- Advertisement -
Beranda blog

Pesona Alas Sangeh Menggema di PKB, Sanggar Gargita Santhi Tuai Apresiasi Penonton

Pesona Alas Sangeh Menggema di PKB, Sanggar Gargita Santhi Tuai Apresiasi Penonton

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Kreativitas seniman muda Badung kembali mencuri perhatian dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sanggar Seni Gargita Santhi dari Banjar Pacung, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, sukses memukau penonton saat tampil sebagai Duta Kabupaten Badung pada Rekasadana (Pergelaran) Gambelan Inovatif di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (22/6/2026).

Penampilan yang memadukan kekayaan gamelan Bali dengan sentuhan instrumen modern itu mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Tiga karya yang dibawakan, yakni Tri Paiketan, Sang-Ngeh, dan Tapa Rare, menghadirkan sajian artistik yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga sarat pesan budaya, spiritualitas, dan pelestarian lingkungan.

Mengangkat inspirasi dari kearifan lokal Alas Sangeh, karya pembuka bertajuk Tri Paiketan menggambarkan keharmonisan hubungan manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang hidup berdampingan di kawasan hutan wisata tersebut. Garapan ini menampilkan simbol keseimbangan melalui tiga kawasan suci di Alas Sangeh yang menjadi representasi harmoni kehidupan.

Pesan pelestarian lingkungan turut disampaikan melalui perpaduan gerak tari dan narasi vokal yang menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan alam. Aksi simbolis memungut sampah di atas panggung menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian penonton.

Suasana kemudian berubah lebih magis melalui karya Sang-Ngeh, yang mengangkat kisah asal-usul Alas Sangeh. Komposisi musik yang memadukan gamelan Bali dengan instrumen modern seperti bass dan alat musik tradisional Tiongkok, erhu, menghadirkan nuansa mistis sekaligus kontemplatif yang memperkuat pesan spiritual dalam pertunjukan.

Sementara karya penutup, Tapa Rare, menampilkan perjalanan spiritual Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti. Garapan ini menggabungkan unsur pengendalian diri dan kreativitas generasi muda melalui komposisi musikal yang kompleks dengan perpaduan vokal dan instrumental yang harmonis.

Koordinator seni, Robert Brosnan, mengungkapkan bahwa proses persiapan pertunjukan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Latihan intensif dilakukan dengan melibatkan seluruh unsur pendukung, mulai dari penabuh, penari hingga vokalis.

Menurutnya, tantangan terbesar selama proses persiapan adalah menyesuaikan jadwal latihan dengan berbagai kegiatan adat dan keagamaan yang berlangsung di tengah masyarakat. Namun semangat kebersamaan seluruh tim mampu mengatasi kendala tersebut hingga menghasilkan pertunjukan yang maksimal.

Robert menjelaskan bahwa Alas Sangeh dipilih sebagai sumber inspirasi karena memiliki kekayaan nilai budaya, lingkungan, dan spiritual yang relevan dengan tema PKB tahun ini. Selain itu, isu lingkungan, khususnya persoalan sampah, menjadi salah satu pesan utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui karya yang dipentaskan.

Sebanyak 30 seniman terlibat dalam pertunjukan tersebut, terdiri atas 22 penabuh, enam penari, dan dua vokalis. Mereka menghadirkan warna musikal yang unik melalui perpaduan berbagai instrumen seperti semar pegulingan, rinding, bass, hingga erhu.

Sementara itu, Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Made Adi Adnyana, memberikan apresiasi atas kreativitas para seniman muda yang mampu mengembangkan seni tradisi tanpa meninggalkan akar budaya lokal. Menurutnya, gamelan inovatif merupakan ruang ekspresi yang penting dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Bali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung untuk terus mendukung pengembangan kreativitas generasi muda melalui berbagai program pembinaan dan fasilitasi, termasuk partisipasi dalam ajang PKB.

Penampilan Sanggar Gargita Santhi menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal dapat dikemas secara kreatif dan inovatif tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Melalui sentuhan seni yang segar dan pesan yang kuat, mereka berhasil menghadirkan pesona Alas Sangeh ke hadapan publik sekaligus menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam. (rls)

HUT Ke-29, Magister Hukum Unud Teguhkan Komitmen Cetak Praktisi Hukum Berkualitas

Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) memperingati hari jadinya yang ke-29 dengan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Langkah Nyata Alumni Magister Hukum: Dari Ilmu Menuju Dampak” di Aula Kertha Sabha Fakultas Hukum Unud, Denpasar, Senin (22/6/2026).

