- Advertisement -
Beranda blog

Duta Badung Tampilkan “Baradwara”, Angkat Spirit Penyucian Diri di Wimbakara Balaganjur Remaja PKB 2026

Duta Badung Tampilkan “Baradwara”, Angkat Spirit Penyucian Diri di Wimbakara Balaganjur Remaja PKB 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Kabupaten Badung kembali menunjukkan kualitas garapan seni tradisinya dalam ajang Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil sebagai peserta pertama di panggung terbuka Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, Kamis (18/6/2026) malam, Duta Badung yang diwakili Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, sukses menyuguhkan penampilan memikat melalui karya bertajuk Baradwara.

Garapan tersebut terinspirasi dari ritual sakral Sanghyang Jaran yang hidup dan berkembang di Pura Dalem Solo, Desa Adat Sedang. Melalui konsep artistik yang kuat, Baradwara mengangkat makna perjalanan spiritual manusia menuju penyucian diri, sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya Bali.

Secara filosofis, Baradwara dimaknai sebagai “Gerbang Api”, simbol ruang transisi yang menjadi tempat peleburan berbagai kekotoran lahir dan batin sebelum seseorang mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Api dalam karya ini diposisikan sebagai media pemurnian sekaligus simbol transformasi spiritual.

Koreografer tari dan gerak, Ida Bagus Yodhie Harischandra, menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan sajian yang matang.

“Persiapan sudah berlangsung sekitar enam bulan. Para penabuh direkrut dari sejumlah sekaa di Desa Sedang dan kemudian disatukan menjadi satu barungan untuk tampil pada lomba tahun ini,” ujarnya usai pementasan.

Menurut Yodhie, tantangan terbesar selama proses penggarapan adalah menyelaraskan jadwal latihan para seniman yang memiliki aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Namun kondisi tersebut justru menjadi pembelajaran penting dalam membangun kekompakan tim.

“Kami belajar menyatukan waktu, rasa, dan semangat dalam berkarya. Itu menjadi proses yang sangat berharga bagi seluruh pendukung garapan,” katanya.

Sebagai juara bertahan pada Wimbakara Balaganjur Remaja PKB tahun 2025, Duta Badung tetap optimistis menghadapi kompetisi tahun ini. Kendati demikian, pihaknya tidak ingin terlalu terbebani oleh target mempertahankan gelar.

“Yang terpenting seluruh tim sudah memberikan kemampuan terbaik. Soal hasil akhir, kami serahkan kepada dewan juri. Bagi kami, pencapaian itu adalah bonus dari kerja keras yang telah dilakukan bersama,” ujarnya.

Dari sisi musikal, Baradwara menghadirkan komposisi yang berlandaskan konsep tri angga dengan pengolahan ritme dan dinamika yang menggambarkan karakter Sanghyang Jaran yang energik, lincah, dan penuh kekuatan. Struktur musikal yang dibangun mampu menghadirkan nuansa magis sekaligus heroik sepanjang pementasan.

Eksplorasi bunyi ceng-ceng menjadi salah satu kekuatan utama karya ini. Permainan ritme yang kompleks dipadukan dengan stimulasi musikal dari Gending Sanghyang Jaran khas Desa Adat Sedang, menciptakan atmosfer yang kuat dan sarat makna spiritual.

Kombinasi antara komposisi musik, koreografi, dan eksplorasi ritmis tersebut berhasil menghadirkan representasi perjalanan jiwa menuju pemurnian. Penampilan Duta Badung pun mendapat apresiasi dari penonton yang memadati arena pertunjukan.

Karya Baradwara dikonseptualisasikan oleh I Gusti Made Darma Putra. Komposisi musik digarap oleh I Made Adipramana Suparsa bersama I Nyoman Arista Adiwijaya, sementara koreografi ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra dan Komang Jana Arta Suputra.

Melalui garapan ini, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kemampuan teknis dalam seni balaganjur, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis tentang pentingnya penyucian diri dan keseimbangan spiritual sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bali. (rls/kmf)

Duta Badung Angkat Realitas Sosial Lewat Taman Penasar, Pesan Menyama Braya Menggema di PKB 2026

Duta Badung Angkat Realitas Sosial Lewat Taman Penasar, Pesan Menyama Braya Menggema di PKB 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara Taman Penasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 berhasil memukau ratusan penonton yang memadati Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6/2026). Melalui garapan berjudul Upahayu Atmeng Tanu, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru dari Desa Adat Tanjung Benoa menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat kritik sosial dan pesan moral.

