Komisi IV DPRD Tabanan, Bahas Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka

TABANAN – Pantaubali.com – Guna membahas kesiapan pembelajaran tatap muka bagi anak didik di Tabanan maka,komisi IV DPRD Tabanan gelar rapat bersama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Tabanan di ruang rapat gedung dewan,Senin (21/12)Sangulan.

Sesuai rapat internal digelar Dinas Pendidikan Tabanan melibatkan pemangku kebijakan tingkat PAUD, SD, dan SMP mendorong dilaksanakan pembelajaran tatap muka karena dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran jarak jauh.

Selain adanya aturan dari SKB 3 Menteri zona tidak menjadi acuan gelar pembelajaran tatap muka, skenario dan sarana prasarana persiapan COVID-19 di sekolah telah siap 90 persen. Bahkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka, Disdik Tabanan telah melakukan survei ke orang tua siswa, hasilnya 80 persen orang tua setuju melakukan pembelajaran tatap muka.Selanjutnya, bagi orang tua tidak setuju, mereka tetap akan difasilitasi pembelajaran secara daring.

Selanjutnya disisi lain kalangan dewan Komisi IV meminta protocol kesehatan diperketat dan guru harus dilakukan swab Covid-19 sebelum pembelajaran tatap muka dilaksanakan. Ini dilakukan guna mencegah terjadinya cluster dari sekolah. Saat ini mengenai kepastian pembelajaran tatap muka di Tabanan masih menunggu keputusan dari pimpinan Bupati Tabanan.

Disela kesempatan tersebut,Kepala Dinas Kabupaten Tabanan I Nyoman Putra menegaskan meskipun kesiapan dan sekolah di Tabanan untuk menggelar pembelajaran tatap muka sudah siap 90 persen, tetap menunggu keputusan dari daerah. Ini sesuai dengan arahan dari Provinsi Bali kesiapan pembelajaran tatap muka dikembalikan ke pemerintah daerah sesuai dengan kondisi dilapangan.

Baca Juga:  Pencarian Hari Ke-6, Lansia Hilang di Tabanan Belum Ditemukan

“Arahan dari provinsi langsung mengenai dengan pembelajaran tatap muka dikembalikan ke daerah,” jelasnya.

Guna menyikapai hal tersebut Disdik telah melakukan rapat internal bersama pemangku kebijakan di tingkat Paud, SD, dan SMP pada dasarnya mendorong agar bisa dijalankan pembelajaran tatap muka. Dan dari hasil monev dilakukan ke masing-masing sekolah sapras protocol kesehatan sudah siap 90 persen.

“Jadi warga sekolah, sudah sering kami ajak koordinasi terkait dengan protocol kesehatan harus betul-betul diperketat,” ujarnya.

Pembelajaran tatap muka didorong karena banyak factor. Pertama, sesuai dengan pengamatan langsung, peserta didik sudah bosan mengikuti pembelajaran daring. Kemudian jika pembelajaran jarak jauh lama diterapkan, timbul ke khawatiran kemampuan kompotensi peserta didik yang tak maksimal.

Selain itu dari segi kompotensi guru, masih ada guru yang belum paham dalam mengimplementasikan pembelajaran melalui apalikasi daring sehingga masih banyak tugas dikirim melalui WhatsApp.

Bahkan yang paling penting, setelah dilakukan pengamatan, orang tua merasa kurang mampu mendampingi anak-anak dalam belajar daring, serta kurangnya sapras yang dimiliki orang tua yakni HP untuk mendukung proses pembelajaran jika orang tua memiliki anak lebih dari satu.

“Jadi kesimpulanya dari stakeholder pendidikan mendorong adanya pembelajaran tatap muka, dasar hukumnya SKB 3 Menteri, dimana zona tidak menjadi acuan dalam menggelar pembelajaran tatap muka,” tegas Nyoman Putra.

Baca Juga:  Lansia di Marga Tabanan Hilang Sejak 4 Hari Belum Ditemukan

Untuk itu mengenai dengan mekanisme, jika Tabanan memutuskan melakukam pembelajaran tatap muka, sudah dibuatkan skenariao. Untuk Paud siswa maksimal didalam kelas 5 orang, SD maksimal 15 orang, dan SMP maksimal 18 orang. Kurikulum sudah dibuat sederhana dimana 1 jam pelajaran menjadi 20 menit yang awalnya 40 menit.

Tidak adanya jam istirahat melainkan siswa tetap dikelas dan diawasi guru. Pembelajaran yang menimbulkan kerumunan ditiadakan, serta setiap peserta didik sudah disipakan faceshiled yang ditaur diatas meja dan tidak boleh ditukar.

“Intinya guru dan wali kelas lakukan pengawasan, pokoknya didalam kelas itu tidak boleh kosong,” ucapnya.

Sekolah telah diminta membuat Satgas Covid-19 dan komite ikut mengawasi jika pembelajaran tatap muka akan digelar.

“Skenario sudah dibuat, meskipun nanti pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan, akan dipadukan juga dengan pembelajaran daring,” sebutnya.

Kemudian anggota Komisi IV DPRD Tabanan I Nyoman Suta mengatakan, pembelajaran tatap muka jangan dipaksakan jika memang kondisi dilapangan tak memungkinkan. Yang penting sasaran bisa dicapai meskipun dilakukan pembelajaran secara daring.

“Kalau pembelajaran tatap muka yakin dilakukan segala kesiapan harus dimantapkan jangan sampai menimbulkan cluster dari sekolah,” sampainya.

Hal yang sama juga disampaikan, Ni Made Meliani. Srikandi Golkar yang juga Wakil DPRD Tabanan ini meminta jika pembelajaran tatap muka dilakukan harus benar-benar diperketat protocol kesehatanya. Sebab melihat dari pengamatan dilapangan, sejak diberlakukan pembelajaran daring, orang tua yang lebih setres dari peserta didik. Anak didik lebih santai karena tugasnya dikerjakan orang tua.

Baca Juga:  34 Narapidana Lapas Tabanan Dapat Remisi Idul Fitri

“Untuk itu saran saya lakukan yang terbaik jika memang pembelajaran tatap muka digelar. Jika memang tidak memungkinkan jangan dipaksanakan,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Tabanan Gusti Komang Wastana memimpin rapat tersebut intinya secara pribadi setuju digelar pembelajaran tatap muka.

Karena melihat dari perkembangan anak didik yang melakukam pembelajaran daring ada kekhawatiran kompotensi anak-anak tak maksimal. Banyak ditemui anak tidak kumpulkan tugas, mereka lebih santai dari pembelajaran normal sebelumnya.

Hanya saja jika benar pembelajaran tatap muka digelar, protocol kesehatan diperketat. Dan scenario pembelajaran yang sudah dibuat benar-benar diterapkan dengan baik, agar tak menimbulkan cluster penyebaran Covid-19 dari sekolah.

“Yang terpenting adalah jika memang pembelajaran tatap muka digelar, guru harus sudah lakukan swab Covid-19,” tegasnya.

Selain itu yang menjadi pula perhatian serius mengenai dengan penjemputan jika pembelajaran tatap muka digelar. Khsusu SMP yang difasilitasi Tran Serasi sistem pengawasan mereka diperketat. Jangan sampai disekolah ketat begitu naik trans serasi mereka berkumpul.

“Saya harapkan nanti pimpinanan memutuskan yang terbaik tentang pembelajaran tatap muka ini,” tutupnya.