” imbuhnya.

Untuk itu, wanita yang juga dikenal sebagai seniman serba bisa ini berharap, melalui webinar kali ini, para peserta yang mencapai seribu dan didominasi oleh para Manggala PAKIS Bali tingkat Desa Adat, tari Rejang beserta tari sakral lainnya bisa diajegkan serta digunakan sebagaimana fungsi dan tempat yang seharusnya. Selain itu, ia juga tertarik mengetahui tentang beberapa tari sakral yang khas dimiliki oleh masing-masing daerah. Ny. Putri Koster mencontohkan tari Rejang dari Desa Sembiran Buleleng, yang kerap Ia saksikan dipentaskan saat upacara Yadnya di daerah itu.

“Saya tidak tahu, apakah tari sakral itu harus kita lestarikan dalam wujud tarian itu sendiri atau harus juga mengacu pada norma waktu dan tempat. Sehingga saat tari sakral yang berada di daerah A apakah bisa ditarikan juga di daerah B? tentu banyak pertanyaan dan saya harap bisa terjawab dalam webinar kali ini,” bebernya.

Ia pun berharap besar, melalui kegiatan-kegiatan yang digelar oleh PAKIS Bali bekerja sama dengan MDA dan Pemerintah, bisa menggerakkan motivasi masyarakat Bali untuk kembali ke jatidiri karma Bali yang sesungguhnya. Karena hal itu juga tertuang dalam visi misi Pemprov Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dibesut oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Dirinya berharap besar, melalui kegiatan-kegiatan yang digelar oleh PAKIS Bali bekerja sama dengan MDA dan Pemerintah, bisa menggerakkan motivasi masyarakat Bali untuk kembali ke jati diri karma Bali yang sesungguhnya. Karena hal itu juga tertuang dalam visi misi Pemprov Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dibesut oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Webinar Pagi itu menghadirkan dua narasumber yaitu Dr. drs. I Gusti Ngurah M,Si dan Prof. Dr. I Komang Sudirga S.Sn, M.Hum. (Rilis)

Wagub Bali, Ajak Masyarakat Mengenal Ciri-Ciri Keaslian Rupiah

DENPASAR – Pantaubali.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati membuka kegiatan Seminar Nasional bertemakan ”Mengenal Ciri-Ciri Keaslian Rupiah” yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Bali bekerjasama dengan DPR RI dan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Selasa (Anggara Umanis, Krulut) (19/7) bertempat di Balai Diklat BKPSDM Provinsi Bali. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) dan diikuti oleh seluruh anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali, mahasiswa dan masyarakat umum.

“Penting untuk mengetahui ciri-ciri keaslian uang Rupiah yang dipakai bertransaksi sehari-hari untuk menghindari terjadinya kerugian akibat beredarnya uang palsu”, jelas Cok Ace dalam sambutannya.

Di samping itu ia juga menyampaikan bahwa sesuai dengan visi Pemerintah Provinsi Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, salah satu program strategis yang dikembangkan adalah ‘Bali Smart Island’ yang tujuannya adalah mendorong berbagai kemajuan teknologi untuk mendukung pemanfaatan teknologi dalam penyebarluasan informasi serta pertumbuhan perekonomian di Bali.

Kegiatan Seminar Nasional ini menghadirkan beberapa narasumber antara lain Anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho serta Akademisi dan Pakar Hukum Ibu Dewi Bunga yang memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang Rupiah serta hukum pidana yang berlaku di Indonesia terkait penggunaan dan pengedaran uang palsu.

Disamping itu Trisno Nugroho juga memperkenalkan aplikasi Rupiah kepada masyarakat sebagai media edukasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah.

Wagub Bali Menyebut, Hadapi Permasalahan Menggunakan Pendekatan Teori Kajian Budaya

DENPASAR – Pantaubali.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Sukawati didaulat sebagai salah satu narasumber pada acara Ulang Tahun Program Studi Doktor Ilmu Kajian Budaya UNUD ke-21 Tahun yang dirangkaikan dengan Seminar dan Reuni, bertempat di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar pada Senin, Soma Kliwon Krulut (18/7).

Dalam seminar yang mengangkat topik Kebijakan Publik dalam Kajian Budaya, Wagub biasa disapa Cok Ace mengatakan, bahwa sebagai pemegang kebijakan, Gubernur dan Wakil Gubernur Bali menelaah seluruh permasalahan di Bali menggunakan pendekatan teori kajian budaya, karena di Bali tidak bisa dilepaskan dari Adat dan Budaya yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, Wagub Cok Ace menyatakan bahwa dirinya bekerjasama sangat baik dengan Bapak Gubernur Wayan Koster, dimana Bapak Gubernur memiliki ide dan konsep dalam pembangunan Bali yang dituangkan dalam buku Ekonomi Kerthi Bali, dan Wagub Cok Ace menuangkannya dalam buku Padma Bhuwana.