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) memperingati hari jadinya yang ke-29 dengan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Langkah Nyata Alumni Magister Hukum: Dari Ilmu Menuju Dampak” di Aula Kertha Sabha Fakultas Hukum Unud, Denpasar, Senin (22/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan hampir tiga dekade Magister Hukum Unud dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas di bidang hukum sekaligus memperkuat kontribusi akademik terhadap pembangunan hukum di Indonesia.

Mengusung tema besar “29 Tahun Magister Hukum Udayana: Karya Nyata, Dampak Berkelanjutan”, seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi, akademisi, birokrat, dan alumni. Di antaranya Herdaus, S.H., M.H., yang menjabat sebagai Asisten Deputi Koordinasi Kerja Sama Kelembagaan Keimigrasian dan Pemasyarakatan Kementerian Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, serta I Kadek Sumadi, S.E., S.H., M.Si., M.H., Ak., CA., BKP., selaku Managing Partner SWS Consulting yang juga merupakan alumni Magister Hukum Unud.

Para pembicara berbagi pengalaman mengenai implementasi ilmu hukum dalam berbagai bidang profesi serta pentingnya peran alumni dalam menjawab tantangan hukum yang terus berkembang di era modern.

Ketua Panitia A. A Gde Sanjaya Adi Pranata menyampaikan bahwa perayaan ulang tahun ke-29 ini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi ruang dialog dan kolaborasi antara sivitas akademika, alumni, mahasiswa, serta masyarakat luas.

Menurutnya, selama hampir tiga dekade Magister Hukum Unud telah menjadi wadah pengembangan intelektual yang melahirkan banyak alumni berprestasi di berbagai sektor. Karena itu, seminar nasional ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa ilmu hukum tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan dapat diwujudkan menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain menjadi ajang berbagi pengalaman, seminar tersebut juga menjadi forum strategis untuk membahas penguatan sistem hukum nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang hukum, serta mendorong sinergi antaralumni dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Peringatan HUT ke-29 ini sekaligus menegaskan komitmen Magister Hukum Universitas Udayana untuk terus berkembang sebagai program studi unggulan yang menghasilkan lulusan profesional, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (rls)

Duta Badung Angkat Empat Busana Warisan Leluhur pada Parade Busana PKB XLVIII

Duta Badung Angkat Empat Busana Warisan Leluhur pada Parade Busana PKB XLVIII

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Kabupaten Badung menampilkan kekayaan warisan budaya melalui empat ragam busana adat dalam Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (21/6/2026). Penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang mengusung tema Atma Kerthi.

Tampil sebagai peserta ketujuh, Duta Kabupaten Badung berhasil menarik perhatian penonton dengan sajian busana yang tidak hanya mengedepankan unsur estetika, tetapi juga sarat makna filosofis, sejarah, dan nilai spiritual yang hidup dalam tradisi masyarakat Bali.

Perwakilan Tim Parade Busana Duta Kabupaten Badung, I Gusti Ngurah Agung Sasmitra Wiguna, didampingi Ni Nyoman Budawati dan I Wayan Awi Marwida, menjelaskan bahwa empat busana yang diperagakan terdiri atas Busana Pecalang, Payas Kekembangan, Busana Maligia Lajur, serta Payas Kawya atau Payas Agung Mengwi.

Menurutnya, seluruh busana yang ditampilkan merepresentasikan berbagai tahapan kehidupan masyarakat Bali, mulai dari fungsi sosial kemasyarakatan, tradisi persembahan kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, hingga busana utama dalam upacara adat dan keagamaan.

Parade diawali dengan penampilan Busana Pecalang yang menggambarkan peran penting pecalang sebagai penjaga keamanan sekaligus pengawal kesucian pelaksanaan adat dan agama. Karakter busana tersebut ditonjolkan melalui perpaduan warna Tri Datu merah, putih, dan hitam yang dipadukan dengan saput poleng, destar, serta keris sebagai simbol keseimbangan dan kewibawaan.

Selanjutnya, Duta Badung memperkenalkan Payas Kekembangan, busana khas yang berasal dari Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang. Busana ini erat kaitannya dengan tradisi Ngelampad, yakni ritual persembahan hasil bumi kepada Dewa Sangkara yang dilaksanakan oleh para daha dan truna setempat setiap Purnama.

Keunikan busana tersebut terlihat dari dominasi warna hijau, merah muda, dan biru yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, serta kesetiaan. Penampilan para truna dan daha juga mencerminkan identitas budaya lokal yang masih terjaga hingga kini.

