- Advertisement -
Beranda blog Halaman 856

Bupati Suwirta Tinjau Alat Conveyor Di Kusamba

KLUNGKUNG – Pantaubali.com – Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan pemkab Klungkung I Ketut Suadnyana dan Camat Dawan I Dewa Gede Widiantara, meninjau Kinerja Alat Conveyor bertempat di TOSS Karangdadi Kusamba pada Minggu (4/4/2021).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Pemkab Klungkung I Ketut Suadnyana menyatakan bahwa alat pemilah sampah tersebut merupakan bantuan CSR dari Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI). Dengan menggunakan alat tersebut dapat menghasilkan residu 10-20%, sedangkan apabila melakukan proses secara manual dapat menghasilkan kurang lebih 30% Residu.

I Ketut Suadnyana menyampaikan Keunggulan dari alat ini, adalah pemilahan jauh lebih cepat, dan sampah dapat dipilah dengan baik, dari Segi Kesehatan Petugas juga lebih terjamin.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menyampaikan bahwa dengan adanya alat ini, campuran sampah anorganik  pada sampah organik yang diolah menjadi Pupuk Kompos menjadi berkurang.

Bupati Suwirta mengharapkan agar TOSS Center dapat menjadi tempat pengolahan sampah dan tempat edukasi serta menjadi tempat untuk menyelesaikan permasalahan  sampah di Kabupaten Klungkung.

“Mudah-mudahan dengan adanya alat Conveyor ini, dapat meringankan pekerjaan petugas pemilah sampah di TOSS Center,” ujar Bupati Suwirta.

Bupati Suwirta menambahkan Alat ini juga dapat membantu petugas untuk bekerja dengan baik dan focus, karena sedikit saja petugas lengah, maka plastic akan ikut masuk ke dalam sampah organik.

Terkait kesehatan petugas yang bekerja di Toss Center, Bupati Suwirta menugaskan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Pemkab Klungkung agar dapat menjaga kesehatan Petugas yang bekerja di TOSS Center Kusamba ini, dan kepada petugas, Bupati Suwirta berpesan agar tetap melaksanakan Protokol Kesehatan COVID-19 saat berada berada di tempat bekerja maupun di rumah masing-masing.

Bupati Suwirta juga mengharapkan dengan adanya alat seperti ini, pekerja harus bekerja dengan serius, fokus dan terstruktur. sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan lebih ringan dibanding dengan cara manual.

Bupati Suwirta mengapresiasi jasa dan semangat petugas pemilah sampah, sehingga dengan adanya mereka diharapkan Kabupaten Klungkung dapat terbebas dari sampah anorganik dan sampah organik dapat diolah dengan baik. (Humasklk/Cok)

Ny Putri Koster Turut ‘Ngelilit Sate’ di Bali Moela, Tejakula

 

BULELENG – Pantaubali.com  – Ketua TP PKK Bali Ny Putri Suastini Koster berkesempatan mencoba langsung pembuatan sate lilit khas Bali, di Dapur Bali Moela, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng pada Minggu (4/4) siang.

Pendamping orang nomor satu di Bali tersebut mengaku terkesan dengan tata cara pengolahan masakan khas Bali, yang keseluruhannya masih menggunakan cara tradisional seperti memanfaatkan arang, kayu bakar serta rempah-rempah lokal yang tidak ditambahkan penguat rasa.

Ny Putri Koster mengajak semua warga untuk bersyukur bahwa Bali punya kekayaan di ranah kuliner lewat aneka rupa racikan bumbu. Bumbu yang diracik tak hanya menambah kelezatan masakan khas Bali, namun juga punya manfaat bagi kesehatan tubuh. “Kita harus bersyukur bahwa bumbu Bali lengkap ternyata banyak mengandung zat-zat yang baik bagi tubuh, bahkan juga untuk pengobatan serkalipun,” katanya, mengingatkan.

Sementara itu, Gede Yudiawan, owner Dapur Bali Moela menyebutkan, bumbu Bali atau juga disebut basa genep, termasuk bumbu rajang, bumbu wangen dan yang lain, sebenarnya telah dibuat dengan cermat oleh nenek moyang orang Bali untuk tujuan pengobatan, karena sebagian besar terdiri atas rempah-rempah alami. “Bumbu Bali secara ilmiah terbukti mengandung zat yang menyehatkan,” ucapnya, menjelaskan.

