- Advertisement -
Beranda blog Halaman 728

Maknai Tumpek Klurut, Bupati Tabanan Ajak Masyarakat Jaga Keselarasan Alam Semesta Berlandaskan Kasih Sayang

TABANAN – Pantaubali.com – Perayaan Rahina Tumpek Klurut, diperingati oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Upacara Jana Kerthi sebagai pelaksanaan Tata-titi Kehidupan Masyarakat Bali, bedasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, dalam hal ini, sesuai dengan Instruksi Gubernur Bali Nomor 08 Tahun 2022, mengajak seluruh jajaran Pemerintahan untuk melakukan persembahyangan di Desa Adat Kubontingguh, Sabtu (23/7). Pihaknya berharap perayaan Tumpek Klurut bisa dijadikan momen menjaga keselarasan alam semesta berlandaskan rasa kasih sayang (welas asih).

Upacara yang berlangsung, tepatnya di Pura Kahyangan Jagat Dalem Purwa Kubontingguh, Desa Denbatas Kecamatan Tabanan tersebut dihadiri pula oleh Wakil Bupati I Made Edi Wirawan, S.E beserta Nyonya, Ketua DPRD Tabanan, Unsur Muspida, Camat seluruh Tabanan beserta OPD terkait. Persembahyangan ini juga dilakukan serentak di seluruh Bali.

Dimaknai sebagai hari kasih sayang, Tumpek Klurut yang jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Klurut, sebagai bentuk pelaksanaan Jana Kerthi merupakan simbol bagi kita agar dapat menyayangi seluruh alam semesta beserta isinya. Pada perayaan Tumpek Klurut ini juga sebagai wujud bhakti terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa, dan Sanghyang Dewa Iswara yang hadir dalam bentuk manifestasi gamelan.

Tumpek Klurut juga sebagai implementasi Tri Hita Karana, yakni keselarasan manusia dengan Tuhan, Manusia dengan sesama manusia serta manusia dengan alam semesta. “Jika keselarasan tersebut sampun memargi antar, maka akan terjadi keharmonisan dan cinta kasih terhadap kehidupan di dunia. Maka dari Tumpek Klurut maknanya atau disebut sebagai Hari Kasih Sayang” Ujar Bupati Sanjaya dalam sambutannya.

Lebih lanjut, pihaknya juga menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Tabanan terus berupaya untuk merawat, memelihara, kesucian, kelestarian, keseimbangan, keselarasan, keharmonisan alam secara sekala dan niskala. Termasuk di dalamnya pelestarian agama, adat, tradisi dan seni budaya. Tentunya dengan dilandasi oleh kasih sayang, menjadi bentuk apresiasi dan implementasi Visi Pemerintah Tabanan yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana, Menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM).

“Untuk melaksanakan tugas di Pemerintahan Tabanan, kita harus memiliki rasa kasih sayang, dengan ini kita bisa memaknai pembangunan yang ingin kita capai, dengan gotong royong, kerjasama, dan kasih sayang, saya yakin pembangunan kita baik hulu, tengah, hilir, pertanian dan pembangunan apapun di Tabanan bisa kita laksanakan dengan baik seperti hari ini” Tambah Sanjaya.

Seperti halnya disampaikan oleh Kadis Kebudayaan Ir. I Wayan Sugatra yang saat itu menyambut baik kedatangan jajaran Pemkab Tabanan, “Sesuai yang diinstruksikan oleh Gubernur Bali Perayaan Rahina Tumpek Klurut kita laksanakan dengan upacara Jana Kerthi, Tumpek Klurut sendiri berasal dari kata lulut yang berarti proses kasih sayang” ujarnya.

Adapun kegiatan seni yang ditampilkan dalam perayaan Tumpek Klurut ini termasuk penampilan Tari Jauk Manis, dan Tari Oleg Tamulilingan. Tentunya pertunjukan tari ini sangat diapresiasi oleh Pemkab Tabanan, di mana, makna yang disampaikan sangat sesuai dengan Tumpek Klurut, yakni implementasi kasih sayang terhadap sesama manusia, dan juga simbolisasi pemimpin yang arif dan bijak sana serta penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

Tak hanya persembahyangan, pada momen perayaan Tumpek Klurut ini juga dilaksanakan Penyerahan SK Penetapan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Tabanan, kepada Pura Batu Belig Desa Rejasa Kecamatan Penebel, dan juga Penyerahan SK PEnetapan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Tabanan kepada Pura Natar Jemeng Desa Pinge Kecamatan Marga. Dilanjutkan dengan Penyerahan Piagam Penghargaan terhadap Penggiat Seni, Sekaa Sanggar serta dirangkaikan dengan Penyerahan bantuan Permakanan dari Bupati Tabanan kepada Panti Werda Santi Wanasara.

Wagub Cok Ace Hadiri Prosesi Nganyarin oleh Pemkab Bangli di Pura Mandara Giri Agung Semeru

LUMAJANG – Pantaubali.com – Pemkab Bangli Nganyarin di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (23/7). Upacara nganyarin serangkaian Pujawali Tawur Pancawali Krama yang dilaksanakan di Pura Mandara Giri Semeru Agung (12/7) lalu. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan prosesi Nganyarin yang dilaksanakan berbagai kabupaten di Bali dan Jawa.

Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) berkesempatan menghadiri dan ikut sembahyang Penganyaran oleh Kabupaten Bangli. Bersama dengan Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, Ketua TP PKK Kabupaten Bangli Ny. Sariasih Sedana Arta, Ketua WHDI Kabupaten Bangli Ny. Suciati Diar, Jero Gede Batur serta Jajaran Pemkab Bangli, Wagub Cok Ace melaksanakan persembahyangan pada pagi itu.

Ketua PHDI Kabupaten Lumajang, Edi Sumianto di sela-sela prosesi upacara mengatakan Nganyarin merupakan rangkaian pujawali yang dilaksanakan setelah puncak pujawali hingga upacara penyineban (24/7) mendatang. Upacara diiringi berbagai tarian wali seperti tari topeng dan rejang.

Edi Sumianto didampingi Ketua Panitia Pujawali, Tjok Oka Arta Ardana Sukawati sangat mengapresiasi partisipasi Kabupaten Bangli dalam mensukseskan rangkaian pujawali. Umat Hindu di Kabupaten Lumajang perlu dukungan seluruh umat Hindu di Nusantara.