Nuansa sejarah kemudian dihadirkan melalui Busana Maligia Lajur, yang merupakan rekonstruksi busana ritual Pitra Yadnya. Busana ini terinspirasi dari dokumentasi upacara Maligia Lajur Raja Dewata X yang pernah digelar di Puri Agung Sibang Kaja pada tahun 1957. Rekonstruksi dilakukan dengan tetap mempertahankan pakem tradisional, meskipun material yang digunakan menyesuaikan perkembangan zaman.

Sebagai puncak penampilan, Duta Badung menghadirkan Payas Kawya atau yang lebih dikenal sebagai Payas Agung Mengwi. Busana ini merupakan busana tingkat utama yang lazim digunakan dalam upacara mepandes maupun pawiwahan. Kemewahan kain prada, songket, dan ornamen kepala khas Mengwi menjadi daya tarik utama yang memperlihatkan keagungan busana tradisional Bali.

Pada busana perempuan, penggunaan pusung tanduk yang dipadukan dengan srinata dan semi tidak hanya memperkuat nilai estetika, tetapi juga melambangkan kesiapan perempuan dalam menjalani berbagai tanggung jawab kehidupan.

Melalui penampilan tersebut, Kabupaten Badung menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali. Pelestarian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada bentuk fisik busana, tetapi juga pada upaya mempertahankan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dengan tetap berpegang pada pakem tradisi dan filosofi Tri Angga, warisan busana adat Bali diharapkan terus lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (rls)

Sanggar Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Suguhkan Pesan Spiritual dalam PKB XLVIII

Sanggar Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Suguhkan Pesan Spiritual dalam PKB XLVIII

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, kembali menjadi ruang ekspresi seni dan budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Kali ini, Sanggar Seni Kadung Tresna bersama Barong Binal Mengwitani berhasil memikat perhatian penonton melalui garapan kolaboratif bertajuk “Srotragrahana”, Sabtu (20/6/2026).

Pertunjukan tersebut menghadirkan perpaduan seni pertunjukan, nilai-nilai spiritual, serta filosofi kehidupan yang berakar kuat pada tradisi Hindu Bali. Melalui pengemasan artistik yang kaya simbol, para seniman mengajak penonton menyelami harmoni hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Koordinator pertunjukan, Made Dita Cahyadinata, menjelaskan bahwa “Srotragrahana” terinspirasi dari kehidupan di Hutan Greseh yang digambarkan sebagai ruang harmonis bagi berbagai makhluk hidup. Beragam satwa, mulai dari unggas, kera, anjing, kura-kura, babi hingga macan, hidup berdampingan dalam keseimbangan alam yang terjaga.

Menurutnya, karya tersebut merupakan refleksi pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritual yang telah diwariskan leluhur Bali secara turun-temurun.

Dalam pementasan itu, sosok macan tidak hanya ditampilkan sebagai hewan pemangsa yang kuat dan berwibawa. Karakter tersebut dimaknai sebagai simbol pelindung yang menggunakan kekuatannya untuk menjaga keselamatan seluruh penghuni hutan. Pesan tersebut menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu identik dengan dominasi, melainkan hadir melalui sikap melindungi dan mengayomi.

Alur cerita semakin sarat makna dengan hadirnya tokoh suci Dang Hyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Dalam narasi pertunjukan, tokoh tersebut digambarkan menjalani tapa dan menyusun karya sastra di sebuah taman yang berada di kawasan timur hutan.

Kebijaksanaan dan pengetahuan suci yang dimiliki Dang Hyang Nirartha digambarkan memancarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Kehadirannya menjadi simbol keselarasan antara manusia dan alam, sekaligus memperlihatkan kemampuan memahami bahasa kehidupan yang ada di sekelilingnya.

Puncak pertunjukan terjadi ketika para satwa secara sukarela menjadi bagian dari sarana upacara suci di Pura Sada Kapal. Adegan tersebut mengantarkan penonton pada pemaknaan prosesi Mapepada, salah satu ritual sakral dalam tradisi Hindu Bali.

Dalam filosofi Hindu, hewan yang digunakan dalam upacara keagamaan tidak dipandang sebagai korban semata, melainkan sebagai bagian dari proses penyucian jiwa. Melalui ritual Mapepada, roh atau atman diyakini memperoleh kesempatan untuk melepaskan sifat-sifat kebinatangan sehingga dapat mencapai tingkatan kehidupan yang lebih luhur pada kelahiran berikutnya.