Namun demikian, Yudiawan yang juga seorang Jero Mangku merangkap chef tersebut, mengungkapkan, saat ini sebagian besar manfaatnya berkurang karena mulai memasukkan unsur asing ke dalam bumbu Bali seperti MSG, tanaman dengan pestisida dan lain sebagainya. Akibatnya, peran basa genep sebagai obat sekaligus penyedap, menjadi cukup berkurang.

“Beberapa bahan utama bumbu Bali seperti kunyit atau lengkuas terbukti memiliki khasiat antibiotik dan antiseptik,” ujar Yudiawan dengan menambahkan, dalam proses menyembelih hewan piaraan orang Bali juga selalu meletakkan lengkuas di wadah darahnya untuk tujuan mematikan virus.

Per Kemarin,Tercatat 141 orang Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Berdasarkan data per kemarin (Sabtu,(3/4) tercatat pertambahan kasus terkonfirmasi sebanyak 141 orang (113 orang melalui Transmisi Lokal dan 28 PPDN),Sembuh sebanyak 179 orang, dan 5 orang Meninggal Dunia.

Jumlah kasus secara kumulatif,terkonfirmasi 40.318 orang,Sembuh 37.582 orang (93,21%),Meninggal Dunia 1.158 orang (2,87%) dan Kasus Aktif per hari ini menjadi 1.578 orang (3,91%).

SE Nomor 07 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Desa/ Kelurahan Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali, Surat Edaran ini mulai berlaku pada hari Selasa (Anggara Pon, Warigadean), tanggal 23 Maret 2021 sampai dengan ada pemberitahuan lebih lanjut. Hal ini merupakan upaya preventif pemerintah dalam menanggulangi meluasnya penyebaran virus Covid-19 di masyarakat.

Beberapa hal yang diatur antara lain, kegiatan di restoran/rumah makan/warung dan sejenisnya untuk layanan di tempat dilaksanakan maksimal 50% dari kapasitas normal, yang semula jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 21.00 Wita dilonggarkan dan dapat beroperasi sampai dengan pukul 22.00 Wita, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara lebih ketat.

Masyarakat juga diharapkan agar selalu Disiplin melaksanakan 6M,Memakai Masker Standar dengan benar,Menjaga Jarak,Mencuci Tangan,Mengurangi Bepergian,Meningkatkan Imun, dan,Mentaati Atura serta dihimbau untuk tidak berkerumun, dan membatasi kegiatan sosial sesuai dengan aturan yang berlaku.

Wagub Cok Ace : Vaksinasi Tiga Kawasan Zona Hijau Dekati Seratus Persen

DENPASAR – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyebut capaian vaksinasi di tiga kawasan yang ditetapkan sebagai zona hijau yaitu Ubud, Sanur dan Nusa Dua sudah mendekati seratus persen. Saat ini vaksinasi di tiga kawasan tersebut digenjot secara agresif hingga ditarget rampung pekan depan. Informasi tersebut disampaikan Wagub Cok Ace saat memantau pelaksanaan vaksinasi tahap ke-2 bagi pekerja industri keuangan dan perbankan yang dilaksanakan di Kantor Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali di Jalan Raya Puputan Niti Mandala Denpasar, Sabtu (3/4).

Lebih jauh Wagub Cok Ace mengurai, dari tiga kawasan zona hijau, capaian vaksinasi kawasan Ubud telah tuntas seratus persen. Hanya saja untuk kawasan inti Ubud yang awalnya dialokasikan 46 ribu dosis vaksin, hanya terpakai 32.400 karena ada warga Ubud yang telah terdaftar di tempat mereka bekerja seperti kantor pemerintahan atau hotel.

