
PANTAUBALI.COM, TABANAN – Sejumlah warga Banjar Gulingan, Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat, yang lahannya terdampak jalan Tol Gilimanuk-Mengwi meminta kejelasan proyek pengerjaan tol.
Mereka memasang spanduk di pinggir jalan utama Antosari-Pupuan yang juga menjadi kawasan terdampak proyek dan telah dipasangi patok.
Salah seorang warga yang juga koordinator aksi pemasangan spanduk Nyoman Agus Suryawan (46) mengatakan, warga merasa resah dengan kelanjutan pembangunan jalan Tol Gilimanuk-Mengwi karena sampai saat ini tidak ada kejelasan.
“Kami sangat setuju dengan pembangunan apapun yang dilakukan pemerintah, tetapi dalam (pembangunan) tol ini kami merasa pengerjaanya tersendat sehingga kami yang berdampak resah,” jelasnya, Rabu (19/7/2023).
Ia menyebut, warga resah karena sesuai kesepakatan awal, sertifikat tanah warga tidak boleh dipindahtangankan, diperjualbelikan hingga dijadikan agunan.
Hal itu mengakibatkan warga tidak berani menggarap lahan pertanian atau perkebunan serta merenovasi rumah.
“Sebelumnya kami telah menyerahkan inventarisasi lahan. Jika kami ingin menambah isi ladang atau merenovasi rumah itu akan seperti apa? Apakah ada dana kompensasi atau inventarisasi ulang? Itu belum dapat jawaban pasti dari pihak terkait,” ungkapnya.
Suryawan mengaku, setelah pertemuan dengan tim apraisal sekitar empat bulan lalu tidak ada kejelasan terkait kelanjutan proyek ini.
Bahkan, pihaknya juga telah menanyakan kejelasan proyek kepada perbekel, camat hingga mengirim surat ke provinsi sekitar dua minggu lalu.
“Sampai sekarang belum ada jawaban yang pasti dari Bapak Gubernur sehingga kami memasang spanduk. Jika pembangunan tidak dilanjutkan maka berikan jawaban yang jelas dan patoknya mohon dicabut,” jelasnya.
Suryawan menambahkan, jumlah warga Banjar Gulingan yang lahannya terdampak proyek mencapai 50 orang dengan luas lahan mencapai 45 hektare.
“Di wilayah ini akan menjadi simpang susun,” imbuhnya. (ana)