“Dari 21 kecamatan di Kabupaten Lumajang, umat Hindu hanya terdapat di 6 kecamatan saja,” terang Edi.

Wagub Cok Ace juga menyatakan, rasa bangganya terhadap semangat pemedek yang begitu antusias datang dan tangkil ke Pura Mandara Giri Semeru Agung. Karena menurutnya, setelah ditelusuri Pura ini secara historis merupakan asal dari leluhur masyarakat di Bali.

“Saya bangga tidak hanya warga Bali yang datang tangkil, namun juga umat Hindu dari luar Bali,” ujarnya.

Di samping itu, Pura Mandara Giri menurutnya memiliki peranan penting terhadap umat Hindu di Bali dan Nusantara. Dukungan umat Hindu di Bali sangat diharapkan agar pura dan keberadaan agama Hindu di Nusantara bisa berkembang.

“Keberadaan pura saya harapkan bisa meningkatkan sradha bakti kepada Tuhan, dan bisa dijadikan sebagai media pemberdayaan umat,” tegas Wagub Cok Ace.(Rilis)

 

Gubernur Bali, Bagun Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali Berkelas Dunia

BULELENG – Pantaubali.com – Atas restu dan tuntunan Leluhur-Lelangit Bali, Gubernur Bali, Wayan Koster, bekerja keras dan bergerak dinamis dengan program inovatif, yaitu berupa pembangunan infrastruktur telekomunikasi, sebagai bagian pembangunan infrastruktur darat, laut,dan udara secara terkoneksi dan terintegrasi, sebagai implementasi Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Gubernur Bali, Wayan Koster, terus bekerja keras dan bergerak dinamis dengan program inovatif, yaitu berupa pembangunan infrastruktur telekomunikasi,sebagai bagian pembangunan infrastruktur darat, laut, dan udara secara terkoneksi dan terintegrasi.

Melaksanakan peletakan batu pertama (ground breaking) sebagai tanda dimulainya pembangunan TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI, pada Sabtu (Saniscara Kliwon, Krulut), 23 Juli 2022, di Desa Adat Amerta Sari, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng.Upakara niskala peletakan batu pertama dipuput oleh Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun.

Sebelum acara peletakan batu pertama, terlebih dahulu dilakukan Upacara Matur Piuning dan memohon restu agar pembangunan Tower berjalan dengan lancar, aman, dan sukses, di 15 Pura, yaitu, Yeh Ketipat, Ulun Danu Beratan, Ulun Danu Buyan, Ulun Danu Tamblingan, Segara Penimbangan, Meduwe Karang, Penegil Dharma, Puncak Sinunggal, Indra Kila, Ulun Danu Batur, Puncak Penulisan, Puncak Mangu, dan Pura Kahyangan Desa Adat Amerta Sari.

Pembangunan TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI, merupakan pemenuhan janji politik Gubernur Bali, Wayan Koster, pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2018 kepada masyarakat Buleleng. Yang menjadi janji politik, sesungguhnya adalah pembangunan Tower biasa yang berfungsi untuk mengatasi terbatasnya jangkauan siaran televisi (blank spot), khususnya di wilayah Buleleng. Tanpa bantuan antena parabola, masyarakat Buleleng tidak dapat menikmati siaran televisi.

Gubernur Bali, Wayan Koster, membangun Tower dalam satu kawasan terpadu berupa Taman Teknologi Komunikasi Bali Smarts. Tower dalam filosofi kearifan lokal Bali disebut “TURYAPADA”, yang melambangkan hubungan antara Akasa-Pertiwi,

Purusa-Pradana yang menjadi sumber kekuatan kehidupan masyarakat dunia. TURYAPADA TOWER merupakan analogi bentuk Orti dan Bale Kul-kul sebagai media komunikasi masyarakat Bali secara tradisional dalam aktivitas adat, agama, tradisi, seni, dan budaya.

Rancangan Tower memadukan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dengan kemajuan teknologi global menjadi karya ikonik-monumental, yaitu,“LOKA SAMASTA SAKINO BHAWANA”, yang memiliki makna sebagai sumber kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan manusia yang mendunia.

Berdasarkan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dan kemajuan teknologi global, kawasan terpadu diberi nama TAMAN TEKNOLOGI TURYAPADA TOWER KOMUNIKASI BALI SMARTS 6.0 KERTHI BALI, disingkat “TURYAPADA TOWER” KBS 6.0 KERTHI BALI.

Dalam filosofi kearifan lokal Sad Kerthi, harmoni Bali tidak terlepas dari proses transformasi dan dinamika kehidupan masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara Alam – Manusia – Kebudayaan Bali sehingga membentuk ketahanan sekaligus kelenturan kebudayaan Bali. TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang diwujudkan dalam sebuah kerangka budaya komunikasi global berupa SMARTS 6.0 KERTHI BALI, terdiri dari, SMARTS 1.0 KERTHI BALI adalah Era sebelum tahun masehi sampai 1 masehi, merupakan Bali Era Hulu-Teben, yang ditandai keunggulan Manusia Dewa dengan Mona sebagai pola komunikasi.

SMARTS 2.0 KERTHI BALI adalah Era dari 1 masehi sampai 500 masehi, merupakan Bali Era Payogan, yang ditandai keunggulan Manusia Spiritual dengan Seha sebagai pola komunikasi.SMARTS 3.0 KERTHI BALI adalah Era dari 500 masehi sampai 1.000 masehi, merupakan Bali Era Banua, yang ditandai keunggulan Manusia Dharma dengan Yantra sebagai pola komunikasi.

SMARTS 4.0 KERTHI BALI adalah Era dari 1.000 masehi sampai 1.500 masehi, merupakan Bali Era Negari, yang ditandai keunggulan Manusia Sakti dengan Mantra sebagai pola komunikasi.

SMARTS 5.0 KERTHI BALI adalah Era dari 1.500 masehi sampai 2.000 masehi, merupakan Bali Era Kedaton, yang ditandai keunggulan Manusia Jnana dengan Drestha sebagai pola komunikasi.