“Sehingga kelebihan vaksin kita distribusikan ke wilayah sekitar Ubud seperti Desa Mas, Singakerta dan Lodtunduh. Jadi cakupan vaksinasi kawasan Ubud menjadi lebih luas dan ini tentunya lebih baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk dua kawasan hijau lainnya yaitu Sanur, ia mendapat laporan bahwa realisasinya telah mencapai 93 persen dan ditarget rampung pada Minggu (4/4). Untuk kawasan Nusa Dua yang cakupannya paling luas dan target vaksinasi tercatat sebanyak 86 ribu orang, saat ini telah terealisasi sebanyak 67 ribu orang dan ditarget rampung 9 April 2021.

Terkait capaian vaksinasi pada tiga kawasan hijau yang sudah sesuai target dan tahapan, Guru Besar ISI Denpasar ini menyampaikan apresiasi atas semangat yang ditunjukkan warga serta dukungan dari berbagai komponen. Ditambahkan olehnya, lancarnya proses vaksinasi ini akan berkorelasi dengan rencana pembukaan Bali untuk wisatawan mancanegara yang diharapkan bisa sesuai jadwal yaitu bulan Juli 2021.

Terkait dengan rencana pembukaan Bali untuk wisman, sehari sebelumnya yaitu pada Jumat (2/4/2021), Wagub Cok Ace didampingi Sekda Dewa Made Indra, Kadis Pariwisata Putu Astawa dan Kadis Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya mengikuti rakor virtual rencana pembukaan Bali untuk wisman yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan RI. Wagub yang juga menjabat sebagai Ketua BPD PHRI Bali ini menambahkan, rakor akan rutin digelar setiap dua minggu untuk mengevaluasi perkembangan penanganan Covid-19 di Daerah Bali, termasuk program vaksinasi yang tengah berjalan. Pada kesempatan itu, Wagub Cok Ace kembali mengingatkan agar masyarakat jangan lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, sekalipun telah memperoleh vaksinasi.

Masih dalam arahannya, Penglingsir Puri Ubud ini juga mengapresiasi semangat jajaran perbankan dalam mendukung suksesnya program vaksinasi. Karena bagaimanapun, para pekerja perbankan termasuk dalam kelompok pelayan publik yang dalam tugasnya sering berinteraksi dengan masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam sambutan singkatnya menyampaikan bahwa pihaknya mengintensifkan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali guna mempercepat proses vaksinasi bagi pekerja industri jasa keuangan dan perbankan. Ia menyebut, total jumlah pekerja perbankan di Bali mencapai 25 ribu dan saat ini yang telah memperoleh vaksinasi tercatat sebanyak 2.800 orang. Menyesuaikan dengan ketersediaan vaksin, ia mohon dukungan Pemprov Bali agar proses vaksinasi bagi tenaga perbankan bisa dipercepat.

Sementara itu, Dirut BPD Bali I Nyoman Sudharma selaku tuan rumah menyampaikan terima kasih atas dukungan Wagub Cok Ace dan Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Trisno Nugroho sehingga vaksinasi bagi tenaga perbankan dapat dilakukan secara bertahap. Vaksinasi tahap ke-2 kali ini diikuti 500 peserta, 300 orang diantaranya merupakan karyawan BPD Bali, sementara 200 lainnya berasal dari perbankan lainnya.

Gubernur Koster: Pasemetonan Menjadi Bagian Jati Diri Masyarakat Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Bali terdiri dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya pasemetonan yang menjadi bagian sebagai jati diri masyarakat Bali. Eksistensinya tidak perlu diperdebatkan, namun patut tetap dijaga guna memperkaya khasanah budaya dan sejarah Bali secara turun temurun.

Demikian penegasan yang disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka Maha Sabha II Maha Gotra Tirta Harum di Gedung Wanita Nari Graha, Renon, Denpasar, Jumat (2/4)

“Seharusnya keberadaan pasemetonan bisa menjadi satu poin, untuk lebih memperkuat soliditas kita sebagai sesama krama Bali. Pasemetonan–pasemetonan yang sudah berdiri, saat ini eksis karena sejarah leluhurnya, sudah kuat, harus saling menjaga antar pasemetonan lainnya agar Bali lebih kuat,” kata Gubernur kelahiran salah satu desa tua di Bali, Sembiran, Buleleng.

