PANTAUBALI.COM, TABANAN – Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, melaksanakan Sosialisasi Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu yang dirangkai dengan Sosialisasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta pengelolaan sampah berbasis sumber, Rabu (11/2/2026). Kegiatan digelar secara daring melalui zoom meeting dari Kantor Bupati Tabanan dan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Desa Denbantas.
Dalam kegiatan tersebut, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya yang akrab disapa Bunda Rai didampingi Sekretaris I TP PKK Kabupaten Tabanan beserta jajaran, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, perangkat daerah terkait, serta Perbekel Desa Denbantas.
Gerakan Kulkul merupakan program unggulan TP PKK Provinsi Bali yang dilaksanakan serentak setiap Minggu pertama setiap bulan, pukul 06.00 hingga 08.00 WITA. Program ini bertujuan membangkitkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali Bersih Sampah.
Dengan memanfaatkan kulkul berbahan bambu sebagai sarana komunikasi tradisional, masyarakat diberikan tanda persiapan dan tanda mulai kegiatan untuk secara serentak membersihkan pekarangan rumah, telajakan, balai banjar, hingga tempat-tempat suci.
Usai sosialisasi, Bunda Rai bersama rombongan meninjau langsung inovasi pengolahan sampah plastik yang digagas komunitas “Bali Harmoni” di Desa Denbantas. Komunitas tersebut mengusung semboyan “Mengubah Sampah Menjadi Berkah” melalui teknologi mesin pirolisis yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar seperti bensin, solar, dan minyak tanah.
Dalam kunjungannya, Bunda Rai mendatangi salah satu rumah tangga pelopor pengolahan sampah dari sumber yang dikelola Imam Kambali bersama timnya. Ia menyampaikan apresiasi atas terobosan tersebut yang dinilai sebagai solusi konkret dalam mengatasi persoalan sampah plastik.
“Inovasi ini sangat luar biasa. Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan bisa diolah menjadi bahan bakar yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Bunda Rai berharap inovasi pengelolaan sampah berbasis sumber ini dapat direplikasi di rumah tangga lainnya. Menurutnya, persoalan sampah telah menjadi isu serius yang membutuhkan komitmen bersama dan langkah berkelanjutan, dimulai dari kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga.
Ia menegaskan, upaya tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Imam Kambali menjelaskan, proses pengolahan plastik melalui mesin pirolisis memiliki sejumlah tantangan teknis, terutama saat musim hujan. Plastik yang akan diolah harus dalam kondisi benar-benar kering agar dapat diproses secara optimal.
“Hampir semua jenis plastik bisa diolah, kecuali PET seperti botol air mineral bening, PVC, dan PC. Plastik yang tidak bisa diproses melalui pirolisis diarahkan ke industri daur ulang untuk dicetak menjadi biji plastik,” jelasnya.
Selain plastik, komunitas tersebut juga mengelola sampah organik melalui sistem sirkular. Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan ikan, kemudian limbah kotoran ikan diolah menjadi pupuk untuk tanaman hortikultura seperti cabai dan pepaya. Dengan sistem ini, residu sampah yang tersisa hanya sekitar 1–2 persen.
Setiap minggu, warga yang telah memilah sampah dari rumah mengumpulkannya di satu titik untuk kemudian dijemput dan diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Melihat sistem yang berjalan efektif, Bunda Rai menilai inovasi tersebut berpotensi menjadi role model bagi desa-desa lain di Kabupaten Tabanan. Ia menegaskan komitmen TP PKK untuk terus mendorong penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.
“Jika dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi berkah. Ini contoh nyata yang patut dikembangkan,” tegasnya. (rls)

