Prof. Tjok Oka Sukawati penulis buku “Padma Bhuwana Bali” yang juga menjabat Wakil Gubernur Bali memaparkan bahwa Bali yang ditopang dengan kekuatan pariwisata dan taksu alamnya, menjadikan Bali memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan wilayah lain.

Semesta tanpa kita sadari sudah membentuk Bali sedemikian rupa dengan tata titi dan asta kosala-kosalinya.

“Pariwisata Bali yang datang dan masuk dari pintu selatan (Badung), dimana secara niskala adalah letaknya Dewa Brahma (dapur), kita posisikan bahwa pariwisata yang berkembang di Bali selatan sebagai penopang / penghasil rupiah yang menyerap devisa untuk pembangunan Bali secara keseluruhan. Jadi jangan semua wilayah di Bali kita kembangkan dengan konsep pariwisata yang sama. Tetapi apabila kita sesuaikan dengan asta dewatanya, maka di wilayah timur juga bisa kita kembangkan menjadi pariwisata spiritual (spiritual tourism) dan spiritual religius, karena timur adalah tempat berstananya Dewa Iswara,” terang Wagub Cok Ace.

Mengacu pada lontar Padmabhuwana yang menyatakan bahwa Mpu Kuturan, sekitar abad ke-11 yang menyebut Bali sebagai Padmabhuwana. Danghyang Nirartha pada abad ke-15 juga menyatakan hal yang sama. Artinya, Bali telah digambarkan sebagai satu kesatuan ruang yang dijaga oleh kemahakuasaan Dewata Nawasanga dengan atribut, karakter, dan fungsi masing-masing. Dalam ruang inilah, seluruh aktivitas masyarakat Bali berlangsung untuk mewujudkan tujuan hidupnya, Moksartham Jagadhita. Artinya, apabila masyarakat Bali meyakini bahwa, seluruh tindakannya dipayungi oleh kekuatan para dewa, maka sudah sepatutnya hidupnya sejahtera. Namun pada kenyataannya, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup masyarakat Bali masih belum sepenuhnya bisa diwujudkan.

“Konsep Padma Bhuwana Bali ternyata sudah ada sejak zaman dahulu dan semesta tanpa sengaja sudah mempolakan letak wilayah berdasarkan karakter demografinya,” ungkap Wagub Cok Ace.

Refleksivitas terhadap keterpurukan pariwisata Bali saat pandemi Covid-19, yang berimplikasi luas terhadap kondisi perekonomian masyarakat Bali, termasuk meningkatnya angka kemiskinan, semakin memperkuat keyakinan bahwa ada banyak aspek yang masih harus diperbaiki dalam pembangunan Bali. Kembali lagi, harmoni antara wadah dan isi sebagai sumber kebahagiaan hidup itulah yang belum terwujud dalam pembangunan Bali saat ini.

Kewajiban manusia membina hubungan integral, harmonis, dan berlanjut dengan alam, menegaskan pentingnya menyelaraskan wadah dengan isinya. Alam ini ibarat wadah, sedangkan kehidupan manusia dan semua makhluk merupakan isinya.

Walaupun alam ini terlihat pasif sehingga manusia sering kali memperlakukan alam sekehendak hatinya – tetapi sesungguhnya alam merupakan kekuatan penggerak aktif yang mahabesar. Ibarat gelas berisi air, manusia tidak akan mendapatkan manfaat apa pun dari air tersebut ketika gelasnya pecah. Demikian pula dengan cara kerja alam ini, tidak ada satu pun kebahagiaan dapat diperoleh manusia manakala ia gagal membina hubungan integral, harmonis, dan berlanjut dengan alam-lingkungannya.

Integral bahwa, alam semesta (bhuwana agung) dan manusia (bhuwana alit) adalah satu kesatuan tidak terpisahkan. Secara esensial, alam dan manusia lahir dari sumber Hyang Esa, begitu pula secara substansial bahwa alam dan diri manusia dibangun oleh unsur- unsur yang sama, yaitu Panca Mahabhuta.

Harmonis bahwa keselarasan serta keseimbangan antara bhuwana agung dan bhuwana alit merupakan penyebab utama kebahagiaan. Sementara itu, berkelanjutan bahwa keterikatan manusia dengan alam berlangsung sepanjang garis eksistensinya.

12. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia memporak-porandakan perekonomian Bali yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Bali. Jaman dulu saat pariwisata baik-baik saja, kita sempat berpikiran bahwa Bali hancur karena banyaknya budaya asing yang diadopsi disini. Namun saat pandemi Covid-19 melanda, Bali juga hancur karena pariwisata yang tidak aktif dan mengakibatkan perekonomian mati suri. Kondisi ini memberikan kesempatan Bali untuk menata diri. Untuk kedepannya, pariwisata berkelanjutan perlu dilakukan sesuai dengan penataan berdasarkan karakteristik wilayahnya. Bukan semata-mata meng-’copy paste’ pengembangan pariwisata yang sudah ada di Bali Selatan. Semisal wilayah Bali Timur yang cocok dengan Ista Dewatanya adalah pengembangan spiritual tourism atau bersifat religi/ keagamaan.

Untuk wilayah Bali Barat dikuasai oleh kemahakuasaan Dewa Baruna. Secara etimologis letak wilayah barat sangat sesuai untuk mengembangkan perikanan.

Sementara wilayah Bali Utara yang dikuasai oleh kemahakuasaan Dewa Wisnu sebagai lambang dari kemakmuran atau kesejahteraan dan sangat sesuai untuk mengembangkan hasil pertanian dan kebutuhan hidup seperti padi, sayur mayur dan berbagai jenis bumbu dapur. Sementara untuk Bali bagian Tengah dikuasai oleh kekuatan Dewa Siwa.

Di wilayah yang sarat dengan pengembangan wisata sejarah, warisan budaya dan seni ini memberikan nuansa berbeda bagi wisatawan yang datang.

“Karena wilayah Bali Tengah yang kita ketahui adalah berkedudukan di Kabupaten Gianyar akan menyiapkan sejumlah daerah wisata yang memiliki daya tarik alam hijau dan natural, menawarkan Kerajinan seni hasil dari kreativitas tangan masyarakat lokalnya,” papar Wagub Cok Ace yang karya tulisnya rampung tercetak pada bulan November tahun 2021 lalu.

Berdasarkan hal tersebut, saat ini Pemprov Bali dibawah kepemimpinan Bapak Gubernur Wayan Koster dan Wagub Cok Ace sedang menggarap beberapa pembangunan strategis guna meningkatkan pembangunan ekonomi Bali.

“Salah satunya penataan parkir di Pura Besakih, Pembangunan Jalan Tol, shortcut, dermaga segitiga emas Sanur-Nusa penida dan beberapa pembangunan strategis lainnya. Diharapkan pembangunan strategis tersebut dapat memberikan dampak positif pada sektor perekonomian secara merata antar wilayah di Bali”, pungkasnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh para alumni S3 Doktor Kajian Budaya UNUD, juga dihadiri oleh Rektor UNUD, dan narasumber lainnya yaitu Prof.Dr.Dasi Astawa.(Rilis)

Gubernur Bali, Larang Pembangunan Terminal LNG di Areal Hutan Mangrove

DENPASAR – Pantaubali.com – Gubernur Bali, Wayan Koster mendapatkan apresiasi tepuk tangan dari DPRD Provinsi Bali yang hadir dalam Rapat Paripurna ke-19 DPRD Provinsi Bali Masa Persidangan II Tahun Sidang 2022, karena orang nomor satu di Pemprov Bali ini dengan tegas menyatakan Perusda Bali tidak boleh membangun di areal Hutan Mangrove dan menganggu Terumbu Karang yang ada di kawasan Desa Sidakarya, Desa Sesetan, Desa Serangan, Desa Intaran, plus di Desa Pedungan, Kota Denpasar terkait adanya rencana pembangunan Terminal Liquified Natural Gas (LNG).

Rapat Paripurna ke-19 DPRD Provinsi Bali Masa Persidangan II Tahun Sidang 2022 yang membahas agenda terkait Laporan Dewan terhadap Pembahasan Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2022-2042 dan Penandatanganan Kesepakatan Substansi Raperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2022-2042 ini juga dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan dihadiri oleh Ketua DPRD Provinsi Bali, Nyoman Adi Wiryatama beserta Anggota DPRD Provinsi Bali di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Provinsi Bali, Senin (Soma, Kliwon Klurut) 18 Juli 2022.