Melalui garapan “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tidak hanya menghadirkan tontonan yang memanjakan mata, tetapi juga menyampaikan tuntunan moral dan spiritual yang mendalam. Pertunjukan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya Bali harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kesucian nilai-nilai leluhur yang menjadi ruh kehidupan masyarakat Bali hingga saat ini. (rls)

Duta Badung Tampilkan “Baradwara”, Angkat Spirit Penyucian Diri di Wimbakara Balaganjur Remaja PKB 2026

Duta Badung Tampilkan “Baradwara”, Angkat Spirit Penyucian Diri di Wimbakara Balaganjur Remaja PKB 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Kabupaten Badung kembali menunjukkan kualitas garapan seni tradisinya dalam ajang Wimbakara (Lomba) Balaganjur Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil sebagai peserta pertama di panggung terbuka Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, Kamis (18/6/2026) malam, Duta Badung yang diwakili Sekaa Gong Cakradhara, Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, sukses menyuguhkan penampilan memikat melalui karya bertajuk Baradwara.

Garapan tersebut terinspirasi dari ritual sakral Sanghyang Jaran yang hidup dan berkembang di Pura Dalem Solo, Desa Adat Sedang. Melalui konsep artistik yang kuat, Baradwara mengangkat makna perjalanan spiritual manusia menuju penyucian diri, sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya Bali.

Secara filosofis, Baradwara dimaknai sebagai “Gerbang Api”, simbol ruang transisi yang menjadi tempat peleburan berbagai kekotoran lahir dan batin sebelum seseorang mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Api dalam karya ini diposisikan sebagai media pemurnian sekaligus simbol transformasi spiritual.

Koreografer tari dan gerak, Ida Bagus Yodhie Harischandra, menjelaskan bahwa proses persiapan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan sajian yang matang.

“Persiapan sudah berlangsung sekitar enam bulan. Para penabuh direkrut dari sejumlah sekaa di Desa Sedang dan kemudian disatukan menjadi satu barungan untuk tampil pada lomba tahun ini,” ujarnya usai pementasan.

Menurut Yodhie, tantangan terbesar selama proses penggarapan adalah menyelaraskan jadwal latihan para seniman yang memiliki aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Namun kondisi tersebut justru menjadi pembelajaran penting dalam membangun kekompakan tim.

“Kami belajar menyatukan waktu, rasa, dan semangat dalam berkarya. Itu menjadi proses yang sangat berharga bagi seluruh pendukung garapan,” katanya.

Sebagai juara bertahan pada Wimbakara Balaganjur Remaja PKB tahun 2025, Duta Badung tetap optimistis menghadapi kompetisi tahun ini. Kendati demikian, pihaknya tidak ingin terlalu terbebani oleh target mempertahankan gelar.

“Yang terpenting seluruh tim sudah memberikan kemampuan terbaik. Soal hasil akhir, kami serahkan kepada dewan juri. Bagi kami, pencapaian itu adalah bonus dari kerja keras yang telah dilakukan bersama,” ujarnya.

Dari sisi musikal, Baradwara menghadirkan komposisi yang berlandaskan konsep tri angga dengan pengolahan ritme dan dinamika yang menggambarkan karakter Sanghyang Jaran yang energik, lincah, dan penuh kekuatan. Struktur musikal yang dibangun mampu menghadirkan nuansa magis sekaligus heroik sepanjang pementasan.

Eksplorasi bunyi ceng-ceng menjadi salah satu kekuatan utama karya ini. Permainan ritme yang kompleks dipadukan dengan stimulasi musikal dari Gending Sanghyang Jaran khas Desa Adat Sedang, menciptakan atmosfer yang kuat dan sarat makna spiritual.

Kombinasi antara komposisi musik, koreografi, dan eksplorasi ritmis tersebut berhasil menghadirkan representasi perjalanan jiwa menuju pemurnian. Penampilan Duta Badung pun mendapat apresiasi dari penonton yang memadati arena pertunjukan.

Karya Baradwara dikonseptualisasikan oleh I Gusti Made Darma Putra. Komposisi musik digarap oleh I Made Adipramana Suparsa bersama I Nyoman Arista Adiwijaya, sementara koreografi ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra dan Komang Jana Arta Suputra.

Melalui garapan ini, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kemampuan teknis dalam seni balaganjur, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis tentang pentingnya penyucian diri dan keseimbangan spiritual sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bali. (rls/kmf)

Duta Badung Angkat Realitas Sosial Lewat Taman Penasar, Pesan Menyama Braya Menggema di PKB 2026

Duta Badung Angkat Realitas Sosial Lewat Taman Penasar, Pesan Menyama Braya Menggema di PKB 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara Taman Penasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 berhasil memukau ratusan penonton yang memadati Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6/2026). Melalui garapan berjudul Upahayu Atmeng Tanu, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru dari Desa Adat Tanjung Benoa menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat kritik sosial dan pesan moral.

