Kebun Lapas Tabanan Berdayakan Warga Binaan Lewat Program Asimilasi Bertani

Kebun seluas 16 are sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) bagi warga binaan Lapas Tabanan.
Kebun seluas 16 are sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) bagi warga binaan Lapas Tabanan.

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan mengelola kebun seluas 16 are sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) bagi warga binaan.

Di kebun ini, lima warga binaan terpilih mendapat kesempatan mengasah keterampilan bertani hingga beternak ikan. Upaya tersebut membuahkan hasil, karena berbagai komoditas pertanian yang dihasilkan bisa dijual dan dijadikan modal usaha untuk diputar kembali.

Kepala Lapas Kelas IIB Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menjelaskan, pembinaan di kebun memberikan dampak nyata. Beberapa mantan warga binaan bahkan telah sukses menerapkan ilmu yang didapat di Lapas.

Baca Juga:  Miris, PPPK Paruh Waktu Tabanan hingga Saat Ini Belum Terima Gaji

“Ada salah satu eks warga binaan yang kini berhasil beternak ikan gurami. Ia sempat menyumbangkan 500 bibit ikan untuk dikembangkan kembali di kebun Lapas,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Kebun yang berada di Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, ini ditanami berbagai komoditas seperti jagung, terung, cabai, hingga pohon kelapa.

Selain itu terdapat pula kolam ikan lele, mujair, dan nila. Setiap hari, lima warga binaan yang memenuhi syarat dan masa bebasnya sudah dekat ditugaskan untuk mengelola kebun dari pagi hingga sore.

“Risiko kabur kecil, karena rata-rata mereka sudah hampir bebas. Mereka juga sadar akan manfaat program ini,” kata Prawira.

Baca Juga:  Tumpek Uye, Komitmen Pemkab Tabanan Jaga Kearifan Lokal dan Harmoni Alam

Salah satu hasil paling menonjol dalam pengelolaan kebun adalah ternak ikan lele. Dari awalnya hanya 1.000 bibit, kini jumlahnya berkembang menjadi sekitar 4.000 ekor.

“Keuntungan penjualannya sebagian diberikan kepada warga binaan yang mengelola, sisanya kembali dipakai untuk modal,” jelasnya.

Hasil pertanian seperti jagung, terung, dan cabai sebagian besar dibeli oleh dapur Lapas Tabanan dengan harga mengikuti pasar. Begitu pula hasil panen ikan, misalnya lele yang beberapa waktu lalu laku Rp20 ribu per kilogram.

Baca Juga:  Peringati HPSN 2026, Bupati Sanjaya Pimpin Aksi Bersih Pantai Yeh Gangga

Selain kegiatan di kebun, Lapas Tabanan juga mengembangkan program Sangkar Emas, yang memasarkan berbagai produk kuliner buatan warga binaan, mulai dari pie susu hingga gorengan. Program ini sekaligus membantu pelaku UMKM lokal dengan menitipkan produk mereka untuk dijual di sana.

Namun, Prawira mengakui pemasaran produk masih terbatas di lingkungan Lapas. “Kami berharap lewat pemberitaan di media, masyarakat semakin mengetahui dan bisa mendukung produk hasil karya warga binaan,” ujarnya. (ana)