SMARTS 6.0 KERTHI BALI adalah Era dari 2.000 masehi sampai 2.500 masehi, merupakan Bali Era Baru, yang ditandai keunggulan Manusia Kabinawa dengan Mudra sebagai pola komunikasi.

Komunikasi Bali Smarts 6.0 Kerthi Bali dirancang dengan konsep filosofi berbasis budaya kearifan lokal Sad Kerthi, yang sangat berbeda dengan konsep revolusi Industri 4.0 dan konsep Society/Masyarakat 5.0, sehingga tidak bisa dibandingkan. Digit 6.0 bukan merupakan tangga/tingkatan Digit 5.0 dan Digit 4.0.

TURYAPADA TOWER digagas oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, yang secara teknokrat dijabarkan dalam bentuk rancangan dasar (basic design) oleh Tim dari Fakultas Teknik Universitas Udayana, terdiri dari 9 orang, yaitu, Ketua: Dr. Ir. I Made Oka Widyantara, ST., MT., IPU, ASEAN Eng.; anggota, Dr. Eng. Ir. I Wayan Kastawan, ST., MA, Dr. Ir. Ngakan Ketut Acwin Dwijendra ST, SDs, MA, IPU, ASEAN Eng Dr. Ir. I Dewa Gede Agung Diasana Putra, ST., MT., IPU, Dr. Ir. A.A. Gde Agung Yana, ST., MT, Ir. I Gede Adi Susila, ST., M.Sc, Ph.D, IPM, ASEAN Eng, Ir. Made Dodiek Wirya Ardana, ST., MT, Nyoman Pramaita, ST., MT., Ph.D; dan 8) I Gst A. Komang Diafari Djuni H, ST., MT.

TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI memiliki tinggi 115 meter, dibangun pada lokasi dengan ketinggian 1.521 meter dari permukaan laut, sehingga total ketinggian Tower menjadi 1.636 meter. Turyapada Tower berisi berbagai fasilitas, meliputi, Puncak Tower sebagai pemancar siaran TV digital terestrial, telekomunikasi seluler, internet, dan komunikasi radio komunitas.

Badan Tower sebagai wahana edukasi, berupa; planetarium, sky walk, restoran putar 360o, dan jembatan kaca.

Pedestal Tower sebagai wahana penunjang, berupa: wisata konvensi, laboratorium pendidikan, dan museum keunggulan budaya komunikasi dengan menampilkan teknologi yang diciptakan dan diadopsi pada masing-masing Era peradaban.

Kawasan TURYAPADA TOWER bersifat terpadu yang ramah lingkungan, indah, dan sangat keren, karena berisi kebun bunga, kebun buah, area bermain anak, glamping, flying fox, UMKM, dan restoran. Untuk kenyamanan pengunjung disiapkan area parkir seluas 1 Hektare, dan disiapkan gondola yang bergerak sepanjang 1,4 Km dari area parkir menuju TURYAPADA TOWER.

Dilihat dari lokasi, ketinggian, dan fasilitas yang dimiliki, TURYAPADA TOWER adalah Tower ikonik pertama di Indonesia, tidak kalah dengan Lima Tower terkenal di dunia, yaitu: Menara Eiffel, Tokyo Tower, Toronto Tower, Macau Tower, dan Fernsehturm Tower.

TURYAPADA TOWER berada di perbukitan Desa, berbeda dengan Lima Tower lain yang berada di pusat kota.TURYAPADA TOWER memiliki ketinggian 1.636 meter diatas permukaan laut, lebih tinggi dari Lima Tower terkenal di dunia.

Untuk menjamin keandalan bangunan, TURYAPADA TOWER didesain secara khusus dengan koefisien ketahanan gempa tertinggi 1.0 G, kekuatan hidup struktur minimal 500 tahun, dan dibangun dengan sistem struktur ganda, sehingga tahan terhadap beban angin dan gempa, menjadi bangunan yang andal, nyaman, dan aman.

TURYAPADA TOWER memberi manfaat dan dampak, Mengoptimalkan siaran TV digital dengan jangkauan mencapai 80% wilayah Buleleng, Jembrana, dan Karangasem. Sebagai daya tarik pariwisata baru berkelas dunia.Sebagai pusat pertumbuhan perekonomian baru.

Menyeimbangkan perekonomian antar wilayah Bali Utara, Selatan, Timur, dan Barat.Menjadi sumber baru Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Buleleng, dan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI adalah mahakarya ikonik-monumental pertama di Indonesia, sebagai Penanda Kemajuan Peradaban BALI ERA BARU, merupakan implementasi Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Mahakarya ini, dipersembahkan sebagai warisan nan-abadi sepanjang jaman kepada generasi penerus Bali.

Pembangunan Kawasan Terpadu TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI memerlukan anggaran sebesar Rp. 418 Miliar. Pembangunan dimulai 23 Juli 2022, selesai pada akhir bulan Agustus 2023, yang dikerjakan oleh PT. Hutama Karya bersama PT. Yodya Karya.

Gubernur Bali, Wayan Koster, memohon doa restu dan dukungan seluruh komponen masyarakat Bali, agar pembangunan TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI berjalan dengan lancar, aman, dan sukses, serta memberi manfaat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Bali niskala-sakala.

Pembangunan TURYAPADA TOWER KBS 6.0 KERTHI BALI juga mendapatkan dukungan dari Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Danrem 163/Wirasatya, Kajati Bali, Pengadilan Tinggi Bali, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Bali, hingga Ketua Komisi, Ketua Fraksi, dan Anggota DPRD Bali.

Acara peletakan batu pertama dihadiri oleh Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Kajati Bali, Pengadilan Tinggi Bali, Pimpinan DPRD Bali, Ketua Komisi dan Ketua Fraksi DPRD Bali, Walikota/Bupati se-Bali, Ketua DPRD se-Bali, Rektor Universitas Udayana, Rektor Undiksha, Rektor ISI Denpasar, Rektor ITB STIKOM, Rektor INSTIKI, Ketua STIMIK Primakara, Dirut BPD Bali, MDA Provinsi Bali, dan undangan terhormat lainnya.