Tokoh Wayan yang menjadi sentral cerita tampil dengan karakter emosional dan lugas. Berbagai dialog yang disampaikan mengundang tawa penonton, namun di balik kelucuan tersebut terselip refleksi mendalam mengenai kehidupan masyarakat adat Bali masa kini, mulai dari nilai menyama braya hingga tantangan ekonomi yang dihadapi warga dalam menjalankan kewajiban adat.

Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, I Wayan Citra, menjelaskan bahwa karakter Wayan sengaja dihadirkan sebagai gambaran realitas sosial yang kerap dijumpai di tengah masyarakat.

“Tokoh Wayan merepresentasikan pola pikir yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, yakni melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang sehingga mudah terpancing emosi tanpa memahami kondisi yang sebenarnya,” ujarnya usai pementasan.

Dalam alur cerita, Wayan digambarkan marah karena tidak menemukan istrinya di rumah saat dirinya lapar. Namun seiring berjalannya cerita, ia akhirnya memahami bahwa sang istri sedang melaksanakan kewajiban sosial di lingkungan adat. Kesadaran tersebut tumbuh melalui berbagai petuah dan ajaran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat dalam pertunjukan.

Puncak cerita ditandai dengan perubahan sikap Wayan setelah memahami makna kebersamaan dan keseimbangan hidup. Nilai-nilai itu disampaikan melalui berbagai bentuk sastra Bali, mulai dari sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka hingga palawakya yang menjadi ruh utama pertunjukan.

Menurut I Wayan Citra, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara kewajiban adat dan kebutuhan ekonomi keluarga.

“Yadnya dan ekonomi harus berjalan beriringan. Terlalu fokus mencari penghasilan tanpa menjalankan kewajiban sosial tidak baik, namun sebaliknya jika hanya berkonsentrasi pada yadnya tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga juga akan menimbulkan persoalan,” jelasnya.

Garapan yang membawakan naskah karya I Nyoman Wija Widastra tersebut mengusung tema Upahayu Atmeng Tanu, yang bermakna memelihara kesucian Sang Hyang Atma yang bersemayam dalam diri manusia. Tema ini selaras dengan semangat PKB 2026 yang menekankan pentingnya penyucian jiwa dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.

I Wayan Citra menuturkan, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru yang berdiri sejak 9 Juli 2005 terus berkomitmen menjaga eksistensi seni tradisi Bali. Berbagai prestasi telah diraih, termasuk keberhasilan meraih juara pada ajang Wimbakara Taman Penasar beberapa tahun lalu.

Pada PKB tahun ini, tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses perekrutan peserta karena adanya pembatasan usia peserta lomba antara 17 hingga 28 tahun. Meski demikian, sanggar tetap berupaya maksimal dengan melibatkan seluruh personel muda yang berasal dari wilayah Kuta Selatan.

“Kami sempat mengalami kesulitan mencari personel yang memenuhi syarat usia dan memiliki waktu untuk berlatih. Namun berkat semangat kebersamaan, seluruh tim mampu melewati proses tersebut hingga akhirnya tampil di PKB,” katanya.

Melalui penampilan tersebut, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kualitas seni pertunjukan tradisional, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali pentingnya menjaga harmoni antara kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual sebagai bagian dari jati diri masyarakat Bali. (rls/kmf)

Calonarang “Geseng Waringin” Duta Badung Memukau Penonton PKB XLVIII 2026

Calonarang "Geseng Waringin" Duta Badung Memukau Penonton PKB XLVIII 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Pergelaran Calonarang bertajuk Geseng Waringin yang dibawakan Sanggar Seni Majalangu, Banjar Padang, Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, sukses memukau penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, Selasa (16/6/2026). Pementasan tersebut hadir sebagai Duta Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Mengusung tema spiritual yang sejalan dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, pertunjukan tersebut mengangkat kisah pertemuan Mpu Bharadah dengan Walunateng Dirah atau Calonarang. Lakon ini sarat pesan moral tentang pentingnya menjaga kesucian hati dan pikiran sebagai landasan menjalani kehidupan.

Ketua Sanggar Seni Majalangu, I Made Agus Adi Santikayasa atau yang akrab disapa Gus Cupak, mengatakan pemilihan lakon Geseng Waringin didasarkan pada relevansinya dengan tema besar PKB 2026.

Menurutnya, dalam alur cerita yang ditampilkan, Mpu Bharadah memberikan wejangan kepada Walunateng Dirah agar selalu menyadari jati dirinya dan senantiasa berbuat baik.

