Warga Juwuk Legi Ceritakan Teror Pencurian Ayam Selama Empat Bulan, Minta Kronologi Utuh Diusut Polisi

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Aksi pencurian ayam yang berulang selama hampir empat bulan terakhir disebut menjadi pemicu meningkatnya kewaspadaan warga di empat banjar di wilayah Kecamatan Baturiti. Maraknya pencurian tersebut bahkan membuat masyarakat mengintensifkan ronda malam hingga akhirnya berujung pada insiden yang kini tengah diproses hukum oleh Polres Tabanan.

Keresahan itu disampaikan Bendesa Adat Juwuk Legi I Nyoman Wirawan, Perbekel Desa Batunya Made Riasa, dan Perbekel Desa Antapan I Nyoman Astawa seusai pertemuan bersama warga di Balai Banjar Juwuk Legi, Selasa (28/7/2026).

Menurut mereka, aksi pencurian tidak hanya terjadi di Banjar Juwuk Legi, tetapi juga menyasar sejumlah banjar lain di wilayah Desa Batunya dan Desa Antapan. Sasaran pelaku diduga mayoritas ayam ras dan ayam impor bernilai tinggi yang dipelihara warga.

Perbekel Desa Antapan Nyoman Astawa mengungkapkan, sedikitnya 16 kasus pencurian telah terjadi di wilayahnya dalam kurun empat bulan terakhir. Dari sejumlah kejadian tersebut, lebih dari 100 ekor ayam dilaporkan hilang.

“Bahkan dalam satu malam pernah ada 18 ekor ayam yang hilang. Sebagian besar merupakan ayam impor yang nilainya mencapai jutaan rupiah per ekor sehingga kerugian warga cukup besar,” ujarnya.

Baca Juga:  Amuk Massa Berujung Maut, Lima Warga Ditetapkan Jadi Tersangka Dalam Kasus Maling Ayam di Baturiti

Maraknya pencurian membuat masyarakat memperketat pengamanan lingkungan. Pecalang bersama warga secara bergiliran melaksanakan ronda malam hampir setiap hari untuk mengantisipasi pelaku yang disebut kerap beraksi menggunakan sepeda motor Honda Scoopy berwarna hitam.

Perbekel Desa Batunya Made Riasa mengatakan, warga beberapa kali hampir berhasil menangkap terduga pelaku. Dalam salah satu kejadian, pecalang sempat menghadang sepeda motor yang diduga digunakan pelaku. Meski sempat terjatuh dan terkena pukulan pentungan, pria tersebut berhasil meloloskan diri.

“Sudah beberapa kali hampir tertangkap, tetapi selalu berhasil kabur,” katanya.

Situasi memuncak pada Jumat (24/7) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita ketika warga kembali memergoki seseorang yang diduga hendak melakukan pencurian di kawasan Banjar Juwuk Legi.

Baca Juga:  ASN Diskominfo Tabanan Ikuti Sensus Ekonomi 2026, Aktivasi IKD Dipercepat

Berdasarkan keterangan keluarga salah seorang tersangka, peristiwa bermula ketika seorang warga mendengar suara sepeda motor berhenti di dekat pondok. Saat dilakukan pengecekan, diduga terdapat seseorang yang hendak melakukan pencurian sehingga kulkul dibunyikan sebagai tanda bahaya dan mengundang warga berdatangan ke lokasi.

Pihak keluarga juga mengklaim terduga pelaku sempat mengancam warga menggunakan senjata tajam sebelum terjadi perkelahian yang berujung pada meninggalnya pria tersebut. Namun, keterangan itu masih menjadi bagian dari proses pembuktian dalam penyidikan kepolisian.

Peristiwa tersebut kini memasuki ranah hukum. Polres Tabanan telah menetapkan lima warga Banjar Juwuk Legi sebagai tersangka dalam perkara dugaan pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Baca Juga:  Polres Tabanan Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan yang Tewaskan Terduga Pencuri Ayam

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, tokoh masyarakat berharap aparat penegak hukum tidak hanya mengusut insiden yang berakhir dengan jatuhnya korban jiwa, tetapi juga menelusuri rangkaian dugaan aksi pencurian yang sebelumnya berulang kali terjadi di wilayah tersebut.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku turut menjadi korban pencurian. Ia kehilangan 35 ekor ayam hanya dalam dua kejadian berbeda.

“Dalam dua hari saya kehilangan 16 ekor, lalu beberapa hari kemudian hilang lagi 19 ekor. Belum lagi warga di banjar lain yang juga kehilangan belasan ekor ayam,” ungkapnya.

Warga berharap seluruh fakta yang melatarbelakangi peristiwa tersebut dapat menjadi bagian dari penyelidikan, sehingga penanganan perkara berlangsung secara menyeluruh, objektif, dan memberikan rasa keadilan bagi semua pihak.