Jaga Kamtibmas, Polisi Sambangi Pasar Senggol, Terminal, Pertokoan dan Angkringan di Tabanan

TABANAN – Pantaubali.com – Dalam upaya mencegah terjadinya gangguan Kamtibmas di wilayah hukum Polsek Tabanan dan mencegah terjadinya penyebaran covid19 varians baru Polsek Tabanan menurunkan Unit Kecil Lengkap (UKL), Minggu,(24/7) mulai pukul 20.00 sampai dengan 22.00 Wita personil Polsek Tabanan melaksanakan Patroli malam, dengan menyasar tempat-tempat keramaian.

“Kegiatan patroli pada malam hari ini dilakukan adalah untuk mencegah terjadinya gangguan Kamtibmas pada tempat tempat keramaian. Demikian juga halnya dengan Covid-19 varians baru, kami himbau masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama menggunakan masker”, kata, Kapolsek Tabanan Kompol I Made Pramasetia, kemarin malam (Minggu,(24/7) di Tabanan.

Dia menyampaikan, adapun sasaran tempat menjadi sasaran patroli UKL, Pasar Senggol Tabanan , Terminal Pesiapan , Parkiran Gaja Mada , jalan By Pass Ir Soekarno , pertokoan, warung angkringan ataupun tempat lain yang berpotensi terjadinya kerumunan. Tim UKL terdiri dari Unit Patroli, Reskrim, Intelkam, Binmas dan lalulintas.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa Jawa – Bali masih berstatus Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1. Mari kita bersama sama tetap waspada. Kewaspadaan ini kita wujudkan dengan tetap disiplin Prokes”, paparnya.

Sembari Dirinya berpesan, tetap jaga diri, jaga keluarga, Jaga Negara dengan tetap disiplin menerapkan prokes sehingga bisa terhindar dari Covid-19.

Gubernur, Resmi Buka Kejuaraan Terbuka Lemkari Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Gubernur Bali, Wayan Koster secara resmi membuka Kejuaraan Terbuka Piala Gubernur Bali.

Tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Lembaga Karate Do Indonesia (Lemkari) di GOR Lila Bhuana Denpasar pada, Jumat (Sukra Wage, Krulut) 22 Juli 2022 pagi yang dihadiri langsung oleh Kapolda Bali, Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Lemkari Bali, I Wayan Muntra, Kadisdikpora Provinsi Bali, KN. Boy Jayawibawa, dan Ketua Umum KONI Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Oka Darmawan.

Dalam sambutannya, Gubernur Bali menyambut baik dan mendukung Kejuaraan Terbuka Lemkari Bali dengan merebutkan Piala Gubernur Bali Tahun 2022. Disamping sebagai wahana mengukur kemampuan para Karate-Do Daerah Bali, Wayan Koster juga menilai kejuaraan ini sebagai hasil pembinaan di daerah yang selama ini telah berjalan dengan baik, sekaligus untuk meningkatkan pembinaan olahraga Karate Nasional, khususnya Bali secara berkesinambungan.

Lebih lanjut orang nomor satu di Pemprov Bali ini juga menyampaikan sangat bergembira dan memberikan apresiasi kepada jajaran Pengurus Pengprov LEMKARI Bali.

“Karena atas komitmennya, Kejuaraan ini dapat berlangsung dengan baik,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini yang disambut apresiasi tepuk tangan dari peserta lomba se-Bali yang siap berlaga dari tanggal 22 – 24 Juli 2022 dengan mempertandingkan kategori usia dini 8-9 tahun, pra pemula 10-11 tahun, pemula 12 dan 13 tahun, kadet 14-15 tahun, junior 16- 17, dan senior.

Mantan Anggota DPR RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan kemudian menjelaskan dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan telah menetapkan bahwa pembinaan olahraga bukan hanya tanggungjawab Pemerintah, melainkan juga tanggungjawab masyarakat.

“Jadi penyelenggaraan kejuaraan ini merupakan bagian integral dari upaya pembinaan olahraga, dan menjadi titik kulminasi dari pembinaan secara menyeluruh, mulai dari pembangkitan minat, pemanduan bakat, seleksi dan kompetisi, sampai pada pencapaian prestasi puncak,” kata Gubernur Bali jebolan ITB ini.

Sehingga dengan berbagai kejuaraan olahraga, mulai tingkat Daerah, Nasional, bahkan internasional yang telah diselenggarakan di Bali harus dapat terus diakomodasi dan dimanfaatkan, salah satunya oleh Pengprov LEMKARI Bali untuk meningkatkan frekuensi bertanding bagi atlet-atlet Bali. Hal ini juga turut mendorong pemasyarakatan dan pembinaan prestasi Karate-Do di Bali maupun di tingkat Nasional.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur Bali, Wayan Koster berharap melalui Kejuaraan ini akan turut mendorong semakin maraknya perkembangan olahraga Karate di Bali.

“Saya yakin, Pengprov LEMKARI Bali dengan dukungan Pengprov FORKI Bali dan semua pihak, akan dapat menyelenggarakan kejuaraan ini secara berkelanjutan, dengan melibatkan lebih banyak peserta, dan dalam level kualitas yang terus meningkat,” tutup Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini

Sembari berpesan mengucapkan selamat bertanding kepada seluruh peserta, raihlah prestasi dengan dilandasi semangat persahabatan dan sportivitas yang tinggi. Kepada para Juri dan Panitia, Saya sampaikan selamat bertugas semoga Kejuaraan Terbuka LEMKARI Bali Piala Gubernur Bali Tahun 2022 ini dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan.

Wagub Bali, Tandatangani Kesepakatan Dengan UNICEF

YOGYAKARTA – Pantaubali.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Sukawati menegaskan Pemprov Bali sangat menyadari pentingnya imunisasi sebagai bagian yang dalam dalam menjamin kualitas tumbuh kembang dan mencegah anak dari penyakit.

“Kita tidak mau berdosa jika nantinya anak ini tumbuh dewasa membawa suatu kekurangan pada kesehatannya,” kata Wagub yang akrab disapa Cok Ace ini saat menghadiri Acara Rembuk Aksi Kolaborasi untuk Imunisasi Pemerintah Daerah se-Jawa dan Bali bersama Unicef, di Bangsal Kepatihan Danurejan, Malioboro, Yogyakarta pada Kamis (21/7) malam.

Wagub menjelaskan Selama tahun 2019 hingga 2021 atau di masa pandemi, pihaknya sebenarnya punya target untuk 94,51 persen imunisasi dasar pada bayi dan balita. “Namun bersyukur kita bisa capai hingga 98,8 persen untuk imunisasi dasar,” katanya.