Tokoh Wayan yang menjadi sentral cerita tampil dengan karakter emosional dan lugas. Berbagai dialog yang disampaikan mengundang tawa penonton, namun di balik kelucuan tersebut terselip refleksi mendalam mengenai kehidupan masyarakat adat Bali masa kini, mulai dari nilai menyama braya hingga tantangan ekonomi yang dihadapi warga dalam menjalankan kewajiban adat.

Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, I Wayan Citra, menjelaskan bahwa karakter Wayan sengaja dihadirkan sebagai gambaran realitas sosial yang kerap dijumpai di tengah masyarakat.

“Tokoh Wayan merepresentasikan pola pikir yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, yakni melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang sehingga mudah terpancing emosi tanpa memahami kondisi yang sebenarnya,” ujarnya usai pementasan.

Dalam alur cerita, Wayan digambarkan marah karena tidak menemukan istrinya di rumah saat dirinya lapar. Namun seiring berjalannya cerita, ia akhirnya memahami bahwa sang istri sedang melaksanakan kewajiban sosial di lingkungan adat. Kesadaran tersebut tumbuh melalui berbagai petuah dan ajaran yang disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat dalam pertunjukan.

Puncak cerita ditandai dengan perubahan sikap Wayan setelah memahami makna kebersamaan dan keseimbangan hidup. Nilai-nilai itu disampaikan melalui berbagai bentuk sastra Bali, mulai dari sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka hingga palawakya yang menjadi ruh utama pertunjukan.

Menurut I Wayan Citra, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara kewajiban adat dan kebutuhan ekonomi keluarga.

“Yadnya dan ekonomi harus berjalan beriringan. Terlalu fokus mencari penghasilan tanpa menjalankan kewajiban sosial tidak baik, namun sebaliknya jika hanya berkonsentrasi pada yadnya tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga juga akan menimbulkan persoalan,” jelasnya.

Garapan yang membawakan naskah karya I Nyoman Wija Widastra tersebut mengusung tema Upahayu Atmeng Tanu, yang bermakna memelihara kesucian Sang Hyang Atma yang bersemayam dalam diri manusia. Tema ini selaras dengan semangat PKB 2026 yang menekankan pentingnya penyucian jiwa dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.

I Wayan Citra menuturkan, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru yang berdiri sejak 9 Juli 2005 terus berkomitmen menjaga eksistensi seni tradisi Bali. Berbagai prestasi telah diraih, termasuk keberhasilan meraih juara pada ajang Wimbakara Taman Penasar beberapa tahun lalu.

Pada PKB tahun ini, tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses perekrutan peserta karena adanya pembatasan usia peserta lomba antara 17 hingga 28 tahun. Meski demikian, sanggar tetap berupaya maksimal dengan melibatkan seluruh personel muda yang berasal dari wilayah Kuta Selatan.

“Kami sempat mengalami kesulitan mencari personel yang memenuhi syarat usia dan memiliki waktu untuk berlatih. Namun berkat semangat kebersamaan, seluruh tim mampu melewati proses tersebut hingga akhirnya tampil di PKB,” katanya.

Melalui penampilan tersebut, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kualitas seni pertunjukan tradisional, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali pentingnya menjaga harmoni antara kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual sebagai bagian dari jati diri masyarakat Bali. (rls/kmf)

Calonarang “Geseng Waringin” Duta Badung Memukau Penonton PKB XLVIII 2026

Calonarang "Geseng Waringin" Duta Badung Memukau Penonton PKB XLVIII 2026

DENPASAR, PANTAUBALI.COM – Pergelaran Calonarang bertajuk Geseng Waringin yang dibawakan Sanggar Seni Majalangu, Banjar Padang, Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, sukses memukau penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali (Art Centre) Denpasar, Selasa (16/6/2026). Pementasan tersebut hadir sebagai Duta Kabupaten Badung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Mengusung tema spiritual yang sejalan dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, pertunjukan tersebut mengangkat kisah pertemuan Mpu Bharadah dengan Walunateng Dirah atau Calonarang. Lakon ini sarat pesan moral tentang pentingnya menjaga kesucian hati dan pikiran sebagai landasan menjalani kehidupan.

Ketua Sanggar Seni Majalangu, I Made Agus Adi Santikayasa atau yang akrab disapa Gus Cupak, mengatakan pemilihan lakon Geseng Waringin didasarkan pada relevansinya dengan tema besar PKB 2026.

Menurutnya, dalam alur cerita yang ditampilkan, Mpu Bharadah memberikan wejangan kepada Walunateng Dirah agar selalu menyadari jati dirinya dan senantiasa berbuat baik.