Dalam sambutannya, Gubernur Bali jebolan ITB ini menyatakan, Kita akan membangun infrastruktur darat, laut, udara secara terkoneksi dan terintegrasi yang harus dituangkan dalam Perda RTRW Provinsi Bali. Kemudian yang menjadi kebutuhan strategis Bali dan perkembangan dinamika kedepan yang harus diantisipasi dalam Perda RTRW Provinsi Bali ini, diantaranya adalah yang perlu menjadi perhatian Kita semua yaitu Pulau Dewata memerlukan mandiri energi dengan energi bersih.

Mengapa Kita perlu mandiri energi, kata Wayan Koster karena kebutuhan energi di Bali tidak cukup hanya melihat saat ini lampu itu menyala, listrik itu hidup, tapi Kita harus berfikir strategis kedepan bahwa dari mana energi listrik itu ada untuk menyalakan lampu. Jadi itu harus difikirkan, ujar Gubenrur Koster yang telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih ini seraya menyatakan dalam konteks inilah Saya mau sampaikan, bahwa Bali saat ini memiliki ketersediaan energi sekitar 1.153 MW, sedangkan kebutuhan Bali saat masa normal atau sebelum pandemi itu mencapai 940 MW dan 30 persennya harus dipenuhi dengan cara lain. Tetapi dari 1.153 MW itu, lebih dari 300 MW disalurkan dari Paiton (luar bali/Jawa Timur, red) melalui kabel bawah laut.

Sehingga tujuan Saya dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Pulau Dewata harus mandiri energi kedepannya dan bukan mempunyai energi yang bersumber dari batubara atau bahan bakar fosil, tetapi dari energi bersih. Alasannya supaya alam, udara dan hidup Kita ini menjadi lebih bersih, sehat serta citra pariwisata Bali menjadi lebih baik, kata Gubernur Bali jebolan ITB ini.

Kebutuhan energi bersih juga sangat diperlukan, mengingat penduduk Bali yang jumlahnya 4,3 juta, namun karena Bali sebagai destinasi wisata dunia, menjadikan populasi sumber daya manusia di Bali bertambah menjadi 17 juta yang disumbangkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara pada Tahun 2019 atau sebelum pandemi Covid – 19. Sehingga, kedepan pemenuhan terhadap kebutuhan energi baik untuk domestik, pariwisata, dan industri itu harus memiliki kepastian serta harus menjadi perhatian titik fokus Kita semua.

Atas dasar itulah, Gubernur Wayan Koster melakukan proteksi secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya Bali untuk kepentingan masa depan Pulau Dewata, supaya Bali tidak terlalu banyak tergantung dari luar.

“Makin banyak Kita bergantung dari luar, makin berbahaya buat kehidupan masyarakat Kita di masa yang akan datang dan untuk anak cucu Kita,” ujar Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini seraya menyatakan generasi di Bali akan terus berlanjut dan Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, serta berdampak secara lokal di Bali, termasuk perubahan politik, perubahan ekonomi, maupun perubahan – perubahan yang lainnya yang akan terjadi di masa depan bangsa Indonesia, jadi semuanya harus di mitigasi.

Bagaimana cara mitigasinya, lebih lanjut mantan Peneliti Balitbang Depdikbud RI ini menyatakan yaitu dilakukan dengan memberdayakan semua sumber daya alam yang ada di Bali sebagai sumber kehidupan dasar Kita di dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari yang salah satu contohnya dapat Kita lakukan dengan memanfaatkan produk – produk lokal, bukan malah memanfaatkan produk impor. Kalau Kita punya Beras Bali, Salak Bali, hingga Manggis Bali gunakanlah produk lokal Kita ini. Jangan malah tergiur oleh produk – produk impor.

“Kita harus memberdayakan semua sumber daya alam dari Bali yang luar biasa ini, jelas Wayan Koster yang telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali”, ujarnya.

Kemudian, menjadi kebutuhan sehari – hari Kita adalah listrik. Tanpa listrik, lampu tidak bisa menyala, sejumlah kebutuhan rumah tangga Kita butuh listrik. “Terus terang Pemerintah Pusat mau nambah lagi 500 MW di Sanur, Saya tolak. Mengapa, karena saat itu Saya sampaikan, Pak 340 MW yang di Sanur dari Paiton akan Saya fungsikan sebagai sub sharing dan tidak menjadi saluran utama atau hanya disalurkan ketika terjadi masalah di Bali. Karena Saya mau membangun pembangkit tenaga listrik, ungkap Gubernur Bali seraya menegaskan dalam konteks mandiri energi, itu sudah menjadi prinsip buat Saya.