Sedangkan untuk imunisasi lanjutan, ada masalah keterlambatan waktu sehingga hanya mencapai 78 persen. “Masih belum mencapai target. Oleh sebab itu kami dari pemerintah Provinsi Bali mengupayakan agar semua pihak terlibat dari atas ke bawah,” imbuhnya lagi.

Guru Besar ISI Denpasar ini juga mengatakan sebagaimana yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali saat pandemi dan percepatan vaksinasi covid-19, Bali menggunakan kekuatan-kekuatan sosial budaya masyarakat antara lain Desa Adat, Banjar dan lainnya.

“Sehingga yang masih tercecer sekitar 11 ribuan anak yang belum imunisasi lanjutan bisa kita nol-kan semua. Intinya pemerintah Provinsi Bali bekerja keras untuk ini,” tukas Wagub.

Sementara itu Pelaksana Tugas Perwakilan UNICEF Robert Gass mengatakan Unicef dan mitra lainnya mendukung Pemerintah Indonesia untuk terus mendorong upaya mengejar ketinggalan untuk mengatasi kemunduran yang signifikan dalam imunisasi anak akibat COVID-19.

Pemerintah Indonesia bekerja tanpa lelah, dengan dukungan UNICEF, untuk menjangkau sebanyak mungkin anak, termasuk mereka yang berada di daerah tertinggal dan terpencil,” ujar Gass.

Pandemi dikatakan Gass membuat Cakupan imunisasi dasar lengkap turun dari 84,2 persen pada 2020 menjadi 79,6 persen pada 2021, menjadikan anak-anak di seluruh Indonesia berisiko lebih besar tertular penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio.

Dijelaskan lagi, tahap pertama Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang dimulai Mei 2022 dan akan berlangsung hingga akhir Juli menargetkan 27 juta anak di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Tahap kedua akan berlangsung pada Agustus 2022 di Jawa dan Bali.

Di kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi mengajak Pemerintah Daerah untuk memberdayakan posyandu.

“Ada hampir 50 ribu (posyandu,red) di seluruh Indonesia. Kita harus standarisasikan layanannya,” katanya

Menurut Menkes juga, Imunisasi penting namun juga perlu untuk mengedepankan untuk menjaga hidup sehat bukan malah berpikir mengobati setelah sakit.

“Saya dalam kesempatan kali ini, mengajak pemerintah daerah untuk memaksimalkan RSUD beserta para ASN. Fungsi screening harus dilakukan dibarengi hidup yang seimbang,” tutur Menkes.

Kesempatan tersebut selain sebagai rembuk bersama dirangkai dialog interaktif, juga ditandai penandatanganan kesepakatan bersama Pemerintah Daerah se-Jawa dan Bali untuk komitmen program percepatan Imunisasi lewat BIAN.

Turut hadir dalam acara tersebut, Sekjen Kemendagri Suhajar Diantoro, PJ Gubernur Banten Al Muktabar, Wagub Jakarta Ahmad Riza Patria Sekda Jatim Adhy Karyono dan Kadis Kesehatan Jateng Yunita Dyah Suminar.(Rilis)

Dinkes Provinsi Bali gandeng AIHSP dan Diskominfos Belajar Buat Konten Media Sosial yang Menarik dan Inklusif Media sosial semakin penting dalam upaya menyampaikan komunikasi risiko kesehatan yang inklusif kepada masyarakat. Hal ini diantaranya dirasakan ketika pandemi Covid-19 dan penyakit menular lain seperti rabies dan penyakit kuku dan mulut (PMK). Diperlukan komunikasi risiko kesehatan yang inklusif agar pesan-pesan yang disampaikan dapat menjangkau semua kalangan masyarakat, seperti lansia, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya. Itulah sebabnya Dinas Kesehatan Provinsi Bali berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali menyelenggarakan Lokakarya Optimasi Media Optimasi Media Sosial, Desain Grafis dan Video Editing yang pelaksanaannya difasilitasi oleh Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (Australia Indonesia Health Security Partnership/AIHSP). Lokakarya yang diikuti oleh komponen Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali ini diselenggarakan di Badung, tanggal 19-21 Juli 2022. Dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Bidang IKP Provinsi Bali, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, mengatakan sangat mendukung kegiatan pelatihan ini dalam rangka meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia pengelola media sosial dalam lingkup Provinsi Bali untuk melahirkan komunikasi risiko yang aksesibel dan inklusif bagi semua kelompok masyarakat di Bali. Menurutnya Diskominfos Provinsi Bali selama ini bersama dengan Dinas Kesehatan telah melakukan komunikasi risiko krisis kesehatan melalui konten-konten media sosial, seperti misalnya dalam penanganan Covid-19 dan rabies. “Diharapkan dengan komunikasi risiko krisis kesehatan yang inklusif akan memberikan wawasan kepada masyarakat sehingga selalu aware dinamika konteks sosial yang sedang terjadi di Bali. Tentunya tidak untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi memberikan pemahaman bersama untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam menghadapi krisis kesehatan yang sedang terjadi di Provinsi Bali,” kata Gede Pramana. Sejalan dengan itu Ketua Forum Komunikasi Risiko One Health Provinsi Bali, I Gede Arya Sena, mencontohkan bagaimana misalnya komunikasi risiko penyakit rabies kepada masyarakat untuk mengedukasi tapi tidak untuk membuat masyarakat takut terhadap anjing. Apalagi dalam budaya Bali anjing termasuk hewan yang dipercaya dapat menuntun manusia setelah kematian. Ia berharap pesan-pesan komunikasi yang disampaikan melalui konten media kepada masyarakat yang inklusif mengena sesuai dengan kearifan lokal dan tentunya tidak melanggar Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Bagaimana caranya nanti di konten media kita juga pesan-pesan atau komunikasi yang kita inginkan ke masyarakat terpapar itu bisa tersampaikan dengan tepat dan nyaman,” kata pria yang juga adalah Patengen Agung MDA Provinsi Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, menyampaikan pihaknya berharap pelatihan semacam ini akan membantu pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan sosialisasi risiko kesehatan kepada masyarakat Bali seperti misalnya isu rabies, stunting, PHBS dan risiko-risiko lainnya yang bisa dihadapi semua kelompok masyarakat Bali ke depan. “Bagaimanapun kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama, itu sebabnya kita perlu tahu bagaimana cara melakukan edukasi yang benar. Saya berharap pelatihan ini akan membantu menjawab cara sosialisasi yang aksesibel dan inklusif di era media sosial,” tegas dr. I Nyoman Gede Anom .Kelompok lansia, disabilitas, perempuan dan kelompok rentan lainnya merupakan kelompok yang sangat terdampak dalam krisis ketahanan kesehatan yang terjadi terkait pandemi COVID-19 maupun konteks krisis kesehatan lainnya. Proses adaptasi dan penerjemahan materi komunikasi risiko lewat media sosial yang aksesibel dan inklusif menjadi penting dan nyata untuk dapat menyampaikan pesan yang tepat sasaran dan nyaman bagi semua tingkatan masyarakat termasuk kelompok rentan, lanjut usia dan disabilitas. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini AIHSP Social Media Strategist Shafiq Pontoh, Mahalli dari Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya dan beberapa narasumber lainya. Di akhir acara tercipta beberapa video dan grafis konten komunikasi risiko kesehatan hasil karya peserta lokakarya yang dinilai langsung oleh tim penilai dari Diskominfos Provinsi Bali dan perwakilan komunitas penyandang disabilitas (Pertuni dan Gerkatin)

