PANTAUBALI.COM, BADUNG – Tahapan penilaian ogoh-ogoh tingkat zona di Kabupaten Badung mulai dipersiapkan secara matang. Penilaian lapangan terhadap karya ogoh-ogoh dari 597 Sekaa Teruna dan Yowana akan dilaksanakan dalam tujuh zona selama empat hari, yakni 18 hingga 22 Februari mendatang.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gde Eka Sudarwitha, mengatakan seluruh mekanisme teknis penilaian telah dibahas bersama tim juri. Fokus utama pembahasan adalah pendalaman kembali indikator dan kriteria penilaian, seiring meningkatnya antusiasme peserta setiap tahun.
Ia mengungkapkan, muncul pula masukan agar hasil penilaian masing-masing peserta disampaikan secara terbuka. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan prinsip keterbukaan informasi publik.
“Secara prinsip, pola penilaian tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun kami melakukan pendalaman terhadap aspek dan indikator penilaian. Ada aspirasi agar nilai peserta diumumkan secara terbuka, dan itu bukan informasi yang dikecualikan. Karena itu kami betul-betul berhati-hati agar penilaian objektif,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Dalam pelaksanaannya, setiap zona akan dinilai oleh tiga orang juri, sehingga total melibatkan 21 juri. Para juri ditargetkan menilai sekitar 18 hingga 20 ogoh-ogoh per hari di masing-masing zona. Dengan jumlah peserta hampir mencapai 600 sekaa, proses penilaian dipastikan berlangsung intens dari pagi hingga malam hari.
Mantan Camat Petang itu juga mengimbau seluruh sekaa teruna dan yowana agar berada di lokasi saat penilaian berlangsung. Kehadiran perwakilan sekaa dinilai penting untuk menjelaskan konsep, filosofi, serta proses kreatif karya ogoh-ogoh yang ditampilkan.
Terkait aspek penilaian, Sudarwitha menjelaskan bahwa juri tetap mengacu pada tiga indikator utama, yakni Satyam, Siwam, dan Sundaram. Unsur Sundaram atau estetika memiliki bobot nilai cukup besar, berkisar antara 5 hingga 50 poin. Pada aspek ini, kreativitas, inovasi, serta teknik konstruksi menjadi perhatian utama juri.
Meski demikian, panitia menegaskan tidak membedakan secara kaku antara penilaian detail anatomi dengan pemanfaatan unsur motorik. Keduanya dinilai sebagai bagian dari kreativitas yang saling melengkapi.
“Detail anatomi dan inovasi motorik tidak untuk dipertentangkan. Kalau sebuah ogoh-ogoh kuat di salah satu aspek atau mampu menggabungkan keduanya, juri tetap akan memberikan apresiasi sesuai kualitas karya,” tegasnya.
Selain unsur estetika dan inovasi, penggunaan material ramah lingkungan juga menjadi perhatian dalam penilaian. Pemanfaatan bahan alami maupun barang bekas, termasuk limbah plastik sekali pakai, dinilai dapat menambah poin jika dikemas secara kreatif dan artistik.
“Penggunaan bahan daur ulang bahkan pernah masuk nominasi karena diolah dengan sangat kreatif. Jika sekaa mampu memanfaatkan bahan bekas secara estetis, tentu akan menjadi nilai tambah,” pungkasnya. (pmc)

