Itulah sebabnya, Gubernur Bali sedang berjuang agar pembangkit tenaga listrik di bangun di Bali dengan energi bersih, dan astungkara PLN meresponnya, dimana Tahun 2022 ini dibangun 2 x 100 MW berbahan bakar gas, yang semula rencananya akan dibangun di Jawa Timur dipindah ke Bali, yakni di Pesanggaran, Denpasar.

Karena di Pesanggaran sudah dibangun 2 x 100 MW dan yang sebelumnya ada PLTG 250 MW maka dengan gas, Kita sudah punya 450 MW disana. Kemudian dalam konteks ini pula, Kita butuh terminal LNG dengan pilihan dimana akan dibangun supaya efisien. Jadi, kebutuhan energi yang tinggi konsumennya di Bali Selatan, yaitu Denpasar, Badung, dan Gianyar, maka pilihan lokasinya juga disana. Lalu bisakah dibangun ditempat lain seperti di Celukan Bawang, Buleleng, bisa. Tapi kebutuhan disana kan kecil dan untuk menyalurnya perlu teknologi serta peralatan yang mahal lagi hingga tidak efisien,” tambah Wayan Koster sembari menegaskan kalau dibangun di Bali Utara jaraknya terlalu jauh, sehingga membutuhkan infrastruktur untuk menyalurkan serta menjadi biaya tinggi, akibatnya tidak efisien.

Dalam upaya mewujudkannya, mantan Anggota DPR RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini menegaskan kepada Perusda Bali tidak boleh membangun (Terminal LNG) di areal Hutan Mangrove dan konsepnya adalah bukan terminal LNG Mandiri, tapi dibangun dengan konsep kawasan yang terintegrasi serta berkaitan dengan Desa yang ada di kawasan itu, yaitu Desa Sidakarya, Sesetan, Serangan, dan Desa Intaran, ‘plus’ Pedungan, Kota Denpasar. Kemudian skema yang dijalankan harus memberikan manfaat ekonomi di Desa tersebut, bukan malah mematikan ekonominya.

Kalau mematikan ekonomi yang sudah eksis itu salah dan Saya tidak mengijinkannya. Maka Saya minta buat konsep ulang secara terintegrasi dan tidak boleh menganggu areal mangrove, terumbu karangnya juga tidak diganggu, tapi malah Kita arahkan agar kawasan ini berkembang menjadi kawasan pariwisata terintegrasi dengan perekonomian dan potensi kelautannya, jelas mantan Dosen di STIE Perbanas Jakarta, di Universitas Pelita Harapan Tangerang, dan di Universitas Tarumanagara, Jakarta ini yang disambut tepuk tangan oleh anggota dan pimpinan DPRD Provinsi Bali.(Rilis)

Dinas Perhubungan dan Badan Keuangan, Dinilai Dewan Belum Maksimal Tingkatkan Potensi Pendapatan di Tabanan

TABANAN – Pantaubali.com – Ketua Komisi I DPRD Tabanan, I Putu Eka Nurcahyadi menyampaikan, OPD terkait dalam hal ini, Dinas Perhubungan dan Badan Keuangan Daerah belum maksimal menjalankan rekomendasi, dalam upaya meningkatkan potensi Pendapatan Daerah Kabupaten Tabanan, khususnya dari pajak maupun retribusi parkir.Yang mana, DPRD Kabupaten Tabanan melalui Komisi I telah memberikan rekomendasi untuk meningkatkan PAD tersebut.

“Agar OPD terkait dapat mengoptimalkan rekomendasi untuk peningkatan pendapatan daerah,” katanya, Senin (18/7) di pasar tradisional Kerambitan, Tabanan.

Dalam hal ini Dirinya menyebutkan, harus ada kejelasan terkait obyek retribusi parkir, jadi tidak akan menimbulkan kerancuan.

“Setidaknya akan ada kepastian hukum tentang sistem pengelolaan sehingga, tidak akan ada permasalahan dan akan dapat segera diatasi. Kejelasan tersebut diperlukan ketertiban administrasi, sehingga PAD didapat secara maksimal,” paparnya.

Dirinya menyampaikan, di Tabann sampai saat ini terdapat sekitar, 115 obyek parkir belum digarap maksimal.Tentu hal tersebut akan menimbulkan persoalan khususnya dalam kaitan dengan kegiatan retribusi parkir seperti, terjadi di Pasar Kerambitan salah satunya.

“Kemungkinan sosialisasi dan penegasan dari dishub belum maksimal, sehingga ada pembagian waktu, ruas jalan masih dimanfaatkan oleh adat dalam melakukan retribusi parkir”, tutupnya.

