BADUNG, BALINEWS.ID – Kontribusi Bali terhadap industri pariwisata nasional masih menjadi yang terbesar di Indonesia. Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan, Pulau Dewata menyumbang sekitar 55 persen dari total perputaran ekonomi pariwisata nasional yang mencapai Rp320 triliun.
Hal itu disampaikan Koster saat menghadiri konferensi pers penutupan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di The Westin Resort Nusa Dua, Badung, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Koster, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan posisi Bali yang masih menjadi lokomotif utama pariwisata Indonesia, baik dari sisi kunjungan wisatawan maupun dampak ekonomi yang dihasilkan.
“Devisa pariwisata yang dihasilkan wisatawan mancanegara di Bali mencapai lebih dari Rp17 triliun, dengan total perputaran ekonomi sekitar Rp176 triliun. Itu berarti sekitar 55 persen dari total perputaran ekonomi pariwisata nasional,” ujar Koster.
Ia menjelaskan, performa sektor pariwisata Bali terus menunjukkan tren positif pascapandemi Covid-19. Pada 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencapai 7,05 juta orang, melampaui capaian sebelum pandemi yang berada di angka 6,2 juta kunjungan pada 2019.
Sementara secara nasional, Indonesia mencatat 15,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 45 persen masuk melalui Bali.
“Pulau Bali yang kecil ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Indonesia. Angka-angka ini menunjukkan peran strategis Bali dalam menopang industri pariwisata nasional,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Koster juga mengapresiasi penyelenggaraan BBTF 2026 yang dinilai semakin memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Ia berharap cakupan kegiatan tersebut dapat diperluas pada tahun mendatang agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Bali maupun daerah lain di Indonesia.
“Ke depan saya berharap BBTF memiliki jangkauan yang lebih luas. Apa yang masih kurang tahun ini agar dievaluasi dan diperbaiki untuk penyelenggaraan tahun 2027. Pemerintah Provinsi Bali siap memberikan dukungan penuh,” tegasnya.
Koster juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pariwisata Bali melalui penanganan berbagai persoalan mendasar seperti sampah, kemacetan, dan ketahanan energi.
Menurutnya, program pengolahan sampah menjadi energi listrik dijadwalkan mulai beroperasi pada Juli 2026. Selain itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional Denpasar-Badung juga terus dipercepat untuk mendukung target Bali bebas masalah sampah.
Di sektor transportasi, Pemprov Bali bersama pemerintah pusat tengah mengakselerasi pembangunan sejumlah infrastruktur strategis guna mengurangi kemacetan, terutama di kawasan pariwisata Badung.
Terkait perkembangan industri pariwisata tahun ini, Koster menilai kondisi Bali masih cukup kuat meskipun sempat terdampak situasi global. Ia mengungkapkan bahwa hingga Mei 2026, pendapatan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) mencapai Rp2,89 triliun, meningkat sekitar Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,6 triliun.
“Artinya aktivitas ekonomi pariwisata Bali masih tumbuh positif. Tingkat hunian hotel dan pergerakan wisatawan juga tetap menunjukkan kinerja yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia BBTF 2026 I Putu Winastra menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun ini berhasil mencatat potensi transaksi bisnis pariwisata sebesar Rp6,9 triliun. Capaian tersebut akan menjadi modal untuk memperluas kolaborasi pada penyelenggaraan BBTF 2027 yang direncanakan melibatkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami sangat bangga dengan perolehan BBTF tahun 2026 yang mencatat transaksi sebesar Rp6,9 triliun. Kami harap keberhasilan ini bisa lebih baik lagi di tahun 2027,” tandasnya. RAN



































