Diduga Sakit, Pria Asal Banyuwangi Meninggal Mendadak di Depan Warung Madura

Ilustrasi meninggal.
Ilustrasi meninggal. (Foto:pixabay)

PANTAUBALI.COM, TABANAN – Seorang pria asal Banyuwangi, Jawa Timur ditemukan meninggal dunia secara mendadak di depan sebuah warung madura di Banjar Badung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, Selasa (9/12/2025) pagi.

Korban diketahui bernama Suhaimi (61), warga Desa Dadapan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Ia sehari-hari bekerja sebagai tukang pande besi.

Kapolsek Kediri Kompol I Nyoman Sukadana membernarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan kejadian terjadi sekitar pukul 07.30 Wita dan pertama kali diketahui oleh saksi bernama Desy Arisandy yang sedang menyapu di halaman warungnya. Saat itu, saksi melihat korban membeli bensin di warung madura yang berada tepat di seberang jalan.

Baca Juga:  Nuanu Creative City Gelar Perayaan Imlek Empat Hari Berkonsep Mikro-Festival

“Setelah membeli bensin, korban hendak menstarter motornya. Namun tiba-tiba korban terjatuh dan saat didekati, dari mulut korban sudah keluar busa. Cek nadi pun menunjukkan korban sudah tidak bernyawa,” ujar Sukadana.

Saksi kemudian memanggil rekannya, Sujari, dan langsung menghubungi istri korban untuk memberitahukan kejadian tersebut. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan ke pihak kepolisian Polsek Kediri.

Baca Juga:  DPRD Tabanan Tindak Lanjuti Sidak, Soroti Lemahnya Perda dan Maraknya Pelanggaran Tata Ruang

Anggota Polsek Kediri yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara, meminta keterangan saksi, serta menghubungi keluarga korban dan Tim Inafis Polres Tabanan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diduga meninggal akibat sakit. “Korban memiliki riwayat stroke dan pernah menjalani perawatan di rumah sakit. Dugaan sementara, kematian korban disebabkan penyakit yang dideritanya,” jelas Kapolsek Kediri.

Baca Juga:  Program IKTE 2026 Resmi Dibuka, Guru Tabanan Berkesempatan Mengajar di Korea Selatan

Kini, jenazahnya telah dipulangkan ke kampung halamannya di Banyuwangi.

“Keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Mereka juga tidak melanjutkan kasus ini ke ranah hukum, yang sudah dinyatakan dalam surat pernyataan,” kata Kompol Sukadana. (ana)