Tingkatkan Kuwalitas Anggota Notaris, Moral Anggota Penting Diperhatikan

TABANAN – Pantaubali.com -Dalam upaya meningkatkan kuwalitas Sumber Daya Manusia (SDM) Notaris, dalam upaya memberi pelayanan maximal kepada masyarakat.Maka, moral SDM sangat penting diperhatikan, sebagai salah satu penunjang kuwalitas pelayanan.

“Pertama moral dari para anggota kami (Para SDM di Notaris) penting diperhatikan”, kata, Ketua Pengda Tabanan Ikatan Notaris Indonesia, I Nyoman Subahari belum lama ini (Sabtu,(16/7) di Tabanan.

Dirinya mencontohkan, salah satu upaya pembenahan moral para anggota Notaris salah satunya dengan pendekatan kepada sang pencipta.

“Kami mengajak pendekatan diri terhadap, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau tuhan yang Maha Esa.Tentunya agar tetap eling dengan diri-sendiri bahwasanya, kita mengabdi untuk masyarakat”, paparnya.

Hal tersebut dilakukan dalam upaya, dapat secara bersama-sama mengwujudkan bahkti kepada tuhan, untuk kejujuran dalam melaksanakan kegiatan di bidang ke notarisan nantinya benar- benar dapat di jalankan sesuai amanah.

Sembari Subahari menambahkan, tentu semua dilakukan agar dalam menjalankan kewajiban sangat diharapkan para anggota tidak boleh berpihak sama sekali, atau agar aturan-aturan hukum dapat di terapkan dengan sebaik-baiknya.

Bupati Tabanan Bhakti Penganyar di Pura Mandhara Giri Semeru Agung Lumajang

LUMAJANG – Pantaubali.com – Pemerintah Kabupaten melaksanakan kegiatan Sradha Bhakti Nganyarin serangkaian Pujawali di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu, (16/7).

Rombongan Bhakti Penganyar tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, SE, MM, didampingi Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, Sekda, para Asisten, para Kepala OPD dan para Camat, serta Ketua PHDI Tabanan. Turut hadir saat itu Ketua PHDI Kabupaten Lumajang beserta tokoh masyarakat setempat.

Tiba sekitar pukul 12.00 Wita, Bupati Sanjaya disambut baik oleh Ketua Panitia Pujawali dan pengurus Pura setempat. Setelah melakukan perbincangan, kemudian rombongan Bhakti Penganyar melaksanakan persembahyangan yang dipimpin oleh Mangku setempat.

“Astungkara kita diberi keselamatan, kekuatan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga kita bisa melaksanakan bhakti Nganyarin di parahyangan suci ini. Dimana, kami mengajak seluruh jajaran Pemkab Tabanan mengucapkan puji syukur dan rasa terimakasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujar Sanjaya usai melakukan persembahyangan.

Sanjaya juga mengatakan sangat menikmati perjalanan spiritual ini, dimana pada kesempatan itu jajaran Pemkab Tabanan bisa melakukan silaturahmi dengan umat sedharma di Kabupaten Lumajang. Disamping itu, hakekatnya kita sebagai umat khususnya umat Hindu tidak ada yang dibeda-bedakan dan harus bersatu melaksanakan yadnya.

“Yang membedakan kita hanya tata cara pelaksanaan yadnya, tapi wujud bhakti, sradha bakthi itu sama baik semeton kita yang ada di Jawa, semeton kita yang ada di Bali, maupun di seluruh Indonesia. Astungkara semeton kita disini sangat bakthi dan memegang teguh tradisi serta persaudaraan,” imbuh Sanjaya.

Untuk itu, Sanjaya mengajak seluruh umat sedharma khususnya di Nusantara agar tetap bersatu serta meningkatkan sradha Bakthi. Disamping itu, sebagai umat beragama, Sanjaya menghimbau agar selalu meningkatkan hubungan baik serta toleransi antara sesama umat, sehingga tercipta harmonisasi yang lebih baik lagi antar umat beragama.

“Kita di Pemerintah Kabupaten Tabanan sangat apresiasi semeton disini dalam melaksanakan yadnya yang bertujuan untuk menjalankan serta menjaga tradisi. Mari kita bersama-sama untuk selalu mendoakan yang terbaik untuk Indonesia, Bali dan Tabanan khususnya, agar selalu tenteram dan rahayu. Sehingga kita di Pemerintah mampu memberikan yang terbaik untuk kesejahteraan masyarakat,” tutup Sanjaya.