“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga kebersihan hati dan pikiran. Dari hati yang bersih akan lahir perkataan dan tindakan yang baik sehingga kesucian atma tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menilai nilai-nilai yang terkandung dalam kisah tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Kebersihan hati dan pikiran menjadi kunci terciptanya ketenangan, termasuk dalam melahirkan ide-ide kreatif bagi para seniman.

Pementasan kali ini melibatkan sekitar 75 seniman yang mayoritas berasal dari kalangan generasi muda. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya regenerasi dan pelestarian seni tradisi di Kabupaten Badung.

“Kami sengaja memberi ruang lebih besar kepada seniman muda untuk tampil dan berproses. Ini menjadi bagian dari regenerasi seni budaya yang harus terus dijaga,” kata Gus Cupak.

Ia menjelaskan persiapan pementasan telah dilakukan sejak akhir Februari 2026 sehingga para pendukung acara memiliki waktu yang cukup untuk mematangkan garapan secara optimal.

Sebagai perwakilan Kabupaten Badung, pihaknya juga mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan PKB yang selama ini menjadi ruang ekspresi sekaligus wahana pelestarian seni budaya Bali.

“PKB telah menjadi euforia bagi para seniman Bali. Kami berharap agenda budaya ini tetap terjaga dan berkelanjutan sebagai ikon kebudayaan Bali,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan seni dan budaya melalui berbagai program pembinaan yang langsung menyentuh masyarakat.

Salah satu program yang dikembangkan pada tahun 2026 adalah Banjar Menari, yang dilaksanakan mulai dari tingkat desa dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang seni tari maupun seni tabuh.

“Saat ini program Banjar Menari telah berjalan di 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung. Program ini menjadi wadah pembinaan sekaligus penguatan potensi seni budaya di masyarakat,” jelasnya.

Menurut Sukadana, hingga kini program tersebut berjalan dengan baik dan akan terus dievaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya.

Ia menambahkan, PKB memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Bali sekaligus menjadi sarana pengembangan kreativitas para seniman daerah. Hal tersebut juga sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Badung dalam mewujudkan pariwisata berkualitas berbasis budaya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Badung mengalokasikan anggaran sekitar Rp7 miliar untuk mendukung partisipasi seniman dalam PKB XLVIII Tahun 2026.

“Ini merupakan wujud keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan dan menggali potensi seni budaya yang dimiliki Kabupaten Badung,” tegasnya.

Melalui dukungan tersebut, Pemerintah Kabupaten Badung berharap seni budaya Bali tidak hanya tetap lestari, tetapi juga semakin berkembang sebagai salah satu fondasi utama pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (rls/kmf)

Bupati dan Wakil Bupati Tabanan Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026

Bupati dan Wakil Bupati Tabanan Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Menyambut Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, S.Sos., atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan menyampaikan ucapan selamat serta doa terbaik kepada seluruh umat Hindu, khususnya masyarakat Kabupaten Tabanan.

Hari Raya Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Dungulan, Rabu (17/6/2026), dan Hari Raya Kuningan pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, Sabtu (27/6/2026), merupakan momentum suci yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Melalui perayaan ini, umat Hindu diajak untuk semakin memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai momentum mempererat persatuan, kebersamaan, serta semangat gotong royong dalam membangun Kabupaten Tabanan. Menurutnya, makna kemenangan Dharma hendaknya tercermin melalui sikap saling peduli, saling menguatkan, dan bekerja bersama demi kemajuan daerah.

“Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan Tahun 2026 kepada seluruh umat Hindu di manapun berada, khususnya masyarakat Tabanan yang kami cintai. Semoga Hari Raya Galungan dan Kuningan menjadi momentum suci untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, meneguhkan kemenangan Dharma melawan Adharma, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Mari jadikan momentum ini sebagai penyemangat untuk terus bersatu, bergotong royong, saling menguatkan, saling peduli, dan bekerja bersama dalam mewujudkan Kabupaten Tabanan yang Aman, Unggul, dan Madani,” ujar Sanjaya.

Lebih lanjut, Sanjaya juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam melakukan pemilahan sampah, terutama setelah pelaksanaan karya dan rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan, guna menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan di seluruh wilayah Tabanan.

“Saya juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan pemilahan sampah secara cermat, khususnya setelah pelaksanaan karya dan rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Dengan kesadaran dan partisipasi bersama, kebersihan, keasrian, dan kenyamanan Kabupaten Tabanan dapat terus terjaga di seluruh lini masyarakat,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai menyama braya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Menurutnya, semangat Galungan dan Kuningan harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sosial untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat keharmonisan di tengah masyarakat.