DENPASAR – Pantaubali.com – Media sosial semakin penting dalam upaya menyampaikan komunikasi risiko kesehatan yang inklusif kepada masyarakat. Hal ini diantaranya dirasakan ketika pandemi Covid-19 dan penyakit menular lain seperti rabies dan penyakit kuku dan mulut (PMK).

Diperlukan komunikasi risiko kesehatan yang inklusif agar pesan-pesan yang disampaikan dapat menjangkau semua kalangan masyarakat, seperti lansia, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya. Itulah sebabnya Dinas Kesehatan Provinsi Bali berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali menyelenggarakan Lokakarya Optimasi Media Optimasi Media Sosial, Desain Grafis dan Video Editing yang pelaksanaannya difasilitasi oleh Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (Australia Indonesia Health Security Partnership/AIHSP). Lokakarya yang diikuti oleh komponen Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali ini diselenggarakan di Badung,(19 sampai 21 Juli 2022).

Dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Bidang IKP Provinsi Bali, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Gede Pramana, mengatakan sangat mendukung kegiatan pelatihan ini dalam rangka meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia pengelola media sosial dalam lingkup Provinsi Bali untuk melahirkan komunikasi risiko yang aksesibel dan inklusif bagi semua kelompok masyarakat di Bali. Menurutnya Diskominfos Provinsi Bali selama ini bersama dengan Dinas Kesehatan telah melakukan komunikasi risiko krisis kesehatan melalui konten-konten media sosial, seperti misalnya dalam penanganan Covid-19 dan rabies.

“Diharapkan dengan komunikasi risiko krisis kesehatan yang inklusif akan memberikan wawasan kepada masyarakat sehingga selalu aware dinamika konteks sosial yang sedang terjadi di Bali. Tentunya tidak untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi memberikan pemahaman bersama untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam menghadapi krisis kesehatan yang sedang terjadi di Provinsi Bali,” kata Gede Pramana.

Sejalan dengan itu Ketua Forum Komunikasi Risiko One Health Provinsi Bali, I Gede Arya Sena, mencontohkan bagaimana misalnya, komunikasi risiko penyakit rabies kepada masyarakat untuk mengedukasi tapi tidak untuk membuat masyarakat takut terhadap anjing. Apalagi dalam budaya Bali anjing termasuk hewan yang dipercaya dapat menuntun manusia setelah kematian.

Ia berharap, pesan-pesan komunikasi yang disampaikan melalui konten media kepada masyarakat yang inklusif mengena sesuai dengan kearifan lokal dan tentunya tidak melanggar Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Bagaimana caranya nanti di konten media kita juga pesan-pesan atau komunikasi yang kita inginkan ke masyarakat terpapar itu bisa tersampaikan dengan tepat dan nyaman,” kata pria yang juga adalah Patengen Agung MDA Provinsi Bali.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, menyampaikan pihaknya berharap pelatihan semacam ini akan membantu pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan sosialisasi risiko kesehatan kepada masyarakat Bali seperti misalnya isu rabies, stunting, PHBS dan risiko-risiko lainnya yang bisa dihadapi semua kelompok masyarakat Bali ke depan.

“Bagaimanapun kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama, itu sebabnya kita perlu tahu bagaimana cara melakukan edukasi yang benar. Saya berharap pelatihan ini akan membantu menjawab cara sosialisasi yang aksesibel dan inklusif di era media sosial,” tegas dr. I Nyoman Gede Anom.

Kelompok lansia, disabilitas, perempuan dan kelompok rentan lainnya merupakan kelompok yang sangat terdampak dalam krisis ketahanan kesehatan yang terjadi terkait pandemi COVID-19 maupun konteks krisis kesehatan lainnya. Proses adaptasi dan penerjemahan materi komunikasi risiko lewat media sosial yang aksesibel dan inklusif menjadi penting dan nyata untuk dapat menyampaikan pesan yang tepat sasaran dan nyaman bagi semua tingkatan masyarakat termasuk kelompok rentan, lanjut usia dan disabilitas.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini AIHSP Social Media Strategist Shafiq Pontoh, Mahalli dari Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya dan beberapa narasumber lainya. Di akhir acara tercipta beberapa video dan grafis konten komunikasi risiko kesehatan hasil karya peserta lokakarya yang dinilai langsung oleh tim penilai dari Diskominfos Provinsi Bali dan perwakilan komunitas penyandang disabilitas (Pertuni dan Gerkatin).

NY Korban Kekerasan, Aktivis Anak dan Perempuan Desak Kepolisian Melakukan Visum Et Repertum

DENPASAR – Pantaubali.com – Kasus kekerasan dan penelantaran anak terjadi di daerah,Sidakarya, Denpasar Selatan pada, Selasa,(19/7) lalu.