Sebelumnya di kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pujawali Edi Sumianto, mengucapkan terimakasih kepada Bupati beserta jajaran atas kunjungan dalam bhakti nganyarin ini. Disamping itu, Ia juga sangat berterimakasih karena Pemkab Tabanan turut memberikan perhatian dan dukungan kepada pihaknya dalam mempertahankan tradisi dan budaya setempat.(Rilis)

Wagub Bali Berharap, IPHI Bali Mampu Dukung Program Pembangunan Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Sukawati menghadiri sekaligus membuka kegiatan Musyawarah Wilayah ke-VI Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Provinsi Bali di Denpasar, Minggu, Redite Wage Krulut (17/7).

Pada kesempatan ini Wagub yang akrab disapa Cok Ace berharap, kegiatan ini dapat mendukung arah kebijakan dan program pembangunan Bali kedepan yang harus ditata kembali dan diselenggarakan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi dalam satu kesatuan wilayah Bali termasuk masalah penduduk yang berpihak dan taat asas pada Genuine Bali, yakni dengan menerapkan konsep Pola Pembangunan Semesta Berencana guna mewujudkan kehidupan bersama yang sejahtera dan bahagia dalam koridor ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika, sehingga mampu terwujud Bali menuju Era Baru yang sesuai dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

“Diselenggarakannya Musyawarah Wilayah VI Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Provinsi Bali ini, sebagai salah satu upaya untuk membina rasa persaudaraan, toleransi dan kesadaran hidup di Negara yang berbhineka dengan tetap menjaga kerukunan demi persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Ikatan persaudaraan Haji memiliki arti yang sangat penting untuk merenungkan hakikat dan makna perjalanan kehidupan ini. Melalui Muswil Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Provinsi Bali ini saya harapkan mampu meningkatkan silaturahmi, introspeksi dan evaluasi diri untuk memaknai dan membersihkan jiwa dari segala bentuk perilaku yang tidak baik, pikiran yang tidak jernih, dan perkataan yang tidak pada tempatnya. Sehingga mampu memusatkan pikiran pada jalan Tuhan, dengan cara mawas diri mencari ketenangan dan kedamaian,” imbuh Wagub Cok Ace.

Pesan – pesan moral, spiritual, dan kebajikan akan terasa amat teduh jika iman dan taqwa sudah kuat didalam diri. Di samping hal tersebut rasa persaudaraan, kedamaian, ketentraman, toleransi dan kebersamaan dalam kehidupan semua itu perlu terus dipelihara, dihidupkan dan disegarkan di tengah bangsa yang majemuk ini.

Disamping itu, perjalanan hidup suatu bangsa pasti akan menerima dan mengalami cobaan, baik itu muncul dari dalam maupun dari luar. Sebagai suatu realita yang tidak dapat dihindari sebagai umat beragama, tentu kita harus selalu berupaya untuk mencari solusinya, sehingga cobaan – cobaan tersebut dapat diatasi dan akhirnya kita menemukan jalan yang benar – benar sesuai dengan ajaran agama itu sendiri.

“Terlebih di era millenial ini kita juga akan mengalami perubahan – perubahan sebagai konsekuensi dari era globalisasi yang melanda seluruh bangsa – bangsa di dunia, baik yang berkaitan dengan pendidikan termasuk masalah moral, etika dan spiritualitas hidup beragama, sebagaimana kita rasakan sebagai suatu realitas dimana kita harus mampu beradaptasi dan mengendalikan diri dengan baik, sehingga apa yang menjadi makna dari kehidupan beragama dapat kita laksanakan dengan rasa tanggung jawab,” ungkap Cok Ace.

Kerukunan hidup beragama perlu terus di pupuk sehingga gejolak-gejolak sosial yang akhir-akhir ini muncul ke permukaan dapat dihindari dan dikendalikan ke arah pemikiran yang jernih. Oleh karenanya keikhlasan dan soliditas iman dan taqwa, sikap toleransi, kerjasama dan saling menghargai diantara intern umat beragama dan antar umat beragama senantiasa dipupuk dengan baik.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), H. Erman Suparno mengucapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya Musyawarah Wilayah VI IPHI Provinsi Bali ini. Pihaknya mengatakan bahwa IPHI Bali berdiri tegak dalam mendukung program Pemerintah Daerah, sehingga berjalan selaras dalam menjaga kedamaian Bali menuju Era Baru dibawah visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.(Rilis)

Kejuaraan Karate INKAI Se-Kabupaten Tabanan “Dandim CUP IV Tahun 2022” Dibuka

TABANAN – Pantaubali.com – Bupati Tabanan di wakili Kepala Dinas Pendidikan Tabanan I Nyoman Putra, S.H., M.M. membuka secara resmi Kejuaraan Karate INKAI Se-Kabupaten Tabanan “Dandim CUP IV/Tahun 2022” di Gelanggang Olah Raga Debes Jln mawar desa delod peken Kec/Kab Tabanan, pada, Jumat, (16/7).