“Melalui semangat Galungan dan Kuningan, mari kita rawat nilai-nilai menyama braya, mempererat persaudaraan, dan memperkuat budaya gotong royong sebagai landasan membangun Tabanan yang harmonis, maju, dan sejahtera. Semoga kehadiran hari suci ini membawa kedamaian, kebahagiaan, serta kekuatan bagi kita semua dalam menjalankan swadharma di tengah kehidupan bermasyarakat,” pungkas Dirga. (rls/tbn)

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (lomba) gender tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Senin (15/6/2026). Dalam penampilannya empat peserta putra dan putri dari Sanggar Batel Giri Sunari, Banjar Busana, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal dengan membawakan tiga gending. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 ini, mereka berhadapan dengan pesaing yakni Duta Kabupaten Karangasem.

Pembina Tabuh, I Made Gawi Antara mengatakan, ada empat orang yang tampil dalam gender anak-anak ini. Namun sebelum tampil sejumlah persiapan telah dilakukan untuk tampil mewakili Kabupaten Badung dalam ajang PKB 2026. Terlebih penampilan dari Sanggar Batel Giri Sunari ini adalah yang pertama kalinya.

“Penampilan ini adalah yang pertama kali dari Sanggar Batel Giri Sunari. Persiapannya sudah dari bulan Januari. Sebelumnya juga ada persiapan untuk mempersiapkan diajang yang bergengsi ini,” ujar Gawi Antara.

Pihaknya menyebutkan, dalam penampilan ini ada tiga gending yang dibawakan, yakni Cangak Merengang, Pemungkah Wayah, dan Mesem. Sebelum tampil sanggar binaannya pun mengikuti seleksi yang telah digelar oleh Pemkab Badung. Mengingat saingan dalam lomba gender anak-anak ini lumayan kuat.

“Persaingannya lumayan, karena Gender Wayang ini kan ajang yang bergensi di PKB. Hampir setiap kabupaten, sudah pasti kalau sudah ke PKB-kan mempersiapkan diri untuk mewakili itu. Pasti ada seleksi. Seleksi yang terbaik, mewakili kabupaten dalam ajang itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gawi Antara berharap, dapat meraih juara dalam lomba gender wayang anak-anak ini. Lantaran hal ini pun akan menjadi sebuah kebanggaan bagi peseeta, sanggar, maupun Kabupaten Badung. “Harapannya Jayanti. Kita membawa nama Badung, otomatis, kalau boleh, jangan minta juara lebih-lebih, juara satu lah,” paparnya.

Pembina Tabuh lainnya, I Gede Kristya Dika Santana pun menambahkan, dalam ajang ini sebenarnya adalah untuk pelestarian seni dan budaya Bali. Terlebih setiap kabupaten/kota memiliki ciri khasnya tersendiri dalam setiap penampilan. “Tujuan utamanya yang pasti kan pelestarian. Pelestarian seni, penggalian seni-seni, karena setiap kabupaten memiliki style, memiliki ciri khas atau karakter masing-masing,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Wayan Wiryadi menyatakan, gender wayang adalah sebuah permainan alat musik yang sangat langka dan sulit. Namun menjadi progres yang sangat membanggakan ketika mampu tampil dengan memukau.
“Astungkara apa yang terlihat dan disampaikan selama ini, anak-anak kami itu sudah luar biasa untuk penampilan ini, dan semoga pada hari ini mendapatkan hasilnya maksimal,” ujar Wiryadi.

Dirinya juga menyatakan, Pemkab Badung telah memberikan pembinaan dan motovasi semaksimal mungkin. Sebelum penampilan ini juga telah dilakukan seleksi selama dua bulan. “Harapannya adalah dalam proses ini, Badung tetap sempurna, tetap berprestasi,” imbuhnya. (rls/kmf)

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

MANGUPURA, PANTAUBALI.COM – Tercatat 9 peserta dari Kabupaten Badung unjuk kebolehan di ajang Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48, di pelataran Museum Taman Budaya Art Center, Senin (15/6/2026). Dari sembilan peserta, dua di antaranya duta Badung resmi sehingga mendapat gemblengan dari sanggar dan tujuh peserta dari kalangan umum lewat link yang disiapkan panitia.

Dua peserta yang merupakan duta Badung memperoleh gemblengan dari Sanggar Krisnarupa yang beralamat di Abianbase. Hal ini diakui oleh Ketua Sanggar Krisnarupa Ngurah Alit Kapakisan.