Lebih jauh dalam sambutannya, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini juga menyebut pembangunan yang baik harus mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat Bali, baik alam, manusia dan kebudayaannya. Serta melibatkan semua komponen masyarakat, seluruh krama Bali apapun pasemeton-nya. Sesuai visi misi yang dilaksanakan Pemprov Bali saat ini Nangun Sat Kerthi Loka Bali

“Untuk itu, visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru, menjadi arah besar bagi pembangunan Bali saat ini,” ujarnya sembari menyatakan visi yang dijabarkan sesungguhnya merupakan visi yang disusun dengan berakar pada nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakat Bali.

“Saya sangat percaya membangun Bali tidak boleh sembarangan, sing dadi ngawag–ngawag, bise kena pastu, ini ada bhisamanya (kutukan : red),” tegasnya dengan logat Buleleng yang kental.

Di akhir sambutan, mantan anggota DPR RI tiga periode ini kembali mengingatkan warga pasemetonan untuk ikut andil dalam menjaga Bali dan mendukung pembangunan Bali.

“Saya berharap pasemetonan Tirta Arum bisa berperan sesuai kapasitasnya masing–masing, berada dalam satu barisan, tidak hanya untuk menyelesaikan permasalahan internal pasemetonan, namun juga kompak menjaga Bali, baik alam, sesama krama, dan budaya kita. Karena ada banyak permasalahan dan tantangan terhadap Bali ke depan,” tandasnya.

Ketua Panitia Mahasabha yang juga menjabat Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas petuah–petuah yang disampaikan Gubernur Bali. Diharapkan hal ini bisa menjadi cerminan bagi warga pasemetonan dalam menjalankan kehidupan organisasi serta selaku masyarakat Bali, dengan mendukung program – program yang dilaksanakan pemerintah.

Ia pun menyampaikan mahasabha tak hanya diikuti oleh pengurus kepanitiaan dari tingkat desa hingga provinsi se-Bali, namun juga warga pasemetonan selaku pengempon pura kawitan.

“Acara Mahasabha kali ini mengambil tema ‘Ngupadi Dharmaning Pasemetonan Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ atau dalam bahasa Indonesia bermakna Mewujudkan Spirit Pasemetonan dalam menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali. Tema ini sengaja diambil mengingat kesamaan Visi-Misi Pasemetonan MGTH dalam menuju Bali Era Baru,” ujarnya.

Dalam acara Mahasabha yang turut dihadiri Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa, juga dipaparkan sejarah singkat Maha Gotra Tirtha Harum yang berawal dari kedatangan Dang Hyang Subali dan Dang Hyang Jaya Rembat ke Bali tahun 1350 oleh Ketua Harian Mahagotra Tirta Harum Dewa Made Siangan.

Doni Monardo, Dorong Pemprov Bali Bentuk Satgas Karantina Khusus Cegah Penularan COVID-19 dari Luar Negeri

DENPASAR – Pantaubali.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali agar membentuk Satgas Karantina khusus untuk meningkatkan prosedur penanganan mobilitas Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) yang masuk ke wilayah Indonesia melalui Bali.

Melalui Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 bersama Pemerintah Provinsi Bali di Kantor Gubernur Bali di Denpasar, Bali, Kamis (1/4), Doni berharap pembentukan Satgas Karantina tersebut nantinya melibatkan seluruh komponen dari lintas Kementerian/Lembaga dibantu unsur TNI/Polri, sehingga penyelenggaraannya dapat dilakukan secara terstruktur dan mandiri.

“Diharapkan Satgas Karantina ini bisa mandiri dan seluruh unsur baik itu Kementerian/Lembaga ini berada pada satu komando, sehingga seluruh kedatangan WNA dan WNI di Bali itu betul-betul melalui prosedur kekarantinaan kesehatan sesuai ketentuan,” kata Doni.

Menurut Doni, hal itu penting dilakukan karena selain guna mengendalikan angka kasus aktif di Tanah Air, hal itu sekaligus guna mencegah adanya penularan _strain_ baru COVID-19 yang berpotensi terjadi dari lalu lintas manusia yang masuk ke wilayah Indonesia melalui Bali.

