PANTAUBALI.COM, TABANAN – Para nelayan di Kabupaten Tabanan dan sekitarnya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat melaut menyusul potensi gelombang tinggi dan cuaca tak menentu yang terjadi belakangan ini. Nelayan juga diminta rutin mengecek prakiraan cuaca harian karena kondisi di laut dapat berubah dengan cepat.
Imbauan tersebut disampaikan Ketua Peguyuban Nelayan Bali, I Ketut Arsana Yasa. Ia menjelaskan, saat ini Bali memasuki bulan ketujuh dalam perhitungan kalender Bali yang memiliki karakter cuaca tidak menentu, ditandai dengan hujan disertai angin kencang ringan. Memasuki bulan kedelapan, cuaca cenderung didominasi angin kencang hingga berpotensi badai.
“Kecepatan angin pada pagi hari berkisar antara 10 hingga 16 kilometer per jam, sementara hembusan angin bisa mencapai 24 hingga 30 kilometer per jam. Kondisi ini akan semakin berbahaya ketika disertai mendung,” jelas Ketut Arsana Yasa, Kamis (8/1/2026).
Selain angin kencang dan gelombang tinggi, potensi hujan deras juga masih terjadi dan hampir merata di seluruh wilayah Bali. Oleh karena itu, nelayan diimbau tidak mengabaikan informasi cuaca sebelum melaut.
Demi keselamatan, nelayan disarankan tidak melaut lebih dari tiga mil laut atau sekitar 5,5 kilometer dari bibir pantai.
“Cuaca sekarang berubah setiap hari. Yang paling relevan dan akurat adalah melihat perkiraan cuaca H-1 sebelum melaut,” tegas Arsana Yasa yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Tabanan itu.
Meski demikian, Arsana menyebut saat ini sejumlah komoditas ikan tangkapan mulai melimpah, seperti lobster serta ikan komersial untuk ekspor, di antaranya ikan layur, kapasan, dan dorang.
Untuk harga pasar, ikan dorang saat ini menjadi primadona dengan harga mencapai Rp280 ribu per kilogram.
Sementara ikan layur mengalami kenaikan harga menjadi Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram. Sedangkan lobster dijual dengan harga berkisar Rp325 ribu hingga Rp350 ribu per kilogram.
“Jenis tangkapan ini sudah mulai banyak sejak Oktober dan diperkirakan berlangsung hingga April mendatang,” ujarnya.
Tingginya harga ikan tersebut turut membawa angin segar bagi para nelayan, meski harus tetap berhadapan dengan kondisi cuaca laut yang belum stabil. (ana)

