Ditemui di arena lomba, Alit Kepakisan menyatakan, dua orang peserta merupakan permintaan resmi dari panitia ke Disbud Badung. Karena itu, hanya dua peserta yang memperoleh pembinaan dari Sanggar Krisnayuda Abianbase. Persiapan yang dilakukan, ungkapnya, melakukan latihan sejak Februari sampai sekarang.

“Persiapannya mulai penentuan tema yang menyesuaikan dengan tema PKB sekarang yakni Atma Kerthi. Selanjutnya menggelar latihan sket serta latihan mewarnai. Proses itu sudah kami lalui dan sudah kami maksimalkan untuk tampil di ajang PKB kali ini. Astungkara ke depannya bisa mendapatkan juara,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Badung Made Adi Adnyana. Menurutnya, Dinas Kebudayaan hanya men-support dari sisi anggaran yang dibutuhkan, sementara secara teknis melukis dan kreativitasnya diserahkan sepenuhnya kepada pihak sanggar. “Kami hanya men-support dari sisi anggaran,” tegasnya.

Soal peserta Badung tercatat 9 orang, sementara yang mendapat pembinaan hanya dua orang, Kabid Adi Adnyana memastikan bahwa secara resmi sesuai undangan, Badung hanya mengirim dua duta sebagai peserta. “Tujuh lainnya berasal kategori umum yang mendaftar lewat link panitia PKB. Karena itu, pihak Disbud hanya memberikan pembinaan kepada dua orang peserta yang secara resmi menjadi duta Badung di ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik ini,” ungkapnya.

Di sisi lain Dewan Juri Made Yasana didampingi dua juri lainnya Ni Made Rinu dan Made Bendi Yudha memaparkan ketentuan umum wimbakara ini. Peserta wimbakara adalah perorangan dan/atau umum, pria maupun wanita dengan jumlah maksimal 100 orang peserta. Peserta sebagai duta kabupaten/kota maksimal 2 orang peserta. Selanjutnya, peserta berusia 13 hingga 18 tahun (terhitung pada tanggal 31 Desember 2026) dan dibuktikan dengan mengirimkan fotokopi identias diri berupa KIA/KTP/Kartu Keluarga/surat keterangan siswa dari kepala sekolah peserta bersangkutan.

Ketentuan lainnya, ujarnya, peserta tampil dengan menggunakan busana adat Bali madya. “Peserta diwajibkan menggunakan busana Bali madya,” ujarnya.

Ditanya ketentuan khusus, Made Yasana mengungkapkan, karya seni lukis wayang klasik mengacu pada seni lukis wayang gaya Kamasan, selanjutnya relevan dengan tema PKB ke-48 tahun 2026. Karya seni lukis wayang klasik Bali dibuat di atas kertas gambar (ukuran kertas A3) yang disediakan panitia, dengan orientasi bebas, sedangkan alat-alat lain disiapkan oleh peserta.

Dia menambahkan, peserta tidak diperkenankan membawa contoh gambar dan pewarnaan menggunakan teknik sigar warna (gradasi warna). Karya akhir tidak diperkenankan dilapisi dengan cat spray, terakhir durasi wimbakara selama 180 menit atau 3 jam. Hasil karya peserta wimbakara menjadi milik panitia.

Soal penilaian, ujar Yasana, berasal dari gagasan dan kreativitas dengan nilai 25-35 poin, teknik karya dengan nilai 15-30 poin serta kesesuaian tema dan keutuhan karya senilai 25-35 poin. “Penilaian menyangkut 3 aspek ini dengan bobot nilai seperti di atas,” tegas Dewa Juri yang berasal dari ISI Bali tersebut.

Made Yasana menambahkan, seni lukis wayang klasik tidak sama dengan Kamasan. “Klasik yang sebenarnya ada di Bali. Klasik hidup di Kamasan, itu sangat bagus. Namun bukan berarti klasik itu Kamasan. Akarnya itu tetap dan yang namanya pakem itu jangan diubah,” ujarnya.

Dia mencontohkan jangan sampai gelung Bima diganti dengan gelung Kresna. “Itu jelas tak bisa. Yang boleh ditukar-tukar sedikit itu adalah sesaluk atau kostum. Silakan hias sepintar-pintarnya yang penting lengut atau pangus,” ungkap Made Yasana. (rls/kmf)

Polisi Ungkap Motif Ibu Buang Bayi di Denpasar: Malu Ditinggal Kabur Kekasih

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Misteri penemuan bayi perempuan yang ditinggalkan di dalam tas berwarna ungu di kawasan Jalan Imam Bonjol, Gang Penataran Sari, Denpasar Barat, akhirnya terungkap. Polisi memastikan pelaku yang membuang bayi malang tersebut adalah ibu kandungnya sendiri.