Terlebih momentum liburan panjang dan perayaan Hari Raya Idul Fitri dalam waktu dekat juga berpotensi memicu pergerakan masyarakat menjadi tinggi sekali dan harus diantisipasi agar tidak terjadi ledakan kasus COVID-19.

Apabila hal itu terjadi, maka harapan untuk membuka kembali denyut nadi perekonomian warga melalui sektor pariwisata dan budaya menjadi terkendala.

“Kalau ini tidak kita lakukan saya khawatir _strain_ baru dari beberapa negara menulari masyarakat kita di sini, akibatnya nanti harapan kita untuk membuka pariwisata di Bali akan terkendala,” ungkap Doni.

Lebih lanjut, Doni juga berharap melalui kinerja Satgas Karantina tersebut, ke depannya dapat segera memulihkan geliat ekonomi masyarakat.

Sebagaimana diketahui, selama pandemi melanda Tanah Air, wilayah Bali menjadi salah satu yang mengalami tekanan ekonomi akibat lumpuhnya sektor pariwisata dan budaya yang menjadi ikon dan daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai penyumbang devisa terbesar.

“Karena Bali secara nasional itu mengalami tekanan ekonomi yang sangat tinggi sekali. Jadi bagaimana supaya Bali tetap bisa _survive_ menghadapi COVID-19 tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat tetap berjalan. Walaupun mungkin belum optimal, tetapi jangan sampai terlalu tertekan. Jadi tidak terpapar COVID-19 dan tidak terkapar karena PHK,” jelas Doni.

Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia terus memberi dukungan kepada Pemerintah Provinsi Bali mulai dari Presiden Joko Widodo maupun beberapa Kementerian/Lembaga lainnya termasuk Satgas Penanganan COVID-19.

Adapun perhatian khusus itu dilakukan mengingat Bali juga menjadi ‘etalase’ Indonesia di mata dunia. Oleh sebab itu, apabila Bali dapat mengendalikan COVID-19 dengan baik, maka tingkat kepercayaan sekaligus wajah bangsa Indonesia juga akan semakin bagus lagi di mata internasional.

“Bali ini adalah pintu masuk dan juga menjadi etalase bangsa kita. Kalau Bali bisa mengendalikan COVID-19 dengan baik, maka pamor bangsa Indonesia di mata dunia internasional juga akan bagus sekali,” pungkas Doni.

Panitia Pemilihan Calon Bendesa Adat Bedha Tetapkan, Dua Calon Lolos Satu Calon Gugur

TABANAN – Pantaubali.com – Akhirnya panitia pemilihan Bendesa Adat Bedha,Tabanan periode 2021-2024 menetapakan dua calon tetap dan satu calon dinyatakan gugur.Adapun dua calon tetap tersebut masing-masing I Nyoman Surata dan I Gusti Putu Arnawadi sedangkan satu calon dinyatakan gugur yaitu, I Ketut Sutama.

Salah satu calon dinyatakan gugur (I Ketut Sutama) menurut Ketua Panitia Pemilihan Bendesa Adat Bedha, I Wayan Sudana dikarenakan, dari tujuh syarat-syarat adminitrasi calon Bandesa Adat ada dua tidak dipenuhi itu disampaikan Dirinya, Jumat,(2/4) sore di salah satu pelataran Pura Puseh Luhur Bedha di Desa Pakraman Bedha, Tabanan

“Ada dua point syarat membuat ada calon tidak lolos dalam pararem yang telah tertulis diberikan oleh Majelis Desa Adat seperti, tidak menjadi pengurus partai Politik dan tidak menjabat misalnya sebagai prebekel atau perangkat Desa,” sebutnya.

Dalam proses pelaksanaan pemilihan tentu sistem yang sehat telah dibangun.Yang mana, proses pemilihan Bendesa Adat Bedha melalui tahapan begitu panjang. Selain itu juga telah melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan majelis desa adat (MDA) Provinsi Bali.

“Berdasarkan peraturan adat yang mengacu pada juknis dari MDA Bali, siapapun boleh masuk kepanitiaan,” katanya.

Selain itu juga Pararem khusus ini juga telah disesuaikan dengan juknis diberikan MDA Bali dan Perda Desa Adat Bali Nomor 4 Tahun 2019.