Korban berinisial NY (5) dengan pelaku, Dwi Novita Murni (33), asal Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi Jawa timur beralamat di Jalan Kertadalem sari II No. 8 Sidakarya, Denpasar Selatan dan Yohanes Paulus Maniek Putra.

Terkait kasus tersebut, Aktivis Anak dan Perempuan, Siti Sapurah alias Ipung mendesak pihak Kepolisian melakukan Visum Et Repertum.

Hal tersebut penting menurut Dirinya, agar tidak membuat anak menjadi trauma seumur hidupnya.

“Harus diselidiki jangan sampai disini saja.Cari semuanya, mengapa anak mengalami penyiksaan keji ini jika tidak ada sesuatu dan lain hal”, katanya, Jumat,(22/7) di Denpasar.

Selain itu menurut Ipung, Ibunya dalam kaitan dengan kasus tersebut, juga tidak boleh hanya dikenakan Pasal penelantaran saja karena, dia mengetahui kejadian tersebut namun diam saja dan tidak melakukan apapun, seharusnya dapat di masukkan ke pasal 55 KUHP.

“Ibu ini memiliki tanggung jawab besar, dia harus menjadi saksi fakta disini. Selain itu, dia harus jujur kepada pihak kepolisian apa dialami oleh anak tersebut”, paparnya.

Menurutnya Anak menjadi korban, itu menjadi tanggungan negara secara undang-undang jadi, secara berkala mereka yang ada di stake holder harus selalu mengawasi secara berkala dan mengawasi tumbuh kembang anak sampai dia berumur 18 tahun.

Selain itu, dalam hal ini pengawasannya juga tidak boleh di lepas sebelum si anak mendapatkan wali yang sebenarnya atau orang tua sebenarnya.

Yang mau mengasuh dengan baik dan menyelamatkan masa depannya sampai berumur 18 tahun.Jika tidak, negara harus berada di sebelahnya membantu dan menyelamatkan psikologis anak ini.

“Pengawasan dari negara sangat penting yaitu, melalui dinas sosial dan stake holder lainnya”, pungkasnya.

Menurut Dirinya, melihat adanya bekas gigitan di salah satu payudara korban yang dilakukan oleh pelaku.Berarti, sudah ada tindakan cabul dilakukan pelaku.

Ipung menambahkan, adapun termasuk kedalam pencabulan pada bagian tubuh si anak mulai, dilihat, disentuh, diraba, bahkan sampai digigit.

“Hal tersebut merupakan perbuatan cabul. Selain itu, bibir anak korban, payudara anak korban, alat kelamin korban vagina jika perempuan. Jika laki- laki alat penisnya, dan pantat atau lubang duburnya.Jika anak tersebut seorang laki-laki fedofil akan menyongkel lubang dubur”, pungkasnya.

Perluas Jaringan di Bidang Pangan, Pemkab Tabanan Jalin Kerjasama dengan PT. Food Station Tjipinang Jaya

TABANAN – Pantaubali.com – Komitmen meningkatkan ketahanan pangan yang berkeadilan di masyarakat, Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Perusahaan Daerah (Perusda) Dharma Santhika menjalin kerja sama di bidang pangan dalam rangka kolaborasi kerjasama pengembangan bisnis, salah satunya Beras dengan PT. Food Station Tjipinang Jaya yang merupakan salah satu BUMD Pangan di DKI Jakarta.

 

Kerjasama tersebut ditandatangani secara langsung oleh Direktur Utama PT. Food Station Tjipinang Jaya Pamrihadi Wiraryo, dengan Direktur Perusda Dharma Santhika Kompiang Gede Pasek Wedha, dan turut disaksikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan I Gede Susila, bersama para asisten dan OPD terkait di lingkungan Pemkab Tabanan, Kamis, (21/7) pagi di Kantor Bupati Tabanan.

 

Food Station Tjipinang Jaya merupakan salah satu dari 13 BUMD yang ada di DKI Jakarta yang memiliki aset sekitar Rp. 500 Miliar dan bergerak di ketahanan pangan. Dimana dalam ketahanan pangan tersebut, pihaknya mengelola ratusan pasar di Jakarta serta berfokus pada sumber protein yang salah satunya adalah daging, seperti daging ayam, sapi serta food station yang berfokus pada karbohidrat seperti, beras, gula, minyak goreng dan lain-lain.

 

Food station dikatakan oleh Pamrihadi, berdiri sejak tahun 1972 dan telah mengalami berbagai transformasi dan sampai saat ini fokus menangani pasar yang ada di Cipinang. Pihaknya juga mengatakan telah melakukan penjajakan ataupun sudah menjalin kerjasama dengan berbagai daerah di Indonesia dan telah mensuplai beras di 30 ribu outlet di seluruh Indonesia.

 

“Saat ini kami sedang menjalin kerjasama juga dengan Kalimantan Timur dalam rangka untuk pemenuhan kebutuhan calon Ibu Kota Baru,” ujarnya.

 

Melalui kerjasama ini, pihaknya juga berharap bisa memberikan pendampingan bagi Gapoktan yang ada di Kabupaten Tabanan. Dimana, Gapoktan berkolaborasi dengan Perusda menyediakan lahan dan petani melakukan penggarapan dan manajemen sesuai dengan SOP yang ditetapkan, sehingga mampu melakukan produksi varietas sesuai kebutuhan pasar yang diperlukan dan memastikan kualitas hasil panen agar lebih kompetitif.

 

Sekda I Gede Susila sangat menyambut baik kerjasama ini, dimana hal ini merupakan angin segar bagi perkembangan bidang pangan di Kabupaten Tabanan. Susila berharap, Perusda Dharma Santhika mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan di Kabupaten Tabanan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Dimana, Kabupaten Tabanan merupakan daerah agraris yang mayoritas penduduknya bergerak di sektor pertanian.

 

Untuk mencapai hasil yang optimal, pihaknya juga berharap adanya komunikasi dan koordinasi yang intens bagi semua pihak terkait agar kerjasama ini berjalan dengan optimal. Pihaknya sangat menekankan agar kerjasama ini dimaknai dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak hanya menjadi sekedar kerjasama semata namun menjadi sesuatu yang menghasilkan dan meningkatkan kualitas pertanian di Tabanan juga meningkatkan kesejahteraan para petani.(Rilis)

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Sebut Mencegah Stunting Itu Penting

DENPASAR – Pantau bali.com – Jika dilihat secara nasional, Bali memang menduduki tingkat terendah untuk stunting yang bertengger di angka 10,9 %. Namun dari sembilan Kabupaten Kota di Bali, masih terdapat empat (4) Kabupaten yang mencatat tingginya angka stunting di wilayahnya.