Pelaku berinisial NKSD (33), seorang karyawan swasta yang tinggal tidak jauh dari lokasi penemuan bayi, berhasil diamankan jajaran Polsek Denpasar Barat dalam waktu kurang dari enam jam setelah laporan diterima pada Jumat (12/6/2026).

Kapolsek Denpasar Barat Kompol Ni Wayan Adnyani Prabawati menjelaskan, pengungkapan kasus bermula dari laporan warga yang menemukan seorang bayi perempuan dalam kondisi hidup di dalam sebuah tas yang ditinggalkan di gang tersebut.

“Bayi perempuan itu ditemukan berada di dalam tas berwarna ungu dan selanjutnya dibawa ke klinik untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan,” ujar Kompol Adnyani, Senin (15/6/2026).

Setelah menerima laporan, polisi langsung melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Dari hasil penelusuran, petugas menemukan rekaman seorang perempuan yang datang menggunakan sepeda motor dan diduga kuat terkait dengan pembuangan bayi tersebut.

Keberadaan pelaku berhasil dilacak setelah sejumlah warga mengenali kendaraan yang digunakan. Informasi itu menjadi petunjuk penting hingga akhirnya polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap pelaku.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan CCTV dan keterangan saksi-saksi, kurang dari enam jam pelaku berhasil diamankan dan dibawa ke Polsek Denpasar Barat untuk pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.

Dalam pemeriksaan, NKSD mengakui bayi yang ditemukan warga merupakan anak kandungnya. Ia mengaku melahirkan seorang diri di dalam kamar sekitar pukul 13.00 WITA tanpa bantuan tenaga medis maupun keluarga.

Usai melahirkan, tersangka bahkan disebut memotong sendiri tali pusar bayinya menggunakan gunting. Sekitar dua jam kemudian, bayi yang baru dilahirkan itu dimasukkan ke dalam tas dan dibawa menggunakan sepeda motor sebelum akhirnya ditinggalkan di sebuah gang.

Polisi menilai tindakan tersebut dilakukan secara sengaja sehingga NKSD ditetapkan sebagai tersangka kasus penelantaran anak.

Kepada penyidik, tersangka mengaku nekat membuang bayinya karena merasa malu atas kehamilan yang dialaminya. Selain itu, pria yang menghamilinya disebut tidak bersedia bertanggung jawab setelah mengetahui dirinya hamil.

“Motifnya karena malu, yang mana pacar dari pelaku ini tidak mau bertanggung jawab,” tegas Kompol Adnyani.

Diketahui, NKSD merupakan seorang janda yang menjalin hubungan dengan seorang pria yang dikenalnya di sebuah kafe. Namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah mengetahui kehamilan NKSD, pria tersebut disebut memutus komunikasi dan tidak lagi dapat dihubungi.

Saat ini polisi masih melakukan pendalaman untuk menelusuri identitas serta kemungkinan keterlibatan pria tersebut dalam perkara yang sedang ditangani.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun.

Sementara itu, bayi perempuan yang sempat ditelantarkan tersebut berhasil diselamatkan dan kini berada dalam pengawasan tenaga medis. Kondisinya dilaporkan stabil dan terus mendapatkan perawatan serta perlindungan dari pihak berwenang. RAN

Selamatkan Anjing di Tebing Pantai Pandawa, Pria ini Berujung Terjebak dan Dievakuasi

Tim SAR gabungan mengevakuasi Roger (55) yang terjebak di tebing Pantai Pandawa.
Tim SAR gabungan mengevakuasi Roger (55) yang terjebak di tebing Pantai Pandawa.

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Aksi penyelamatan seekor anjing di kawasan tebing Pantai Pandawa, Kuta Selatan, Badung, berujung operasi evakuasi dramatis pada Sabtu (13/6/2026) malam. Seorang pria bernama Roger (55) terjebak di area tebing setelah berusaha menolong hewan tersebut bersama sejumlah rekannya.

Informasi mengenai kejadian itu diterima petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar sekitar pukul 18.40 Wita. Laporan disampaikan oleh seorang warga bernama Ratih yang menyebutkan insiden terjadi sekitar pukul 17.00 Wita.