Dalam kesempatan tersebut hadir Ketua Umum INKAI Prov. Bali Brigjen TNI (Purn) Ida Bagus Alit Putra, Ketua INKAI Cabang Tabanan Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Ferry Adianto S.I.P., Ketua Umum FORKI Prov. Bali I Gusti Made Aryantha Putra., S. Sos., Danrindam IX/Udayana di wakili Kadep Jas Mayor Inf Agung Suwardana, Ketua Harian INKAI Tabanan Drs I Gst Angung alit Adiatmika beserta staf, Kapolres Tabanan diwakili Waka Polres Tabanan Kompol Doddy Monza , S.I.K., M.Si, M.I.K., Kasdim 1619/Tabanan Mayor Inf Dewa Putu Oka, Kapolsek Tabanan diwakili Kanit Lantas Polsek Tabanan Iptu I Wayan Artayasa., S.pd., Sekcam Tabanan, Sekretaris INKAI Kab. Tabanan I Kadek Suwandewi, Para Danramil dan Perwira Staf Jajaran Kodim 1619/Tabanan dan Para Pesrta kejuaraan Dandim Cup IV 2022 masing-masing Dojo se Kab. Tabanan.

Dalam Kejuaraan yang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 16 Juli hingga 17 Juli 2022 tersebut diikuti oleh 179 orang peserta terdiri dari 115 peserta putra dan 64 peserta putri dari seluruh dojo Se-Kabupaten Tabanan.

Adapun dalam Sambutannya Bupati Tabanan yang dibacakan Kadisdik Kab. Tabanan pada saat membuka Kejuaraan Secara Resmi menyampaikan sangat berbahagia dan menyambut gembira diselenggarakannya kejuaraan karate INKAI Se Kab. Tabanan “DANDIM CUP 2022” dan juga diselenggarakan untuk menyambut hari kemerdekaan RI ke 77 tanggal 17 Agustus 2022.

Seperti kita ketahui karate ini mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk sikap mental, jiwa kesatria, sportif serta untuk membentuk fisik/raga yang kuat dan sehat sebagai syarat pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.

Bupati juga memberikan apresiasinya kepada INKAI Tabanan yang telah rutin menyelenggarakan kejuaraan – kejuaraan baik ditingkat Kabupaten maupun tingkat Daerah bahkan sampai pernah ditingkat Nasional, hanya dengan ajang latihan dan pembinaan yang berkesinambungan niscaya INKAI Tabanan akan mampu melahirkan atlit-atlit berprestasi yang akan mengharumkan nama Tabanan.

Diakhir sambutannya Bupati menyampaikan kepada seluruh atlit karate Inkai Selamat bertanding raih dan rengkuh prestasi yang setinggi – tingginya namun jungjunglah sportifitas diatas segala- galanya.

Sementara itu Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Ferry Adianto S.I.P selaku Ketua INKAI Tabanan menyampaikan bahwa kegiatan Dandim Cup IV 2022 ini bertujuan untuk melahirkan atlet atlet baru yang berkarakter positif, dan bermental juara agar dapat mengikuti even-even nasional maupun internasional.

Kepada semua atlet yang bertanding, wasit dan juri Dandim berpesan tunjukkan kemampuan dimiliki dan raihlah prestasi gemilang, hormati semua keputusan wasit dan juri memimpin, kepada seluruh wasit dan juri bertugas memimpin jalannya pertandingan lakukanlah tugas dengan profesional, karena dengan kepemimpinan yang baik akan menghasilkan kompetisi yang baik pula, pesannya.

Sambutan Ketua Umum INKAI Prov. Bali pada intinya bahwa kepada Inkai Tabanan yang telah rutin menyelenggarakan kejuaraan – kejuaraan baik ditingkat Kabupaten maupun tingkat Daerah bahkan, sampai pernah ditingkat Nasional, hanya dengan ajang latihan dan pembinaan yang berkesinambungan niscaya Inkai Tabanan akan mampu melahirkan atlit-atlit berprestasi yang akan mengharumkan nama Tabanan.(Rilis)