“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga kebersihan hati dan pikiran. Dari hati yang bersih akan lahir perkataan dan tindakan yang baik sehingga kesucian atma tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menilai nilai-nilai yang terkandung dalam kisah tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Kebersihan hati dan pikiran menjadi kunci terciptanya ketenangan, termasuk dalam melahirkan ide-ide kreatif bagi para seniman.

Pementasan kali ini melibatkan sekitar 75 seniman yang mayoritas berasal dari kalangan generasi muda. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya regenerasi dan pelestarian seni tradisi di Kabupaten Badung.

“Kami sengaja memberi ruang lebih besar kepada seniman muda untuk tampil dan berproses. Ini menjadi bagian dari regenerasi seni budaya yang harus terus dijaga,” kata Gus Cupak.

Ia menjelaskan persiapan pementasan telah dilakukan sejak akhir Februari 2026 sehingga para pendukung acara memiliki waktu yang cukup untuk mematangkan garapan secara optimal.

Sebagai perwakilan Kabupaten Badung, pihaknya juga mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan PKB yang selama ini menjadi ruang ekspresi sekaligus wahana pelestarian seni budaya Bali.

“PKB telah menjadi euforia bagi para seniman Bali. Kami berharap agenda budaya ini tetap terjaga dan berkelanjutan sebagai ikon kebudayaan Bali,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan seni dan budaya melalui berbagai program pembinaan yang langsung menyentuh masyarakat.

Salah satu program yang dikembangkan pada tahun 2026 adalah Banjar Menari, yang dilaksanakan mulai dari tingkat desa dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang seni tari maupun seni tabuh.

“Saat ini program Banjar Menari telah berjalan di 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung. Program ini menjadi wadah pembinaan sekaligus penguatan potensi seni budaya di masyarakat,” jelasnya.

Menurut Sukadana, hingga kini program tersebut berjalan dengan baik dan akan terus dievaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya.

Ia menambahkan, PKB memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Bali sekaligus menjadi sarana pengembangan kreativitas para seniman daerah. Hal tersebut juga sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Badung dalam mewujudkan pariwisata berkualitas berbasis budaya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Badung mengalokasikan anggaran sekitar Rp7 miliar untuk mendukung partisipasi seniman dalam PKB XLVIII Tahun 2026.

“Ini merupakan wujud keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan dan menggali potensi seni budaya yang dimiliki Kabupaten Badung,” tegasnya.

Melalui dukungan tersebut, Pemerintah Kabupaten Badung berharap seni budaya Bali tidak hanya tetap lestari, tetapi juga semakin berkembang sebagai salah satu fondasi utama pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. (rls/kmf)

Bupati dan Wakil Bupati Tabanan Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026

Bupati dan Wakil Bupati Tabanan Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Menyambut Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, S.Sos., atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan menyampaikan ucapan selamat serta doa terbaik kepada seluruh umat Hindu, khususnya masyarakat Kabupaten Tabanan.

Hari Raya Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Dungulan, Rabu (17/6/2026), dan Hari Raya Kuningan pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, Sabtu (27/6/2026), merupakan momentum suci yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Melalui perayaan ini, umat Hindu diajak untuk semakin memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai momentum mempererat persatuan, kebersamaan, serta semangat gotong royong dalam membangun Kabupaten Tabanan. Menurutnya, makna kemenangan Dharma hendaknya tercermin melalui sikap saling peduli, saling menguatkan, dan bekerja bersama demi kemajuan daerah.

“Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan Tahun 2026 kepada seluruh umat Hindu di manapun berada, khususnya masyarakat Tabanan yang kami cintai. Semoga Hari Raya Galungan dan Kuningan menjadi momentum suci untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, meneguhkan kemenangan Dharma melawan Adharma, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Mari jadikan momentum ini sebagai penyemangat untuk terus bersatu, bergotong royong, saling menguatkan, saling peduli, dan bekerja bersama dalam mewujudkan Kabupaten Tabanan yang Aman, Unggul, dan Madani,” ujar Sanjaya.

Lebih lanjut, Sanjaya juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam melakukan pemilahan sampah, terutama setelah pelaksanaan karya dan rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan, guna menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan di seluruh wilayah Tabanan.

“Saya juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan pemilahan sampah secara cermat, khususnya setelah pelaksanaan karya dan rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Dengan kesadaran dan partisipasi bersama, kebersihan, keasrian, dan kenyamanan Kabupaten Tabanan dapat terus terjaga di seluruh lini masyarakat,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai menyama braya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Menurutnya, semangat Galungan dan Kuningan harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sosial untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat keharmonisan di tengah masyarakat.