Menurut keterangan yang diterima tim SAR, Roger bersama tiga rekannya turun ke area tebing untuk menyelamatkan seekor anjing. Namun setelah berhasil mencapai lokasi, Roger mengalami kesulitan untuk kembali naik ke atas sehingga membutuhkan bantuan evakuasi.

Merespons laporan tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar segera mengerahkan tujuh personel tim rescue menuju lokasi kejadian.

Setibanya di Pantai Pandawa sekitar pukul 19.30 Wita, tim langsung melakukan asesmen medan yang cukup menantang. Setelah menyusun strategi penyelamatan, satu personel SAR diturunkan menggunakan teknik khusus untuk menjangkau posisi korban yang berada di area tebing.

Proses evakuasi berlangsung cukup menegangkan mengingat kondisi lokasi yang gelap dan minim pencahayaan. Meski demikian, tim SAR gabungan berhasil menjangkau korban dan melakukan proses pengangkatan menggunakan teknik lifting.

Roger akhirnya berhasil dievakuasi ke atas tebing pada pukul 21.05 Wita dalam kondisi selamat.

“Situasi di lokasi cukup menantang karena kondisi malam hari dan minim penerangan. Namun berkat koordinasi dan kehati-hatian seluruh unsur yang terlibat, korban berhasil dievakuasi dengan selamat,” demikian keterangan tim SAR.

Operasi penyelamatan tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya tujuh personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, satu personel Balawista Pantai Pandawa, enam personel pengelola Pantai Pandawa, rekan korban, serta masyarakat setempat.

Peristiwa ini menjadi pengingat agar masyarakat selalu mengutamakan keselamatan saat melakukan aktivitas di kawasan tebing maupun lokasi dengan medan berbahaya, terlebih saat menjelang malam hari. RAN

Viral Video Perundungan Siswa SMP di Jimbaran Berakhir Damai, Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi

Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi Dugaan Perundungan Siswa SMP di Jimbaran.
Polisi dan Tokoh Adat Fasilitasi Mediasi Dugaan Perundungan Siswa SMP di Jimbaran.

BADUNG, PANTAUBALI.COM  – Kasus dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, menjadi perhatian publik setelah video kejadian tersebut viral di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, seorang siswa berinisial IGDA (13) tampak menjadi korban tindakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa teman sebayanya. Peristiwa itu disebut terjadi pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 11.00 Wita dan videonya mulai ramai diperbincangkan masyarakat pada Kamis (11/6/2026).

Video tersebut memperlihatkan korban yang masih mengenakan seragam sekolah mengalami tendangan dan pukulan secara bergantian. Korban bahkan sempat didorong hingga terjatuh. Sejumlah siswa lainnya terlihat menyaksikan kejadian itu, sementara beberapa di antaranya merekam dan meneriakkan kata-kata yang dianggap memprovokasi.

Menyikapi viralnya peristiwa tersebut, Polsek Kuta Selatan bersama tokoh masyarakat, Bendesa Adat Jimbaran, pihak kelurahan, serta keluarga para siswa yang terlibat menggelar mediasi untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan.

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menjelaskan mediasi dilaksanakan pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 18.00 Wita di kediaman Bendesa Adat Jimbaran, Jalan Bukit Permai Nomor 1, Jimbaran.

Pertemuan tersebut dihadiri Kanit Intelkam Polsek Kuta Selatan AKP I Wayan Dirga Adnyana, Kanit Reskrim Polsek Kuta Selatan IPTU I Wayan Widiarta, anggota DPRD Badung sekaligus tokoh masyarakat Dr. I Made Sudira, Bendesa Adat Jimbaran I Putu Subamia, Lurah Jimbaran I Wayan Kardiasa, Kapospol Jimbaran, Bhabinkamtibmas, serta keluarga korban dan para siswa yang diduga terlibat.

“Dalam mediasi tersebut, pihak kepolisian mendorong penyelesaian secara kekeluargaan dengan syarat korban dan keluarganya bersedia memberikan maaf kepada para pelaku,” ujar Iptu Adi.

Sebagai bagian dari kesepakatan, para siswa yang terlibat diwajibkan membuat surat pernyataan berisi permohonan maaf serta komitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Kanit Intelkam Polsek Kuta Selatan AKP I Wayan Dirga Adnyana menegaskan seluruh pihak yang hadir sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara damai demi menjaga keharmonisan lingkungan sosial di Jimbaran.

Sementara itu, orang tua korban berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tindakan perundungan tidak boleh dianggap sebagai candaan karena dapat menimbulkan dampak psikologis bagi korban.