“Pararem khusus tersebut dibuat dan lanjut berkonsultasi kembali ke MDA Bali barangkali ada yang salah atau kurang,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut masing-masing calon Bendesa Adat Bedha,Tabanan memberikan sedikit pendapat terkait proses pemilihan tersebut.Dimulai dari, calon dinyatakan gugur I Ketut Sutama menyampaikan, dalam kaitan dengan pemilihan per 2 April dirinya telah dinyatakan gugur dikarenakan ada 2 persyaratan tidak terpenuhi yaitu pada point 6 dan 7.

“Ini telah diberi catatan oleh panitia bahwasanya dalam point 6 dan 7 jika tidak dapat dipenuhi sampai 30 Maret tidak dapat dilengkapi maka, otomatis pencalonan saya gugur,” ucapnya.

Meskipun gugur menjadi calon tentu tetap berharap agar ruang demokrasi terbuka sebagai pembelajaran bagi masyarakat Bedha khususnya agar kedepan dapat lebih demokratis lagi.Agar tidak ada dalam pemilihan aklamasi-aklamasi lagi dan bisa menumbuhkan calon-calon di setiap banjar nantinya.

Selanjutnya I Nyoman Surata menyampaikan, dalam pelaksanaan proses ini setidaknya desa adat memiliki wawasan yang baik tentang adat,budaya dan agama.Selain itu jika dilihat saat ini Desa Adat Bedha telah mendapat apresiasi dari beberapa kemajuan telah terjadi oleh Desa Adat melalui beberapa unit usaha desa.

“Dengan kosep Panca Maha Bhuta maka, jika dilihat desa adat Bedha telah memiliki potensi yang sangat luar biasa,” katanya.

Selama ini sosialisasi dengan Pemerintah telah sering dilakukan baik dengan Pemerintah Kabupaten mapun Provinsi.Apa dirancang selama ini oleh Desa adat Bedha selalu disertai dengan kebersamaan Pemerintah.

Selanjutnya, salah satu calon kandidat definitif I Gusti Putu Arnawadi menolak penetapan verifikasi calon bendesa adat Bedha dengan alasan salah satunya dari proses pembentukan panitia terkait regulasi telah salah.Kenapa salah karena, jika dilihat dari 38 Banjar Adat seharusnya, harus mengadopsi semua utusan dari masing-masing banjar menjadi calon panitia.

Kemudian proses penjaringan dan sosialisasi calon jadi regulasi dari proses sosialisasi sama sekali tidak ada.Selanjutnya proses pemilihan musyawarah mufakat ini fremenya apa.Selain itu juga, jika dilihat panitia menjaring calon dan juga penitia menjalankan proses pemilihan tentu ini bisa dikatakan, juri jadi pemain istilahnya.

“Salah mereka (Panitia) dan mengatakan, benar-benar beliau (Panitia) ini lucu,” sebutnya.

Dalam hal ini Dirinya ingin memberikan pendidikan sebenarnya bahwasanya proses pemilihan Bendesa Adat ada transparansi dan keterbukaan tersebut harus jelas.

“Masa generasi kita kedepan diberi pelajaran model-model seperti ini,karena jika lihat generasi saat ini agak susah diajak ngomong “A” dan itu “B”,” tutupnya.

 

Hari Suci Paskah,Kapolres Sebut Situasi Kamtibmas di Tabanan Kondusif

TABANAN – Pantaubali.com- Dalam memperingati Hari Suci Paskah bagi umat kristiani hari ini(Jumat,(2/4) menurut Kapolres Tabanan AKBP Mariochristy P.S., Siregar mengatakan, situasi Kamtibmas di Tabanan khususnya dalam kondisi Kondusif.

Dalam upaya pelaksanaan pengamanan tersebut sebelum kegiatan persembahyangan dimulai dari melakukan sterilisasi terhadap Gereja tempat dipergunakan untuk melaksanakan persembahyangan Jumat Agung, Dengan tetap memperhatikan Protokol Kesehatan.

Dalam pengamanan tersebut Polres melibatkan beberapa personil yang siap melakukan pengamanan.