Uraian data ini mencatat bahwa empat Kabupaten tersebut adalah Karangan dengan tingkat penderita balita stunting sebanyak 22,9%, disusul Kabupaten Klungkung dengan tingkat stunting sebanyak 19,4%, kemudian Kabupaten Jembrana sebanyak 14,3% dan Kabupaten Bangli mencatat 11,8% angka stunting di tahun 2021.

“Angka-angka ini bukan hal yang memalukan atau aib, namun akan menjadi pemacu bagi kader TP PKK Provinsi Bali dan Juga TP PKK Kabupaten, Kecamatan hingga Desa untuk lebih aktif turun ke lapangan dan menyambangi penderita stunting secara langsung ke daerahnya. Penanganan penderita stunting dapat kita lakukan dengan lebih fokus kepada pemenuhan pada pemberian makan tambahan untuk mereka, sehingga setidaknya konsumsi makanan yang masuk ke tubuhnya menjamin untuk memberikan imun yang baik agar mereka tidak sakit karena virus-virus lain yang masuk dan berkembang di dalam tubuhnya,” kata Ketua Tim Penggerak Provinsi Bali Ny. Putri Koster dalam sambutannya sesaat sebelum membuka secara resmi Webinar yang diselenggarakan oleh Tim Penggerak PKK Provinsi Bali secara virtual, Buda Paing Klurut (20/7).

Untuk meminimalisir bahkan menghilangkan angka stunting di Bali secara nasional tentu saja dapat dilakukan apabila seluruh pihak, mulai dari kader TP PKK Kabupaten hingga tingkat Desa bersinergi membangun kerjasama yang aktif dalam mensosialisasikan dan mengedukasi para remaja, perempuan pra-nikah, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan untuk menjaga kesehatan tubuh, mulai dari penataan pola makanan yang sehat dan bergizi, pola tidur dan istirahat yang cukup, tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, meminimalkan paparan radiasi (penggunaan) gadget saat hamil, menjauhi minuman beralkohol dan rokok serta tidak membiarkan pikiran terpenuhi dengan beban yang nantinya menyebabkan munculnya stres.

“Selain pergerakan kader TP PKK yang ada di wilayah masing-masing, peran serta dan kesadaran remaja putri dalam menjaga kesehatan sebelum menikah dan kemudian hamil lalu melahirkan juga sangat penting. Salah satunya memahami apa itu penyebab lahirnya bayi stunting atau gagal tumbuh kembang, sehingga dapat dicegah terlebih dahulu”, bebernya.

Selain itu, dapat dilakukan dengan menambah konsumsi makanan bergizi termasuk vitamin yang berhubungan dalam menjaga kesehatan organ dalam tubuh, dan tidak lupa juga menambahkan konsumsi tablet penambah darah yang berfungsi menjaga peredaran darah merah dalam tubuh yang menjaga keseimbangan sirkulasinya.

Sembari Dirinya menyampaikan, untuk mencapai target penurunan angka stunting hingga 9,28% di tahun 2022 ini, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali mengajak seluruh kader Tim Penggerak PP Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan hingga tingkat Desa untuk turun bergerak melihat dan menangani langsung kondisi penderita stunting yang tercatat di data wilayahnya masing-masing (terutama 4 Kabupaten yang tercatat masih tinggi angka stuntingnya), sehingga adanya penanganan khusus untuk penderita stunting untuk mencocokan antara data dengan realitanya.

Selanjutnya, Pointer Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes menyampaikan, stunting adalah, kondisi gagal tumbuh dan kembang pada balita yang diakibatkan oleh gizi kronis 1000 hari pertama kehidupan (setelah dilahirkan).

Dan hal ini akan bisa dilihat atau diketahui setelah pertumbuhan balita di usia 2 tahun, yang ditandai dengan gagal tumbuh pada fisik (pendek dan kurus), mengalami hambatan kognitif dan motorik (IQ rendah) dan mengalami gangguan metabolik (cenderung kena penyakit stroke, diabetes, jantung dan lain-lain).

Setelah lahir, bayi juga harus mendapatkan perhatian yang lebih dari sebelumnya. Karena selain membutuhkan imunisasi yang lengkap, ASI yang cukup, asupan makanan dan gizi yang lengkap, tumbuh kembang bayi juga wajib diperhatikan setiap bulannya. Karena perkembangan berat dan panjang badan bayi sangat penting untuk mengetahui apakah bayi tersebut tumbuh baik dengan berat dan panjang yang standar ataukah belum, dari sinilah akan diketahui apakah pertumbuhan bayi tersebut termasuk stunting ataukah tidak.

“Kita selaku tenaga kesehatan, baik itu dari fasilitas kesehatan Posyandu ataukah Bidan harus tanggap dengan kondisi warga sekitar, terlebih mereka yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Karena cenderung keluarga yang kurang mampu akan tertutup informasi mengenai cara pencegahan stunting atau kegagalan tumbuh kembang bayi. Mereka yang kurang mampu juga tentunya akan memiliki keterbatasan ekonomi dalam memenuhi asupan gizi berupa vitamin atau tablet penambah darah. Selain itu kesempatan untuk memantau perkembangan bayi ke fasilitas kesehatan juga akan terhambat karena kondisi mereka. Hal ini harus di jemput bola atau setidaknya diberikan layanan khusus agar tidak sampai terlahir bayi stunting,” ungkap dr. Nyoman Gede Anom.

Peka terhadap kebutuhan warganya terkait asupan gizi dan makanan tambahan juga harus menjadi prioritas dalam memberikan layanan kepada warga, terutama ibu hamil, ibu menyusui pasca melahirkan. Selain mengkonsumsi tablet penambah darah, pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap ibu hamil dan juga balita adalah salah satu upaya mencegah terjadinya stunting bagi anak. Dirinya menambahkan, sehingga jumlah dan kasus ibu hamil KEK (kekurangan energi kronis) dapat diminimalkan.(Rilis)