“Karena kita satu desa dan satu banjar, saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Jangan menganggap hal seperti ini sebagai bercandaan. Setelah ini saya harap kalian bisa kembali berteman dengan baik,” ujarnya dalam forum mediasi.

Perwakilan orang tua para siswa yang terlibat juga menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya. Mereka berjanji akan melakukan pembinaan serta pengawasan lebih intensif terhadap anak-anak mereka agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Dari hasil mediasi tersebut, seluruh pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai. Kesepakatan dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani bersama. Orang tua korban menerima permohonan maaf yang disampaikan dan menganggap permasalahan telah selesai, dengan harapan lingkungan sekolah dan masyarakat terbebas dari praktik perundungan di masa mendatang. RAN

26 Siswa Kelas 1-3 Badung Bersaing Jadi Terbaik Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026

26 Siswa Kelas 1-3 Badung Bersaing Jadi Terbaik Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Tercatat 26 siswa-siswi SD dari Kabupaten Badung bersaing untuk menjadi yang terbaik Wimbakara (Lomba) Mewarnai Sekolah Dasar (SD) kelas I hingga III pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Lomba yang diikuti 132 orang siswa SD se-Bali tersebut berlangsung pada hari kedua pelaksanaan PKB di Gedung Museum Mahudara Mandara Giri Bhuwana, Kawasan Taman Budaya Art Center, Provinsi Bali, pada Minggu (14/6/2026).

Ketua Dewan Juri Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026 Dewa Putu Gede Budiarta bahwa menyampaikan lomba mewarnai merupakan agenda rutin PKB yang diselenggarakan setiap tahun. Dia menyatakan pelaksanaan lomba tahun ini melibatkan siswa SD kelas I hingga III agar kesempatan mengikuti lomba dapat lebih merata. “Lomba mewarnai ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian PKB. Tahun ini pesertanya siswa SD kelas I sampai III agar kesempatan berpartisipasi bisa lebih bergilir,” ujarnya.
Dia menyebutkan tema lomba mengacu pada tema besar PKB XLVIII Tahun 2026, yakni “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”. “Panitia telah menyiapkan gambar dasar yang kemudian harus diselesaikan peserta dengan pewarnaan dan kreativitas masing-masing. Penilaian lomba meliputi tiga aspek utama, yakni kesesuaian dengan tema, kreativitas, dan keharmonisan warna dengan penekanan pada kreativitas,” katanya.

Menurut Dewa Budiarta, kreativitas menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian. “Ya, bagaimana peserta mengolah warna, menambahkan elemen pendukung, serta menampilkan hasil yang menarik dan harmonis. Selain itu kebersihan dan kerapian karya juga menjadi perhatian,” katanya.

Peserta diberikan waktu tiga jam untuk menuntaskan kreativitasnya. Seluruh karya dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari tiga orang seraya menambahkan, karya peserta dinilai oleh tiga juri dari ISI Denpasar yakni Dewa Budiarta sendiri selaku Ketua, Ni Made Purnami Utami dan I Made Ruta. Panitia menetapkan enam peserta terbaik yang terdiri dari juara I, II, III, serta juara harapan I, II, dan III. “Kami mencari enam karya terbaik. Selain menjadi ajang mengembangkan kreativitas anak-anak, penghargaan yang diperoleh juga dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkarya dan berprestasi,” katanya.

Sesungguhnya, kata dia, panitia menargetkan 200 peserta dalam lomba tersebut dengan mengundang masing-masing kabupaten dan Kota Denpasar 10 orang dan peserta umum yang mendaftar lewat link. Hingga masa pendaftaran ditutup, tercatat 180 lebih peserta mendaftar dari seluruh kabupaten/kota di Bali.
Sementara satu di antara orangtua peserta yang berasal dari Desa Buduk, Kabupaten Badung, Komang Tri Jayanthi, mengaku sangat bersyukur putrinya mendapat kesempatan mengikuti lomba tersebut. Siswa SD Imanuel, Dalung, itu tampil penuh percaya diri. “Harapan kami kegiatan seperti ini terus dilaksanakan untuk mengembangkan bakat dan minat anak-anak, khususnya di bidang seni,” ujarnya.

Dalam hal penilaian hasil karya anaknya, dia menyatakan percaya kepada dewan juri yang telah dipilih panitia, karena memiliki kompetensi dan profesionalisme di bidangnya. “Saya yakin juri yang dipilih sudah profesional dan kompeten. Apapun hasilnya nanti, tentu itu merupakan hasil terbaik sesuai penilaian yang telah dilakukan,” katanya. (rls/kmf)