“Personil diturunkan dalam pengamanan mulai dari, Sabhara, Lalu lintas, Reskrim, Resnarkoba, Binmas, Intelkam, bersama sama dengan Jajaran Polsek se Polres Tabanan, bersinergi dengan TNI Kodim 1619 Tabanan dan Pam Swakarsa dari Pemuda Gereja serta dibackup Personil Polda Bali,” jelasnya.

Dirinya menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat di Tabanan agar semua berikhtiar dengan baik untuk bersama-sama menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif.Sembari menambahkan, terlebih lagi pada Pasca Pandemi Covid-19 agar masyarakat termasuk jemaat dapat melaksanakan persembahyangan dalam rangka Paskah, agar tetap mentaati protokol kesehatan.

PPKM Mikro Berbasis Desa Adat Berdampak Turunkan Angka Kasus Positif Covid-19 di Bali

DENPASAR – Pantaubali.com – Gubernur Bali yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Bali Wayan Koster memaparkan bahwa secara umum pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro dengan berbasis desa adat di Pulau Dewata berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari terus menurunnya angka kasus positif di Bali.

“Penambahan kasus harian terus menurun sejak diberlakukannya PPKM skala mikro di Bali. Begitupun tingkat kesembuhan yang kini ada di angka 93,10 persen, mortalitas di angka 2,86 persen dan kasus aktif di angka 4,05 persen,” sebut Gubernur dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 di Wilayah Bali serangkaian Kunjungan Kerja Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RI, bertempat di Ruang Rapat Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar pada Kamis (1/4).

Gubernur Koster juga memaparkan bahwa masyarakat kini semakin disiplin melaksanakan protokol kesehatan (prokes) serta menerapkan 6M. Ditambah lagi dengan pengawasan lapangan yang senantiasa dilaksanakan Satpol PP, TNi dan Polri.

“Ditambah adanya sanksi tegas kepada WNA yang melanggar prokes lewat sanksi Rp 1 juta hingga deportasi,” ujarnya lagi.

Pria kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini juga menjelaskan bahwa pelaksanaan percepatan vaksinasi juga terus dilaksanakan secara masif di Bali dengan target sebanyak 70 persen penduduk Bali atau setara jumlah 3 juta orang. Program ini dalam data sudah memvaksinasi sebanyak lebih dari 580 ribu orang, dengan 380 ribu diantaranya mendapatkan vaksinasi pertama. Vaksinasi tersebut dilaksanakan dengan sasaran prioritas dan khusus yakni zona hijau Ubud, Nusa Dua dan Sanur. Vaksinasi juga dilaksanakan secara linear di fasilitas-fasilitas kesehatan, dibantu vaksinator TNI/Polri.

“Target kami pelaksanaan vaksinasi di kawasan hijau selesai ini sampai Juni 2021 dan kawasan lain menunggu kedatangan vaksin dari pusat,” katanya,

Alumnus ITB Bandung ini juga mengaku mendukung pelarangan tradisi mudik jelang Lebran yang diharapkan mampu mengurangi resiko peningkatan penularan akibat perpindahan warga dari daerah lain.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Nasional Letjen TNI Doni Monardo menegaskan bahwa rencana pembukaan pintu pariwisata Bali harus tetap dibarengi penerapan protokol kesehatan yang ketat terutama terkait masalah karantina.

“WNA yang masuk ke Bali diharuskan menjalani protokol kesehatan yang berlaku sesuai SE Satgas COVID-19 Nomor 8 Tahun 2021, Yakni mulai dari dua kali tes PCR hingga karantina selama lima hari,” terang Doni.

Bali seperti dikatakan Doni, merupakan suatu etalase bagi indonesia di mata dunia. Di mana baik buruknya penanganan Covid-19 di Bali akan sangat berdampak kepada pamor Indonesia di mata dunia internasional.

“Untuk itu, arahan Bapak Presiden jelas, Bali hrus dijadikan prioritas utama dalam penanganan Covid-19. (Pemerintah, red) pusat dari awal sudah komitmen tentang hal itu,” ujarnya.

Menurut Doni, berdasarkan pengalaman selama ini perlaku warga negara asing belum bisa dikatakan sepenuhnya disiplin dalam prokes sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. Terlebih belakangan muncul strain baru virus Covid-19 yang membuat beberapa negara kembali melakukan lockdown.