“Melalui semangat Galungan dan Kuningan, mari kita rawat nilai-nilai menyama braya, mempererat persaudaraan, dan memperkuat budaya gotong royong sebagai landasan membangun Tabanan yang harmonis, maju, dan sejahtera. Semoga kehadiran hari suci ini membawa kedamaian, kebahagiaan, serta kekuatan bagi kita semua dalam menjalankan swadharma di tengah kehidupan bermasyarakat,” pungkas Dirga. (rls/tbn)

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

Duta Kabupaten Badung Memukau di Ajang Wimbakara Gender Wayang PKB XLVIII

BADUNG, PANTAUBALI.COM – Duta Kabupaten Badung dalam Wimbakara (lomba) gender tampil memukau di Kalangan Ayodya, Art Center, Denpasar, Senin (15/6/2026). Dalam penampilannya empat peserta putra dan putri dari Sanggar Batel Giri Sunari, Banjar Busana, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal dengan membawakan tiga gending. Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 ini, mereka berhadapan dengan pesaing yakni Duta Kabupaten Karangasem.

Pembina Tabuh, I Made Gawi Antara mengatakan, ada empat orang yang tampil dalam gender anak-anak ini. Namun sebelum tampil sejumlah persiapan telah dilakukan untuk tampil mewakili Kabupaten Badung dalam ajang PKB 2026. Terlebih penampilan dari Sanggar Batel Giri Sunari ini adalah yang pertama kalinya.

“Penampilan ini adalah yang pertama kali dari Sanggar Batel Giri Sunari. Persiapannya sudah dari bulan Januari. Sebelumnya juga ada persiapan untuk mempersiapkan diajang yang bergengsi ini,” ujar Gawi Antara.

Pihaknya menyebutkan, dalam penampilan ini ada tiga gending yang dibawakan, yakni Cangak Merengang, Pemungkah Wayah, dan Mesem. Sebelum tampil sanggar binaannya pun mengikuti seleksi yang telah digelar oleh Pemkab Badung. Mengingat saingan dalam lomba gender anak-anak ini lumayan kuat.

“Persaingannya lumayan, karena Gender Wayang ini kan ajang yang bergensi di PKB. Hampir setiap kabupaten, sudah pasti kalau sudah ke PKB-kan mempersiapkan diri untuk mewakili itu. Pasti ada seleksi. Seleksi yang terbaik, mewakili kabupaten dalam ajang itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gawi Antara berharap, dapat meraih juara dalam lomba gender wayang anak-anak ini. Lantaran hal ini pun akan menjadi sebuah kebanggaan bagi peseeta, sanggar, maupun Kabupaten Badung. “Harapannya Jayanti. Kita membawa nama Badung, otomatis, kalau boleh, jangan minta juara lebih-lebih, juara satu lah,” paparnya.

Pembina Tabuh lainnya, I Gede Kristya Dika Santana pun menambahkan, dalam ajang ini sebenarnya adalah untuk pelestarian seni dan budaya Bali. Terlebih setiap kabupaten/kota memiliki ciri khasnya tersendiri dalam setiap penampilan. “Tujuan utamanya yang pasti kan pelestarian. Pelestarian seni, penggalian seni-seni, karena setiap kabupaten memiliki style, memiliki ciri khas atau karakter masing-masing,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, Wayan Wiryadi menyatakan, gender wayang adalah sebuah permainan alat musik yang sangat langka dan sulit. Namun menjadi progres yang sangat membanggakan ketika mampu tampil dengan memukau.
“Astungkara apa yang terlihat dan disampaikan selama ini, anak-anak kami itu sudah luar biasa untuk penampilan ini, dan semoga pada hari ini mendapatkan hasilnya maksimal,” ujar Wiryadi.

Dirinya juga menyatakan, Pemkab Badung telah memberikan pembinaan dan motovasi semaksimal mungkin. Sebelum penampilan ini juga telah dilakukan seleksi selama dua bulan. “Harapannya adalah dalam proses ini, Badung tetap sempurna, tetap berprestasi,” imbuhnya. (rls/kmf)

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

Dua Digembleng Sanggar, 9 Peserta Badung di Ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali di PKB Ke-48

MANGUPURA, PANTAUBALI.COM – Tercatat 9 peserta dari Kabupaten Badung unjuk kebolehan di ajang Wimbakara (Lomba) Seni Lukis Wayang Klasik Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48, di pelataran Museum Taman Budaya Art Center, Senin (15/6/2026). Dari sembilan peserta, dua di antaranya duta Badung resmi sehingga mendapat gemblengan dari sanggar dan tujuh peserta dari kalangan umum lewat link yang disiapkan panitia.

