Fraksi Gerindra DPRD Tabanan Soroti Keluhan Dokter Senior Soal Stok Obat Habis di RSU

Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyoroti keluhan dokter senior terkait dugaan kekosongan stok obat di RSUD Tabanan.
Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyoroti keluhan dokter senior terkait dugaan kekosongan stok obat di RSUD Tabanan.

TABANAN, PANTAUBALI.COM – Beredarnya rekaman suara (voice note) seorang dokter senior di RSUD Tabanan pada Senin malam memicu perhatian publik. Rekaman tersebut berisi keluhan terkait kondisi pelayanan di rumah sakit, khususnya mengenai ketersediaan obat di depo farmasi.

Dalam rekaman suara yang beredar di media sosial tersebut, dokter yang mengaku telah bertugas selama 26 tahun di RSUD Tabanan menyampaikan kegelisahannya mengenai kondisi pelayanan medis yang dinilai mengalami penurunan akibat keterbatasan stok obat.

Berikut isi rekaman suara tersebut:

“Selamat pagi para Direksi dan Manajemen yang ada di WA Grup ini, maafkan saya pakai voice note, supaya intonasi saya didengar dengan bagus. Mohon maaf ini sebelumnya, ini rumah sakit mau dibawa kemana ya? Ini satu persatu obat sudah tidak ada di depo,karena kita tidak membayar ya. Kemungkinan karena hutang kita terlalu banyak. Sekarang yang terakhir Citicoline yang tidak ada. Sedangkan kami tidak boleh bicara sama pasien bahwa obat tidak ada.

Berikan saya menumpahkan isi hati saya sekarang disini sebagai dokter yang paling senior saat ini yang ada di RSUD Tabanan. yang sudah bekerja selama 26 tahun, yang kali ini baru merasakan situasi seperti sekarang ini. Entah apa yang menyebabkannya, saya tidak tahu dan saya tidak mau tahu.

Baca Juga:  Komisi I DPRD Tabanan Sidak Tiga Desa di Kediri, Temukan Sejumlah Vila Tanpa Izin

Yang saya ingin tahu adalah pelayanan terhadap pasien kita yang ada di Rumah Sakit Tabanan. 26 tahun saya disini, sekarang inilah yang saya rasakan periodenya yang paling jelek. Saya sebagai dokter spesialis saraf yang sudah 26 tahun disini merasakan banget ya, merasakan apa yang harus kami lakukan terhadap pasien-pasien yang sudah terlanjur kami rawat disini dan terlanjur sudah masuk ke rumah sakit ini.

Mohon diberikan jawaban yang terbaik, siapa yang berwenang, kalau saya salah silahkan berikan saya Punishment (hukuman), atau Punishment yang akan diberikan kepada saya sebagai dokter yang paling senior di rumah sakit ini.

Baca Juga:  Fraksi Gerindra Soroti Krisis Obat di RSUD Tabanan, Desak Manajemen Buka Kondisi Sebenarnya

Silakan, karena jiwa saya masih Bersatu untuk pasien, jiwa saya untuk pasien, pelayanan nomor satu yang ingin kami berikan kepada pasien-pasien yang ada di rumah sakit Tabanan ini, tolong berikan jawaban yang terbaik hari ini, di hari Senin ini, buat saya pribadi dan untuk kami DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) di Rumah Sakit Tabanan. Saya dr. Ayu, dokter spesialis saraf yang berbicara disini.”

Menanggapi beredarnya rekaman tersebut, Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Tabanan, I Wayan Wiryadana, meminta pihak manajemen RSUD Tabanan memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik.

Menurutnya, pihak Fraksi Gerindra DPRD Tabanan menyayangkan jika benar terjadi kekosongan stok obat di rumah sakit daerah tersebut.

“Kami di Fraksi Gerindra sangat menyayangkan jika kondisi ini sampai terjadi. RSUD Tabanan merupakan rumah sakit daerah berstatus tipe B yang menjadi rujukan dari rumah sakit tipe C di Kabupaten Tabanan dan sekitarnya. Kenapa bisa sampai kehabisan obat, ada apa sebenarnya?” ujarnya.

Baca Juga:  Nuanu Satukan Pelaku Industri Kuliner, Perkenalkan Distrik Gastronomi Sutala

Ia menilai, sebagai rumah sakit daerah, RSUD Tabanan seharusnya memiliki sistem manajemen yang baik, termasuk dalam pengelolaan stok obat dan perlengkapan medis lainnya.

“Sebagai rumah sakit daerah, seharusnya memiliki sistem manajemen yang baik sehingga pengelolaan bisa dilakukan secara transparan. Dengan begitu, ketersediaan obat dan perlengkapan medis dapat terpenuhi dan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” katanya.

Wiryadana juga meminta pihak manajemen rumah sakit segera memberikan klarifikasi terkait kondisi tersebut.

“Kalau sampai kondisinya seperti sekarang, bagaimana pertanggungjawaban pihak rumah sakit. Ada apa ini hingga kondisi ini bisa terjadi. Dokter tidak boleh bicara, obat habis. Kami minta pihak manajemen rumah sakit memberikan penjelasan terkait kondisi ini,” tegasnya. (RAN)