“Untuk itu, kita ingin penanganan pelaku perjalanan terutama WNA di Bali bisa dilaksanakan secara terintegrasi, dengan membentuk satuan tugas khusus yang menangani kekarantinaan.Kedatangan WNA harus kita pastikan (bebas Covid-19, red) dengan diagnostik yang memadai karena kalau kita biarkan, prokes-nya kita kendurkan. Maka pasti akan terjadi kenaikan kasus,”paparnya.

Menurut Doni lagi, meski PMI maupun WNA yang tiba di Indonesia sudah membawa surat hasil keterangan negatif COVID-19 dari negara asal, namun tidak menjamin mereka terbebas dari infeksi virus corona.

Ada beberapa repatriasi yang juga baru ditemukan positif corona saat dilakukan pemeriksaan Swab kedua, atau pada hari kelima pelaksanaan karantina.
Dari data yang dipaparkan, total repatriasi yang positif corona per 28 Desember 2020-31 Maret 2021 berjumlah 2.102 orang. Dengan rincian, 1.444 orang positif di Swab pertama dan 658 orang di Swab kedua.

“Setelah dikarantina 5×24 jam, Swab kedua, apa yang terjadi? Masih terjadi 658 orang yang positif COVID. Pertanyaannya, di mana bisa kena? Bisa jadi keberangkatan belum terinfeksi, atau terpaparnya di dalam pesawat,” ucap Doni.

Tak hanya bagi WNI, pihaknya juga menemukan juga banyak WNA yang didapati positif corona, meski sudah membawa surat hasil negatif PCR dari negara asalnya.

Selain itu, dirinya juga mendukung penuh penerapan disiplin prokes yang juga memberikan sanksi baik administratif atau denda hingga proses seportasi bagi WNA yang kedapatan melanggar.

“Ketegasan seperti ini tentu saya apresiasi karena pada dasarnya kita tetap harus menjaga keselamatan warga kita. Dan jangan karena orang asing kita semua yang kena (infeksi virus, red). Sanksi yang ada sudah cukup bagus dan adil, tinggal pelaksanaannya saja, “ tegasnya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk mengedepankan kesabaran dalam menghadapi pandemi yang masih belum jelas kapan akan berakhir.

Perkemarin, Terkonfirmasi Covid-19 Tercatat 172 orang di Bali

DENPSAR – Pantaubali.com – Berdasarkan data tercatat pertambahan kasus per kemarin,(1/4) tercatat terkonfirmasi sebanyak 172 orang (144 orang melalui Transmisi Lokal, 27 PPDN dan 1 PPLN),sembuh sebanyak 182 orang, dan 9 orang Meninggal Dunia.

Jumlah kasus secara kumulatif terkonfirmasi 40.008 orang, srmbuh 37.268 orang (93,15%), dan meninggal Dunia 1.147 orang (2,87%) dan kasus aktif per hari ini menjadi 1.593 orang (3,98%).

SE Nomor 07 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Desa/ Kelurahan Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali, Surat Edaran ini mulai berlaku pada hari Selasa (Anggara Pon, Warigadean), tanggal 23 Maret 2021 sampai dengan ada pemberitahuan lebih lanjut. Hal ini merupakan upaya preventif pemerintah dalam menanggulangi meluasnya penyebaran virus Covid-19 di masyarakat.

Beberapa hal yang diatur antara lain, kegiatan di restoran/rumah makan/warung dan sejenisnya untuk layanan di tempat dilaksanakan maksimal 50% dari kapasitas normal, yang semula jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 21.00 Wita dilonggarkan dan dapat beroperasi sampai dengan pukul 22.00 Wita, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara lebih ketat.

Masyarakat juga diharapkan agar selalu Disiplin melaksanakan 6M, Memakai Masker Standar dengan benar,Menjaga Jarak,Mencuci Tangan,Mengurangi Bepergian,Meningkatkan Imun, dan Mentaati Aturan serta dihimbau untuk tidak berkerumun, dan membatasi kegiatan sosial sesuai dengan aturan yang berlaku.