Dua peserta yang merupakan duta Badung memperoleh gemblengan dari Sanggar Krisnarupa yang beralamat di Abianbase. Hal ini diakui oleh Ketua Sanggar Krisnarupa Ngurah Alit Kapakisan.

Ditemui di arena lomba, Alit Kepakisan menyatakan, dua orang peserta merupakan permintaan resmi dari panitia ke Disbud Badung. Karena itu, hanya dua peserta yang memperoleh pembinaan dari Sanggar Krisnayuda Abianbase. Persiapan yang dilakukan, ungkapnya, melakukan latihan sejak Februari sampai sekarang.

“Persiapannya mulai penentuan tema yang menyesuaikan dengan tema PKB sekarang yakni Atma Kerthi. Selanjutnya menggelar latihan sket serta latihan mewarnai. Proses itu sudah kami lalui dan sudah kami maksimalkan untuk tampil di ajang PKB kali ini. Astungkara ke depannya bisa mendapatkan juara,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Badung Made Adi Adnyana. Menurutnya, Dinas Kebudayaan hanya men-support dari sisi anggaran yang dibutuhkan, sementara secara teknis melukis dan kreativitasnya diserahkan sepenuhnya kepada pihak sanggar. “Kami hanya men-support dari sisi anggaran,” tegasnya.

Soal peserta Badung tercatat 9 orang, sementara yang mendapat pembinaan hanya dua orang, Kabid Adi Adnyana memastikan bahwa secara resmi sesuai undangan, Badung hanya mengirim dua duta sebagai peserta. “Tujuh lainnya berasal kategori umum yang mendaftar lewat link panitia PKB. Karena itu, pihak Disbud hanya memberikan pembinaan kepada dua orang peserta yang secara resmi menjadi duta Badung di ajang Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik ini,” ungkapnya.

Di sisi lain Dewan Juri Made Yasana didampingi dua juri lainnya Ni Made Rinu dan Made Bendi Yudha memaparkan ketentuan umum wimbakara ini. Peserta wimbakara adalah perorangan dan/atau umum, pria maupun wanita dengan jumlah maksimal 100 orang peserta. Peserta sebagai duta kabupaten/kota maksimal 2 orang peserta. Selanjutnya, peserta berusia 13 hingga 18 tahun (terhitung pada tanggal 31 Desember 2026) dan dibuktikan dengan mengirimkan fotokopi identias diri berupa KIA/KTP/Kartu Keluarga/surat keterangan siswa dari kepala sekolah peserta bersangkutan.

Ketentuan lainnya, ujarnya, peserta tampil dengan menggunakan busana adat Bali madya. “Peserta diwajibkan menggunakan busana Bali madya,” ujarnya.

Ditanya ketentuan khusus, Made Yasana mengungkapkan, karya seni lukis wayang klasik mengacu pada seni lukis wayang gaya Kamasan, selanjutnya relevan dengan tema PKB ke-48 tahun 2026. Karya seni lukis wayang klasik Bali dibuat di atas kertas gambar (ukuran kertas A3) yang disediakan panitia, dengan orientasi bebas, sedangkan alat-alat lain disiapkan oleh peserta.

Dia menambahkan, peserta tidak diperkenankan membawa contoh gambar dan pewarnaan menggunakan teknik sigar warna (gradasi warna). Karya akhir tidak diperkenankan dilapisi dengan cat spray, terakhir durasi wimbakara selama 180 menit atau 3 jam. Hasil karya peserta wimbakara menjadi milik panitia.

Soal penilaian, ujar Yasana, berasal dari gagasan dan kreativitas dengan nilai 25-35 poin, teknik karya dengan nilai 15-30 poin serta kesesuaian tema dan keutuhan karya senilai 25-35 poin. “Penilaian menyangkut 3 aspek ini dengan bobot nilai seperti di atas,” tegas Dewa Juri yang berasal dari ISI Bali tersebut.

Made Yasana menambahkan, seni lukis wayang klasik tidak sama dengan Kamasan. “Klasik yang sebenarnya ada di Bali. Klasik hidup di Kamasan, itu sangat bagus. Namun bukan berarti klasik itu Kamasan. Akarnya itu tetap dan yang namanya pakem itu jangan diubah,” ujarnya.

Dia mencontohkan jangan sampai gelung Bima diganti dengan gelung Kresna. “Itu jelas tak bisa. Yang boleh ditukar-tukar sedikit itu adalah sesaluk atau kostum. Silakan hias sepintar-pintarnya yang penting lengut atau pangus,” ungkap Made Yasana. (rls/kmf)